RSS

Selain Punya Bapak di Surga Tuhan Yesus Juga Punya Bapak Tiri yang Profesinya Tukang Kayu

22 Nov

Selain Punya Bapak di Surga Tuhan Yesus Juga Punya Bapak Tiri yang Profesinya Tukang Kayu

Dalam Dunia Kristen, Yusuf   dikenal sebagai suami dari   Maria   yang melahirkan Tuhan Yesus. Yusuf berprofesi sebagai Tukang Kayu. Riwayatnya tercatat dalam bagian   Perjanjian Baru   di   Alkitab seperti yang dipertegas dalam Injil: Matius 1: 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24 dan 25Lukas: 27. ( Matius 13: 55, Markus 6: 3Lukas 3:23).

yesus_2
yesus_1
yesus_keluarga
Matius mengatakan bahwa ketika baru lahir, orang-orang majus dari timur datang
membawa hadiah berharga bagi bayi Yesus,
Dilukis oleh   Giotto pada   1300

Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan,  Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung   ibu-Nya. (Lukas 2: 21)

yesus_disunat2
yesus_disunat
Yesus Akan Disunat
Yesus Setelah Disunat
yesus_disunat3
Yesus Bersama Maria dan Yusuf

Karena bapak tirinya berasal dari keturunan Daud, oleh karena itulah silsilah Tuhan Yesus berasal dari Daud seperti yang tertera dibawah ini yang tercatat dalam Injil Matius 1:1-17 dan tidak diambil dari silsilah sang ibu.

ketika genap waktu pentahiran (bayi berusia 40 hari), menurut hukum Taurat Musa, Yusuf sang ayah tiri dan Maria membawa Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. [18]   Sewaktu di Bait Suci itu,   Simeon   dan   Hana memberikan kata-kata nubuat tentang Yesus. Yusuf yang disebut sebagai “bapa-Nya” serta Maria, ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. [19]

Sewaktu masih tinggal di Betlehem, mereka dikunjungi oleh   orang-orang Majus dari Timur  yang datang menyembah Yesus dan memberikan persembahan berupa mas, kemenyan dan mur. Setelah orang-orang itu berangkat, malaikat Tuhan memberi tahu Yusuf dalam mimpi bahwa Yesus mengalami bahaya karena Herodes   hendak membunuh bayi tersebut, Yusuf membawa Yesus dan Maria lari ke Mesir. [1] [2] Setelah Herodes mati, dan karena takut kepada Arkhelaus, maka Yusuf membawa Maria dan Yesus tinggal di Nazaret, Galilea. [1][2]   Setelah itu, Alkitab hanya menyinggung keberadaan Yusuf ketika Yesus pada usia 12 tahun dan mengunjungi Bait Suci di Yerusalem, dan dikatakan bahwa mereka tinggal di Nazaret. Sesudah itu tidak ada lagi riwayat mengenai Yusuf. [1] [2]   Tradisi menyebutkan Yusuf telah meninggal sebelum peristiwa   perkawinan di Kana . [2]

Ketika Yesus memulai pelayanan-Nya, Ia dikenal sebagai “anak Yusuf dari Nazaret”. [20]

st_yusuf Guido Reni, Santo Yusuf
Yesus Ketika Masih Bayi Bersama Sang Ayah

[1]   Ia disebut “anak Daud”, [3]   karena merupakan keturunan langsung dari raja   Daud   (lihat “Silsilah”). [4] [5]   Pekerjaannya adalah   tukang kayu.

Yusuf mempunyai   tunangan   seorang perawan bernama Maria, [7]   yang tinggal di Nazaret. [8]   Sebelum mereka hidup sebagai suami isteri, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus. [7]   Sebagai seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikan Maria dengan diam-diam. Tetapi dalam mimpi Yusuf mendapat perintah dari malaikat Tuhan untuk tetap menikahi Maria dan memberi nama anak yang akan dilahirkan itu   Yesus. [9]   Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki. [10]   Menjelang kelahiran anak itu,   Kaisar Agustus   mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. [11] Maka Yusuf pergi dari kota   Nazaret   di Galilea   ke   Yudea , ke kota Daud yang bernama   Betlehem , –karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud– supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di   Betlehem   tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. [12]   Yusuf menamakan Dia Yesus. [13]   Ia kemudian menjadi seorang suami dan ayah yang baik. [2]

Pada hari Yesus dilahirkan, para gembala mendapatkan berita kelahiran-Nya dari malaikat Tuhan, lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka. [14]

Ketika genap 8 hari dan Ia harus disunatkan, anak itu secara resmi diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

Dan ketika genap waktu pentahiran (bayi berusia 40 hari), menurut hukum Taurat Musa, Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. [18]   Sewaktu di Bait Suci itu,   Simeon   dan   Hana memberikan kata-kata nubuat tentang Yesus. Yusuf yang disebut sebagai “bapa-Nya” serta Maria, ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. [19]

Sewaktu masih tinggal di Betlehem, mereka dikunjungi oleh   orang-orang Majus dari Timur  yang datang menyembah Yesus dan memberikan persembahan berupa mas, kemenyan dan mur. Setelah orang-orang itu berangkat, malaikat Tuhan memberi tahu Yusuf dalam mimpi bahwa Yesus mengalami bahaya karena   Herodes   hendak membunuh bayi tersebut, Yusuf membawa Yesus dan Maria lari ke   Mesir. Setelah Herodes mati, dan karena takut kepada Arkhelaus, maka Yusuf membawa Maria dan Yesus tinggal di Nazaret, Galilea. Setelah itu, Alkitab hanya menyinggung keberadaan Yusuf ketika Yesus pada usia 12 tahun dan mengunjungi Bait Suci di Yerusalem, dan dikatakan bahwa mereka tinggal di Nazaret. Sesudah itu tidak ada lagi riwayat mengenai Yusuf.  Tradisi menyebutkan Yusuf telah meninggal sebelum peristiwa   perkawinan di Kana .

Ketika Yesus memulai pelayanan-Nya, Ia dikenal sebagai “anak Yusuf dari Nazaret”.

Silsilah

Injil Matius  pasal 1   memuat  silsilah   Yusuf dari Abraham dalam kaitannya dengan Yesus  Kristus   yang dilahirkan dari  Maria . Silsilah ini menunjukkan bahwa Yusuf berasal dari keturunan  Daud , dan karena itu adalah ahli waris tahtanya.  Injil   ini juga menyatakan bahwa Yusuf sebenarnya bukan ayah kandung Yesus. Namun secara hukum, Yusuf adalah ayah Yesus.

Silsilah yang berhubungan dengan Yesus ini, menurut Injil Matius terdiri dari 14 keturunan sejak   Abraham   hingga  Daud, 14 keturunan dari  Daud   hingga masa pembuangan ke Babel, dan 14 keturunan dari masa pembuangan ke Babel hinggaYesus Kristus   sebagai anak Yusuf:

Dari   Abraham hingga  Daud

Dari   Salomo   hingga masa pembuangan ke Babel

Dari   masa pembuangan ke Babel hingga  Yesus

  • Nama Yoyakim atau Elyakim (nama Yoyakim adalah nama pemberian dari   Firaun   Nekho), anak dari Yosia dan ayah dari Yekhonya tidak tercantum dalam Kitab Matius, tetapi tercantum di Kitab I Tawarikh 3:15-17.

Mimpi-mimpi Yusuf

Sebagaimana   Yusuf   bin  Yakub   dalam  Perjanjian Lama, Yusuf bin Yakub dalam Perjanjian Baru, yang menjadi suami  Maria , juga diberi karunia untuk memahami mimpi. Dalam  Injil Matius   dicatat  empat mimpi  yang berkaitan erat dengan  kelahiran Yesus dan peristiwa-peristiwa sesudahnya.

  • Yusuf mendapat kabar bahwa Maria tunangannya sudah mengandung sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Sebagai seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia   Yesus   (artinya “Penyelamat”), karena Dialah yang akan   menyelamatkan  umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia  Imanuel” –yang berarti: “Allah menyertai kita”. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.
  • Setelah   Yesus dilahirkan   dan  orang-orang majus dari Timur   yang mengunjungi-Nya berangkat pulang, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena  Herodes   akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”
  • Setelah   Herodes mati , nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati.” Lalu Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel.
  • Tetapi setelah didengar Yusuf, bahwa   Arkhelaus   menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama  Nazaret . Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.

—-00O00—-


Apa Arti Kristus, Mesias, Al-Masih?

Orang Kristen percaya bahwa Yesus adalah   Anak Allah,   Tuhan,   Mesias, dan Juru Selamat umat   manusia. Sedangkan Agama Yahudi   menolak anggapan bahwa Yesus adalah seorang   Mesias/Kristus yang telah   dinubuatkan   dalam kitab suci mereka.

Dalam Bibel seringkali Yesus disebut sebagai Mesias dan juga disebut sebagai Kristus. Apa arti Mesias dan Kristus? Mesias berasal dari bahasa Ibrani: massiach/massaha yang  berarti, melantik; mengurapi; mengurut. Pemberian gelar mesias kepada seseorang menunjukkan bahwa orang  tersebut telah dilantik dan ditentukan Tuhan untuk memegang jabatan tertentu dengan  ritual meminyaki sebagai simbol pelantikan tersebut. Sedangkan Kristus berasal dari (bahasa Yunani Kuno: Χριστός, Khristós, berarti ‘yang diurapi’) adalah terjemahan untuk bahasa Ibrani מָשִׁיחַ (Māšîaḥ), Mesias, dan dipakai sebagai gelar untuk Yesus di dalam Perjanjian Baru.[3] Pengikut Yesus disebut sebagai orang Kristen (dari kata sifat bahasa Belanda Christen, pengikut Kristus) pertama kalinya di dalam Kisah 11:26, karena mereka percaya bahwa Yesus adalah sang Mesias yang dinubuatkan di dalam Alkitab Ibrani – oleh karena itu pengikut Yesus menyebut Yesus sebagai Yesus Kristus, yang berarti Yesus, “sang Khristós”, berarti “Yesus, Yang Diurapi”.[4] Dalam pemakaian umum – bahkan di kalangan sekuler – “Kristus” biasanya disinonimkan denganYesus orang Nazaret.[5] Sementara dalam Islam Yesus sendiri deberi gelar  Al-Masih (Arab: المسيح al-Masiyah, Ibrani מָשִׁיחַ Mesias (Mesiakh), YunaniΧριστός Kristus) adalah gelar yang ditujukan kepada Isa atau Yesusdalam keyakinan agama Abrahamik. Al-Masih memiliki arti “Yang membaptis, yang diurapi, mengusap atau membelai”, berasal dari kata “masaha“. Intinya baik Mesias, Kristus dan Al-Masih mempunyai makna sama. Mesias bagi Yahudi diberikan kepada seorang penguasa dan pemimpin agama serta panglima perang yang akan membebaskan bangsa Israel dari penjajahan dan perbudakan. Menurut Michael Baigent, Mesias yang dinanti-nantikan para pengikut Yesus dalam hal ini adalah Kristen, adalah Kepala Pemerintahan sekaligus pemimpin agama. Sedangkan menurut ajaran Yahudi, ajaran yang diyakini oleh Bani Israel, yang menjadi Mesias adalah Daud dan keturunannya yang telah dan akan menjabat sebagai Panglima Perang sekaligus yang membebaskan Israel dari penjajahan dan perbudakan. Hal ini tercantum dalam Kitab Penjanjian Lama II Samuel 7: 11 – 17. II Samuel 7:8 Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel.

Bagi umat Yahudi awal, yakni mereka yang hidup sebelum dan pada masa awal pergerakan Kristen, mereka tidak mengenal ajaran kepercayaan mengenai Mesias yang mati terbunuh dan bangkit dari kematian. Umat Yahudi pada masa itu hanya mengenal Mesias sebagai Panglima Perang yang selalu menang, sehingga kalau ada mesias yang mati terbunuh mereka mencemooh sebagai mesias yang gagal bahkan disebut sebagai mesias palsu yang tidak memenuhi nubuat kitab suci para nabi. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada mesias yang disalibkan dan mati bangkit kembali.

James H Charles Worth, mengatakan: Kepercayaan kepada mesias yang mati ditiang salib adalah tahayul yang sangat berbahaya, ini adalah sebuah kekafiran. John Davidson, mengatakan:  Kepercayaan kepada kebangkitan tubuh kasar (di dunia) adalah kemauan orang-orang tolol.

Di dalam Lukas 24:46, Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,

Ucapan seperti ini merujuk kepada Kitab Perjanjian Lama  tapi kenyataannya di dalam Perjanjian Lama, kalimat tersebut tidak ada. Dan telah menjadi perdebatan para kristolog yang  pada ujung-ujungnya diketahui bahwa ini adalah ayat-ayat ciptaan penulis Injil Lukas yang dijejalkan kepada mulut Yesus.

Sedangkan Kristus, menurut Paulus adalah Anak Allah yang ‘menurut daging’ berasal dari keturunan Daud (Roma 1:3-4). Di sini terlihat bahwa Paulus memaksakan kemauannya padahal secara biologis Yesus jelas bukan keturunan Daud. Kriteria Kristus menurut Paulus adalah penebus  dosa yang mati,  dikubur kemudian dibangkitkan kembali pada hari ketiga (I Korintus 15:3-4).  Untuk meyakinkan kepada Yahudi tentunya Paulus selalu merujuk kepada kitab para nabi namun tidak dapat dibuktikannya.  Di sini Paulus berhadapan dengan  penyembah berhala di Asia Kecil, Yunani, Mesir, dan Timur Tengah yang kala itu mempertuhankan/menyembah Dewa KRISTUS TAMMUS dll.  Paulus selanjutnya berusaha untuk memperkenalkan Yesus seperti yang ada pada Tammus: – Tammus lahir dari seorang Perawan dan Yesus juga harus lahir dari seorang perawan. – Tammus tertikam lambungnya, Yesus dibuat cerita kalau dia ditikam pada lambungnya. – Tammus tiga hari tiga malam dikubur maka Yesus juga harus tiga hari tiga malam di dalam kubur. Dijelaskan oleh Michael Beagent, Richard Leigh dan Henry lincoln (the messianic legacy):  Kalau Paulus ingin menantang  para penyembah berhala Dewa Tammus, Yesus harus bisa menandingi setiap mukjizat Tuhan-tuhan lama, sebagai akibatnya kehidupan dewa Tammus harus diukirkan kepada kehidupan Yesus. Yesus yang tadinya diharapkan menjadi mesias yang gagah berani, pemimpin Israel dalam pembebasan dari penjajah Romawi berubah menjadi kristus yang tidak berdaya, disiksa dan menyerahkan dirinya untuk disalib dalam rangka menebus dosa manusia. Dengan kedudukan ini maka ajaran Yesus menjadi kabur dan tidak penting lagi untuk digantikan kedudukannya dengan Kristus penyembah berhala yang baru.

Para penyembah berhala di Romawi, Babilonia, Persia dan Mesir menyembah Kristus dengan kriteria sebagai berikut: Lahir 25 Desember. Anak Allah. Mati terbunuh dan bangkit pada hari ketiga. Terangkat ke surga. Kriteria tersebut dianut oleh Paulus sejak kanak-kanak yang diwujudkan dalam upacara & festival penyembahan “Herakles Kristus” di Tarsus. Itulah yang terus dipertahankan hingga sekarang.

 ————–

Inti Ajaran Kristen: “Karena Telah Diselamatkannya umat manusia oleh Yesus, berarti tidak adanya hisab, sehingga memberikan peluang kepada umat Kristen untuk melakukan kemaksiatan, karena Yesus telah menyelamatkan mereka? Dengan demikian tidak ada hisab dan neraka!” (Dengan dalih cukup Iman yang bekerja/beribadah : Maka umat manusia 100% masuk Surga).

Paradigma Paulus: Paulus sendiri menganggap bahwa syariat (Hukum Taurat) dan cara pelaksanaannya adalah perbuatan terlaknat yang tidak wajib untuk dilaksanakan sesuai dengan yang ia tulis dalam Al-Kitab : Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3:13) Ini berarti, bahwa Tuhan mengingkari dirinya sendiri! Hanya dengan satu ayat saja, Paulus telah dapat menghancurkan syariat beserta segala isinya. Dia berkata bahwa syariat itu kutukan, bahkan mengatakan bahwa Tuhan itu sendiri terkutuk [dengan jalan menjadi kutuk karena kita], karena manusia telah menggantungkan Tuhannya di kayu (salib). Maka dari itu, Paulus berkata bahwa Tuhan telah melaknat dirinya sendiri, dan dia mengatakan terkutuklah orang-orang yang berpegang kepada hukum Taurat dan melaksanakannya. “Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada dibawah kutuk. Sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.” (Galatia 3:9-10)”

Dongeng Paulus Tarsus: Paulus Tarsus juga menyatakan bahwa ia mendapat amanat dari Yesus untuk menyebarkan agama Kristen kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. “Galatia 1:16 berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia”

Alkitab secara tegas menyatakan bahwa Kristen lahir setelah penyaliban Yesus, sebagaimana dilansir dalam pernyataan Paulus Tarsus berikut ini: Kisah Para Rasul 11:26 : “ Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.. .” Paulus Mengharamkan Hukum Taurat: Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia [kehilangan nikmat]. (Galatia5:4) GALATIA : 2:16 Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat. 3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” Paulus pun melanjutkan lagi pembicaraannya, bahwa tidak dibutuhkan lagi amal saleh, dengan mengatakan: Segala sesuatunya tidak Berdasarkan perbuatan!, melainkan berdasarkan iman!: Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat (Roma 3:27-28). Paulus yang menjadikan keimanan kepada Yesus merupakan satu-satunya jalan yang cukup untuk keselamatan dan ketaatan tanpa membutuhkan amal saleh. Hal ini sangat bertentangan sekali dengan perkataan Yesus (Tuhan menurut pandangan Kristen): Tetapi aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. [37] Karena menurut ucapanmn engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum. (Matius 12:36-37) Paulus sang rasul memfirmankan : amal saleh tidak lagi dibutuhkan dalam ajaran Kristen. [9] “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya [nikmat-Nya] sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman. [10] dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. (2 Timotius 1:9-10)” Hal tersebut ditegaskan kembali pada ayat lainnya: “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, [5] pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh kudus. (Titus 3:4-5)”. Ayat-ayat lain pun terus bergulir, sehingga hanya dengan beriman kepada Yesus dan tanpa melihat amal saleh yang dilakukannya seorang penganut Kristen dapat selamat. “[9] Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia di antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. [10] Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan (Roma 10:9-10)”. Uniknya Kristen …. Agama Kristen (ciptaan Paulus) – menurut Eddy Crayn Hendrik (kini Muhammad Zulkarnain) – sangat bertentangan dengan akal. Setiap yang berakal, seperti Bruno, Galileo Galilei (1564-1642), Johannes Heus dan lain-lain, terpaksa dihukum mati oleh gereja Katholik karena menyebarkan (ilmu) akal. Giordano Bruno (1548-1600) ahli pikir yang mengerjakan ide Nicolas Cusanus (1401-1464). Pengikut Bruno dihukum oleh Inquisitie (badan pengadilan gereja katholik) dan dibakar hidup (Prof Dr F Beerling : “Pertumbuhan Dunia Modern” I, hal 109). “Akal” dalam agama Kristen begitu dibencinya, sampai-sampai Marten Luther menilai akal sebagai “des teufels braut” (mempelainya setan), “die hure die der teufel hat” (pelacurnya setan tingkat tinggi), pelacur hina, pelacur rendah dan seterusnya. Padahal beda manusia dan binatang hanyalah karena manusia mempunyai rasio, akal budi, pikiran. Sedangkan hewan tidak berakal budi (hat different man and animal. It’s cause ratio). Dengan meninggalkan akal berarti kembali ke alam hewan, ke alam Pithecanthropus Erectus (manusia monyet). Dan lagi bagaimana bisa beragama dengan mengenyampingkan akal, sedangkan akal adalah karunia Allah. Dengan mengutuk akal berarti mengutuk pemberian Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. Di dalam pengembangannya kekristenan tidak menggunakan rasio, bahkan membuang rasio itu jauh-jauh. Menghancurkan pribadi dengan kaidah-kaidah kejiwaan, sehingga karena rasa (emosi), orang akan meninggalkan rasio. Kidung-kidungnya mempunyai daya magis yang mampu mematikan rasio dan akal pikiran sehat. Ajaran-ajaran Paulus yang sangat kontradiksi dengan akal sehat antara lain seperti Trinitas (I Korintus 1:3), ke-Allah-an Yesus (Rum 3:10, 5:8, Galatia 1:4)), dosa warisan, pembatalan Hukum Taurat dan penebusan dosa (Rum 4:15, 7:6, 10:4, Galatia 2:21, 3:10,24-25). Allah Yang Maha Luar Biasa ternyata dapat “mati” (The Dead God Theologie). Allah Yang Maha Besar, Maha Kuasa dapat dikejar-kejar, ditendang-tendang, dipukuli, dissobek bajunya, ramai-ramai dipaku kaki tangannya untuk kemudian disalib, dan pada hari Jum’at sekitar pukul 3 petang, Allah putuslah nyawaNya. Benar-benar tidak dapat diterima pikiran rasional. Ajaran Trinitas yang tak logis-rasional, yang falsafahnya dipelopori oleh Origens, Tertulianus, Anthanasius sangat bertentangan dengan ajaran Ke-Esa-an Allah yang logis-rasional, yang dianut Nestorius, Arius, yang difitnah sebagai sibid’ah (si kafir) (Mengapa Saya Beragama Islam, hal 2,5,11). Menghadapi persoalan Allah mempunyai anak – masih menurut Eddy Crayn Hendrik – mau tak mau harus menggunakan akal sehat (logis atau tidak logis) (Suatu Dialog …, hal 23) Alkitab – menurut MH Finley – tidak pernah menyatakan seseorang harus mengerti Asas Tritunggal itu dengan seluk-beluknya, sebelum orang itu diselamatkan (Tanya Jawab Mengenai Iman Kristen, Yayasan Kalam Hidup, 1993, hal 35-36). Barangsiapa mencoba untuk mengerti Tritunggal secara tuntas dengan akal manusia – menurut Alban Douglas – akan jadi tidak waras. Tapi barangsiapa menyangkal Tritunggal akan kehilangan jiwanya (Inti Ajaran Alkitab, hal 19-20). Banyak hal tentang Tuhan, tak dapat dipahamkan oleh budi manusia, seperti Tuhan itu Tritunggal (Prof Dr R F Berling : “Pertumbuhan Dunia Modern” I, hal 83) Kepercayaan Trinitas – menurut Prof Dr Hamka – baru dapat diterima, bilamana perjalanan akal terlebih dahulu diberhentikan (Tafsir Al-Azhar, 1984, juzuk VI, hal 29). Trinitas – masih menurut Eddy Crayn Hendrik – bukan Ajaran Allah. Ajaran Trinitas adalah ajaran yang falsafahnya terutama dipelopori oleh Anthanasius (198-277M), yang disahkan Konstantin Agung (Constantinus Magnus) dalam Konsili Nicea tahun 325M, yang kemudian dipaksakan oleh Konstantin kepada rakyatnya dengan ancaman hukum mati dalam arena-arena peraduan dengan singa-singa bila tidak mematuhinya, yang dikemudian hari menjadi agama Romawi saat itu.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 November 2014 in kristologi

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: