RSS

Sejarah Penanggalan Masehi

24 Nov

Penanggalan dan perhitungan hari tahun Masehi, lahir dari rahim astrologi yakni ilmu tentang pergerakan benda-benda langit seperti matahari, bulan dan rasi bintang.

Astrologi berasal dari Mesapotamia, daratan di antara sungai Tigris dan Eufrat, daerah asal orang Babel kuno (kini Irak Tenggara). Ilmu ini berkembang sejak jaman pemerintahan Babel kuno, sekitar tahun 2000 SM. 

Berawal dari Mesir sekitar tahun 1000 SM, para ahli perbintangan mempelajari benda-benda langit hanya untuk ramalan umum mengenai masa depan, lalu pengetahuan ini diambil alih suku bangsa Babel. Astrologi Babel yang kemudian hari mengembangkan suatu sistem yang menghubungkan perubahan musim dengan kelompok-kelompok bintang tertentu yang disebut rasi atau konstelasi. Antara tahun 600 SM dan 200 SM, mereka mengembangkan suatu sistem untuk menghitung penanggalan hari dan menggambar horoskop perorangan.

Sejarah penanggalan Masehi memiliki akar dan ikatan yang kuat dengan tradisi astrologi Mesir kuno, Mesopotamia, Babel, Yunani kuno, dan Romawi Tua serta dalam perjalanannya mendapat intervensi Gereja. 

Penanggalan Masehi adalah tarikh/penanggalan yang dipakai secara internasional, dalam bahasa Latin penanggalan ini disebut “Anno Domini” (disingkat AD yang berarti “Tahun Tuhan”). Dalam bahasa Inggris pada zaman modern muncul istilah Common Era yang disingkat “CE” (secara harfiah berarti “Era Umum”), sedangkan waktu sebelum tahun 1 dipakai istilah “Before Christ” yang disingkat BC (artinya sebelum [kelahiran] Kristus) atau Before Common Era yang disingkat “BCE” (Sebelum Era Umum). Tahun Masehi merujuk kepada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa Al-Masih (Yesus Kristus atau dalam bahasa Ibrani: “Yesua ha-Masiah”) karena itu kalender ini dinamakan menurut Yesus atau Masihiyah (Mesias). Kebalikannya, istilah Sebelum Masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut. Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk kepada konotasi Kristen tersebut. Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat selama abad ke-8. Penghitungan kalender ini dimulai oleh seorang biarawan bernama Dionysius Exiguus  yang mula-mula dipergunakan untuk menghitung tanggal Paskah (Computus) berdasarkan tahun pendirian Roma.

Berawal dari biarawan Katolik, Dionisius Exoguus ini pada tahun 527 M ditugaskan pimpinan Gereja untuk membuat perhitungan tahun dengan titik tolak tahun kelahiran Nabi Isa as (Yesus).

Masa sebelum kelahiran Nabi Isa as (yesus) dinamakan masa Sebelum Masehi (SM). Semua peristiwa dunia sebelumnya dihitung mundur alias minus. Dengan sebuah gagasan teologis Nabi Isa as (Yesus) dijadikan sebagai penggenapan dan pusat sejarah dunia dan tahun kelahiran Nabi Isa. as (Yesus) dihitung tahun pertama atau awal perjanjian baru.

Meskipun tahun 1 dianggap sebagai tahun kelahiran Yesus, namun bukti-bukti historis terlalu sedikit untuk mendukung hal tersebut. Dionysius Exiguus tidak memperhitungkan tahun 0 serta tahun ketika kaisar Augustus memerintah Kekaisaran Romawi. Para ahli menanggali kelahiran Yesus secara bermacam-macam, dari 18 SM hingga 7 SM.

Sejarawan tidak mengenal tahun 0, tahun 1 M adalah tahun pertama sistem Masehi dan tepat setahun sebelumnya adalah tahun 1 SM. Dalam perhitungan sains, khususnya dalam penanggalan tahun astronomis, hal ini menimbulkan masalah karena tahun Sebelum Masehi dihitung dengan menggunakan angka 0, maka dari itu terdapat selisih 1 tahun di antara kedua sistem.

Penghitungan hari diambil berdasarkan sistem matahari, sebelum menjadi sempurna seperti yang kita kenal sekarang, sebenarnya mengalami sejarah cukup panjang sejak zaman Romawi, jauh sebelum pemerintahan Julius Caesar.

Maklumat Julius Caesar

Semula penghitungan hari Orang Romawi ini terbagi dalam 10 bulan saja (belum ada bulan Januari dan Februari). Sama halnya dengan pemberian nama hari, pemberian nama bulan pada tarikh yang kemudian menjadi penghitungan hari Masehi ini ada kaitannya dengan dewa bangsa Romawi. Misalnya, bulan Martius mengambil nama Dewa Mars, bulan Maius mengambil nama Dewa Maia dan bulan Junius mengambil nama Dewa Juno.

Inilah nama-nama 10 bulan awal-awal tahun Masehi :

  • March ⇐ Mars, atau martius = dewa perang.

  • April ⇐ Aphrilis, atau Aphrodite atau Aphros = venus.
    atau: April
    Apreire = buka, musim tanam-tanaman mulai berbunga.

  • May ⇐ Maia Maiestas = putri tertua dan tercantik dari dewa atlas.

  • June ⇐ Juno (romawi) = hera (yunani), putri dari saturnus, istri jupiter,

  • Quintrilis ⇐ berarti ke-lima,

  • Sextrilis ⇐ berarti ke-enam,

  • September ⇐ Septem, = 7, atau ke-tujuh.

  • October ⇐ Octa = 8, atau ke-delapan.

  • November ⇐ Novem, Novemus = 9, atau ke-sembilan.

  • December ⇐ Decem, Decimus = 10, atau ke-sepuluh.

(Kesimpulannya: selama 527 tahun penanggalan Masehi hanya menggunakan 10 bulan, seharusnya terjadi penurunan tahun sejak perhitungan ulang yang dilakukan oleh Dionisius Exoguus pd thn 527 M, atas prakarsa pimpinan Gereja di Roma, namun tidak dilakukan dan tahun tetap dilanjutkan tetapi jumlah bulannya bertambah telah menjadi 12, oleh karena itu hingga kini menjadi bahan perdebatan tentang kelahiran Isa Al-Masih/Yesus bukanlah pada 25 Desember th.0, bukankah kala itu bulan Januari belum ada?, dan bulan pertama dari tahun adalah Maret!).

Nama bulan Aprilis diambil dari kata Aperiri, sebutan untuk cuaca yang nyaman di dalam musim semi dan berdasarkan nama-nama tersebut di atas, tampak¸bahwa di zaman dahulu permulaan penanggalan Masehi jatuh pada bulan Maret.

Ini erat kaitannya dengan musim dan pengaruhnya kepada tata kehidupan masyarakat di Eropa, karena bulan Maret (tepatnya 21 Maret) adalah permulaan musim semi.

Sudah menjadi tradisi kala itu dimana setiap datangnya awal musim semi disambut dengan perayaan suka-cita karena dipandang sebagai dimulainya kehidupan baru, setelah selama 3 bulan mengalami musim dingin yang membosankan. Kedatangan musim semi ini dirayakan sebagai perayaan tahun baru setiap tahun.

Penanggalan yang sebelumnya terdiri atas 10 bulan kemudian berkembang menjadi 12 bulan, ini berarti ada tambahan 2 bulan, yaitu Januarius dan Februarius.

Januarius adalah nama dewa Janus, dewa ini berwajah dua, menghadap ke muka dan ke belakang, diyakini dapat memandang masa lalu dan masa depan, oleh karenanya Januarius ditetapkan sebagai bulan pertama.

Februarius diambil dari upacara Februa, yaitu upacara semacam bersih kampung atau ruwatan atau opsih (operasi kebersihan kalau di negara kita) untuk menyambut kedatangan musim semi. Berdasarkan ketetapan ini maka Februarius menjadi bulan yang kedua, sebelum musim semi datang pada bulan Maret.

Kedua nama bulan ini dipaksakan diletakkan di awal tahun yang menyebabkan pergeseran nama-nama bulan yang lebih dahulu adanya sehingga berimbas ketidak sesuaian urutan arti dari nama bulan itu sendiri…, dan susunannya menjadi : 

Januarius, Februarius, Martius, Aprilis, Maius, Junius, Quintrilis, Sextilis, September, October, November dan December,

sehingga nama-nama Quintrilis sampai December menjadi tanpa arti lagi, karena posisi dalam urutan kedudukannya yang baru di dalam tarikh, tidak lagi sesuai dengan arti sebenarnya. Sistem yang dipakai waktu itu belum merupakan sistem matahari murni, masih banyak kesalahan atau ketidak-cocokan yang kian jauh melesetnya.

Pada saat Julius Caesar berkuasa, kemelesetan mencapai 3 bulan dari patokan seharusnya. Dalam kunjungan ke Mesir tahun 47M, Julius Caesar sempat menerima anjuran dari para ahli perbintangan Mesir untuk memperpanjang tahun 46M menjadi 445 hari dengan menambah 23 hari pada bulan Februari dan menambah 67 hari antara bulan November dan December.

Rupanya ini merupakan tahun pertama dalam sejarah, namun adanya kekacauan selama 90 hari itu, perjalanan tahun kembali cocok dengan musim. Sekembali ke Roma Julius Caesar mengeluarkan maklumat penting dan berpengaruh luas hinga kini yakni penggunaan sistem matahari dalam sistem penanggalan seperti yang dipelajarinya dari Mesir.

Keputusan Julius Caesar

  • Pertama, setahun berumur 365 hari. Karena bumi mengelilingi matahari selama 365,25 hari. Sebenarnya terdapat kelebihan 0,25×24jam = 6 jam setiap tahun.  

  • Kedua setiap 4 tahun sekali, umur tahun tidak 365 hari, tapi 366 hari, disebut tahun kabisat. Tahun kabisat ini sebagai penampungan kelebihan 6 jam setiap tahun yang dalam 4 tahun menjadi 4×6=24 jam atau 1 hari.

    Penampungan sehari tiap tahun kabisat ini dimasukkan dalam bulan Februari, yang pada tahun biasa berumur 29 hari, pada tahun kabisat menjadi 30 hari.

Untuk menghargai jasa Julius Caesar dalam melakukan penyempurnaan penanggalan itu, maka penanggalan tersebut disebut penanggalan Julian. Dengan menganti nama bulan ke-5 yang semula Quintilis menjadi Julio, yang kita kenal sebagai bulan Juli.

Dan juga demi mengabdikan namanya, Kaisar Augustus, yang memerintah setelah Julius Caesar, merubah nama keenam Sextilis menjadi Augustus. Perubahan itu diikuti dengan menambah umur bulan Augustus menjadi 31 hari, karena sebelumnya bulan Sextilis umurnya 30 hari saja, penambahan satu hari itu diambilkan dari bulan Februari, karena itulah bulan Februari umurnya hanya 29 hari atau 28 hari pada tahun kabisat.

Waktu berjalan terus dan penanggalan Julian yang sudah tampak sempurna itu, lama-lama memperlihatkan kemelesetan juga. Apabila pada zaman Julius Caesar jatuhnya musim semi mundur hampir 3 bulan, kini musim semi justru dirasakan maju beberapa hari dari patokan. 

Akhirnya kemelesetan itu dapat diketahui sebabnya. Kala revolusi bumi yang semula dianggap 365.25 hari, ternyata tepatnya 365 hari, 5 jam, 56 menit kurang beberapa detik. Jadi ada kelebihan menghitung 4 menit setiap tahun yang makin lama makin banyak jumlahnya.

Meluruskan kemelesetan itu, Paus Gregious XIII pimpinan Gereja Katolik di Roma pada tahun 1582 mengoreksi dan mengeluarkan sebuah keputusan bulat: 

  • Pertama, Angka tahun pada abad pergantian, yakni angka tahun yang diakhiri 2 nol, yang tidak habis dibagi 400, misal 1700, 1800 dsb, bukan lagi sebagai tahun kabisat (catatan: jadi tahun 2000 yang habis dibagi 400 adalah tahun kabisat), 

  • Kedua untuk mengatasi keadaan darurat pada tahun 1582 itu diadakan pengurangan sebanyak 10 hari jatuh pada bulan October, pada bulan Oktober 1582 itu, setelah tanggal 4 Oktober langsung ke tanggal 14 Oktober pada tahun 1582 itu,

  • Ketiga sebagai pembaharu terakhir Paus Regious XIII menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru lagi. Berarti pada perhitungan rahib Katolik, Dionisius Exoguus tergusur

Tahun baru bukan lagi 25 Maret seiring dengan pengertian Nabi Isa. as (Yesus) lahir pada tanggal 25, dan permulaan musim semi pada bulan Maret.

Dengan keputusan tersebut di atas, khususnya yang menyangkut tahun kabisat, koreksi hanya akan terjadi setiap 3323 tahun, karena dalam jangka tahun 3323 tahun itu kekurangan beberapa detik tiap tahun akan terkumpul menjadi satu hari. Bila tidak ada koreksi tiap 3323 tahun, jatuhnya musim semi maju satu hari dari patokan.

Dalam perkembangannya, tahun Masehi dapat diterima oleh seluruh dunia untuk perhitungan dan pendokumentasian secara internasional. 

Ternyata, penanggalan tahun Masehi yang dipakai secara internasional sekarang ini bukan perhitungan tahun Masehi secara murni, tapi perhitungan berdasarkan Astrologi Mesopotamia yang dikembangkan oleh astronum-astronum para penyembah dewa-dewa

Oleh karena itu nama-nama bulanpun memakai nama dewa dan tokoh-tokoh pencetus penanggalan kalender Masehi. Penanggalan Masehi yang sekarang merupakan hasil dari ketetapan Paus Katolik dan menjadi tradisi umat Kristen se-Dunia. 

Betapa sekian lama penduduk bumi tertipu. Ternyata sejarah dunia memang tak bertanggal!!.

Nama-Nama Hari Dalam Kalender Masehi

Banyak orang di masa lalu, percaya bahwa langit itu berlapis tujuh. Ini berkaitan dengan pengetahuan mereka tentang adanya tujuh benda langit utama dengan jarak yang berbeda-beda. Kesimpulan ini lahir dari pengamatan mereka atas gerakan benda-benda tersebut. Mereka berprasangka bahwa benda langit yang lebih cepat geraknya di langit dianggap lebih dekat jaraknya. 

Lalu mereka menggambarkan seolah-olah benda-benda tersebut berada pada lapisan langit yang berbeda-beda, mengelilingi Bumi yang berada di tengah-tengah.

Inilah prasangka yang mereka yakini kala itu:

  • Di langit pertama ada Bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpulkan sebagai yang paling dekat. 

  • Langit kedua ditempati Merkurius (Bintang Utarid). 

  • Venus (Bintang Kejora) berada di langit ketiga. 

  • Sedangkan matahari ada di langit keempat. Di langit kelima ada Mars (Bintang Marikh). 

  • Di langit keenam ada Jupiter (Bintang Musytari). 

  • Langit ketujuh ditempati Saturnus (Bintang Siarah/Zuhal). Inilah keyakinan lama yang menganggap Bumi sebagai pusat alam semesta.

Orang-orang dahulu (khususnya Romawi dan Yunani) juga percaya bahwa ketujuh benda langit itu adalah dewa-dewa yang mempengaruhi kehidupan di Bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam, dengan urutan mulai dari yang terjauh (menurut pengetahuan mereka) yaitu Saturnus, sampai yang terdekat yakni Bulan. Pada jam 00.00, Saturnus-lah yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Karena itu, hari pertama disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris, atau Sabtu dalam bahasa Indonesia. Ternyata, jika kita menghitung hari sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1, memang jatuh pada hari Sabtu. 

Bila diurut selama 24 jam, jam 00.00 berikut-nya jatuh pada Matahari, jadilah hari itu sebagai hari Matahari (Sunday). Setelah Sun’s day adalah Moon’s day (Monday).  Hari berikut-nya adalah Tiw’s day (Tuesday). Tiw adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Mars (dewa perang Romawi kuno). Berikut-nya adalah Woden’s day (Wednesday). Woden adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Merkurius (dewa perdagangan Romawi kuno). Berikut-nya lagi Thor’s day (Thursday). Thor adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Jupiter (dewa Petir, raja para dewa Romawi). Terakhir adalah Freyja’s day (Friday). 

Freyja adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewi Venus (dewi kecantikan Rowawi kuno).

Jumlah hari yang ada tujuh itu, dalam bahasa Arab, nama-nama harinya disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, sampai tujuh, yakni ahad, itsnain, tsalatsah, arba’ah, khamsah, sittah, dan sab’ah.

Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini, sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu. Hari keenam disebut secara khusus: Jum’at serapan dari bahasa Arab Jama’ah, yang  penamaannya langsung diberikan Allah melalui Al-Qur’an, yang menunjuk-kan ada-nya kewajiban shalat Jum’at berjamaah.

Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis, Dominggo, yang berarti hari Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi, orang Islam tidak mempercayai hal itu (beda agama maka beda pula cerita yang diceritakan agama masing-masing), sehingga lebih menyukai pemakaian “Ahad” daripada “Minggu”.

ASAL-USUL PENAMAAN HARI DALAM BAHASA INGGRIS

  • Sunday ⇐ Sun’s day = Hari penyembahan dewa matahari.

  • Monday ⇐ Moon’s day = Hari penyembahan dewi bulan

  • Tuesday ⇐ Tiw’s day = Hari penyembahan dewa tiw, atau tiwes, atau
    teves.

  • Wednesday ⇐ Woden’s day = Hari penyembahan dewa woden, atau
    wooden. woden = oden atau odin (dewa kayu/tumbuhan).

  • Thursday ⇐ Thor’s day = Hari penyembahan dewa thor.

  • Friday ⇐ Friy’s day = Hari penyembahan dewa friyy, atau frigg,
    atau frigid.

  • Saturday ⇐ Saturn’s day = Hari penyembahan dewa saturnus.

Histori Dari Kesimpulan

Sebelum berdirinya kerajaan Roma, kalender romawi kuno cuma punya 10 bulan (304 hari), dengan Maret (March/Mars) sebagai bulan pertama dan Desember (December/Deci) sebagai bulan terakhir.

Musim dingin (januari-februari) adalah masa pasif, tidak diperhitungkan dalam kalender. Ini berlaku di masa awal berdirinya kerajaan Roma oleh raja Romulus.

Raja Roma kedua adalah Numa Pompillus di tahun 717 BC. Numa Pompilius ini selanjutnya menambahkan 2 bulan awal di kalender romawi, yaitu bulan Januari dan Februari menjadi total 12 bulan. Jauh berabad-abad sebelum ditemukan ilmu astronomi, paganisme yunani dan romawi mempercayai bahwa benda-benda langit adalah perwujudan para dewa-dewa mereka. Maka sebaliknya, mereka juga menganggap kehadiran dewa-dewa yang ada di bumi adalah perwujudan dari benda-benda langit.

Contoh: planet mars = dewa mars bagi mereka Mars yang benda langit dan Mars yang dewa perang adalah sosok yang sama.

ASAL-USUL PENAMAAN HARI DALAM BAHASA INDONESIA:

  • Minggu ⇐ Domingo, Portugis = hari minggu/pekan (satuan waktu 7 hari)

  • Senin ⇐ Itsnain ( إثنين ) Arab = Dua, atau hari ke-2

  • Selasa ⇐ Tsalasa ( ثُّلَاثاء ) Arab = Tiga, atau hari ke-3

  • Rabu ⇐ Arba’a ( أَرْبعاء ) Arab = Empat, atau hari ke-4

  • Kamis ⇐ Khamis ( خَمِيس ) Arab = Lima, atau hari ke-5

  • Jum’at ⇐ Jum’at ( جُمْعَة ) Arab = Jama’ah, atau hari berjama’ah
    di masjid,

  • Sabtu ⇐ Sabtu ( سَّبْت ) Arab = hari Sabat, hari ibadah umat Nabi:
    Yusuf, Ayyub, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Zakariya, Yahya, ‘Isa… عليهم السلام dan para Nabi keturunan Bani Isra’il.

Diantara masa keruntuhan Majapahit dan Penjajahan negara-negara eropa, mayoritas bangsa kita memakai kata Ahad ( أحد ) arti: satu, untuk penamaan hari pertama. Nama hari Ahad masih digunakan dalam banyak tulisan (surat dan buku) sampai dengan awal-awal abad 19.

ASAL-USUL PENAMAAN BULAN DALAM KALENDER HIJRIAH

  • Muharram (محرّم) = Haram ⇒ haram berperang.

  • Safar (صفر) = Perjalanan musim para kabilah berdagang keluar
    daerah.

  • Rabi’ al-awwal (ربيع الأول) = awal Musim Semi.

  • Rabi’ al-akhir (ربيع الآخر) = akhir Musim Semi.

  • Jumada al-awal (جمادى الاول) = awal Musim Kering/mati (tumbuhan).

  • Jumada al-akhir (جمادى الآخر) = akhir Musim kering/mati (tumbuhan).

  • Rajab (رجب) = Menghormati persiapan bekal (fisik dan mental) menuju
    bulan Ramadhan.

  • Sya’ban (شعبان) = Berpencar berpencar mencari mata air.

  • Ramadhan (رمضان) = bulan diturunkan-NYA ayat-ayat al-Qur’an.

  • Syawal (شوّال) = Membawa musim hewan berkembang biak
    (betina membawa isi).

  • Dzu al-Qa’idah (ذو القعدة) = pemilik sikap duduk/tidak berdiri
    masa tenang, tidak berperang.

  • Dzu al-Hijjah (ذو الحجة) = pemilik masa Hajj/Haji musim Haji.

VALENTINE’S DAY

Yunani: disebut Gamelion adalah “bulan pernikahan”, dipersembahkan atas masa pernikahan zeus dan hera. Dalam kalender athena kuno, bulan Gamelion ini berjarak di antara pertengahan januari dan pertengahan februari kalender masehi/gregorian.

Roma: disebut Lupercalia adalah sebuah festival/ritual romawi kuno (pagan). Di hari itu para pemuda laki-laki dan perempuan mengenakan kulit kambing ditubuhnya, lalu dicambuk berkali-kali, dengan kepercayaan setelah itu peranakan bisa subur. Di akhir ritual itu para pemuka agama (pagan) “menjodohkan pasangan-pasangan” laki-laki dan perempuan untuk dinikahkan. Pernikahan itu cuma berlaku satu tahun, yaitu sampai dengan perayaan Lupercalia di tahun berikutnya.

Februa adalah sebuah festival/ritual pensucian. Pensucian ini adalah dalam rangka menyambut tahun baru pada masa itu, yaitu bulan Maret.

HALLOWEEN

Adalah evolusi kata dari “all hallows eve” (all hallows even) yang bermakna malamnya para orang/roh suci, adalah malam sebelum hari “all hallows day”.

Ini adalah kepercayaan bangsa Celtic kuno pagan (saat ini wilayah Britania Raya) merayakan festival arwah-arwah orang mati. Mereka percaya di malam itu perbatasan antara dunia manusia dan dunia lain menipis, maka para roh-roh jahat bisa menembus masuk.

Tujuan mereka bertopeng dan berkostum seram ala setan adalah dengan maksud menyamar sebagai roh jahat juga, adalah dalam rangka ‘tricking’ supaya dikira “sesama atau teman” dan tidak disakiti.

Salam dunia maya,

Semoga bermanfaat untuk anda yang membaca, jika diperlukan silahkan di copy-paste.

-o0o-
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2014 in umum

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: