RSS

Asal Kata PALESTINA

24 Nov

Tahukah Anda Asal Kata PALESTINA ?

Palestina dengan meneropong kembali menuju abad ke 13 SM dimana sebelum tahun 1500 SM tanah Palestina merupakan tanah Kana’an. Suku-suku Kana’an menguasai tanah Kanaan lebih dari 1000 tahun sampai sekitar tahun 1500 SM, pada saat itu suku-suku Yahudi mulai masuk dan lambat laun tinggal di daerah tersebut. Suku-suku Yahudi inilah nantinya bertikai dengan suku Filistin, yakni suku keturunan yang berasal dari Yunani dan dari kata Filistin inilah maka terciptanya kata Palestina (Oleh W. Churchill dalam bukunya DUDUK PERKARA MASALAH PALESTINA).

Tahukah Anda Siapakah BANI ISRAIL ?

Nah… disini terlebih dahulu kita harus menilik sejarah dari KENABIAN yang diawali pada masa Nabi Yakub. Dan disini pula kita dituntut untuk meneropong kembali 400 tahun sebelum tahun 1500 SM sekitar tahun 1900 SM.

Sebagaimana yang telah banyak kita ketahui dan fahami bahwa Nabi Yakub merupakan Cucu dari Nabi Ibrahim, ringkasnya dari dua orang Istrinya yang bernama sarah dan hajar yang masing-masing melahirkan seorang anak, dari Istri yang kedua yaitu Hajar melahirkan Nabi Ismail yang kelak keturunanya menurunkan Nabi Besar Muhammad Saw, sementara itu dari Istri Pertama Nabi Ibrahim yakni Sarah melahirkan Nabi Ishaq AS, nabi Ishaq ini hanya mempunyai seorang istri dan mempunyai dua orang anak yakni :

1. Essau, 2. Yakub.

Kedua anak ini selalu tidak akur walaupun mereka saudara kandung dikarenakan sang ibu sangat sayang sekali kepada anak keduanya yaitu Yakub. Hal inilah yang menyebabkan rasa dendam anak pertamanya ‘Essau’ sehingga untuk menjaga hal yang tak dimungkinkan sang Ayah menyuruh anaknya untuk mengembara ke asal kampung ibunya.

Sesuai dengan sejarah yang dijelaskan oleh Alqur’an maupun Al-Kitab (Injil) karena kita meyakini Kedua Kitab ini menyimpan catatan Langit, Yakub mengembara menuju kampung ibunya cukup lama melalui gurun sahara/padang pasir dan berjalan pada malam hari saja, sementara pada siang harinya sembunyi sambil beristirahat di bebatuan/gua-gua padang pasir karena takut berjumpa abangnya, dari sinilah Allah menyebutnya Israil yang artinya berjalan dimalam hari, jadi jelas nama ini juga berasal dari Allah alias nama kedua Yakub, yang kelak anak cucunya/keturunanya dinamakan Bani Israil (Bani: Keturunan, jadi Bani Israil: Keturunan Yakub).

Tahukah Anda Dimana Wilayah Kana’an ?

Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. (QS. Al Anbiyaa: 71)

Sekitar tahun 2500 SM, yang saat ini disebut Negara: Syria, Lebanon, dan Palestina dulunya merupakan satu wilayah tanah Kanaan. Sebelum Palestina berdiri sebagai sebuah negara, wilayah Palestina yang sekarang ini merupakan bagian dari tanah Kanaan. Kala itu tanah Kanaan merupakan pusat tempatnya perkumpulan masyarakat, di mana wilayah timur dibatasi oleh Lembah Efrat, wilayah selatan berbatasan dengan Mesir, di sebelah barat berbatasan dengan Laut Mediterania, dan di sebelah utara berbatasan dengan tanah Hittite.

Secara umum, wilayah Kanaan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu wilayah pesisir, dataran tinggi atau pegunungan, dan Lembah Yordan. Wilayah pesisir berada di sebelah barat, menyisir Laut Mediterania. Wilayah ini menjadi pusat ekonomi dan pertanian tempat sebagian besar dari Kaum Kanaan berdiam. Dataran tinggi tanah Kanaan meliputi pegunungan-pegunungan yang membentang dari utara sampai selatan. Wilayah ini terdiri dari beberapa bagian, di antaranya bagian utara yang di dalamnya terdapat Gunung Hermon (atau sering disebut dengan nama Gunung Siryon) yang tingginya mencapai 2800m, Pegunungan Samaria, dan Pegunungan Yudea.

Penduduk Kanaan yang tinggal di kawasan pegunungan biasanya bermata pencarian sebagai petani biji-bijian, buah-buahan, sayur-mayur, dan sebagai penggembala. Lembah Yordan terdiri atas Sungai Yordan yang mata airnya terletak di sebelah barat Gunung Hermon, Laut Galilea yang dikelilingi bukit-bukit, dan Laut Mati yang dianggap sebagai genangan air paling rendah di dunia (berada pada posisi 397m di bawah permukaan laut). Oleh sebab itu, iklimnya panas sekali karena tidak adanya saluran keluar, sehingga berimbas jika airnya meluap maka akan menguap. Hal inilah yang menyebabkan airnya penuh dengan kadar garam dan mineral-mineral lainnya.

Jadi kesimpulannya bahwa Negara-negara seperti: Syria, Lebanon dan Palestina yang sekarang ini dahulunya bernama wilayah Kanaan karena dahulunya pernah ada dan diduduki oleh suku Kana’an.

Keberadaan Laut Mediterania sangat menguntungkan Kaum Kanaan. Iklim yang kondusif membuat Kaum Kanaan mendirikan pemukiman di sekitarnya. Mereka mendirikan kerajaan-kerajaan kecil yang terdiri atas kota-kota seperti Betshean, Meggido, Arriha, dan Al Quds (di pedalaman). Ada pula kota Gaza dan Askalon yang terletak di pesisir Tanah Kanaan. Kota-kota tersebut yang menjadi penyebaran penduduk Kanaan.

Tahukah Anda Siapa Yang Berhak Atas Tanah PALESTINA ?

Dengan merujuk sejarah dimana dahulunya Palestina yang hanya merupakan secuil bagian wilayah dari Kanaan yang cukup luas, terlebih dahulu kita harus juga mengetahui asal usul berdirinya Kana’an seperti yang telah diterangkan diatas agar kita tidak menjadi buta akan sejarah. Dan ingat … sesungguhnya sejarah yang dapat kita klaim kebenarannya kalau boleh dikatakan 100% di dunia ini salah satunya adalah tentang asal-usul Bani Israil yang jelas-jelas sejarahnya tersurat langsung melalui Alkitab (Injil) maupun Al-Qur’an yang wajib kita imani/yakini.

Seperti yang telah kita ketahui Israil merupakan panggilan Allah kepada Nabi Yakub yang mempunyai empat orang istri yakni : 1. Lea, 2. Rahel (adalah putri pamannya sendiri yang bernama Laban yang merupakan adik dari ibunya), 3. Bilha, 4. Zilpa.

Dari istrinya yang bernama Lea, Yakub mendapatkan enam orang putra dan seorang putri yaitu: Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, Zebulon, dan bernama Dina (satu-satunya anak perempuan).

Sementara dari istri yang bernama Rahel beliau mendapatkan dua orang anak yang bernama Yusuf (Nabi) dan Bunyamin.

Dan dari Bilha, budak perempuan Rahel, ia mendapatkan Dan dan Naftali. Dari Zilpa, budak perempuan Lea, ia mendapatkan Gad dan Asyer.

Ke 12 putra Nabi Yakub ini kalau di urut berdasarkan kelahiran yakni: Rubin, Simeon, Lawway/Lewi, Yehuda, Zebulaon, Isakhar, Dann, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf, dan Bunyamin.

Putra-putra Ya’qub inilah yang kelak merupakan cikal bakal lahirnya istilah Bani Israil (yang artinya keturunan Yakub). Mereka dan keturunannya dalam Bahasa Arab disebut sebagai Al-Asbath, yang berarti cucu-cucu.

Sibith yang dalam bangsa Yahudi adalah seperti suku bagi bangsa Arab, tepatnya pada suku Batak di Indonesia disebut dengan marga dan mereka yang berada dalam satu sibith/marga berasal dari satu bapak. Masing-masing anak Yakub kemudian menjadi bapak bagi sibith/marga Bani Israil ini. Dengan demikian seluruh Bani Israil berasal dari putra-putra Yakub yang berjumlah 12 orang.

Dalam sibith-sibith/marga ini kelak diturunkan para nabi-nabi yang lain, di antaranya adalah:

  • Lewi/Lawway di keturunannya terdapat Musa, Harun, Ilyas, dan Ilyasa. dan Isa/Yesus (baca: keturunan sebenarnya)
  • Yehuda, di keturunannya terdapat Daud, Sulaiman, Zakaria, dan Yahya.
  • Bunyamin, di keturunannya terdapat Yunus.

Sekitar tahun 1900 SM, setelah mereka menduduki wilayah Kana’an, Nabi Yakub membagikan wilayah Kana’an ini menjadi 12 bagian/wilayah untuk diwarisi kepada anak-anaknya (Bani Israil) tersebut.

Dalam hal ini suku Lewi tidak mendapatkan daerah warisan karena mereka dianggap suku spesial yaitu dianggap sebagai suku para Imam, sementara suku Yusuf mendapat 2 warisan/wilayah atau mendapat berkah ganda karena istri Nabi Yusuf yang bernama Asnat berasal dari Mesir yang menamakan diri sebagai suku Manasye dan Efraim. Dengan demikian tanah Kana’an telah terbagi menjadi 12 bagian/wilayah yang kelak diisi oleh keturunannya sendiri (Bani Israil). Mereka pernah hidup diwilayah ini berabad-abad lamanya beranak-pinak hingga jutaan jiwa dan terbentuklah Kerajaan Israil atau wilayah Israil Raya (disebut Israil Raya karena perpecahan wilayah belum terjadi saat itu) yang pemerintahannya dikendalikan oleh seorang raja.

Sekitar tahun 1020 SM Bani Israel berhasil mendirikan pemerintahan kerajaan dan Thalut diangkat sebagai raja pertamanya.

Sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran :
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Baqara, 247) Raja Saul (Thalut), Raja Pertama Kerajaan Israil Raya, Raja Daud (Nabi Daud as), Raja Kedua, Raja Salomo (Nabi Sulaiman as), Raja Ketiga.
Setelah Wafatnya Raja Salomo (Nabi Sulaiman as) yaitu Raja Ketiga dari Kerajaan Israel Raya, tahta pemerintahan dipegang/dikendalikan oleh anaknya sendiri bernama Rehabeam, dari detik awal pemerintahannya terus menerus terjadi pergolakan politik dan mengakibatkan perang saudara.

Terpecahnya Kerajaan ISRAIL RAYA

Perang saudara yang terjadi di masa awal pemerintahan Rehabeam (anak dari Raja Salomo/Nabi Sulaeman) berimbas pada perpecahan sehingga 10 Suku melepaskan diri dari Kerajaan Israil Raya dan membuat kerajaan tersendiri yang bernama Kerajaan Israel Utara yang mengambil Samaria sebagai ibu kotanya, 10 Suku ini terdiri dari 9 Suku (yang memiliki hak tanah) yaitu suku: Zebulon, Isakhar, Asyer, Naftali, Dan, Manasye, Efraim, Ruben dan Gad, dan beberapa anggota dari Suku Lewi yang tidak memiliki hak tanah, sedangkan suku Simeon diduga telah tercerai-berai sekembalinya dari Mesir.

Sementara 2 suku lagi yakni Yehuda (Yudea) dan Bunyamin bergabung dan bersatu membentuk Kerajaan Israel Selatan dengan ibu kotanya bernama Yerusalem yang selanjutnya merupakan cikal-bakal adanya Negara Israel sekarang ini serta asal mulanya penyebutan Yahudi (Bangsa Yahudi). Kerajaan Israel Selatan ini pada awalnya dipimpin oleh Raja Rehabeam dimana kerajaan ini memiliki penduduk dari Suku Yehuda dan Benyamin (dan juga dihuni oleh beberapa suku Lewi dan Simeon yang masih tersisa).

Era Penaklukan Wilayah ISRAEL

Pada tahun 721 SM Samaria sebagai ibuKota Kerajaan Israel Utara diserbu oleh pasukan Asyur (Asiria) yang dipimpin oleh Salmaneser V dan dilanjutkan oleh Sargon II, setahun kemudian Samaria takluk dan dihancurkan. Penduduk Kerajaan Israel Utara yang terdiri dari 10 suku Israel ini diasingkan dan dibuang ke Khorasan yang sekarang merupakan bagian dari Iran Timur dan Afganistan Barat.

Suku-suku ini dipercaya oleh bangsa Yahudi sekarang sebagai 10 suku yang hilang karena sejarah mereka melebur dengan suku-suku bangsa ditempat mereka tinggal. Perang pun terus berlanjut di Timur Tengah. Bangsa-bangsa kuat saling beradu satu sama lain memperebutkan kawasan Timur Tengah. Pada tahun 603 SM, kekuasaan bangsa Asyur (“Asiria”) kalah dan dikuasai oleh bangsa Babel (“Babilonia”).

Di masa kekuasaan Babilonia inilah Kerajaan Israel Selatan atau Kerajaan Yehuda jatuh dan Yerusalem dihancurkan sekitar tahun 587/586 SM, hal yang sudah lumrah dalam peperangan wilayah yang mereka taklukkan menjadi wilayahnya maka wilayah ini disebut juga dengan wilayah kerajaan Babilonia dan pada saat itu berlangsunglah masa pembuangan yang berkepanjangan dari wilayah kekuasaan Babilonia.

50 tahun kemudian sekitar tahun 538 SM Kekaisaran Persia merebut kekuasaan Babilonia yang berada diwilayah Yerusalem dan sekitarnya. Sebagian Suku Yehuda dan Benyamin diperkenankan untuk kembali ke Yudea/Yerusalem namun sepuluh Suku Israel lainnya yakni penduduk dari Kerajaan Israel Utara tidak pernah disebutkan kembali sehingga mereka dijuluki sebagai “Sepuluh Suku (Utara) Israel yang ‘Hilang’.

Dengan demikian, 10 suku yang hilang ini telah meleburkan diri/bersatu dengan penduduk setempat yang dapat disebut juga sebagai Kaum Kana’an (karena wilayah tersebut sebelumnya disebut wilayah Kana’an) dan digolongkan dalam kategori Al Arab Al Baidah (bangsa Arab yang telah musnah). Tempat-tempat ini sekarang terletak pada bagian utara Irak dan sebelah barat laut Iran yang disebut Kurdistan.

Kesepuluh Suku Israel tersebut mulanya diangkut ke sana. Menurut sejarawan kuno bernama Flavius Yosefus yang hidup pada abad pertama Masehi, di mana ia menulis tentang keberadaan kesepuluh Suku tersebut: “… kesepuluh Suku yang berada di Efrat hingga sekarang, dan yang berjumlah sangat besar, yang jumlahnya tidak dapat diperkirakan.” (Antiquitates Iudaicae 11:2) Yosefus menulis bahwa pada abad pertama Masehi kesepuluh Suku Israel hidup dalam jumlah yang sangat besar di seberang Sungai Efrat. Hal ini mungkin berarti bahwa beberapa dari mereka tersebar ke sebelah timur sungai Efrat.

Kekaisaran Sassania merupakan Kekaisaran Persia Keempat (226–651)

Ardashir I, yang merupakan shah pertama Kekaisaran Sassania, mulai membangun kembali ekonomi dan militer Persia. Wilayahnya meliputi kawasan Iran modern, Irak, Suriah, Pakistan, Asia Tengah dan wilayah Arab. Pada zaman Khosrau II (590-628) pula, kekaisaran ini diperluas hingga Mesir, Yordania, Palestina, dan Lebanon. Orang-orang Sassania menamakan kekaisaran mereka : Erānshahr (atau Iranshæhr, “Penguasaan Orang Arya”)

Sejarah Persia seterusnya diikuti dengan konflik selama enam ratus tahun dengan Kekaisaran Romawi. Menurut sejarawan, Persia kalah dalam Perang al-Qādisiyyah (632 M) di Hilla, Iraq. Rostam Farrokhzād, seorang jenderal Persia, dikritik kerana keputusannya untuk berperang dengan orang Arab di bumi Arab sendiri. Kekalahan Sassania di Babilonia/Irak menyebabkan tentara mereka tidak keruan dan akhirnya ini memberi jalan kepada futuhat Islam atas Persia.

Era Sassania menyaksikan memuncaknya peradaban Persia, dan merupakan kekaisaran Persia terakhir sebelum kedatangan Islam. Pengaruh dan kebudayaan Sassania kemudian diteruskan setelah pemelukan Islam oleh bangsa Persia. Dan mereka menguasai wilayah ini berabad-abad lamanya.

Masa Kejayaan Kerajaan Ottoman/Utsmaniyah

Pada abad ke-15 dan 16, Kesultanan Utsmaniyah memasuki periode ekspansi. Kesultanan ini berhasil makmur di bawah kepemimpinan sejumlah Sultan yang tegas dan efektif. Ekonominya juga maju karena pemerintah mengendalikan rute-rute perdagangan darat utama antara Eropa dan Asia.

Sultan Selim I (1512–1520) memperluas batas timur dan selatan Kesultanan Utsmaniyah secara dramatis dengan mengalahkan Shah Ismail dari Persia Safavid dalam Pertempuran Chaldiran. Selim I mendirikan pemerintahan Utsmaniyah di Mesir dan mengerahkan angkatan lautnya ke Laut Merah. Setelah ekspansi tersebut, persaingan pun pecah antara Kekaisaran Portugal dan Kesultanan Utsmaniyah yang sama-sama berusaha menjadi kekuatan besar di kawasan itu.

Suleiman Agung (1520–1566) mencaplok Belgrade tahun 1521, menguasai wilayah selatan dan tengah Kerajaan Hongaria sebagai bagian dari Peperangan Utsmaniyah–Hongaria. Setelah memenangkan Pertempuran Mohács tahun 1526, ia mendirikan pemerintahan Turki di wilayah yang sekarang disebut Hongaria (kecuali bagian baratnya) dan teritori Eropa Tengah lainnya. Ia kemudian mengepung Wina tahun 1529, tetapi gagal. Tahun 1532, ia melancarkan serangan lain ke Wina, namun dikalahkan pada Pengepungan Güns. Transylvania, Wallachia, dan Moldavia (sementara) menjadi kepangeranan bawahan Kesultanan Utsmaniyah. Di sebelah timur, bangsa Turk Utsmaniyah merebut Baghdad dari Persia pada tahun 1535, menguasai Mesopotamia, dan mendapatkan akses laut ke Teluk Persia.

Pengaruh Islam Setelah Menjadi Khalifah Bumi

Di abad ke 7 M, faham pengikut Nabi Muhammad memerintahkan kaum Muslimnya agar mengusir kaum Yahudi dari Jazirah Arab, kecuali jika kaum Yahudi itu setuju untuk bayar pajak spesial (Jizyah) dan hidup di bawah pemerintahan Muslim sebagai warga negara kelas dua (berstatus sebagai dzimmi) di bawah dominasi Muslim. Dengan begitu, masyarakat dzimmi diperkenankan tinggal dan hidup di tempat itu selama mereka terus-menerus membayar jizyah kepada penguasa Muslim dan hidup dengan hak-hak yang sangat terbatas. Minoritas Yahudi telah hidup di Palestina selama berabad-abad di bawah status dzimmi.

Kekaisaran Turki Ottoman memperbolehkan kaum Yahudi hidup di daerah Arab selama mereka tetap berstatus sebagai minoritas dzimmi, tunduk di bawah hukum Syariat, dan tetap dikontrol oleh masyarakat mayoritas Muslim.

Sementara kaum Yahudi yang hidup di Eropa kala itu seringkali menderita penindasan oleh masyarakat Eropa karena mereka dianggap sebagai kaum elit. Para pemimpin bisnis Yahudi cenderung memberikan jabatan kepemimpinan diantara orang-orang Yahudi, dan banyak orang Yahudi yang tidak berusaha untuk berbaur secara sosial dengan masyarakat non-Yahudi. Keberhasilan keuangan kaum Yahudi juga menyebabkan mereka punya pengaruh politik. Selain itu, kaum Yahudi percaya bahwa mereka adalah ‘bangsa pilihan’. Hal ini yang menyebabkan timbulnya sikap Antisemitisme di Eropa, dan puncaknya adalah Holocaust oleh Nazi Jerman di Perang Dunia II.

Akibat dari penindasan di Eropa, timbulah gerakan Zionisme (faham untuk membentuk wilayah/Negara) di tahun 1897. Zionisme intinya adalah gerakan politik yang menginginkan terbentuknya negara Yahudi dan ini disebut sebagai “Tanah Air Negara Yahudi”. Kaum Zionis awalnya hanya berurusan dengan masalah politik dan pemeliharaan budaya Yahudi semata. Kebanyakan pemimpin utama kelompok ini adalah Yahudi sekuler dan bukan agama Yahudi, misalnya David Ben-Gurion.

Zionisme bertujuan untuk mendirikan Negara Israel, dan mengajak semua Yahudi di dunia untuk tinggal di sana. Gerakan Zionis terpecah diantara kaum Yahudi yang di satu pihak menginginkan tanah air yang sekuler dan di lain pihak menginginkan tanah air yang berdasarkan aturan agama. Inggris dahulu menawarkan Uganda sebagai tempat tinggal bangsa Yahudi. Tapi saat ini banyak kaum Zionis yang menganggap Palestina sebagai negara agama mereka.

Banyak kaum agama Yahudi yang menganggap sudah kewajiban mereka untuk menguasai tanah mereka, sama seperti yang tertulis di Kitab Suci mereka ketika kakek moyang mereka menghadapi bangsa Filistin dan Kanaan. Para pemimpin politik sekuler lalu mulai menggunakan pesan-pesan agama untuk mensahkan tindakan politik mereka.

Di akhir Perang Dunia I, Kekaisaran Ottoman/Utsmaniyah kalah dan Inggris berkuasa atas tanah Palestina melalui mandat dari Liga Bangsa Bangsa. Inggris kemudian terlibat dalam persetujuan yang saling bertentangan yakni negara Yahudi di Palestina dan juga Palestina yang dikuasai oleh Arab saja. Tidaklah mungkin bagi Inggris untuk memenuhi perjanjian ini seluruhnya. Tanah Palestina saat itu dihuni oleh sekitar setengah juta orang. Kaum mayoritas adalah para petani dan pekerja Arab yang tinggal di daerah pedesaan.

Begitu gerakan Zionisme berkembang, penghuni Yahudi mulai membeli lahan-lahan tanah yang luas dari pemilik tanah Palestina. Perlahan masyarakat Yahudi juga mulai meninggalkan Eropa dan bermukim di Palestina, dan ini mengakibatkan timbulnya nasionalisme Arab di seluruh daerah Palestina.

Terjadinya Holocaust di PD II mengakibatkan dorongan internasional yang mendesak untuk membentuk negara Yahudi. Inggris menyerahkan tanggung jawabnya atas Palestina kepada PBB yang saat itu baru saja terbentuk. Dengan pimpinan AS dan Uni Soviet, resolusi PBB nomer 181 membagi tanah Palestina jadi 3 bagian:

(1) Negara Yahudi (2) Negara Arab (3) Daerah internasional di Yerusalem

Resolusi ini diajukan dan disetujui anggota-anggota PBB di tahun 1947, tapi ditolak oleh negara-negara Arab. Para Muslim Arab menganggap bahwa pembentukan Negara Israel sangat bertentangan dengan ajaran Nabi mereka Muhammad, yang jelas-jelas memerintahkan bahwa seluruh Jazirah Arab harus dan hanya dikuasai oleh Muslim saja. Israel terletak di tanah yang sama dengan Jazirah Arab. Masyarakat Arab Palestina merasa PBB berpihak pada Zionis Israel.

Setelah negara-negara Arab menolak resolusi PBB, Inggris menolak mendukung berdirinya negara Israel sebab jika Inggris mendukung maka ini akan jadi sumber persengketaan dengan negara-negara Timur Tengah. Inggris tidak mau membantu kaum Yahudi untuk pengalihan kekuasaan kepada Pemerintah Yahudi.

Di tahun 1948, Palestina yang dihuni oleh orang-orang Yahudi dan Palestina yang kebanyakan adalah orang-orang Arab ini berubah drastis setelah Israel menjadi negara independen dimana Israel secara sepihak mengumumkan kedaulatannya di tanggal 14 Mei 1948 sehingga negara-negara Arab seperti Yordania, Mesir, Suriah, Lebanon dan Irak serta merta mengumumkan perang terhadap Israel dengan tujuan mengubah isi resolusi PBB, karena mereka tidak sudi membagi tanah Jazirah Arab dengan kaum Yahudi, dan ini sesuai dengan ajaran Muhammad.

Tiada alasan lain ultimatum mereka selain hal itu, walaupun sebenarnya negara2 mereka tidak terpengaruh secara langsung atas berdirinya negara Israel. Dengan mengumumkan slogan “Dorong Yahudi Masuk Laut” (atau maksudnya: Basmi Kaum Yahudi), mereka lalu menyerang.

Menurut catatan resmi sensus League of Nations dan Arab, sekitar 539.000 orang Arab meninggalkan Israel atas himbauan pihak tentara Arab. Tentara Arab punya dua alasan dalam mengajak orang Arab ke luar dari Israel:

(1) Untuk mengamankan orang-orang Arab dari daerah perang. (2) Mereka mengira jika semua orang Arab ke luar dari daerah palestina yang di klaim Israel, maka ekonomi Israel akan hancur karena sebagian besar pekerja di Israel adalah orang-orang Arab.

Para pengungsi Arab dijanjikan oleh negara-negara Arab yang berperang ini bahwa mereka tidak hanya diperbolehkan kembali ke rumah-rumah mereka setelah Arab menang perang atas Yahudi, tapi juga boleh mengambil alih harta dan tanah yang tadinya dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Haj Amin al-Husseini (Mufti Yerusalem) memimpin orang-orang Arab melawan Israel. Dia dituduh sebagai Mufti yang bekerja sama dengan Nazi di Nuremberg sebelum dia akhirnya melarikan diri di tahun 1946. Catatan sejarah menunjukkan bahwa Haj Amin al-Husseini aktif mendukung tujuan Hitler untuk membasmi Yahudi di PD II.

Selama peperangan antar Israel melawan negara-negara Arab, kaum Yahudi yang tinggal di negara-negara Arab seperti Mesir, dilarang meninggalkan negara oleh penguasa-penguasa Arab guna mencegah mereka mendukung Israel.

Kaum Yahudi hanya memperoleh senjata dari satu negara saja yaitu: Cekoslowakia. Tapi anehnya, bukan hanya mereka mengalahkan semua negara-negara Arab tersebut, tapi mereka berhasil merampas tanah Arab dan ini biasa dianggap sebagai konsekuensi kalah perang. Israel bukanlah satu-satunya negara yang mengambil tanah lawan yang kalah perang. Yordania juga mengambil tanah Daerah Barat (Tepi Barat) yang dulu dikenal sebagai tanah Yahudi Yudea dan Samaria, termasuk daerah Yahudi Timur Yerusalem (yang sekarang disebut sebagai daerah Arab Yerusalem), dan Mesir mengambil Jalur Gaza. Puncaknya kedua negara Mesir dan Yordania membunuh dan mengusir SEMUA orang Yahudi yang hidup di negara-negara mereka saat itu.

Setelah kalahnya negara-negara Arab, sekitar 850.000 orang Yahudi diusir paksa dari negara-negara Arab di mana mereka tinggal selama berabad-abad. Kaum Yahudi ini dipaksa meninggalkan harta benda dan tanah mereka. Akhirnya mereka masuk ke tanah Israel tanpa uang sepeser pun. Para pengungsi Yahudi ini disambut hangat oleh negara baru Israel. Mereka diberi sandang, pangan dan papan.

PENGUNGSI ARAB-PALESTINA YANG TADINYA MENINGGALKAN PALESTINA DAN LALU TINGGAL DI NEGARA-NEGARA ARAB TIDAK DISAMBUT DENGAN HANGAT DAN HANYA DITEMPATKAN DI BARAK-BARAK PENGUNGSI. Badan Pengungsi PBB lalu menyediakan bantuan ketika negara-negara Arab tidak mau atau tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup para pengungsi. Banyak barak-barak pengungsian ini yang lalu berubah jadi tempat latihan terorisme yang diolah oleh negara-negara Arab sendiri. Suriah, misalnya, menyediakan senjata-senjata dan latihan-latihan bagi para pengungsi.

Akan tetapi, KETIKA ISRAEL MENGALAHKAN ARAB, NEGARA-NEGARA ARAB TIDAK MAU MENGAKUI PARA PENGUNGSI PALESTINA SEBAGAI WARGA NEGARA DI NEGARA MEREKA. KEBANYAKAN PENGUNGSI PALESTINA DITERLANTARKAN DAN TIDAK DIBERI HAK-HAK WARGA NEGARA. INI KEMUDIAN JADI MASALAH PERMANEN PALESTINA.

Sayangnya Yordania dan Mesir yang menduduki tanah rampasan mereka selama 19 tahun dan selama masa itu mereka tidak mau menciptakan negara berdaulat untuk orang-orang Arab (orang Palestina) yang tinggal di daerah itu (sekarang semua orang-orang Arab itu disebut sebagai orang Palestina).

Yordania dan Mesir juga tidak berusaha mengajak orang-orang Palestina itu masuk ke negara mereka atau memberi mereka status warga negara Yordania atau Mesir. Kuburan-kuburan orang Yahudi dibongkar dan batu-batu nisan mereka digunakan sebagai bahan jalanan dan bahan bangunan. Rumah-rumah dan tanah Yahudi diberikan kepada para pemimpin Arab.

==================

Pengharaman Tanah Palestina Bagi Bani Israil Selama 40 Tahun

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja.” (Al-Maa’idah 5:24)

Tahun 1020 SM Bani Israel berhasil mendirikan pemerintahan kerajaan dengan Thalut sebagai raja pertamanya. Sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran:

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu. ” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Baqara, 247)

Tatkala Allah mewahyukan perintah-Nya kepada Musa untuk memimpin kaumnya pergi ke Palestina (disini dapat juga disebutkan pergi ke wilayah Kana’an karena Palestina merupakan wilayah bagian Kana’an) tempat suci yang telah dijanjikan oleh Allah kepada Ibrahim untuk menjadi tempat tinggal anak cucunya, mereka membangkang dan enggan melaksanankan perintah itu.

Alasan penolakan mereka ialah karena mereka harus menghadapi suku Kana’an yang menurut anggapan mereka adalah orang-orang yang kuat dan perkasa yang tidak dapat dikalahkan dan diusir dengan adu kekuatan. Mereka tidak mempercayai janji Allah melalui Musa, bahwa dengan pertolongan-Nya mereka akan dapat mengusir suku Kan’aan dari kota Ariha untuk dijadikan tempat pemukiman mereka selama-lamanya.

Di antara Bani Israil itu, ada 2 orang bertakwa yang menasihati mereka agar masuk dari pintu kota supaya mereka bisa menang. Akan tetapi Bani Israil menolak nasihat itu dan melontarkan kepada Musa kalimat yang menunjukkan pembangkangan dan sifat pengecut, “Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, sementara kami menunggu di sini.”

Melihat sikap umatnya yang pengecut, maka naik pitamlah Musa kepada umatnya yang tidak mau berjuang dan memeras keringat untuk mendapat tempat pemukiman tetapi ingin memperolehnya secara hadiah atau melalui mukjizat sebagaimana mereka telah mengalaminya dan banyak peristiwa. Dan yang menyedihkan hati Musa ialah kata-kata mengejek mereka, yang menandakan bahwa dada mereka masih belum bersih dari benih kufur dan syirik kepada Allah.

Sehingga Bani Isra’il pun mendapatkan hukuman karena telah menolak perintah Allah memasuki Palestina, Allah mengharamkan negeri itu atas mereka selama empat puluh tahun dan selama itu mereka akan mengembara berkeliaran di atas bumi Allah tanpa mempunyai tempat mukim yang tetap. Mereka hidup dalam kebingungan sampai musnahlah mereka semuanya dan datang menyusul generasi baru yang akan mewarisi negeri yang suci itu sebagaimana yang telah dijanjikan Allah kepada Ibrahim.

Kisah diatas tercantum dalam Al Qur’an surah Al-Ma’idah: 20 – 26 yang berbunyi:

( 20 ) Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”.

( 21 ) Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.

( 22 ) Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya”.

( 23 ) Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

( 24 ) Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”.

( 25 ) Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”.

( 26 ) Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu”.

baca: AKAR PERMASALAHAN KONFLIK ARAB–ISRAEL

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 November 2014 in umum

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: