RSS

Menyikap, Mengenal Serta Memaknai Ayat-ayat Mutashabihat Dalam Kacamata Sain Modern

06 Feb

Allah SWT berfirman :

3_7 (1)

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Q.S. Al Imran : 7)

Ar-Raghib al-Ashfihani memberikan kriteria ayat-ayat mutasyabihat sebagai ayat atau lafal yang tidak diketahui hakikat maknanya, seperti tibanya hari kiamat, sehingga ayat-ayat Al-Qur’an ini hanya bisa diketahui maknanya dengan sarana bantu, baik dengan ayat-ayat muhkamat, hadis-hadis sahih maupun ilmu pengetahuan, sementara untuk ayat-ayat yang lafalnya terlihat aneh dan hukum-hukumnya tertutup, ayat-ayat ini hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang dalam ilmunya (orang-orang berilmu).

Sebagaimana diisyaratkan dalam doa Rasulullah untuk Ibnu Abbas, Ya Allah, karuniailah ia ilmu yang mendalam mengenai agama dan limpahankanlah pengetahuan tentang ta’wil kepadanya.

Oleh karenanya Islam menyatakan dengan tegas: Ilmu dan agama ibarat saudara kembar yang tak terpisahkan.

Pendapat Para Ulama

Menurut pendapat para ulama, ayat-ayat Mutasyabih dapat dibagi yang diantaranya :

  1. Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat mengetahui maksudnya, seperti pengetahuan tentang zat Allah dan hari kiamat, hal-hal gaib, hakikat dan sifat-sifat zat Allah. Sebagai mana Firman Allah dalam QS. Al-An’am :59

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ……

Artinya : “dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahui kecuali Dia sendiri….. “

  1. Ayat-ayat yang setiap orang bisa mengetahui maksudnya melalui penelitian dan pengkajian, seperti ayat-ayat : Mutasyabihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas, panjang, urutannya, dan seumpamanya QS An-Nisa : 3

…وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

Artinya : “dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim, maka kawinilah wanita-wanita…”. (sehingga maknanya dapat diketahui oleh para Ulama tertentu dan bukan semua Ulama dan maksud yang demikian adalah makna-makna yang tinggi yang memenuhi hati seseorang yang  jernih jiwanya dan mujahid.)

Perbedaan pendapat antara ulama khalaf dan ulama salaf mengenai ayat-ayat mutasyabihat dimulai dari pengertian berbagai macam sebab dan bentuknya. Dalam bagian ini, pembagian khusus tentang ayat-ayat mutasyabihat yang menyangkut sifat-sifat Tuhan, yang dalam istilah As-Suyuti “ayat al-shifat” dan dalam istilah Shubi al-Shalih “mutasyabih al-shifat” ayat-ayat yang termasuk dalam katagori ini banyak, diantaranya : Surah ar-Rahman [55]: 27 :

وَيَبْقى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلاَلِ وَالأِكْرَامِ

Artinya : Dan kekallah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Atau dalam Q.S. Taha [20]: 5 Allah berfirman :

الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْـتَوى

Artinya : “(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy”.

Oleh karenanya, Subhi al-Shalih membedakan pendapat ulama ke dalam dua mazhab.:

  1. Mazhab Salaf, yaitu orang-orang yang mempercayai dan mengimani sifat-sifat mutasyabih itu dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri. Mereka mensucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil ini bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan Al-Qur’an serta menyerahkan urusan mengetahui hakikatnya kepada Allah sendiri. Karena mereka menyerahkan urusan mengetahui hakikat maksud ayat-ayat ini kepada Allah, mereka disebut pula mazhab Mufawwidah atau Tafwid. Ketika Imam Malik ditanya tentang makna istiwa`, dia berkata:

الاِسْتِوَاءُ مَعْلُوْمٌ وَالْكَيْفُ مَجْهُوْلٌ وَالسُّؤَالُ عَنْـهُ بِدْعَةٌ وَ اَظُـنُّـكَ رَجُلَ السُّوْءَ اَخْرِجُوْهُ عَنِّيْ.

Terjemahan: “Istiwa` itu maklum, caranya tidak diketahui (majhul), mempertanyakannya bid’ah (mengada-ada), saya duga engkau ini orang jahat. Keluarkan olehmu orang ini dari majlis saya”.

Maksudnya, makna lahir dari kata istiwa jelas diketahui oleh setiap orang. akan tetapi, pengertian yang demikian secara pasti bukan dimaksudkan oleh ayat. sebab, pengertian yang demikian membawa kepada asyabih (penyerupaan Tuhan dengan sesuatu) yang mustahil bagi Allah. karena itu, bagaimana cara istiwa’ di sini Allah tidak di ketahui. selanjutnya, mempertanyakannya untuk mengetahui maksud yang sebenarnya menurut syari’at dipandang bid’ah (mengada-ada).

Kesahihan mazhab ini juga didukung oleh riwayat tentang qira’at Ibnu Abbas.

وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَـهُ اِلاَّ الله ُ وَيُقُوْلُ الرَّاسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ امَـنَّا بِه

Artinya : Dan tidak mengetahui takwilnya kecuali Allah dan berkata orang-orang yang mendalam ilmunya, ”kami mempercayai”. (dikeluarkan oleh Abd. al-Razzaq dalam tafsirnya dari al-Hakim dalam mustadraknya).

  1. Mazhab Khalaf,yaitu ulama yang menkwilkan lafal yang makna lahirnya mustahil kepada makna yang layak dengan zat Allah, karena itu mereka disebut pula Muawwilah atau Mazhab Takwil. Mereka memaknai istiwa` dengan ketinggian yang abstrak, berupa pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa merasa kesulitan. Kedatangan Allah diartikan dengan kedatangan perintahnya, Allah berada di atas hamba-Nya dengan Allah Maha Tinggi, bukan berada di suatu tempat, “sisi” Allah dengan hak Allah, “wajah” dengan zat “mata” dengan pengawasan, “tangan” dengan kekuasaan, dan “diri” dengan siksa. Demikian sistem penafsiran ayat-ayat mutasyabihat yang ditempuh oleh ulama Khalaf.

Alasan mereka berani menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat, menurut mereka, suatu hal yang harus dilakukan adalah untuk memalingkan lafal dari keadaan kehampaan yang mengakibatkan kebingungan manusia karenanya membiarkan lafal terlantar tak bermakna. Selama memungkinkan mentakwil kalam Allah dengan makna yang benar, maka nalar mengharuskan untuk melakukannya.

Kelompok ini, selain didukung oleh argumen aqli (akal), mereka juga mengemukakan dalil naqli berupa atsar sahabat, salah satunya adalah hadis riwayat Ibnu al-Mundzir yang berbunyi:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ :(وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهُ اِلاَّ اللهُ وَ الرَّاسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ) قَالَ: اَنَـامِمَّنْ يَعْلَمُوْنَ تَـأْوِيْـلَهُ.(رواه ابن المنذر)

Terjemahan: “dari Ibnu Abbas tentang firman Allah:  Dan tidak mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya”. Berkata Ibnu Abbas: ”saya adalah di antara orang yang mengetahui takwilnya. (H.R. Ibnu al-Mundzir).

Begitupun dengan ayat-ayat lainnya seperti:

Surah 27, An-Naml ayat 91:

“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Maksud dari ayat ini tidak lain: Katakan, wahai Muhammad, kepada manusia, “Aku diperintahkan hanya untuk menyembah Allah, Tuhan Penjaga negeri Mekah yang mulia, suci dan aman, agar aku termasuk orang-orang yang berserah diri.

Atau penyebutan “Masjidil Haram”, kenapa bukan Masjidil Halal ?.

Yang dimaksud masjidil haram adalah suatu masjid yang berada di tanah haram yang didalamnya terdapat Ka’bah. Kata Al Haram disini merujuk pada tanah suci Mekkah yang didalamnya dilarang untuk berbuat yang diharamkan oleh Allah SWT. Seperti yang dijelaskanNya pada surat Al Baqarah ayat 144.

Ini hanyalah sedikit contoh dari ayat-ayat  Mutasyabihaat, ayat-ayat yang seperti inilah banyak dipakai sebagai bahan propaganda untuk menyerang Islam terutama datang dari kaum non-Islam, jadi kesimpulannya apabila kita menemukan banyak orang-orang menyerang Islam dengan memakai dalih-dalih ayat mutasyabihaat ini sesungguhnya kita tidak terkejut lagi karena Allah telah memberitahukan kita melalui Surah Al-Imran  ayat 7 yang artinya: “… Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya sesuai dengan hawa nafsunya….”.

Hikmah dan Nilai-nilai Pendidikan dalam ayat-ayat Muhkam dan Mutasyabih

Al-Quran adalah rahmat bagi seluruh alam, yang didalamnya terdapat berbagai mukzijat dan keajaiban serta berbagai misteri yang harus dipecahkan oleh umat di dunia ini. Allah tidak akan mungkin memberikan sesuatu kepada kita tanpa ada sebabnya.

Sehingga terdapatlah beberapa hikmah yang kita miliki dengan adanya ayat-ayat muhkan dan mutasyabih, diantara hikmahnya adalah :

  • Andai kata seluruh ayat Al-Qur’an terdiri dari ayat-ayat muhkamat, maka akan sirnalah ujian keimanan dan amalan karena pengertian ayat yang jelas.
  • Apabila seluruh ayat Al-Qur’an berisikan ayat-ayat mutasyabihat, niscaya akan padamlah kedudukannya sebagai penjelas dan petunjuk bagi manusia yaitu orang yang benar-benar keimanannya yakin bahwa Al-Qur’an seluruhnya datang dari sisi Allah, sementara kita dituntut untuk meyakini dengan segala yang datang dari sisi Allah pasti hak dan tidak mungkin bercampur dengan kebatilan, seperti dalam firman-Nya:

لاَ يَأْتِيْهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلاَ مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيْلٌ مِنْ حَكَيْمٍ حَمِيْدٍ

Artinya: “Tidak akan datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakang, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”. (Q.S. Fushshilat [41]: 42)

  1. Al-Qur’an yang berisi ayat-ayat muhkamatdan ayat-ayat mutasyabihaat, menjadi motivasi bagi umat Islam untuk terus menerus menggali berbagai kandungannya sehingga kita akan terhindar dari taklid, membaca Al-Qur’an dengan khusyu’ sambil merenung dan berpikir.
  2. Ayat-ayat Mutasyabihaatini mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkap maksudnya, sehingga menambah pahala bagi orang yang mengkajinya.
  3. Jika Al-Quran mengandung ayat-ayat mutasyabihat, maka untuk memahaminya diperlukan cara penafsiran dan tarjih  antara satu dengan yang lainnya. Hal ini memerlukan berbagai ilmu, seperti ilmu bahasa, gramatika, ma’ani, ilmu bayan, ushul fiqh dan sebagainya. Apabila ayat-ayat mutasyabihaat itu tidak ada niscaya tidak akan ada ilmu-ilmu dan tidak akan muncul/lahir.

Apabila ayat-ayat mutasyabihaat itu tidak ada niscaya tidak akan ada ilmu-ilmu dan tidak akan muncul/lahir, mari kita fahami konsep ini dan apa maksudnya?.

Sekarang mari kita sejenak merenungkan apa yang dikatakan oleh Michael H. Hart dalam bukunya 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, mengatakan: “Alam dan hukum alam tersembunyi di balik malam. Tuhan berkata, biarlah Newton ada! Dan semuanya akan terang benderang”,  ini jelas-jelas merupakan makna yang disebut dengan “Mutasyabihaat” ditinjau dari kacamata sain modern, dan kalimat ini ditujukan untuk: ISAAC NEWTON yang hidup pada tahun 1642-1727 dimana ia menempatkannya pada urutan ke 2 yakni setelah Nabi Muhammad pada urutan 1 dan sebelum Yesus pada urutan 3.

Apa maksud perkataan: “biarlah Newton ada! Dan semuanya akan terang benderang” pada ungkapan ini?, ataukah hanya sekedar puisi saja?.

Sesungguhnya hikmah dari perkataan ini tidak lain sebagai pembuktian kebenaran sain modern untuk ilmuwan seperti Galileo atas “dokrin gereja” (anggapan gereja kala itu apabila bumi berputar tentu segala isinya akan saling berbenturan dan terjawab dengan lahirnya teori “Hukum gerak Newton”) saat itu dimana Eropa secara umum yang umatnya mayoritas penganut Kristen harus tunduk pada aturan-aturan yang dikeluarkan gereja, sehingga gereja membentuk aturan sendiri dengan mendirikan lembaga inkuisisi. Lembaga inkuisisi inilah yang nantinya dipakai sebagai alat propaganda apabila ada orang-orang cerdik pemikir yang dianggap tidak sesuai dengan isi Alkitab (Bible) yang mereka yakini maka orang tersebut akan diadili sampai-sampai dihukum mati maupun dibakar hidup-hidup. (Merupakan fakta sejarah yang tidak bisa ditutupi lagi).

Siapa yang tidak kenal ilmuwan seperti : Giordano Bruno, Michael Servetus, Copernicus, Galileo Galilei, (korban Inkuisisi Gereja: Giordano Bruno dan Michael Servetus dibakar hidup-hidup, sementara Copernicus dan Galileo Galilei dihukum seumur hidup). Para ahli sejarah ada yang menyebutkan bahwa mereka lahir terlalu cepat dari waktunya, dimana paradigma kala itu dikuasai oleh ego manusia yang dibelenggu oleh aturan agama yang teramat kuat  dan dikenal dengan istilah abad renaissance (abad munculnya pembaharuan/gerakan budaya Yunani-Romawi sehingga membentuk kebudayaan tradisional yang sepenuhnya diwarnai oleh ajaran Kristen masuk ke ranah pengetahuan/pendidikan umum), sebab menurut kitab suci, manusialah puncak penciptaan Sang Pencipta dan penciptaan itu adanya hanya di bumi semata.

Kebenaran adakalanya sering dikaitkan dengan pikiran atau mitos yang menjadi keyakinannya yang justru seringkali melahirkan prinsip egoistik yang mendalam, ibarat pendapat kebanyakan orang bahwa matahari itu terbit dari timur dan terbenam disebelah barat, atau dengan perkataan “Sinar Bulan” yang seolah-olah bulanpun memproduksi sinar,  padahal kenyataannya salah total, karena sesungguhnya matahari itu tidak pernah mengenal terbit maupun terbenam; terjadinya malam dan siang dikarenakan bumi berputar pada porosnya (rotasi), itulah faktanya, dan begitupun dengan “Sinar Bulan” yang sesungguhnya bulan mendapatkan sinarnya karena adanya  matahari sesuai dengan pengetahuan perkembangan sain modern, akan tetapi manusia dengan egonya tetap menggambarkan sesuai dengan persepsi dan konsepsinya sendiri!, bukankah semua ini dapat dikatakan merupakan ayat-ayat Tuhan yang bernama Mustabihat ?.

Makanya tepatlah jika seorang genius yang bernama Einsteinpun turun tangan dan melontarkan pemkirannya dalam bentuk Quot menyikapi ayat-ayat mutasyabihaat ini sesuai yang tersirat dalam Al-Qur’an jauh sebelumnya:

“In so far as theories of mathematics speak about reality, they are not certain, and in so far as they are certain, they do not speak about reality”.

(Sejauh teori matematika berbicara tentang kenyataan, mereka tidak yakin, dan sejauh mereka yakin, mereka tidak berbicara tentang kenyataan).

**Geometri dan Erfahrung (1921) hal. 3-4 link.springer.com seperti dikutip oleh Karl Popper, Dua Masalah Mendasar Teori Pengetahuan (2014) Tr. Andreas Pickel, Ed. Troels Eggers Hansen. (Catatan: Disini Einstein mencoba membuka tabir kembali terhadap olah pikir manusia dimana orang hanya mampu meyakini sesuatunya sesuai dengan kenyataan yang dilihat saja).  Sumber: Pemikiran Albert Einstein 1920

baca: Rotasi dan Revolusi Bumi dalam Al-Qur’an
baca: Al-Qur’an, Tentang Cahaya Bulan

Tidaklah salah jika Allah bersikeras menjelaskannya dengan  berfirman : “tidak ada yang mengetahui ta’wil/maknanya melainkan Allah beserta  orang-orang yang mendalam ilmunya yang merupakan pelajaran untuk orang-orang yang berakal, ayat ini dituangkan-Nya pada Surah Al-Imran ayat 7. Sungguh Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Isaac Newtonlah orangnya yang sanggup menyuguhkan kumpulan teori yang terangkum rapih dan meletakkan batu pertama ilmu pengetahuan modern yang kini arusnya jadi anutan banyak orang, dan Isaac Newton pulalah yang menyelamatkan/membela/membersihkan nama baik untuk para ilmuwan yang disebutkan diatas sehingga keberadaan Isaac Newton sendiri seolah-olah sengaja diutus tuhan untuk membuktikan kebenaran sain modern yang jauh-jauh hari telah dikemukakan oleh para ilmuwan, sehingga untuk membuktikan ayat mutasyabihaat sain tersebut diwakili oleh penemuan Isaac Newton sendiri yang seolah-olah tuhan mengatakan:  “biarlah Newton ada! Dan semuanya akan terang benderang”,  dimana ketika lahirnya Isaac Newton tahun 1642 bertepatan dengan tahun wafatnya Galileo, dan seakan-akan merupakan kilah-kilah/pertanda sebagai pembuka tabir kebenaran.

Dengan hukum gerak Newton (Teori Gravitasi) yang terkenal itulah dapat membela sehingga menyelamatkan kebenaran para ilmuwan sebelumnya dan menjungkir-balikkan kepercayaan orang-orang terdahulu yang berpedoman pada Alkitab (Bible) karena menganggap sebagai sumber keyakin yang hakiki yang  harus dijunjung tinggi kemurnian dan kebenarannya.

(baca: Einstein Bingung, Tuhan Mengambil Bentuk Seperti Manusia)

Atas dasar inilah Napoleon Bonaparte, dengan berani menyatakan dalam bukunya yang berjudul ‘Bonaparte et I’Islam oleh Cherlifs, Paris’, sebagai berikut:

“I read the Bible; Moses was an able man, the Jews are villains, cowardly and cruel. Is there anything more horrible than the story of Lot and his daughters?” “The science which proves to us that the earth is not the centre of the celestial movements has struck a great blow at religion. Joshua stops the sun! One shall see the stars falling into the sea… I say that of all the suns and planets,…”
( “Saya membaca Bible; Musa adalah orang yang cakap, sedang orang Yahudi adalah bangsat, pengecut dan jahat. Adakah sesuatu yang lebih dahsyat dari pada kisah Luth beserta kedua puterinya?” (Lihat Kejadian 19:30-38) “

Sains telah menunjukkan bukti kepada kita, bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, dan ini merupakan pukulan hebat terhadap agama Kristen. Yosua menghentikan matahari (Yosua 10: 12-13). Orang akan melihat bintang-bintang berjatuhan kedalam laut…. saya katakan, semua matahari dan planet-planet ….”)

Sebagai umat Islam, kita merasa bangga karena keberadaan ayat-ayat mutasyabihaat  saat ini terwakili oleh pakar-pakar sain modern yang mencoba mengungkapkan misteri keagunganNya dalam segala bidang disiplin ilmu, karena bagaimanapun dalam Islam, Ilmu dan agama tidak dapat terpisahkan, selalu  seiring dan sejalan yang tentunya dengan mempergunakan akal seperti yang ditegaskan banyak firman-firmanNya.

Oleh karena itu tidaklah salah kalau ada banyak hadits-hadits yang tidak asing lagi turut menegaskannya seperti: “Tuntutlah Ilmu sejak dari ayunan hingga ke liang lahat” atau “Tuntutlah Ilmu sekalipun ke Negeri China”, terlepas shahihnya atau tidak dari hadits-hadits tersebut yang jelas pentingnya Ilmu dan Akal banyak dijelaskan melalui firmanNya di Al-Qur’an, jadi tidaklah salah ungkapan hadits-hadits tersebut, karena bagaimanapun Ilmu dan Agama ibarat saudara kembar, bukti pernyataan yang tulus dalam ajaran Islam, Islam tidak mengenal faham “fideism” yakni faham yang menganggap iman dan ratio/akal selalu bermusuhan, faham yang dikembangkan oleh Martin Luther.

Saking pentingnya Ilmu Pengetahuan, Allahpun berfirman untuk umat dan agamaNya yang diridhoi:

Qs 58 Al Mujaadilah ayat 11:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ

Artinya : “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmupengetahuan beberapa derajat…”

Qs 39 Az Zumar ayat 9:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: “…Katakanlah, apakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak tahu…”

Apalagi dewasa ini pesatnya perkembangan sain dari berbagai macam disiplin ilmu sampai-sampai membuka tabir terhadap ruang angkasa untuk menterjemahkan ayat-ayat Tuhan, seperti firmanNya:

Qs 55 ArRahman ayat 33:
Artinya : “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.

Makna dari ayat ini hanya dengan kekuatan atau ilmu pengetahuanlah bisa terpecahkan , kekuatan bahasa Arabnya “sulthon” disini ditafsir dengan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat.

Walaupun kita sadari untuk menafsirkan al-Qur’an dengan berbagai teori ilmiah tersebut berbahaya. Karena kalaulah kita menafsirkannya dengan teori tersebut lalu datang teori yang lain yang bertentangan dengannya, maka akan berkonsekuensi bahwa Al-Qur’an ternyata tidak benar dalam pandangan musuh-musuh Islam, meskipun bagi umat Islam sendiri mengatakan bahwa yang salah adalah yang menafsirkan Al-Qur’an tersebut, namun musuh-musuh Islam selalu mencari-cari kesempatan.  Yang perlu ditekankan dan diingat bahwa Al-Qur’an itu diturunkan untuk urusan ibadah, akhlaq dan agar di tadabburi maknanya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’aala :

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (Qs.38 ayat 29)

Kendatipun kita sadari juga bahwa penemuan-penemuan brilian  melalui kaca mata sain modern saat ini merupakan pembuktian kebenaran Firman-firmanNya pada Al-Qur’an yang diturunkan kepada utusanNya  yakni  Muhammad SAW , seperti  yang tertulis dalam surah Fushshilat ayat 53,
Allah berfirman:

“Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri, sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu.

 

Oleh: Ady Irawady, sebagai renungan 6 February 2017 malam yang diambil dari berbagai sumber.
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Februari 2017 in umum

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: