RSS

Tragedi Michael Servetus

12 Apr
Tragedi ServetusIlustrasi Pembakaran Michael Servetus

Michael Servetus adalah seorang teolog dan dokter berkebangsaan Spanyol yang hidup di era: 1511-1553. Sumbangsih keilmuannya kepada kita adalah penemuannya tentang sirkulasi darah pada paru-paru. Pada masa-masa awal kehadirannya dianggap sebagai orang yang sesat oleh banyak kaum Reformis terkemuka saat itu, sehinga ia memutuskan hubungan dengan Gereja Katolik Roma dan ada juga yang menggambarkan idenya merupakan suatu aliran setidaknya bagian dari denominasi Protestan, ia mengadopsi keyakinannya yang sangat berseberangan dengan keyakinan yang dianut kebanyakan masyarakat sehingga dianggap menciptakan aliran sesat, dan ia sendiri menyangkal bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah apalagi Tuhan itu sendiri. Dia juga menolak pemahaman paedo-baptis, keyakinannya tersebut selanjutnya yang mendepakannya baik dari Protestan maupun Katolik.

Karyanya yang dituangkan menjadi bundel Buku-buku yang kesemua tema membahas tentang doktrin Kristen, dibaca untuk diteliti dan diperiksa secara berulang-ulang oleh Gereja Katolik yang pada akhirnya ia dikutuk sebagai orang yang sesat. Ia ditangkap, diadili dan didakwa hukuman mati, namun saat itu berhasil melarikan diri dari para pengejarnya.

Walaupun ia seorang teolog Kristen namun ia sendiri merupakan seorang ilmuwan dimana akal dan pikiran adalah senjata utama sebagai seorang Ilmuwan, oleh karena itu ia mencoba untuk dapat menafsirkan ayat-ayat suci Bible/Alkitab sesuai dengan olah pikirnya sebagai seorang ilmuwan. Namun yang didapat adalah ayat-ayat yang bertolak belakang baik ditinjau dari akal maupun pikiran,  sehingga ia di cap oleh John Calvin, seorang pemuka agama yang punya pengaruh dan penggagas Calvinisme, sebagai seorang yang menentang agama.

Sejak saat itulah Ia menjadi musuh teologis Calvin dan mereka saling menghina satu sama lainnya (Servetus beranggapan bahwa Calvin seorang yang menjengkelkan, sebaliknya Calvin-pun merasa Servetus adalah seorang sombong yang mengobral  kepintarannya). Apalagi Servetus ditolak oleh Kristen ortodok (karena isu-isu seperti trinitas), kendati demikian Michael Servetus tetap berpegang teguh dengan pendapatnya yang ia anggap paling benar walaupun dianggap sesat oleh Calvin serta para pengikutnya.

Champel_Servetus
Monumen Michael Servetus, Champel, Swiss

Atas tudingan sesat pada Servetus ini awalnya sempat ditahan oleh pihak inkuisisi gereja, tapi dibebaskan karena kurangnya bukti. Segera setelah itu, ia kembali ditangkap oleh gereja Katolik dan dihukum karena disini John Calvin menggunakan pengaruhnya turut melibatkan diri untuk memberikan bukti-bukti kuat yang terperinci dengan mengirim beberapa hasil tulisan-tulisan Servetus yang dianggap sesat kepada pihak berwenang. Namun, lagi-lagi Servetus mampu melarikan diri dari penjara dan bebas untuk menulis lagi.

Calvin sebelumnya telah bersumpah bahwa jika keadaan memungkinkan, ia mengharuskan Servetus tewas, tapi Servetus mampu melarikan diri dari penjara sehingga menggagalkan rencana-rencana yang telah diaturnya, bukti ini dapat dilihat melalui isi surat yang dibuat Calvin peninggalan tahun 1546, dan bisa dilihat hingga kini :

“Belum lama ini Servetus telah menulis kepada saya, dan menjelaskan isi dari semua angan-angannya sambil memperlihatkan keremehan serta keangkuhan dalam suratnya. Saya menemukan di antara tulisan-tulisannya hal-hal yang aneh, seakan-akan seperti saya belum pernah mengetahui sebelumnya; dan saya harap, dia sendirilah yang datang. Tapi saya tidak bertanggung jawab atas keselamatannya; dan jika ia datang, saya tidak akan pernah membiarkan dia, dengan menggunakan pengaruh yang saya miliki, bisa jadi untuk memberangkatkannya dari dunia ini.[1]

Yang mengherankan, Servetus bukannya melarikan diri ke tempat aman, malah dia muncul satu malam di sebuah gereja di Jenewa untuk mendengar Calvin berkhotbah (seolah-olah menantang Calvin). Calvin tentu saja, tidak melewatkan kesempatan dan melalui seorang temannya Nicholas de la Fontaine penangkapan Servetus dilakukan atas dasar 40 tuduhan bid’ah besar.

Selama persidangan, Calvin menulis bahwa ia berharap putusan pengadilan akan tertuju pada kematian [2], dan hal yang diharapkan Calvin-pun terwujud. Servetus akhirnya dibakar di suatu tiang yang disekitarnya telah ditumpukkan kayu bakar bersamaan dengan buku-bukunya. Michael Servetus-pun tewas terpanggang bersama tempelan keyakinannya akan kebenaran.

Sesungguhnya orang-orang intelektual yang diperlakukan seperti ini cukup jujur dalam mengemukakan pikiran mereka, mereka mempunyai keberanian untuk berbicara sebuah kebenaran. Walaupun imbasnya dikemudian hari mereka disiksa, dibunuh diatas panggangan kobaran api.

Sejak terjadinya belenggu kebebasan berpikir itu dan selanjutnya, lahirnya orang-orang jenius mulai dipandang serius karena adanya suatu rasa intelektual yang jujur dalam dirinya. Para intelektual seperti ini sesungguhnya tidak mempercayai adanya pantangan ataupun dogma misalnya, terhadap hari-hari yang pantang yang dipercaya oleh banyak orang, justru mereka mengecamnya dan dianggap suatu takhyul.

Banyak orang yang menyayangkan, pada masa itu melihat para pemimpin gereja tega dijadikannya manusia sebagai substansi lahapan api – dimana profesi imam yang seharusnya dijadikan suri tauladan malah – diisi dengan rasa kebencian dan penghinaan serta kutukan, hanya karena adanya faktor perbedaan berpikir atau lebih tepatnya karena mereka beda dalam menafsirkan isi dari Alkitab/Bible.

Kekuatan teror serta kematian yang berada ditengah-tengah mereka saat itu tidak akan mengubah dan menggoyahkan orang-orang akan pendiriannya. Setiap orang punya hak untuk menyangkal dan menolak Alkitab/Bible – apalagi mencium salib. Karena mereka berpendapat Kemanusiaan adalah lebih besar dari Kristus, walaupun berimbas pada kematian sekalipun mereka menganggap sebagai pemanis/bunga-bunga kehidupan dalam merangkul kebebasan berpikir seperti yang telah diterapkan oleh Torquemada seorang pendiri Inkuisisi saat itu, yang menyuruh menuangkan timah cair ke dalam telinga kepada orang yang tidak sepaham terutama para ilmuwan,  ataupun seperti yang dilakukan Calvin ia merasa tenang setelah membakar hidup-hidup Michael Servetus.

Bank of Wisdom
Box 926, Louisville, KY 40201
26

Sumber-sumber :

[1] Henry, Paul. The Life and Times of John Calvin, Vol II. Whittaker & Co, London. Pg. 181

[2] Calvin to William Farel, August 20, 1553, Bonnet, Jules (1820–1892) Letters of John Calvin, Carlisle, Penn: Banner of Truth Trust, 1980, pp. 158–159. ISBN 0-85151-323-9.

Para Ilmuwan Korban Inkuisisi Gereja, sejarah mencatat :

  1. Giordano Bruno (disiksa dan dibakar hidup-hidup),
  2. Michael Servetus (disiksa dan dibakar hidup-hidup),
  3. Nicolaus Copernicus (dihukum seumur hidup),
  4. Galileo Galilei (dihukum seumur hidup).

Sekilas Tinjauan :

Kehadiran Michael Servetus bertepatan dengan awal abad dimulainya Renaissance, adalah lahirnya kembali masyarakat Eropa untuk mempelajari ilmu pengetahuan Yunani dan Romawi Kuno yang ilmiah/rasional dan berlangsung mulai abad ke XV hingga sekitar tahun 1650. Kemudian disusul zaman Rasionalisme dan zaman Modern. Sebelum Renaissance, bangsa Eropa mengalami jaman kegelapan/The Dark Age. Dalam priode Renaissance ini gereja berkuasa mutlak, ajaran gereja menjadi sesuatu yang tidak boleh dibantah. (baca: Sejarah Lahirnya Renaissance)

Kesimpulannya adalah Renaissance gerakan suatu zaman di mana orang merasa dirinya telah dilahirkan kembali dalam keadaban yang diartikan sebagai suatu periode sejarah di mana perkembangan kebudayaan Barat memasuki periode baru dalam semua aspek kehidupan manusia, seperti ilmu-ilmu pengetahuan, teknologi, seni dalam semua cabang, perkembangan sistem kepercayaan, perkembangan sistem politik, institusional, bentuk-bentuk sistem kepercayaan yang baru dan lain-lain, sehingga banyak muncul ahli-ahli pikir rasional (ilmuwan).  Namun pada priode ini peran gereja sangat dominan, dan dogma yang dianut sebagai suatu keyakinan tidak dapat disandingkan dengan rasio olah pikir (rasio dan iman bertolak belakang), yang pada akhirnya berdampak lahirnya banyak gerakan-gerakan yang mencoba melepaskan dari ikatan dari pengaruh gereja.

Dalam jaman itu pula, pemikiran-pemikiran ilmiah terbelenggu oleh adanya dogma-dogma Gereja. Berpadunya budaya Romawi kuno dan Yunani kuno ini juga banyak lahir tokoh-tokoh besar sebagai aktor yang yang menciptakan sejarah besar dikemudian hari, diantaranya seperti:

Martin Luther (1483 – 1546),
Joh Calvin (1509 – 1564),

Hadirnya Servetus dalam membedah Kitab yang dipandang sakral yang disesuaikan dengan akal serta pola pikirnya sebagai seorang Ilmuwan, berdampak negatif. Apalagi dengan munculnya Martin Luther sebagai sang pencetus Protestan hasil dari imbas Katolik Roma, salah satunya masalah paham yang mengesahkan adanya Indulgensi yakni penghapusan dosa, ditambah lagi dengan diberlakukannya dan diperjual-belikan surat-surat pengampunan dosa ini secara umum oleh pihak Gereja Katolik saat itu.

Sebagaimana yang telah banyak diketahui oleh para pakar Teolog dari kalangan kristen sendiri (khususnya di Eropa, Amerika Serikat dan negara maju), kaumnya menjadi pemeluk agama yang tidak memiliki keyakinan akan imannya. Ketidakmasuk-akalan ini sering mereka sebut sebagai akal tidak bisa menggapai tentang perihal Ke-Esaan Tuhan yang dicoba di utak-atik dan dibedah oleh Michael Servetus.

Hal inilah yang dipahami oleh Martin Luther seorang pastur Jerman dan ahli teologi Kristen dan pendiri Gereja Lutheran, gereja Protestan, pecahan dari Katolik Roma. Dia merupakan tokoh terkemuka bagi Reformasi. Ajaran-ajarannya tidak hanya mengilhami gerakan Reformasi, namun juga mempengaruhi doktrin, dan budaya Lutheran serta tradisi Protestan.

Sehingga untuk menghindari adanya kebimbangan mengenai konsep TRINITAS terutama bagian yang membahas; KEESAAN ALLAH; Martin Luther  memprakarsai sebuah pandangan yang disebut dengan istilah “Sola Fide” adalah pemahaman iman yang sangat mengandalkan iman saja kepada Yesus Kristus. Ajaran imannya disebut Solafidianisme. Ajaran ini bermula dari zaman reformasi pada abad 16 yang mendapat dukungan dari Yohanes Kalvin (Penggagas Calvinisme asal Perancis) dan Zwingli (pemimpin dan pendiri Gereja Reformasi Swiss). Sola Fide mengajarkan bahwa keselamatan manusia hanya diperoleh dari pembenaran oleh iman semata-mata. Ajaran ini merupakan reaksi terhadap ajaran yang menekankan keselamatan manusia terletak pada perbuatan baik manusia.

Selain ajaran yang menekankan perbuatan baik, hal ini juga merupakan kritik terhadap gereja Kristen pra reformasi yang mengajarkan bahwa keselamatan hanya ada dalam gereja. Salah satunya tampak dalam praktik pengakuan dosa di depan gereja dengan membeli Indulgensi dan membayar kepada gereja.
Para reformator berpendapat bahwa keselamatan manusia hanya karena anugerah Allah saja, bukan karena usaha manusia. Jika manusia berbuat baik, itu hanya sebagai respon akan kasih Allah yang telah hadir di dunia dalam wujud manusia Yesus Kristus. Manusia diampuni dosanya jika ia beriman kepada Allah dalam Yesus Kristus.

(baca: wikipedianya)

FIDEISME 

Fideisme adalah ajaran teologi yang selaras dengan pandangan yang menyatakan bahwa iman tidak membutuhkan pembenaran rasional; sesungguhnya iman, dalam bidang agama, adalah wasit bagi akal pikiran dan dalih-dalihnya. Fideisme adalah kebalikan dari rasionalisme. Fideisme (dari kata Latin: ‘fides”, iman) secara harfiah berarti “iman-isme” adalah sikap membatasi diri pada iman akan wahyu Allah, dan sekaligus menganggap bahwa penggunaan nalar manusia tidak perlu. Fideisme adalah teori epistemologis yang mempertahankan bahwa iman tidak tergantung pada alasan, atau bahwa akal dan iman yang bermusuhan satu sama lain dan iman adalah unggul di tiba di kebenaran tertentu.

Fideisme dapat berwujud iman sederhana seseorang yang merasa cukup dengan mengikuti pedoman agamanya, tak perduli kepada segala macam pikiran, kritik, keresahan intelektual atau paham-paham baru yang diramaikan. la dapat juga berwujud pandangan dunia yang secara prinsipiil menolak segala pertimbangan nalar sebagai tidak memadai terhadap kepastian yang merupakan ciri hakiki wahyu Allah.

Fideisme pada hakekatnya tidak menyadari bahwa kemampuan manusia untuk bernalar adalah juga ciptaan Tuhan yang diberikan untuk dipergunakan serta dimanfaatkan demi tujuan yang baik. Kecuali itu, fideisme salah dalam pengandalan bahwa antara hasil nalar dan wahyu ilahi mesti ada pertentangan. Fideisme mengagungkan iman dan menganggap akal budi menghalangi karya Tuhan. Fiedeisme yaitu iman tanpa akal budi menjadikan manusia tidak manusiawi.

Apologetika

Iman dan akal Budi tidaklah bertentangan. Kita harus mendudukkan pada posisinya masing-masing. Ada pengetahuan yang tidak bisa dicapai akal budi manusia kecuali bila diberitahukan/diwahyukan Allah seperti misteri keselamatan manusia oleh Yesus Kristus. Namun akal budi akan berusaha untuk mengerti apa yang diimaninya. Iman berusaha untuk memahami. Akal budi diciptakan oleh Allah, dan semua yang diciptakan oleh Allah tidak ada yang tidak berguna. Akal budi merupakan saran yang Allah gunakan untuk menyatakan diri-Nya kepada manusia, contohnya: wahyu umum. Dengan wahyu umum yang dapat diterima oleh akal budi manusia dapat mengenal Allah.(Sumber: ezra-christian)

 (Fideism : wikipedianya)

Terdapat cerita yang sudah menjadi turun-menurun tentang keimanan umat kristiani sangking buntunya perihal Ke-Esaan Tuhan:

Seorang Uskup bernama Agustinus telah lama mengalami kebimbangan mengenai konsep TRINITAS terutama bagian yang membahas KEESAAN ALLAH; sang Uskup sangat bingung memikirkan kenapa KEESAAN ALLAH harus dalam TRI TUNGGAL. Padahal yang namanya TUNGGAL/ESA/SATU itu berdiri sendiri (stand alone) tanpa harus tergantung dengan unsur yang lain. Kalau ada beberapa unsur yang menjadi satu maka itu bukan nilai KETUHANAN sebab pasti melewati sebuah proses. baik peleburan maupun penggabungan. Nah kalau memang harus melalui sebuah proses maka pertanyaannya siapa dan bagaimana prosesnya sampai TRI menjadi TUNGGAL? Kenyataannya sekarang bahwa TRINITAS yang diimani oleh seluruh umat Kristiani ternyata melewati proses PENGGABUNGAN.

Pusing sekali sang Uskup sampai-sampai untuk menghilangkan kepusingannya Agustinus pergi ke sebuah pantai, disitu Agustinus bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang membuat sumur-sumuran dengan menggali pasir di tepi laut itu. Uskup Hipo itu bertanya: “Untuk apakah sumur-sumur itu, nak?” Anak itu menjawab, “Saya akan memasukkan semua air laut ke dalam sumur ini.”

Akhirnya, Agustinus mengambil kesimpulan, misteri Tuhan adalah begitu luas seperti luasnya samudera yang tak kelihatan tepinya; sedang otak manusia hanya terbatas seperti sumur-sumuran yang dibuat oleh anak kecil itu. Jadi tidak mungkin kita dapat mengerti dengan jelas misteri Allah; oleh karena itu walaupun Trinitas merupakan hal yang sulit, terimalah saja seperti itu.

Enstein Seorang Ilmuwan turut andil mengomentari kebingungan pandangannya terhadap Tuhan :

Albert Einstein wrote in The New York Times in 1930:

“I cannot imagine a God who rewards and punishes the objects of his creation, whose purposes are modeled after our own–a God, in short, who is but a reflection of human frailty. Neither can I believe that the individual survives the death of his body, although feeble souls harbor such thoughts through fear or ridiculous egoism.”

Terjemahannya kurang lebih :

Albert Einstein menulis dalam majalah The New York Times pada tahun 1930:

“Saya tidak bisa membayangkan bisa-bisanya Tuhan memberi hadiah dan menghukum objek-objek ciptaan-Nya, yang bentuk objeknya diambil dari kita sendiri setelah diciptakan-Nya – Tuhan, singkatnya, hanyalah cerminan dari kelemahan manusia, dapatkah saya percaya bahwa seseorang bisa bertahan setelah kematian tubuhnya sementara tubuh sendiri merupakan pelabuhan jiwa yang lemah adanya, pikiran-pikiran demikian menunjukkan kecemasan atau faham egoisme yang mengada-ada.” Sumber: https://infidels.org/library/modern/james_haught/breaking.html

Masih beranikah lagi disandingnya Akal, Pikiran dan Sain dengan Alkitab ?, seperti yang telah dilakukan oleh Michael Servetus dan para Ilmuwan lainnya.

baca: (Membuat Surah yang Menyamai Al-Qur’an? Siapa Takut!)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 April 2017 in tragedi

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: