RSS

Misteri Yesus Menikah

19 Apr

Bedah Kasus

magdalena
Ilustrasi Maria Magdalena

Pesta Pernikahan Yesus : Mencurahkan Minyak Wangi

Beberapa penyelidikan terhadap naskah laut mati oleh para ahli teologi dan ilmuan sejarawan menunjukkan bukti-bukti yang meyakinkan tentang Yesus yang menikah dan mempunyai istri lebih dari satu. Salah satu guru besar teologi dan alkitab dari Universitas Sydney Australia bernama Prof. Dr. Barbara Thiering (Terjemahan Sanihu Munir) yang melakukan penelitian ilmiah secara mendalam terhadap naskah laut mati selama kurang lebih 20 tahun dan menghubungkannya dengan ayat-ayat Alkitab, menemukan bukti bahwa Yesus melakukan pernikahan dan mempunyai istri, bahkan Yesus mempunyai lebih dari seorang orang istri.

Namun umat Kristen kebanyakan, bahkan beberapa di kalangan umat Islam awam tidak mengetahui informasi tentang pernikahan Yesus. Sebab informasi tentang adanya pernikahan Yesus dan mempunyai istri tersebut berusaha disembunyikan dan dikaburkan oleh pihak gereja yang takut akan terjadi kegemparan besar dalam keyakinan Kristen yang mereka ajarkan selama ini.

Upacara pernikahan Yesus dapat dilihat pada Alkitab Perjanjian Baru yang tertulis sebagai berikut :

…. Datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus. .…” (Markus 14:3)

…. Datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kakinya lalu membasahi kakinya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kakinya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. ….” (Lukas 7:37-38)

Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya, dan bau minyak semerbak diseluruh ruangan rumah itu.” (Yohanes 12:3)

Siapakah perempuan bernama Maria tersebut? Jawabannya mudah dan semua umat Kristen pasti sepakat mengatakan bahwa perempuan itu tidak lain adalah Maria Magdalena.

Nah, cerita tentang seorang wanita bernama Maria Magdalena yang datang membawa minyak wangi narwastu lalu dicurahkan ke atas kepala laki-laki bernama Yesus, kemudian Maria Magdalena berdiri di belakang Yesus, mencium kaki Yesus, dan meminyakinya dengan minyak wangi.

Peristiwa yang mengisyaratkan upacara pernikahan tersebut untuk lebih jelasnya dapat dihubungkan dengan ayat-ayat yang terdapat dalam Alkitab Perjanjian Lama sebagai berikut:

Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur, harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah…” (Kidung Agung 1:2-3)

Ingat, pada Injil Markus 14:3 dan Lukas 7:37-38, Maria Magdalena diceritakan datang mencium Yesus dan mencurahkan minyak wangi ke atas kepala Yesus. Nah, berdasarkan Kidung Agung itu artinya adalah sebuah upacara pernikahan. Ingat, Kidung Agung adalah Kitab tentang pernikahan.

Semua orang-orang Yahudi dimanapun mereka berada pasti mengakui bahwa cerita tersebut memang merupakan tradisi upacara pernikahan di kalangan para bangsawan Yahudi dan masih berlaku hingga sekarang.

Harap diketahui bahwa Yesus adalah seorang bangsawan Yahudi, dari keturunan dinasti Daud, Raja Yahudi terkemuka. Begitupula dengan Maria Magdalena, ia adalah wanita bangsawan Yahudi dari Suku Benyamin (salah satu dari 12 suku Israel).

Memang jika kita membaca keseluruhan Markus 14:3, Lukas 7:37-38, dan Yohanes 12:3 yang menceritakan kedatangan Maria Magdalena tersebut. Ada kesan seakan-akan cerita tersebut akan mengarahkan pembaca untuk menuduh bahwa Maria Magdalena adalah seorang wanita pelacur yang berdosa lalu datang meminta ampun kepada Yesus. Dan kebanyakan umat Kristen berpikir dan meyakini bahwa Maria Magdalena itu adalah perempuan berdosa yang minta ampun kepada Yesus.

Sesungguhnya pola pikir kita yang menganggap Maria Magdalena itu perempuan pelacur dan pendosa itu adalah keliru. Sebab Gereja-lah yang menyebabkan kita berpikir seperti itu. Institusi Gereja berusaha menutupi informasi pernikahan Yesus tersebut dengan mencoba mengaburkan dan merubah jalan cerita pernikahan Yesus tersebut menjadi cerita tentang Maria Magdalena yang berdosa dan minta ampun kepada Yesus. Sebab Gereja tidak mau konsep mereka yang menuhankan Yesus sebagai sosok Tuhan yang sempurna jadi berantakan gara-gara ada informasi tersebut.

Apa jadinya jika ternyata Yesus yang mereka anggap Tuhan itu kemudian menikah dan punya anak. Sudah tentu Tuhan mereka akan mempunyai istri dan punya anak cucu dan cicit. Nah, informasi tentang pernikahan Yesus ini harus ditutup-tutupi dengan rapat oleh Gereja, sebab konsep mereka tentang Ketuhanan Yesus, kematian Yesus ditiang salib, dan Trinitas akan kacau balau nantinya.

Kita kembali kepada perilaku Maria Magdalena yang datang membawa minyak wangi dan mencium Yesus tersebut. Coba dipikir, apakah wajar seorang wanita datang membawa minyak wangi berharga mahal lalu ditumpahkan begitu saja keatas kepala laki-laki dan mencium laki-laki tersebut, hanya untuk meminta pengampunan dosa kepada laki-laki tersebut? Apakah begitu cara kita memohon pengampunan dosa dengan cara menumpahkan minyak wangi berharga mahal dan mencium laki-laki? Aneh khan?

Kita harus melihat fakta sejarah, bahwa Yesus itu sejatinya adalah orang Yahudi. Nah. dalam ajaran dan tradisi Yahudi, jika ada seorang perempuan menyentuh dan mencium laki-laki yang bukan merupakan suaminya, maka perempuan tersebut harus dihukum mati.

Tapi mengapa Maria Magdalena tidak dihukum mati karena mencium Yesus? Karena Maria Magdalena adalah istri dari Yesus, dan siapapun tidak ada yang berhak melarangnya mencium Yesus, sebab Yesus adalah suaminya yang sah.

Jadi penjelasan yang masuk akal adalah bahwa perbuatan Maria Magdalena yang mencurahkan minyak wangi dan mencium Yesus tersebut adalah peristiwa upacara pernikahan yang menunjukkan salah satu prosesi pernikahan, yakni mempelai wanita datang menghormat kepada calon mempelai laki-laki sebagai simbol ketaatan dan pengabdian istri kepada suami.

Harap diketahui bahwa menurut kepantasan sosial pada zaman Yesus tersebut, jelas terlarang bagi seorang lelaki Yahudi untuk tidak menikah. Menurut adat istiadat Yahudi, tidak menikah itu adalah terkutuk, dan kewajiban orangtua Yahudi adalah mencarikan istri yang pantas bagi anak laki-lakinya.

Seandainya kita menganggap Yesus tidak pernah menikah, paling tidak salah satu kitab injil akan mengatakannya dan memberikan beberapa penjelasan tentang kelajangannya yang tidak biasa. Tapi nyatanya, semua injil tidak ada yang mengatakan bahwa Yesus telah membujang seumur hidupnya. Justru yang dikisahkan adalah peristiwa pernikahan Yesus, meskipun samar-samar.

Yesus Adalah “Rabbi” yang Harus Menikah

Selama hidupnya, Yesus sering dipanggil dengan sebutan “Rabbi” oleh para pengikutnya yang terdiri dari orang-orang Yahudi. “Rabbi” adalah sebutan buat orang terhormat yang dianggap sebagai guru yang bijak atau tuan dalam masyarakat Yahudi. Seorang “Rabbi” Yahudi haruslah menikah agar mereka dapat dihormati dan disegani dikalangan masyarakatnya.

Seorang laki-laki yang tidak menikah, tidak dapat dipanggil “Rabbi”. Yesus adalah seorang “Rabbi, dan hampir dipastikan ia telah menikah. Ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Yesus adalah keturunan dari dinasti Nabi Daud yang mewarisi tahta kerajaan Yahudi. Dan sudah pasti ada tuntutan bagi semua keturunan pewaris tahta Daud untuk menikah. Sebab kalau tidak menikah, bagaimana mungkin tahta kerajaan akan diwariskan, kalau bukan kepada keturunan sendiri, iya khan?

Kisah Lazarus

Kemudian dalam kisah tentang Lazarus pada Injil Yohanes 11:1-44, dan Kisah Marta dan Maria Magdalena pada Lukas 10:38-42, maka anda akan menemukan beberapa fakta samar-samar, terkait dengan status kedekatan hubungan Yesus dengan Maria Magdalena.

Kita tidak mengetahui kedekatan status suami-istri antara Yesus dengan Maria Magdalena dalam ayat-ayat tersebut secara jelas. Ini karena gereja telah melakukan pengaburan informasi dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Tetapi kita akhirnya mengetahui bahwa ayat-ayat tersebut sebenarnya telah diubah sedemikian rupa untuk mengaburkan informasi tentang status hubungan suami-istri antara Yesus dengan Maria Magdalena.

Cerita Lazarus, Marta, dan Maria Magdalena yang benar sesungguhnya terdapat dalam Injil Markus. Injil ini adalah injil tertua yang mengilhami penulisan injil-injil lainnya, seperti Matius, Lukas, Yohanes, dan lain-lain.

Seorang Profesor Sejarah Kuno di Colombia University pada tahun 1958 telah menemukan bukti sepucuk surat dari uskup Clement dari Alexandria (150M – 215M)  yang ditulis untuk rekannya Theodore. Dalam suratnya tersebut Clement mengatakan bahwa beberapa ayat dari Injil Markus tersebut harus dihilangkan, karena tidak sesuai dengan ajaran gereja. (Sumber buku Tulisan Lunn : 158-159)

Ayat yang dimaksudkan oleh Clement tersebut adalah kisah tentang Lazarus, yang oleh gereja sekarang ini dikatakan secara ajaib bangkit dari kematiannya. Ia (Lazarus) menangis dari dalam kuburnya, supaya diketahui bahwa dia tidak mati ketika Yesus melihatnya. Keadaan yang sebenarnya, yang dilihat oleh Clement, adalah, Lazarus sesungguhnya hanya dikucilkan, dan itu dianggap sebagai setara dengan mati.

Masa pengucilan itu berlangsung selama 4 hari. Pada hari ketiga Martha dan Maria Magdalena (saudaranya Lazarus) mengirimkan pesan kepada Yesus, mengatakan bahwa Lazarus dalam keadaan sekarat kena kutukan. Lalu Yesus kesana untuk memulihkan kesehatannya kembali.

Ketika kedatangan Yesus dirumah tempat Marta dan Maria Magdalena tinggal, tempat Lazarus dibaringkan. Maria Magdalena keluar dari rumah Martha untuk menyambut Yesus, tetapi para murid Yesus menyuruhnya untuk kembali kedalam. Alasannya adalah, sebagai istri Yesus, dia hanya diperbolehkan keluar rumah atas izin suaminya.

Nah, oleh Clement, kisah tersebut direkomendasikannya kepada gereja agar dihilangkan saja. Dan akhirnya kisah tersebut benar-benar dihilangkan dari Injil Markus oleh gereja. Sekarang kita hanya bisa membaca kisah Lazarus versi Yohanes yang telah menghilangkan bagian cerita tentang : “keluarnya Maria Magdalena dari rumah Marta dalam rangka menyambut kedatangan suaminya, dan perintah para murid Yesus untuk menyuruh Maria tetap tinggal dalam rumah Marta”. Kisah tersebut berubah menjadi, “yang keluar rumah itu Marta, dan bukannya Maria Magdalena.”

Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkannya. Tetapi Maria (Magdalena) tinggal dirumah.” (Yohanes 11:20)

Kedekatan Maria Pasca Penyaliban

Bukti lain tentang kedekatan hubungan Yesus dengan Maria Magdalena sebagai pasangan suami-istri dapat dilihat juga pada peristiwa saat Yesus diturunkan dari tiang salib, lalu tubuhnya yang terluka dibawa dan disembunyikan ke dalam gua. Nah, siapakah orang yang menjaga dan memijiti tubuh Yesus yang lagi terluka dan terbaring lemas tak berdaya didalam gua tersebut? Jawabannya adalah Maria Magdalena! Lalu siapakah yang pada hari Minggu pagi-pagi sekali menengok gua tempat tubuh Yesus sebelumnya dibaringkan, tapi ternyata ia tidak menemukan tubuh Yesus? Jawabannya adalah Maria Magdalena!.

Pertanyaannya adalah mengapa Maria Magdalena selalu berada dekat dengan Yesus dalam peristiwa tersebut? Mengapa ia malah perhatian sekali terhadap Yesus? Jawaban logisnya adalah karena ia memang merupakan keluarga terdekat dari Yesus, yakni selaku istrinya.

Pada masa itu, mustahil seorang wanita yang tidak berhubungan keluarga dengan seorang laki-laki, berani mendekati laki-laki tersebut dan menyentuhnya (mengurapi) tubuh laki-laki tersebut. Sebab ada larangan bagi seorang wanita Yahudi mendekati laki-laki yang bukan muhrimnya (bukan suaminya, bukan orang tuanya, bukan anaknya), sebab hukumannya berat bagi yang ketahuan, yakni hukuman mati atau hukuman cambuk. Maria Magdalena bukanlah orang asing bagi Yesus, karena ia adalah istrinya, jadi wajar kalau ia memperhatikan nasib suaminya begitu rupa.

Yesus Mencintai Maria Magdalena

Untuk mengetahui tentang sosok Maria Magdalena sebagai istri Yesus, kita dapat melihat lebih jelas dalam gulungan naskah laut mati yang ditemukan oleh para arkeolog dan sejarawan pada tahun 1950 di sebuah gua dekat Qumran di gurun Yudea, Palestina.

Gulungan naskah laut mati tersebut merupakan catatan Kristen paling awal dan lebih dahulu muncul dari tulisan Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Dalam gulungan naskah laut mati pada bagian Injil Philipus (Gnostik Gospel) dikatakan tentang bagaimana cintanya Yesus kepada Maria Magdalena sebagai berikut :

Dan teman akrab Sang Juru Selamat adalah Maria Magdalena. Kristus mencintainya lebih daripada cintanya kepada seluruh muridnya, dan Yesus sering mencium bibirnya. Murid-murid yang lain tersinggung karenanya, dan mengungkapkan ketidaksetujuan mereka. Mereka (Petrus) berkata kepada Yesus, Mengapa engkau lebih mencintainya daripada kami semua?” (dikutip dari buku karangan Dan Brown: 341)

Kata “teman akrab” pada ayat tersebut di masa Yesus hidup, secara harfiah lazim diartikan sebagai pasangan hidup atau suami-istri. Begitu juga dengan adanya adegan “mencium mulut”, yang diartikan sebagai tindakan yang hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah menikah, dan semua sarjana Aramaic dan para sejarawan mengakui pengertian tersebut.

Baiklah kita kembali kepada Injil Philipus tersebut diatas, ketika Petrus yang tersinggung bertanya kepada Yesus : “Mengapa engkau lebih mencintainya daripada kami semua?”. Menanggapi pertanyaan Petrus tersebut, Yesus tersenyum lalu menjawab sebagai berikut :

Hai Petrus, mengapa saya mencintai Maria Magdalena lebih daripada kalian? Karena kalau seorang yang melihat dan seorang yang buta berada di dalam kegelapan adalah sama. Tapi kalau yang melihat dan yang buta berada di dalam terang adalah berbeda.”  (Dikutip dari buku Dr. Barbara Thiering  Terjemahan Sanihu Munir)

Lalu apa arti perkataan Yesus tersebut? Artinya adalah bahwa orang yang melihat dan orang yang buta kalau berada ditempat gelap pasti sama-sama nggak bisa melihat, tapi coba kalau orang yang melihat dan orang yang buta berada di tempat yang terang, pasti hasilnya berbeda, yakni orang buta tetap nggak bisa melihat dan orang yang melihat pasti bisa melihat dengan jelas. Nah, Yesus sebenarnya ingin membuat perumpamaan saja dengan membanding-bandingkan orang buta dengan orang yang bisa melihat.

Coba kalau ada wanita cantik lalu tersenyum menawan, apakah orang buta bisa melihatnya? Jelas tidak bisa. Jadi hanya orang yang bisa melihat saja yang bisa mengenali dan melihat wanita itu cantik dengan senyumannya yang menawan. Dan, Yesus adalah orang yang bisa melihat sesuatu. Ehm …, melihat Maria Magdalena yang cantik tentunya?.

Petrus Cemburu Terhadap Maria Magdalena
Kisah kecemburuan Petrus terhadap Maria Magdalena tersebut juga dapat dilihat pada Injil Magdalena sebagai berikut :

Dan Petrus berkata, Apakah Sang Penyelamat betul-betul berbicara dengan seorang perempuan tanpa sepengetahuan kami? Apakah kami akan berpaling padanya dan semua mendengarkannya? Apakah dia lebih menyukai dia daripada kami?” (dikutip dari buku tulisan Dan Brown: 343)

Dan Levi menjawab, Petrus, kau selalu tidak sabar. Sekarang aku melihatmu menentang perempuan itu seakan seorang musuh. Jika Sang Penyelamat menghormati dia, siapa sebenarnya kau hingga berani menolak perempuan itu? Pastilah Sang Penyelamat mengenalnya dengan baik. Karena itulah dia mencintainya lebih daripada kita.” (dikutip dari buku tulisan Dan Brown:343).

KRONOLOGIS PERNIKAHAN YESUS

Berdasarkan naskah-naskah laut mati tersebut diceritakan bahwa Yesus melakukan upacara pernikahan dengan Maria Magdalena melalui beberapa tahap dan proses yang sangat panjang. Dengan menggunakan tata cara adat pernikahan bangsawan Yahudi. Mereka pertama kali melakukan pertunangan terlebih dahulu selama 3 bulan, dan kemudian baru menikah dengan upacara perminyakan pada hari Jumat tanggal 22 September 30 M pukul 18.00 bertempat di Eimfesta dekat Qumran, Palestina.

Setelah pernikahan tersebut, mereka belum diperbolehkan berhubungan intim suami-istri. Hubungan seks baru diperbolehkan 3 bulan kemudian, pada bulan Desember. Maksudnya agar kelak ketika si istri hamil, maka ia bisa melahirkan bayinya tepat pada bulan September tahun depan yang bertepatan dengan hari perdamaian (Atonement). Pada bulan Desember, Yesus akhirnya bisa “berkumpul” dengan istrinya, Maria Magdalena. Selanjutnya Maria Magdalena pun mengandung.

Hanya sebulan Yesus tinggal bersama istrinya, lalu ia pun kemudian pergi ke Qumran dan hidup menyendiri disana, beribadah untuk mencari Tuhannya. Kalau orang sekarang bilang Yesus itu sedang bertapa atau beruzlah! Ini mirip dengan keadaan Nabi Muhammad SAW ketika beliau menyendiri di Gua Hira’

Setelah puas menyendiri dan berhasil mendapatkan petunjuk dari Tuhannya, Yesus pun kemudian pulang untuk mengadakan pesta pernikahan yang kedua dengan istrinya, Maria Magdalena. Pesta pernikahan Yesus-Maria Magdalena yang kedua ini, yang biasa kita sebut sebagai resepsi, diadakan pada hari Kamis, tanggal 19 Maret 33 M, bertempat di Kana.

Dalam resepsi pernikahan ini, Maria Magdalena telah dalam keadaan hamil tiga bulan. Resepsi pernikahan ini disiarkan secara luas kepada masyarakat Yahudi pada waktu itu. Suasana resepsi pernikahan Yesus yang kedua ini dapat dilihat pada Injil Yohanes 2:1-11.

Pada saat resepsi pernikahan Yesus tersebut, banyak tamu undangan yang datang. Karena banyaknya tamu, sampai-sampai persediaan arak (tapi arak yang diminum tidak bikin teler lho?) untuk para tamu-tamu tersebut mulai habis. Banyak tamu yang belum kebagian untuk mencicipi arak tersebut. Nah, melihat keadaan darurat tersebut, Ibunya Yesus, Bunda Maria lalu menemui Yesus dan berkata : “Hai, Yesus, lihat tuh persediaan arak sudah habis. Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?” Melihat ibunya panik, konon katanya, Yesus kemudian mengeluarkan mukjizatnya yang pertama kali, yakni merubah air menjadi arak.  Alhasil, persediaan arak pun menjadi bertambah dan tamu-tamu undangan semuanya dapat mencicipi arak hasil mukjizat Yesus tersebut.

Umat Kristen pasti menolak adanya resepsi pernikahan Yesus yang merujuk pada Yohanes 2:1-11, sebab menurut mereka, ayat tersebut menceritakan acara pernikahan orang lain dimana Yesus dan ibunya hanya merupakan tamu undangan dalam resepsi tersebut. Pandangan umat Kristen ini patut kita pertanyakan. Mengapa? Karena sesungguhnya Bunda Maria merupakan tuan rumah dalam resepsi pernikahan tersebut. Dan yang menikah adalah Yesus, anak kesayangannya.

Coba dipikir, kalau ia (Bunda Maria) bukan selaku tuan rumah resepsi pernikahan, buat apa ia harus merepotkan dirinya dengan urusan habisnya arak dalam resepsi tersebut, lalu bolak-balik menemui pelayan didapur? Apakah tamu undangan harus disibukkan dengan urusan pemilik resepsi? Ingat, sebagai tamu undangan itu tugas kita adalah datang, duduk, dengerin kata sambutan, dan melahap menu hidangan yang disajikan tuan rumah, dan bukannya ikut-ikutan ribut keluar masuk ke dapur pemilik resepsi untuk mengurus hidangan para tamu undangan lainnya.

Jadi, penjelasan yang masuk akal adalah bahwa kesibukan Bunda Maria mengurus arak dan bertemu para pelayan itu menunjukkan bahwa ia memang adalah tuan rumah dan penyelenggara resepsi pernikahan tersebut.

Umat Kristen masih membantah dan mengatakan mungkin saja Bunda Maria sengaja mau merepotkan dirinya atas dasar permohonan atau permintaan dari tuan rumah resepsi. Namun alasan itu juga tidak berdasar, nyatanya dalam Yohanes 2:1-11 itu tidak ada ayat yang menyebutkan permintaan dari tuan rumah resepsi kepada Bunda Maria untuk merubah air menjadi arak. Inisiatif untuk merubah air menjadi arak itu datang dari Bunda Maria sendiri yang kemudian menyuruh anaknya, Yesus melakukan itu.

Tapi begitulah, gereja memang berusaha menutup-nutupi kebenaran peristiwa tersebut dengan cara mengaburkan dan memutarbalikkan informasi.

Dari hasil pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena tersebut, beberapa tahun kemudian tepatnya pada tanggal 14 Juni 37, lahirlah anak pertama yang diberi nama Yesus Justus (Dikutip dari buku Dr. Barbara Thiering  Terjemahan Sanihu Munir).

Isyarat tentang kelahiran anak Yesus yang pertama ini secara samar-samar dapat kita temukan pada Alkitab Kisah Para Rasul versi Indonesia sebagai berikut :

“Firman Allah makin tersebar (bertambah), …” (Kisah Para Rasul 6:7)

Dalam Alkitab versi berbahasa Inggris ayatnya berbunyi :

Firman Allah makin menyebar”. Sedangkan dalam Holy Bible Authorized English Version berbunyi : “Firman Tuhan makin bertambah.”

Adapun terjemahan yang benar adalah terjemahan menurut Holy Bible Authorized English Version tersebut diatas. Penafsiran yang dapat diberikan dari terjemahan ayat tersebbut adalah bahwa perkataan “Firman Allah” dapat diartikan sebagai “Yesus”. Sedangkan kata “makin bertambah” tidak bisa diartikan lain kecuali : beranak pinak atau mempunyai keturunan yang semakin bertambah.

Kemudian pada tanggal 10 April 44, lahirlah anak Yesus yang ketiga, namun tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan tentang siapa namanya. Sedangkan kelahiran anak kedua Yesus juga tidak dicatat secara jelas.

Selanjutnya pada malam selasa tanggal 17 Maret 50, Yesus menikah lagi untuk kedua kalinya dengan wanita bernama Lydia. Jadi, Yesus memiliki dua orang istri yang sah. Sampai disinilah bukti-bukti pernikahan Yesus yang dapat disampaikan dalam catatan sejarah Kristen.

Catatan tentang fakta-fakta kehidupan Yesus lainnya dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen sejarah yang tersebar di kalangan bangsa-bangsa Arab dan Yahudi yang berada di Palestina, Turki, Irak, Iran, Semenanjung Arabia, Afghanistan, Pakistan, India, Tibet, dan Khasmir.

GEREJA MENUTUPI INFORMASI PERNIKAHAN YESUS

Bahwa cerita tentang kehidupan Yesus itu sebenarnya sudah tersebar terlebih dahulu daripada Alkitab versi gereja dan beredar dalam masyarakat luas pada waktu itu. Namun cerita tentang kehidupan Yesus versi non gereja tersebut ternyata menjadi masalah yang serius bagi kalangan gereja, sebab kehidupan Yesus versi non gereja sangat menyudutkan doktrin gereja yang menyatakan Yesus adalah Tuhan.

Untuk itulah, gereja berusaha untuk mengubur rapat-rapat cerita-cerita Yesus diluar versi mereka guna mempromosikan ketuhanan seorang lelaki bernama Yesus Kristus dan memanfaatkan nama Yesus untuk memperkuat kekuasaan Gereja Vatikan Roma sebagai satu-satunya gereja di muka bumi yang berhak berbicara atas nama Yesus.

Padahal kalau kita melihat kenyataan sejarah, justru perilaku gereja yang menuhankan Yesus tersebut ditentang oleh masyarakat luas pada waktu itu, sebab tidak sesuai dengan kenyataan yang menunjukkan bahwa Yesus sebenarnya adalah manusia biasa seperti kebanyakan manusia lainnya yang lahir, makan, minum, tidur, mengeluh, menangis, tertawa, memiliki pekerjaan, mempunyai istri, mempunyai anak, dan meninggal diusia tua.

Jadi, persoalannya adalah gara-gara banyaknya cerita tentang Yesus yang manusiawi sekali yang diketahui oleh masyarakat! Maka gereja yang didukung oleh kekuasaan kekaisaran Romawi kemudian mengambil tindakan yang ekstrim dengan memusnahkan ribuan dokumen (baca: Injil-Injil Apokripa) yang menceritakan kehidupan Yesus yang sangat manusiawi.

Pada waktu itu, siapa saja yang masih memiliki dokumen-dokumen yang dilarang oleh Konstantin tersebut, maka orang yang kedapatan itu akan dihukum mati atau dibakar hidup-hidup. Begitu pula dengan orang-orang yang pada waktu itu menolak ketuhanan Yesus, maka mereka akan dihukum mati (inkuisisi) oleh Gereja.

Tapi orang-orang terdahulu yang menentang Gereja dan Kaisar Romawi tidak kehilangan akal. Mereka ternyata diam-diam dapat menyembunyikan beberapa dokumen-dokumen yang dilarang oleh gereja tersebut dan, Puji Tuhan, kita yang hidup di zaman modern sekarang ini dapat menemukan beberapa dokumen-dokumen tentang kehidupan Yesus yang pernah disembunyikan tersebut.

Penemuan gulungan-gulungan laut mati pada tahun 1950 di sebuah gua dekat Qumran di gurun Yudea Palestina dan gulungan Koptik pada tahun 1945 di Nag Hammadi akhirnya membuktikan bahwa Yesus ternyata bukan Tuhan. Ia tidak mati ditiang salib dan Ia ternyata menikah dan punya keturunan hingga saat sekarang ini.

Alhasil, doktrin Gereja Vatikan Roma harus dipertanyakan kembali. Sebab terbukti, Yesus bukanlah Tuhan sebagaimana yang gembar-gemborkan selama 2000 tahun oleh gereja. Bagaimana mungkin Tuhan bisa menikah dan punya anak? Kecuali kalau ia adalah manusia biasa seperti kita juga.

Namun kebenaran ini masih belum tersiar luas kepada masyarakat awam, kecuali hanya beberapa orang saja yang tahu, yakni dari kalangan sejarawan, ahli teologi dan pakar alkitab, pendeta, penginjil, dan pastor kaliber internasional, ahli kristologi, cendekiawan Islam, kalangan akademisi, muallaf (orang Kristen yang berpindah ke agama Islam), dan Gereja Vatikan Roma.

Tapi mengapa umat Kristen tidak mengetahuinya? Karena Gereja Vatikan Roma memang sengaja tidak mau mengungkap hal tersebut kepada umatnya, sebab mereka khawatir umatnya akan mempertanyakan kembali doktrin Trinitas, ketuhanan Yesus, kebangkitan Kristus, dan ajaran Paulus yang sudah menjadi barang suci yang tidak boleh diganggu gugat oleh umat Kristen.

Intinya, Gereja Vatikan Roma takut dan khawatir kehilangan pengaruh dan kekuasaan mereka sebagai satu-satunya kerajaan Gereja dimuka bumi ini yang harus ditaati oleh umat Kristen, walaupun akhirnya banyak orang yang mengetahui bahwa doktrin gereja sering bertentangan dengan ajaran dan fakta kehidupan Yesus yang sebenarnya. Tapi itulah yang namanya kekuasaan. “Siapa yang berkuasa dialah yang berhak menulis dan mengubah sejarah, walaupun sejarah itu diputarbalikkan.

Sumber Utama Artikel: dikutip dari buku “Yesus the Man“, Dr. Barbara Thiering.
Sekilas Berita :
Dipertengahan tahun 2006 dunia mendadak terhebohkan oleh pemutaran film teologi Kristiani  yang idenya diangkat dari novel karangan Dan Brown, seorang penulis Inggris berjudul The Davinci Code .

Beberapa inti penting cerita dalam novel dan film tersebut kurang lebihnya adalah mengenai status Isa al-Masih sebagai manusia biasa dan sama sekali bukan bagian dari unsur ketuhanan, menikahnya Isa al-Masih dengan Maria Magdalena yang disebut-sebut oleh Injil Yohanes sebagai murid terkasih Isa.

Cerita yang menuai badai protes dari umat Kristiani diseluruh dunia ini bahkan membuat Kardinal Tarcisio Bertone dari Genoa, Italia, orang nomor dua di departemen Kongregasi untuk Doktrin Keimanan Vatikan menyerukan untuk tidak membaca novel karya Dan Brown tersebut yang disebutnya sebagai bagian dari strategi pembangunan “a castle of lies” atau Istana kebohongan dan diserukan juga kepada toko-toko buku Katolik untuk menarik novel tersebut. Ada kekhawatiran kan banyak orang mempercayai kebohongan di dalamnya.

Ironisnya film ini malah memecahkan rekor box office perfileman di Italia dan berhasil meraup sekitar 2 juta euro atau sekitar Rp. 23,4 miliar pada malam pemutaran perdananya. Novelnya sendiri sejak terbit tiga tahun sebelumnya (2003) menjadi novel terlaris ditahun itu dengan total penjualan 5,7 juta eksemplar dan lebih dari 20 juta kopi dan bertengger sebagai buku fiksi terlaris versi The New York Times dengan edisi terjemahan lebih dari 40 bahasa didunia.

Di toko-toko buku dunia termasuk Indonesia sendiri, sekarang berjejer puluhan atau malah ratusan buku yang memberikan kritik balik terhadap ‘The Da vinci Code‛ dengan berbagai judulnya, beberapa diantaranya yang terkenal adalah seperti ‘Breaking the Da Vinci Code‛ karya Dr. Darrell L. Bock, professor Perjanjian Baru di Dallas Theological Seminary, kemudian ‘The Da Vinci Hoax‛ karya Sandra Miesel, ahli abad pertengahan dan mantan jurnalis Katolik, ‘Fact and Fiction in The Da Vinci Code‛ karangan Steve Kellmeyer, seorang ahli teologi dari Franciscan University, Steubenville, Ohio, Amerika.

Terlepas dari apa yang diceritakan oleh novelnya Dan Brown ini, Islam sendiri memiliki pemandangan bahwa setiap Nabi dan Rasul Allah diberikan istri dan keturunan:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu (Muhamamd) dan Kami adakan kepada mereka istri-istri dan keturunan”. – Qs. 13 ar-Ra’ad : 38

Sebagai salah satu dari gugusan para Nabi, maka tentunya ayat inipun tidak memiliki pengecualian untuk pribadi Isa al-Masih. Dengan kata lain, jika para Nabi dan Rasul Tuhan lainnya memiliki keluarga, memiliki istri dan anak cucu, maka begitupun yang terjadi pada diri Isa al-Masih. Untuk lebih menegaskan ayat diatas, didalam ayat lainnya, al-Qur’an juga berkata :

“Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau dari setan yang terkutuk”. –  Qs. 3 Ali Imran : 36

Ini adalah pernyataan yang sangat tegas dari al-Qur’an dan sudah tidak dapat ditawar kembali. Salah satu konsekuensi yang muncul dari sini secara tidak langsung mematahkan argumentasi sebagian orang yang menyatakan bahwa Isa al-Masih tidak atau belum menikah sepanjang hidupnya.

Jika kemudian Isa al-Masih pasca turunnya yang kedua, mengikuti pemahaman sebagian kelompok Islam yang ada, baru akan menikah setelah beliau selesai membunuh Dajjal, maka perlu dipertanyakan ulang juga arti dari pernikahan tersebut yang lebih banyak terlihatnya sekadar untuk tidak melanggar syariat Islam (dalam artian hanya menunaikan kewajiban). Padahal arti sebuah pernikahan adalah untuk membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warohmah dan pernikahan pun menjadi salah satu jalan untuk meneruskan keturunan (dinasti), tidak bisa dibenarkan kalau menikah hanya untuk menunaikan kewajiban saja.

Cukup menarik kemudian, dimana Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin dalam bukunya “Sosok Isa dalam sorotan Ulama” menyebutkan sebuah riwayat yang dikutipnya dari kitab Fath al Baari 6/568, bahwa al-Hafizh ibn Hajar ada menyebutkan sebuah riwayat dari Nu`aim ibn Hammaad pada kitab al-Fitan, berasal dari hadis Ibn Abbas bahwa sebelum Isa naik kelangit, ia sempat menikah di bumi dan berdiam selama 19 tahun. Sejauh mana kesahihan riwayat tersebut dari sisi sanadnya menjadi pertanyaan lanjutan atas hadis ini selain bahwa perihal pernikahan Isa sebelum ia disebut naik kelangit perlu dikonfrontasikan secara matangnya dengan hadis-hadis sejenis yang juga mengisahkan tidak matinya Isa saat ini.

Lepas dari semua kontroversi yang ada diatas, mengenai siapa nama istri maupun anak-anak dari Isa al-Masih ini, al-Qur’an sendiri tidak berbicara apapun, sama seperti al-Qur’an juga tidak membicarakan siapa nama anak dan istri Ibrahim, siapa nama anak-anak dan istri-istri Muhammad dan keluarga para Nabi atau Rasul yang lainnya kecuali bila itu dianggap penting dan punya pesan-pesan yang harus disampaikannya, itupun al-Qur’an jarang menyebut nama individu yang bersangkutan secara langsung seperti nama ibunda dari Maryam, nama anak dari Nabi Nuh yang ingkar kepadanya, nama istri Nabi Luth yang menolak dakwahnya, nama anak-anak Ya’kub yang dipesankannya agar tetap memegang teguh konsep Tauhid sebelum wafatnya dan seterusnya.

Sehingga dengan demikian, tidak disebutkannya nama-nama anak maupun istri dari Isa al-Masih tidak berarti bahwa mereka tidak ada atau Isa selamanya hidup membujang. Kita bisa menyusuri jejak-jejak mereka dari berbagai literatur yang terserak diluar kitab suci untuk mencoba merekonstruksi sejarah dalam batasan-batasan yang mungkin untuk kita lakukan.

Seorang sarjana Teologi dari Sidney Australia, bernama Barbara Thiering, dalam bukunya yang berjudul “Jesus The Man” mengeluarkan tulisan yang panjang lebar seputar pernikahan Yesus, dimana kata Thiering, pernikahan tersebut terjadi pada tahun 30 Masehi sementara resepsi pernikahannya baru diselenggarakan satu hari sebelum Yesus tertangkap ditaman Getsemani (yaitu 3 tahun sesudah pernikahan yang sebenarnya), istrinya bernama Maria Magdalena, dari pernikahan ini lahirlah seorang anak perempuan bernama Tamar pada tahun 33 Masehi. Tamar ini menurut Barbara Thiering kelak pada usianya ke—20 tahun menikah dengan Paulus di Korintus pada tahun 53 Masehi dan mengganti namanya menjadi Phoebe. Anak kedua Yesus lahir pada tahun 37 Masehi dan dinamai Jesus Justus dimana Justus sendiri dalam bahasa Latin berarti bijak atau adil, kemudian pada tahun 44 lahir puteranya yang kedua (namanya tidak diketahui). Satu tahun kemudian Yesus bercerai dengan Maria Magdalena. Dan pada tahun 50 Masehi Yesus kembali menikah dengan seorang wanita bernama Lidya yang berasal dari Thyatira di Macedonia, memiliki seorang anak perempuan yang lahir pada tahun 51 Masehi.

Pandangan lainnya dimunculkan oleh Joseph Smith, Jr, pimpinan salah satu sekte agama Kristen bernama “The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints” atau dalam bahasa Indonesianya adalah “Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir” dimana Smith dalam “Wilford Woodruff Journal, July 22, 1883” mengungkapkan bahwa Isa al-Masih tidak hanya menikah tetapi juga berpoligami secara bersamaan dengan dua orang bersaudara, yaitu Maria dan Martha disebuah desa bernama Kana di Galilea. Pandangan ini diaminkan juga oleh pengikutnya Wilford Woodruff

The Holy Blood and The Holy Grail karya Michael Baigent, seorang wartawan foto asal Selandia Baru dan kawan-kawannya yang disebut-sebut telah mempengaruhi Dan Brown dalam menulis novelnya The Davinci Code, terbit pada tahun 1982 mengatakan al-Masih telah menikah dengan Maria Magdalena sebelum penyalibannya, dan Maria Magdalena ini kemudian melarikan diri ke Prancis bersama anak-anaknya guna menghindari musuh-musuh Isa al-Masih yang senantiasa membayangi mereka, sang Nabi sendiri menyingkir terpisah dari keluarganya ketempat lain karena ingin mengecoh jejak-jejaknya.

Dan Brown : http://www.danbrown.com/
Breaking The Da Vinci Code, http://www.christianitytoday.com/history/
Skellmeyer : http://skellmeyer.blogspot.com
Book : http://www.amazon.co.uk/Jesus-Man-Interpretation-Dead-Scrolls/dp/0552139505

Dan diperkuat lagi dengan Kontroversi sekitar temuan makam keluarga Yesus di Talpiot.

Silakan bacaTemuan Makam Keluarga Yesus di Talpiot

—OoO—
Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 April 2017 in Bedah Kasus

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: