RSS

Asal-Muasal Nama “Yesus”

21 Apr

Banyak yang bertanya, kok nama Yesus jauh sekali dari kata “Isa” yang lazim disebut umat Islam, pertanyaan seperti ini banyak sekali terdapat pada orang-orang awam apalagi yang belum pernah mengenal ataupun mempelajari Kristologi. Mendengar kata “Kristologi”, bagi umat Islam-pun banyak yang alergi seolah-olah dipandang sebagai ilmunya orang Kristen saja, padahal alangkah pentingnya generasi Islam dapat mengetahui Kristologi sebagai suatu wadah ilmu yang mempelajari tentang ke-Kristenan, sebagaimana orang-orang Kristen-pun banyak yang mempelajari Islamologi.

Nama “Yesus” sendiri sebenarnya sudah terdistorsi (menyimpang jauh dari nama aslinya), sebagaimana yang tidak bisa disangkal lagi bahwa Yesus sendiri berasal dari wilayah Yudea yang berbahasa Aram (Aramaic), merupakan bahasa Ibu (Native Tongue) Yesus sendiri. (Dengan berandai-andai) mungkin kalaulah Yesus tiba-tiba muncul kedunia, pastinya dia bingung… kok namanya menjadi Yesus, nama yang tidak Ia kenal sebelumnya, begitupun dengan nama Kristen apalagi yang menyangkut agama karena Yesus sendiri belum pernah menyebutkan membawa agama dengan nama Kristen, beliau hanya menjalankan perintah sekedar untuk menggenapi risalah sebelumnya seperti yang tertera pada kitab Injil mereka sendiri:

Matius 5:17-19
(17) “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

(18) Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

(19) Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Jadi Kesimpulannya “Yesus” Tidak Membawa Ajaran/Agama Baru, tetapi melengkapi Agama/Ajaran yang sudah ada sebelumnya.

Tokoh Pendiri  Penamaan Kristen

Juga banyak dari kalangan umat Kristiani sendiri yang tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Yesus bukan beragama Kristen apalagi menamakan agama itu dengan sebutan ‘Kristen’. Yang memberi nama Kristen sesungguhnya Barnabas dan Paulus (Saulus) di Antiokhia, seperti yang tertera pada Alkitab/Biblenya sendiri:

Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan. Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orangDi Antiokhia-lah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen“. (Kis 11:23-26)

Jadi Kesimpulannya, Yesus tidak pernah membawa agama apalagi menamakannya ‘Kristen’ dan ayat diatas membuktikan bahwa yang menamakan agama “Kristen‘ adalah  Paulus dan Barnabas.

Seumur hidupnya Yesus tidak pernah tahu kalau ajaran yang dibawanya sebagai penggenapan dialih-fungsikan dikemudian hari menjadi suatu agama dengan dinamai Kristen, sebab nama “Kristen” itu baru muncul jauh setelah Yesus mati. Timbul pertanyaan; kalau begitu kapan Yesus mati dan kapan agama yang dibawanya dinamakan Kristen?, menurut data dari beberapa buku yang ditulis oleh kalangan Kristen sendiri, diantara-nya dalam buku “Religions on File“: Yesus lahir sekitar tahun 4 SM (Sebelum Masehi) dan wafat sekitar tahun 29 M (Masehi). Semen­tara Paulus dan Barnabas memberi nama “Kristen” terhadap agama yang mereka bentuk, yaitu sekitar tahun 42 M. Ini berarti sekitar 13 tahun (42-29=13) setelah Yesus mati, baru muncul agama bernama Kristen bentukan Barnabas dan Paulus.

Al-Qur`an dengan nama lain disebut Al-Furqon, sebagai pembeda antara yang haq dengan yang batil sekaligus sebagai pengorektor terhadap kitab-kitab sebelumnya, tidak dijumpai satu pun kata “Kristen”, yang ada kata “Nashara” karena Yesus berasal dari kota Nazareth. Dan pengikut ajaran Yesus disebut “Nashrani” bukan Kristen. Bahkan didalam Alkitab itu sendiri, kata “Kristen” hanya disebutkan paling banyak 6 (enam) kali, yaitu pada Kis 11:26, Kis 26:28, Rm 16:7, 1 Kor 9:5, 2 Kor 12:2 dan 1 Ptr 4:16), dan itupun  bukan merupakan perkataan Yesus.

Ada pertanyaan yang sangat perlu kita pertanyakan kepada teman-teman Kristiani, sebab hampir dalam setiap acara diskusi atau perdebatan, alasan yang paling sering dipakai oleh mereka adalah bilamana dalam keadaan kepepet maka yang dianggap sebagai ayat emas-pun keluar sebagai dalil yaitu bahwa Yesus adalah 100% Tuhan dan 100% manusia.

Sesungguhnya alasan-alasan seperti ini sudah usang dan basi, dipakai hanya untuk menutup-nutupi kelemahan Alkitab itu sendiri. Padahal tidak ada satu ayatpun dalam Kitab mereka yang menjelaskan persis seperti ini apalagi datang dari perkataan Yesus sendiri.

Umumnya para Pendeta atau Misionaris, atau teman-teman Kristiani lainnya sering menjawab dengan mengangkat dalil Yohanes pasal 1 ayat 1 dan 14 :

Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”(Yohanes 1:1).

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaannya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Yohanes 1:14)

… yaitu Yesus yang mulanya ada bersama-sama dengan Allah, adalah Allah itu sendiri yang telah menjadi manusia, sehingga menjadikan ayat ini sebagai referensi bahwa Yesus adalah 100% Tuhan dan 100% manusia, sulit sekali bisa diterima penafsiran ayat-ayat tersebut, sesuatu yang tidak rasional dipaksakan harus menjadi rasional. Para Misionaris, Pendeta dan pendebat teman-teman kristiani saat ini terlihat lebih jenius dari seorang Einstein, sementara Einstein sendiri sampai turun tangan dalam memikirkan hal-hal yang demikian seperti yang dimuat pada New York Times tahun 1930;

Albert Einstein wrote in The New York Times in 1930:

“I cannot imagine a God who rewards and punishes the objects of his creation, whose purposes are modeled after our own–a God, in short, who is but a reflection of human frailty. Neither can I believe that the individual survives the death of his body, although feeble souls harbor such thoughts through fear or ridiculous egoism.”

Terjemahannya kurang lebih :

Albert Einstein menulis dalam majalah The New York Times pada tahun 1930:

“Saya tidak bisa membayangkan bisa-bisanya Tuhan memberi hadiah dan menghukum objek-objek ciptaan-Nya, yang bentuk objeknya diambil dari kita sendiri setelah diciptakan-Nya – Tuhan, singkatnya, hanyalah cerminan dari kelemahan manusia, dapatkah saya percaya bahwa seseorang bisa bertahan setelah kematian tubuhnya sementara tubuh sendiri merupakan pelabuhan jiwa yang lemah adanya, pikiran-pikiran demikian menunjukkan kecemasan atau egoisme yang mengada-ada.”
(Sumber: https://infidels.org/library/modern/james_haught/breaking.html)

(baca: Einstein Bingung, Tuhan Mengambil Bentuk Seperti Manusia)

Dari sudut penafsiran kaum muslimin, kata “firman’ berarti “perkataan” atau “kalam” (kalamullah) yang bermakna “perkataan Allah.” Misalnya jika Allah ingin menciptakan sesuatu, cukup Dia berkata (berfirman) “KUN” (jadilah) maka jadilah. Contoh bagaimana penciptaan Nabi Isa as (Yesus) dan Nabi Adam as di dalam Al Qur’an. Allah jelaskan sebagai berikut:

Sesungguhnya perbandingan (kejadian) Isa di sisi Allah adalah seperti (kejadian) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” maka jadilah dia. ” (Qs 3 Ali `Imraan 59).

Mengenai Injil Yohanes pasal 1 ayat 1 dan 14, dalam buku The Five Gospels yang diterbitkan oleh Harper San Fransisco, yang dikomentari oleh Robert W. Funk dan Roy W. Hoover, ternyata ayat-ayat tersebut tidak masuk dalam kategori ucapan Yesus yang diseminarkan.

Injil yang diakui di Indonesia ada empat yaitu Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Di Amerika sekitar tahun 1993, di kota Sanoma CaIifornia, disponsori oleh Westar Institute, Injil itu diseminarkan oleh sekitar 76 orang ahli dari berbagai kalangan, seperti guru besar dari berbagai universitas terkenal didunia, para ahli ilmu theologi dari Katolik dan Protestan, ahli kitab suci, ahli bahasa Ibrani dll yang semuanya tidak ada orang Islam.

Injil yang diseminarkan ada lima yaitu Injil Matius Markus, Lukas, Yohanes dan Injil Thomas. Ke lima Injil yang bernama “The Five Gospels” diseminarkan dalam rangka mengklasifikasikan sabda Yesus. Makanya dalam cover The Fiue Gospels tersebut tertulis What Did Jesus Really Say? The Search For The Authentic Words of Jesus. (Apa yang benar-benar Yesus ucapkan? Mencari ucapan asli dari Yesus). (Catatan: Gospel singkatan dari God dan Spell = Perkataan/Firman Tuhan dalam bahasa Indonesia lazim disebut Injil yang berarti “Kabar Baik”).

KESIMPULAN hasil seminar ternyata Injil Yohanes pasal 1 ayat 1 dan 14 tidak masuk kategori yang dinilai atau yang diseminarkan, sebab ayat-ayat tersebut dianggap bukan sabda atau ucapan Yesus. Ayat itu hanyalah ucapan Yohanes saja! Dan ayat tersebut tidak masuk dalam kategori RED, PINK, GRAY dan BLACK.

Hasil akhir dari penelitian dalam seminar yang dilakukan oleh 76 ahli dari berbagai kalangan, menyatakan sebagai berikut :

“Eighty-two percent of the words ascribed to Jesus in the gospels were not actually spoken by him, according to the Jesus Seminar.” (Delapan puluh dua persen kata-kata yang dianggap berasal dari Yesus di dalam Injil, tidaklah benar-benar diucapkan olehnya, menurut Seminar Yesus.)

Pernyataan 76 (tujuh puluh enam) ahli dari berbagai kalangan dari seluruh dunia dalam Seminar tentang Yesus, sungguh mengejutkan dunia, khususnya dikalangan kaum Kristiani sendiri, sebab kalau 82% (delapan puluh dua persen) isi Injil bukan benar benar diucapkan Yesus, berarti hanya 18% (delapan belas persen) saja isi Injil yang dianggap ucapan Yesus.

Ternyata Yoh 1:1 dan 14 yang jadi acuan bahwa Yesus 100% Tuhan dan 100% manusia, menurut 76 ahli tersebut, bukan ucapan Yesus, tapi hanya pendapat penulis Injil itu saja, yaitu Yohanes. Padahal para perseta Seminar Yesus tersebut, tidak ada satupun orang Islam, dan tidak satupun berasal dari lndonesia.

Lebih ironis lagi, dari semua Injil-Injil yang diseminarkan tersebut, Injil Yohanes termasuk yang hampir 100% dianggap bukan ucapan Yesus.

Hasilnya sungguh mengejutkan, dari 4 (empat) kategori, tidak ada satu ayatpun dalam seluruh Injil Yohanes yang dicetak hurup Red. Huruf Pink saja hanya ada 1 (satu), huruf Grey hanya ada 4 (empat) ayat saja, selebihnya Black.

Perincian khusus Injil Yohanes sebagai berikut:

RED : (That is Jesus!), tidak satu ayat pun yang dicetak merah, berarti tidak ada satu ayatpun yang dianggap benar-benar ucapan Yesus.

PINK : (Sure sounds like Jesus), hanya ada satu ayat saja yaitu Yoh 4:43.

GRAY : (Well, maybe), hanya ada 4 (empat) ayat saja, yaitu pada Yoh 12 ayat 24, 25, 26 dan Yoh 13 ayat 20.

BLACK : (Jesus did not say this There’s been some mistake!) selebihnya bukan merupakan ucapan Yesus!

Bayangkan saja, Injil Yohanes terdiri dari 21 pasal, 878 ayat dan 19099 kata. Kalau RED tidak ada, PINK hanya 1 ayat, GRAY 4 ayat, berarti sisanya BLACK (bukan ucapan Yesus) ada 873 ayat.

baca: S.K. “Yesus 100% Tuhan dan 100% Manusia“.

Penamaan “Yesus”

Dalam bahasa Yahudi, nama Isa (عيسى) adalah Yaohúshua (הושע) diucapkan ‘yao-hóo-shua’ – tekanan pada suku kata kedua, dengan pengucapan huruf hidup pada suku kata pertama seperti pada pengucapan kata ‘how’ dalam bahasa Inggris. Arti dari Yaohushua ini adalah kuasa, Yaohu menyelamatkan. Yaohu sendiri berasal dari kata Yáohu UL, yaitu sebutan untuk Allah dalam bahasa Yahudi. Istilah ‘yáohu’ diucapkan: ‘yao-hoo’ – tekanan pada suku kata pertama, huruf hidup pada suku pertama disuarakan seperti kalau menyebutkan kata ‘how’ dalam bahasa Inggris, persis seperti pengucapan nama Yaohushua.

Kata Isa dalam bahasa Arab, tidak sepenuhnya mirip dengan kata Yaohushua dalam bahasa Yahudi, sebab bahasa Yahudi sendiri bukanlah merupakan bahasa ibu (Native tongue) dari Yesus yang sudah lazim diketahui berbahasa Aram (Aramaic) dan dalam bahasa Aram maka kata Isa disebut Eesho (bukan Esau seperti yang banyak disalah tafsirkan orang). Bahasa Aram sendiri adalah bahasa ibu dari masyarakat semit kuno yang tinggal didaerah timur, digunakan oleh bangsa Asiria, Khaldea, Yahudi dan Syiria.

Adapun istilah Jesus adalah hasil terjemahan kedalam bahasa Yunani (Gerika) dari bahasa aslinya yang diterapkan oleh para penerjemah agar lebih mudah diterima dan diucapkan oleh masyarakat yang berbahasa Yunani pada abad pertama dan kedua, disamping itu, masyarakat Gerika (sekarang Yunani) pada saat itu gemar sekali pada mitologi, kepercayaan, penyembahan berhala kepada dewa ‘Zeus‘ dan juga ‘Dionysius‘ sehingga nama tersebut diterjemahkan dalam bentuk yang sudah dikenal dan mudah bagi lidah masyarakat mereka, yaitu ‘Iesous‘. baca: >>Sejarah Penanggalan Masehi

Untuk lebih jelasnya perhatikan kata INRI yang tertera pada salib.

Inri Ilustrasi Kata INRI Pada Salib Yesus Sumber Gambar: Wikipedia

Asal muasal kata Yesus adalah IESVS yang diserap dari huruf Latin (Romawi kuno). Pada huruf Greek/Yunani ejaan huruf “Y” dalam bahasa kita biasanya disebut dengan i-igrek ditulis dengan huruf  “Y”, dan huruf “U” ditulis “V” gaya tulisan huruf Latin kuno, seperti kata “IESVS” dibaca menjadi “YESUS”. Yesus yang merupakan seorang Yahudi yang berbahasa Aram, nama aslinya adalah Eesho. Baik bahasa IBRANI, ARAM maupun ARAB termasuk rumpun bahasa Semit  yang mempunyai akar sama sehingga mempunyai kemiripan tulisan maupun ucapan:

IBRANI: (Y)eshua/(Y)ehosyua => ARAM: Eesho  => ARAB: Eesa /Isa.

Selanjutnya => LATIN/Romawi Kuno: IESVS yang akhirnya => GREEK/Yunani menulis: YESUS, karena huruf I = Y pada tulisan Greek/Yunani, dan menjadi JESUS pada Bhs Inggris (Catatan: Bahasa Yahudi Tidak Mengenal Huruf “J“)

ARAB: Eesa /Isa,  (عيسى)
ARAM: Eesho, (Isho (Eesho) Aramaic name of Jesus)
IBRANI: Yeshua/Yehosyua, (הושע)
LATIN/Romawi Kuno: IESVS,
GREEK/Yunani menjadi : YESUS.(ἸησοῦςIesous)

INRI sendiri merupakan singkatan dari huruf-huruf yang diambil dari Bahasa Latin Kuno: IESVS·NAZARENVS·REX·IVDÆORVM (dibaca: Iesus Nazarenus, Rex Iudaeorum, artinya: “Yesus orang Nazaret, Raja Orang Yahudi”) yang disematkan oleh Pontius Pilatus seorang pejabat Gubernur (Prefek) di wilayah Yudea (wilayah kekaisaran Romawi kala itu) yang bertugas mengadili Yesus. Namun apakah tulisan tersebut merupakan kalimat alegoris (kiasan), hinaan/pelecehan, atau gelar kepahlawanan  sebagai seorang raja?, seperti yang banyak di ulas dalam buku oleh pakar-pakar kristologi sendiri.

“Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia.
Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas
kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu, dan sambil maju ke depan
mereka berkata: “Salam, hai raja orang Yahudi!Lalu mereka menampar
muka-Nya(Yohanes 19: 1-3)

“Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut
menyembahNya. Sesudah mengolok-olokan Dia mereka menanggalkan jubah
ungu itu dari pada-Nya dan mengenakan pakaian-Nya kepada-Nya” (Markus 15: 19-20)

Karena itulah menjadi sebuah kritik sendiri terhadap penggunaan istilah Yesus atau Jesus dalam khasanah masyarakat modern dewasa ini yang seharusnya tidak lagi mengadopsi istilah yang ada dari kebudayaan Yunani yang bersifat paganisme. Yesus Kristus tidak lain adalah nama dari dewa Yunani Kuno dan bukan nama dari Nabi Allah, putera Maryam.

Kata Al-Masih sendiri identik dengan kata Messiah atau Messias dalam bahasa Indonesia, atau juga disebut dengan Kristus, Kata Kristus (Christ dalam bahasa Inggris) berasal dari kata Yunani Χριστός (Christos), adalah terjemahan dari kata Ibrani מָשִׁיחַ (Meshiakh), dalam bahasa Yahudi istilah ini disebut dengan mashiah yang artinya kurang lebih orang yang diurapi. Tetapi membatasi arti dari kata al-Masih ini sebatas orang yang diurapi saja mungkin akan membingungkan bagi para pembaca yang awam, dalam kepercayaan Yahudi dari jaman ke jaman, ada pengharapan/kepercayaan besar tentang akan munculnya seorang raja dari keturunan Nabi Daud yang akan membebaskan bangsa Israel dari semua tekanan musuh-musuhnya sekaligus mengembalikan kejayaan bangsa tersebut kemasa periode keemasannya dimasa lampau. Orang tersebut biasanya akan mendapatkan pengurapan atau pengusapan dengan minyak kudus untuk menyucikannya. Dalam penafsiran yang lebih bebas, kata al-Masih berartikan orang yang sudah dipilih Allah dan diberkahi-Nya untuk memberikan keselamatan atau membawa kepada kemaslahatan seperti yang bisa dilihat dalam kitab Perjanjian Lama berikut :

lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi Tuhan – 1 Samuel pasal 24 ayat 6.

Jadi kesimpulannya nama “Yesus” merupakan produk asli Yunani, bukan nama aslinya.

Sekedar catatan menambah wawasan:

Menurut Sejarah Terjadinya Penyaliban pada masa kekaisaran Romawi dibawah pimpinan Kaisar Tiberius tahun 14 – 37 Masehi.

Tiberius memerintah mulai dari tanggal 18 September 14 M sampai dengan tanggal 16 Maret 37 M.

Pada zaman pemerintahannya:

Pontius Pilatus sebagai gubernur/wali negeri (=prefek) di provinsi Iudaea.
Herodes menjadi Raja di wilayah Galilea
Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis.
Lisanias raja wilayah Abilene.
Hanas dan Kayafas menjabat sebagai Imam Besar yang mengadili Yesus Kristus, yang dicatat dalam Alkitab Perjanjian Baru. Pada zaman pemerintahannya ini terjadi peristiwa penyaliban terhadap Yesus. (sumber: wikipedia)

(Kesimpulannya, menurut catatan ini kalau sejarah Tahun Masehi berawal dari lahirnya Yesus, sementara kejadian penyaliban diyakini Yesus berumur 32 tahun, maka terjadinya penyaliban berkisar pada tahun 32 Masehi, berhubung selama 527 tahun penghitungan orang Romawi ini terbagi dalam 10 bulan saja  dan belum ada bulan Januari dan Februari, menurut kalkulasi perhitungan modern harus dimundurkan, dan Yesus lahir sekitar tahun 4 SM (Sebelum Masehi) dan terjadinya penyaliban sekitar tahun 29 M)   Selengkapnya baca: Sejarah Penanggalan Masehi.

Bangsa Arab dan Yahudi Berasal Dari Satu Rumpun Dengan Penyebutan Kata Tuhan Dan Sesembahan Yang Sama.

Bangsa Arab yang Islam maupun yang non-Islam adalah keturunan dari empat jalur Semitik, yaitu melalui keturunan Aram (anak Sem – Palestina Timur Laut), keturunan Yoktan (anak Eber – Arab Selatan), keturunan Ismael (anak Abraham – Arab Utara), dan juga melalui keturunan Ketura (selir Abraham).

Dari sini kita dapat melihat bahwa bangsa Arab dapat disebut termasuk rumpun Semitik (keturunan Aram anak Sem), Ibranik (keturunan Quathan/Yoktan anak Eber), dan juga Abrahamik (keturunan Adnan, keturunan Ismael anak Ibrahim),

Jadi bersaudara dengan orang Israel yang juga termasuk rumpun Semitik (keturunan Arphaksad anak Sem), Ibranik (keturunan Pelek anak Eber), dan Abrahamik (keturunan Ishak anak Abraham).

Istilah ‘il’ Semitik lebih banyak digunakan sebagai ‘sebutan/panggilan/gelar’ pada awal bahasa rumpun Semitik. Kenyataan ini ditunjukkan dengan jelas di Semitik Timur, Akkadian Kuno (ilu) dan dialek-dialek di bawahnya sebelum masa Sargon (pra 2360sM) dan berlanjut sampai masa Babilonia Akhir.

Penggunaan sebagai sebutan juga terlihat di Semitik Barat Laut, di Amorit (ilu, ilum, ila), Ugarit, Ibrani (el), dan Funisia. Di Semitik Selatan sebutan ‘il’ umum dipakai dalam dialek-dialek Arab Selatan, tetapi di Arab Utara, il disebut ‘ilah.’

Penemuan penggalian di Amorit menunjukkan bahwa pada abad-18sM, tuhan ‘il’ memiliki peran besar, dan acapkali dipanggil sebagai ‘ila’ atau ‘ilah.’ Di Arab Selatan, juga banyak dijumpai ‘il’ sebagai nama diri. Dapat disimpulkan bahwa sejak masa awal bahasa-bahasa Semitik di Semitik Timur, Semitik Barat Laut, dan Semitik Selatan, ‘il/el’ sudah digunakan bersama baik sebagai sebutan maupun nama diri, sebagai Bapak dan Pencipta Kosmos.

Dari fakta-fakta di atas kita dapat mengetahui bahwa ‘il’ atau ‘el’ berasal dari sejarah Semitik Mesopotamia yang kemudian berkembang dalam berbagai dialek menjadi il, ilu, ilum, ila, ilah’, yang dalam dialek Ibrani menjadi ‘el’ yang adalah pencipta langit dan bumi dan yang mengutus Abraham.

“Masyarakat Semit yang merupakan penduduk asli gurun pasir Arabia merupakan masyarakat yang berdarah Arab asli dan berbahasa Arab mereka tersebar di sepanjang jazirah Arabia, terbentang dari Yaman dan pantai Afrika dekat Yaman sampai kepada gurun pasir Syria dan Irak Selatan … .

Tradisi Arabia Selatan yang diyakini bahwa mereka merupakan keturunan dari seorang nabi bernama Quahthan, yang di dalam Bibel disebut Joktan, dan Tradisi Arabia Utara yang diyakini sebagai keturunan nabi Adnan, dan darinya terbentuk keturunan Isma’il, putra Ibrahim … .

Istilah Arab berarti “Nomads”. Bangsa Arab Utara dipandang sebagai Arab al-Musta’ribah (Arab yang di Arabkan), sementara bangsa Arab keturunan Quahthan yang tinggal di wilayah selatan menamakan dirinya sebagai Arab Muta’arribah, atau suku-suku hasil percampuran dengan Arab al-’Aribah (Arab Asli) … .

Kelompok Arab yang asli ini, yakni keturunan Aram putra Shem putra nabi Nuh.” (Bangsa Arab’ dalam Cyril Glasse, Ensiklopedia Islam).

Dalam The Interpreter’s Dictionary of the Bible sumber nasrani juga mengakui bahwa sebenarnya bangsa Arab bersaudara dengan bangsa Yahudi dengan sumber yang sama hal ini bisa di lihat dalam kitab kejadian (Kejadian 10:22),

Sejumlah orang Arab disebut. Di masa Yakub, dua kelompok keturunan Abraham yaitu orang-orang Ismaili dan Medianit dijumpai sebagai pedagang-pedagang caravan.

(Kejadian 37:25-36).

“orang Arab mencakup keturunan Aram (Kejadian 10:22), Eber (Kejadian 10:24-29), Abraham dari Keturah (Kejadian 25:1-4) dan dari Hagar (Kejadian 25:13-16)
Keturunan Joktan (anak Eber) mencakup beberapa suku Arab (Kejadian 10:26-29).” (‘Arabians’ The Interpreter’s Dictionary of the Bible).

(baca: anak Ishak memperistrikan anak Ismail)

Jadi ternyata realitas sejarah menunjukkan bahwa bangsa Yahudi dan Arab adalah saudara sedarah dengan adanya nenek moyang yang sama,  dan dengan demikian sesembahan nenek moyang mereka adalah sama dengan nama ‘Allah’ dalam dialek Arab, sekali pun ajaran/aqidahnya berbeda karena perbedaan dalam menerima wahyu yang tercantum dalam kitab suci masing-masing yang dianggap masing-masing sebagai yang paling benar dan berotoritas.

Hal ini dikisahkan dalam Alquran bahwa Manusia dahulunya adalah satu umat.

Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulu pastilah telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan itu. (QS. Yunus:19)

Lalu bagaimana pandangan sekelompok orang yang mengedepankan kebodohan tanpa mencerminkan sikap loyalitas dalam mengkaji masalah ini dengan memasalahkan masalah sesembahan nenek moyang yang sama,??

Padahal nenek moyang mereka hanya menyembah Tuhan yang sama yaitu Allah dengan fakta sejarah yang mengakui itu…

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 April 2017 in Bedah Kasus

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: