RSS

Memahami Makna Roh Kudus

21 Apr

Kita sebagai Muslim ada baiknya mengetahui arti “Roh Kudus” dari kacamata umat Kristiani sekedar tambahan wawasan keilmuan kita pada teologi.

Dalam Kontek teologi Islam sudah jelas,  Di dalam Islam, “Roh Kudus” (“Ruhul Kudus”) merujuk kepada malaikat Jibril yang membawa wahyu Allah untuk disampaikan kepada para nabi.

ROH KUDUS ADALAH MALAIKAT JIBRIL pada zaman nabi muhammad, malaikat jibril menurunkan Al-Qur’an untuk meneguh kan hati orang-orang yang beriman, sebagaimana firmanNya pada surah (16) AN NAHL ayat 102 :

16_102

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. [16:102]

Dan Roh kudus ini pernah datang kepada maryam membawa roh ciptaan Allah calon janin Isa. as/Yesus, lalu roh itu di tiupkan ke rahim Maryam, sebagaimana firmanNya pada surah (19) MARYAM ayat 17 :

19_17

Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. [19:17]

Nabi Isa diperkuat dengan Roh Kudus (2:87,  2:25,3, dan 5:110) artinya Nabi Isa senantiasa disertai Jibril sang Roh Kudus dan juga Kekuasaan Allah, hingga ia mampu melakukan berbagai mukjizat2 yang mengagumkan.

Akan tetapi lain halnya dengan dengan kontek sudut pandang umat Kristiani:

Roh Kudus (bahasa Ibrani רוח הקודש Ruah haqodesh dan bahasa Yunani: πνεύμα Pneumaadalah pribadi Tuhan dalam konsep Tritunggal (dapat disimpulkan Roh Kudus adalah konsep pribadi gabungan Tuhan Bapak dan Tuhan Anak yang menciptakan satu kepribadian).

Doktrin tentang Roh Kudus sama sekali tidak menjadi masalah sampai dengan Konsili Konstantinopel tahun 381. Pada Konsili ini ditetapkan bahwa Roh Kudus adalah “sang Tuhan, Pemberi Hidup, Yang ada dari Bapa, dan bersama dengan Bapa dan Anak, Dia harus disembah dan dimuliakan”.

Sejak saat itu, Roh Kudus menjadi pribadi ketiga dari Ke-Allahan dengan dukungan penuh Kaisar Theodius I. Padahal seperti yang dinyatakan oleh salah seorang Teolog utama yang mempelopori doktrin Ke-Allahan Roh Kudus, Gregorius dari Naziansus masih terdapat kesimpangsiuran pendapat di antara para Teolog :

Di antara orang-orang bijaksana di antara kami, sebagian menyatakan Roh Kudus adalah kuasa (energeia, power), sebagian lainnya mahluk (creature), sebagian lainnya Allah, dan masih banyak yang belum mau menentukan pendapatnya sebagai penghormatan terhadap Kitab Suci yang tidak berbicara terus terang terhadap masalah ini (The New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge, 1963, Jilid 7:112).

Kalau pada Konsili Nicea 325 M merupakan konsili yang memutuskan Yesus sebagai Tuhan, maka pada Konsili Konstantinopel 381 M ini diputuskan kembali tentang keberadaan Roh Kudus diangkat untuk dijadikan Tuhan, hal ini untuk melengkapi konsep Trinitas.

baca: Kebingungan Memaknai Trinitas

Kelemahan dari doktrin Roh Kudus sebagai pribadi Allah ketiga apabila kita mengacu kepada Alkitab :

  1. Allah memiliki nama yaitu Yahweh (Keluaran 3:15), dan Kristus memiliki nama yaitu Yesus (Lukas 1:31,32). Tetapi siapakah nama Roh Kudus?,
  2. Ketika Yesus mengungkapkan kedekatanNya dengan Allah, maka Dia menyatakan : “… tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak …” (Matius 11:27). Mengapa Roh Kudus tidak mengenal Anak ? Atau mengapa Roh Kudus tidak mengenal Bapa?,
  3. Salam yang dituliskan oleh Paulus kepada setiap jemaat yang menerima suratnya menyebutkan Bapa dan Yesus tetapi mengapa tidak menyebutkan Roh Kudus?,
  4. Mengapa meterai bagi orang percaya yang menang di akhir zaman hanyalah meterai dari nama Bapa dan nama Yesus (Wahyu 14:1)?,
  5. Mengapa Rasul Paulus menyatakan bahwa Kerajaan itu adalah Kerajaan Allah dan Kristus, dan tidak memasukkan Roh Kudus ke dalamnya (Efesus 5:5)?,
  6. Mengapa hanya ada 2 tahta, dan Roh Kudus tidak mendapat tahta (Wahyu 22:1)?,
  7. Mengapa ada 7 Roh Allah (Wahyu 4:5)?,
  8. Sebenarnya Roh Kudus itu Roh Allah atau Roh Kristus (Roma 8:9)?,
  9. Jika Roh Kudus adalah pribadi mengapa, Roh yang ada pada Musa bisa dibagi-bagi dengan para penatua Israel yang lain (Bilangan 11:17)?.

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan Roh Kudus.  Kita dapat memahami makna kata Roh (ruach Ibrani, pneuma Yunani) dalam berbagai macam makna :

  1. Seperti yang dikatakan oleh Ayub 27:3 : “Selama nafasku masih ada padaku, dan roh Allah masih di dalam lubang hidungku”, maka Roh di sini berarti nafas.
  2. Seperti yang tertulis dalam Ibrani 1:14 : “Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan”. Ayat ini berbicara tentang para malaikat, maka roh di sini berarti pribadi-pribadi mulia yang tidak terlihat. Seperti halnya ayat : “Allah itu roh …” (Yohanes 4:24).
  3. Seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 2:11 : “Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah”. Dalam ayat ini roh memiliki arti pikiran atau kehendak.
  4. Seperti yang tertulis dalam Yoel 2:28 : “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia …”. Dalam pemahaman ini Roh berarti adalah Kuasa.

Roh Kudus yang dijanjikan Yesus sebagai penolong (parakletos, Yohanes 14:16) tidak lain adalah kuasa Allah yang keluar dari Bapa (Yohanes 15:26). Begitu besar dan khasnya kuasa itu sehingga diberikan personifikasi seperti yang diungkapkan oleh seorang teolog dari Gereja Inggris :

Mempertanyakan apakah dalam Perjanjian Baru, roh adalah pribadi seperti dalam pemahaman dunia moderen, akan seperti mempertanyakan apakah roh Elia adalah seorang pribadi. Roh Allah tentu saja berkepribadian; Itu adalah kekuatan Allah dalam tindakan (dunamis, God’s power in action). Tetapi Roh Kudus bukanlah seorang pribadi, yang hadir secara lepas dari Allah; Menyebut Roh Kudus seperti seorang pribadi adalah cara mengungkapkan tentang Allah sendiri yang bertindak dalam sejarah, atau tentang Kristus yang bangkit bertindak dalam kehidupan dan kesaksian Gereja. Perjanjian Baru (dan tentu saja pemikiran para patristic pada umumnya) di mana pun menyatakan tentang Roh Kudus, tidak lebih dari hikmat Allah yang seolah-olah memiliki kepribadian sendiri (Alan Richardson, Introduction to the Theology of the New Testament, London, 1958:120).

Jadi, sekalipun memiliki berbagai personifikasi, Roh Kudus bukanlah pribadi khusus, apalagi pribadi ketiga dari Ke-Allahan. Alkitab jelas menyatakan bahwa Allah hanyalah Bapa, dan Yesus sebagai Tu(h)an kita (1Korintus 8:6), sedangkan Roh Kudus adalah kuasa Allah yang aktif bekerja untuk kebaikan kita. Dan pada konteks ini persepsi Islam Roh Kudus juga dapat di artikan sebagai Hidayah yang tentunya datang dari Allah.

Pakar Alkitab, Randolph Ross dalam bukunya Command Sense Christiannity dengan tegas mengatakan:

“Not because it is difficult to understand, but because it cannot be meaningfuly be said…. not only impossible according to our understanding of the laws of nature…. but impossible according to the rule of logic upon which all our reasoning is based” (Bukan hanya karena sulit dimengerti, tetapi karena tidak ada maknanya….tidak hanya mustahil berdasarkan hukum alam….tetapi juga mustahil berdasarkan akal sehat dimana logika berpikir kita didasarkan).

Sekarang bila menganggap anak disatukan dengan Tuhan, hal ini akan menjadi seperti bila saya nyatakan bahwa anak saya si John dan saya adalah satu. Bila pernyataan yang demikian adalah benar, saya akan menjadi ayah dari diri saya sendiri, sebab saya adalah anak saya sendiri, John. Dan anak saya, John, akan menjadi anak dari dirinya sendiri, sebab dia adalah saya. Jadi, Tuhan akan menjadi ayah dari diriNya sendiri, dan anakNya akan menjadi anak dari diriNya sendiri.

Tuhan adalah tidak, dan tidak dapat menjadi ayah dari setiap kehidupan atau zat mati bila keayahannya digunakan untuk arti yang sebenarnya. Bila kata itu digunakan di dalam arti kiasan, artinya bahwa Tuhan adalah sebagai berbelas kasih pada kehidupan yang diciptakanNya sebagai Ayah, maka Dia tidak akan hanya menjadi Ayah dari satu orang tetapi Ayah dari seluruh manusia. Dan ini adalah apa yang dapat dimengerti dari sembahyangnya orang Kristen “Ayah kita, kepandaianmu di langit (sorga) …”

Namun walaupun ajaran yang tidak masuk akal ini mendapat tantangan dari para ilmuwan dan pakar Alkitab, Gereja tetap mempertahankannya mati-­matian karena umat Kristiani sudah terlanjur diajari bahwa dua kodrat Yesus merupakan syarat untuk menjadikannya sebagai Juru Selamat sesuai ajaran agama Yunani. (baca: Common Sense Christianity by C. Randolph Ross)

 

Lebih Jelasnya Baca: >Pengesahan Yesus 100% Tuhan dan 100% Manusia

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 April 2017 in kristologi

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: