RSS

Pemahaman Ahlussunah

24 Apr

Setiap golongan, kelompok, suku dan sekte dalam pemikiran Islam, masing-masing mengklaim bahwa golongan mereka saja yang benar dan tepat serta aman akidahnya. Sekalipun hal itu mereka lakukan dengan sengaja memelesetkan nash-nash (teks) dan lafadz-lafadz hadits demi membenarkan dan membela kaum dan suku masing-masing.

Dan sering kita mendengar bahwa akidah yang selamat adalah akidah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, namun yang menjadi pertanyaan adalah siapakah yang dimaksud sebagai Ahlu Sunnah atau dengan kata lain: Apakah Asy’ariyah & Maturidiyah merupakan bagian dari Ahlu Sunnah Wal Jama’ah?. Atau Ahlu Sunnah adalah Wahabi atau Salafi saja?.

Sebelum lebih jauh menjelaskan akidah Ahlu Sunnah, terlebih dahulu penulis menukil sebuah hadits yang menjadi rebutan bagi semua golongan untuk berada dalam pilihan Rasulullah Saw untuk memenangkan golongan yang selamat yaitu:

عن أبى هريرة قال قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – (افترقت اليهود على إحدى أو اثنتين وسبعين فرقة, وتفرقت النصارى على إحدى أو اثنتين وسبعين فرقة, وتفترق أمتى على ثلاث وسبعين فرقة, كلها في النار إلا واحدة وهي الجماعة) – ابن ماجه – وفي رواية (ما أنا عليها اليوم وأصحابي », – ابن ماجه -.

Telah terpecah kaum Yahudi menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan; dan telah membagi kaum Nashara menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan; sedang umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Yaitu golongan yang berada dalam jama’ah (Ibnu Majah). Dan riwayat lainYaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” (Tirmidzi).

Ditemukan dari teks hadits di atas kalimat “al-Jama’ah” yang memberikan sebuah ilustrasi bahwa orang yang selamat adalah orang yang tidak terpecah dan menempuh jalan Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah Saw dan para sahabatnya pada waktu itu. Dari sinilah muncul istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Definisi Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

Setiap golongan, suku, asosiasi dan mazhab memiliki pendiri atau setidaknya ada yang memulai perjalanan organisasi tersebut, sehingga memiliki kepala, pemimpin atau direktur, namun Ahlu Sunnah tidak demikian, ia tidak memiliki pendiri, ketua, pemimpin.

Oleh karena itu Ahlu Sunnah bukanlah golongan sebuah suku atau golongan tertentu, seperti suku Asy’ariah, Maturidiyah, Wahabiah, Hanafiah, Malikiah, Syafi’iyyah dan sekte lain yang masing-masing memiliki pendiri dan kepala dan dikenal khalayak ramai. Melainkan Ahlu Sunnah merupakan satu standar pemahaman, pemikiran agama yang mengandung aspek nilai yang mulia dan murni. Oleh karena tidak ada yang bisa jawab tentang siapa pendiri dan pemimipin Ahlu Sunnah, maka ada baiknya kalau kita mulai dengan definisi Ahlu Sunnah itu sendiri.

Dalam bahasa Arab kalimat “Ahlu” berarti keluarga, kerabat, famili, pemilik [1]. Kemudian dalam kamus “Lisan al-Arab”, kata as-Sunnah dari sudut etimologi diartikan sebagai as-Sayr (perjalanan). Baik orang itu berjalan dalam kebajikan, kebaikan atau keburukan [2].

Sedangkan dalam pengertian epistemologi, as-Sunnah diartikan sebagai: “Pedoman hidup Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Baik berupa ilmu pengetahuan, keyakinan dan kepercayaan (ideologi), kata (ucapan), perbuatan (praktis), dan ajaran-ajaran sunnah tersebut wajib diikuti dan ditaati oleh ummat. Oleh karena itu kalau dikatakan bahwa: si fulan adalah pengikut Ahlu Sunnah, berarti ia adalah orang yang mengikuti jalan yang lurus [3].

Adapun pengertian al-Jama’ah, dalam etimologi diartikan sebagai “Penggabungan sesuatu dengan lainnya”. Sebagaimana yang disinyalir oleh Ragib al-Asfahani, bahwa al-Jama’ah artinya adalah: “Menghubungkan seseuatu dengan lainnya, maksudnya menghimpunkannya” [4]. Sedangkan dalam pengertian epistemologi, al-Jama’ah adalah salaf al-Ummah [5].

Difinisi di atas memberikan ilustrasi bahwa yang dimaksud Ahlu Sunnah adalah mereka yang mengikuti cara hidup Rasulullah Saw, para sahabatnya, tabi’in dan siapa saja yang mengikuti mereka, dengan menghindarkan diri dari praktek bid’ah, di sepanjang zaman dan tempat.

Untuk menyimpulkan dari tiga definisi kalimat di atas, dapat dikatakan dengan mudah bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah Saw dan sunnah para shahabatnya. Kesimpulan ini telah ditegaskan oleh Ibnul Jauzi, “Tidak diragukan bahwa orang yang mengikuti atsar (sunnah) Rasulullah Saw dan para sahabatnya adalah Ahlus Sunnah” [6].

Oleh karena itu istilah “Ahlu Sunnah Wal Jama’ah” adalah kaum terdahulu, muncul sebelum adanya mazhab Hanafiah, Malikiah, Syafi’iah dan Hanabilah, sebab ia adalah mazhab para sahabat yang menerima langsung ajaran-ajaran keagamaan dari Rasulullah Saw, bagi siapa saja yang menyalahi mazhab dan pendirian sahabat, maka mereka dianggap bid’ah di sisi Ahli Sunnah Wal Jama’ah [7].

Perlu disebutkan juga bahwa istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sebenarnya dimunculkan dan disosialisasikan di tengah masyarakat untuk membedakan ajaran Islam yang murni, benar, benar dan lurus dari pembawa risalah Islam Rasulullah Saw dari ajaran Islam yang sudah terpengaruh dengan beberapa pemikiran-pemikiran menyimpang dan menyeleweng , seperti arah pemikiran Jahmiyah, Qodariyah, Syi’ah dan Khawarij. Sehingga orang-orang yang berpegang teguh dan mengamalkan hakikat ajaran Islam yang betul-betul murni tersebut dinamakan “Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”.

Hal ini dijelaskan dengan tegas oleh Imam Malik ketika beliau ditanya: “Siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah itu? Ia menjawab: Ahlus Sunnah itu mereka yang tidak memiliki laqb (julukan) yang sudah populer (di masyarakat saat itu). Jadi Ahlu Sunnah bukanlah Jahmiyah, Qadariyah, dan Syi’ah” [8].

Sekalipun sudah jelas pendefinisian Ahlu Sunnah Wal Jama’ah sebagaimana yang disebutkan, namun dalam kenyataannya ulama masih juga berbeda pendapat tentang siapakah sebenarnya dari golongan Islam yang berhak menjadi Ahlu Sunnah Wal Jama’ah?. Oleh karena itu diskusi istilah ini sangat luas pemakaiannya, dan tidak henti-hentinya dibahas dan diangkat menjadi persoalan, bahkan Ibnu Taimiyah terkadang hanya menyebutkan “Ahlu Sunnah” saja, tanpa diiringi dengan sebutan “al-Jama’ah”.

Hal ini dilakukan oleh Ibnu Taimiyah dengan maksud untuk membedakan antara Islam Sunni dengan Islam Syi’ah. Jadi sebutan Ahlu sunnah tanpa menyebut al-Jama’ah, dimaksudkan untuk semua golongan Islam yang mengatur dan mengakui kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Oleh karena itu dalam hal ini golongan seperti, Asy’ariah dan Maturidiyah adalah golongan Ahlu Sunnah. Ini bagi Ibnu Taimiyah adalah pengertian secara umum.

Adapun secara pengertian khusus (spesifik), Ahlu Sunnah yang dimaksud hanya terbatas kepada Ahlu Hadits dan Sunnah, yaitu bagi mereka yang mengakui sifat-sifat Allah Swt secara harfiah tanpa dita’wilkan, mereka meyakini bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk, percaya takdir dan persoalan-persoalan akidah lainnya [9].

Berdasarkan dua pengertian di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Ibnu Taimiyah mengkhususkan istilah Ahlu Sunnah kepada ulama Salaf. Namun beliau tidak membatasi julukan Ahlu Sunnah hanya kepada mereka. Akan tetapi beliau memberikan kesempatan kepada golongan dan suku lainnya berafiliasi dalam lingkup Ahlu Sunnah, seperti golongan, Asy’ariyah, Maturidiyah dan Zhahiriyah yang ikut membantah ajaran Islam Syi’ah. Adapun kaum Mu’tazilah dan Khawarij bagi Ibnu Taimiyah tidak berhak digolongkan dan dijuluki sebagai Ahlu Sunnah, karena mereka mengatakan al-Qur’an makhluk (Haadits), Allah tidak dapat dilihat di akhirat dengan mata kepala, melainkan dilihat dengan mata hati saja, dan persoalan akidah lainnya.

Selain itu, pada masa kontemporer saat ini gerakan Wahabi tidak mengakui kaum Asy’ariah dan Maturidiyah sebagai Ahlu Sunnah, sebab kedua golongan tersebut menta’wilkan sifat-sifat Allah Swt. Ini suatu persolan lain, yang seharusnya tidak diajukan dalam waktu ini, sebab hanya menambah perpecahan umat, sehingga umat Islam yang sebelumnya terbagi kepada dua suku besar yaitu Sunni dan Syi’ah, menjadi tiga suku yaitu Sunni Wahabi, Sunni Asy’ari Maturidi, dan Syi’ah, perpecahan ini memberikan kesempatan pihak luar Islam untuk mengadu domba umat.

Oleh karena itu sebaiknya semua pihak menahan, menunda, mengurangi dan akhirnya berhenti untuk berperang antara sesama kaum khususnya dalam lingkup Sunni. Sebab tidak mendatangkan manfaat untuk Islam, bahkan membahayakan agama, dan perlu kita ingat bersama bahwa musuh kita bukan dari kita, melainkan dari luar agama, sebagaimana yang ditegaskan oleh firman Allah:

2_120
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. [2:120]

Alangkah baiknya kalau kita bersatu-padu dalam agama dan tidak bercerai berai bak buih di lautan, sebaiknya kita mengangkat satu syi’ar agama sebagai muslimOne Muslim”, dalam istilah al-Qur’an dikenal dengan “Ummatan wahidatan” atau satu umat, firman Allah Swt:

21_92
Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. [21:92]

Terkait dengan selamat atau tidak selamatnya suatu kaum, dalam hal ini Syi’ah turut juga mengaku bahwa akidah golongan merekalah yang akan selamat dan sesuai dengan tuntunan dan ajaran Rasulullah Saw, untuk jelasnya penulis nukilkan beberapa periwayatan hadits Syi’ah seperti berikut:

(إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا من بعدي أبدا: كتاب الله وعترتي أهل بيتي)

Sesungguhnya aku tinggalkan kepadamu sekalian sesuatu yang kalau engkau berpegang teguh kepadanya, maka kamu tidak akan sesat setelah aku tiada, yaitu: Kitab Allah (al-Qur’an) dan keluargaku Ahlul Bait”.

Syi’ah sepakat akan kebenaran riwayat ini asalnya dari lisan Rasulullah Saw, namun sebenarnya riwayat aslinya adalah “كتاب الله وسنة رسول الله” yaitu: Kitab Allah (al-Qur’an) dan Sunnah Rasul (Hadits). Oleh karenanya riwayat ini adalah bentuk penyimpangan Syi’ah dengan menambahkan dan mengurangi teks hadits Rasulullah Saw [10].

Dalam kitab syi’ah lain “al-Hikmah ad-Durriyyah” karangan Ahmad bin Sulaiman (ulama Syi’ah Zaidiyah) disebutkan:

(ستفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة كلها هالكة إلا فرقة واحدة, قيل: ومن هم يا رسول الله?, قال: هم معتزلة الشيعة وشيعة المعتزلة)

“Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan hancur kecuali satu. Yaitu Mu’tazila Syi’ah dan Syi’ah Mu’tazilah “.

Tidak ada keraguan untuk menilai penyimpangan riwayat di atas, sebab pertanyaan ditujukan kepada Nabi Muhammad, sedangkan ketika itu belum ada orang yang bernama Syi’ah maupun Mu’tazilah.

(Perpecahan Umat Islam)

Apapun halnya, seharusnya sengketa antara sesama Ahlu Sunnah sebaiknya dihentikan dan bukan masanya lagi, Islam semakin terfragmentasi akibat sifat saling menjatuhkan antara sesama yang mengaku Islam Sunni, yaitu antara aliran Asy’ariah, Maturidiah, Salafiah, Wahabiah dan lain-lain. Semua golongan tersebut masuk dalam frame “Ahlu Sunnah”. Atau umumnya diistilahkan sebagai “salaf dan khalaf”. Di dunia maya seperti facebook, blog, twitter dan lainnya ditemukan penamaan website dengan slogan yang mengarah kepada pencelaan antar golongan, seperti penyantuman nama “anti Wahabi”, “anti Asy’ari”, dll. Label-label seperti ini sangat merugikan umat Islam, khususnya antara pengikut aliran sunnah sendiri, sebab itu akan menjadi konsumsi publik. Implikasinya, seakan-akan Islam adalah agama perpecahan, tidak menginginkan persatuan dan kedamaian antara sesama pemeluknya. Kita harus membangun bukan meruntuhkan, berdialog bukan menghujat, maju dan melangkah bersama-sama bukan mundur teratur bersama-sama. Jangan menjajah teman sendiri, golongan sendiri, cukuplah kita dijajah oleh orang luar “non muslim” dan itupun belum kita selesaikan sampai sekarang, dikarenakan sibuk dengan pertengkaran dan perseteruan antara mazhab.

Kondisi yang demikian, akibatnya ukhuwah Islamiyah rusak, persaudaraan Islam bubar, timbul saling dengki-mendengki, benci-membenci sehingga ummat Islam menjadi lumpuh tidak berdaya, sekalipun jumlahnya besar. Padahal Allah SWT telah memperingatkan:

49_11

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. [49:11]

Umat Islam tidak berlu disibukkan dengan hal-hal Takfir dan Tadhlil atau mengkafirkan orang lain dan menyesatkannya, biarlah Allah di hari kiamat yang mengadili makhluknya, sebab kebenaran yang hakiki hanya Allah yang memilikinya dan bukan hambaNya. Ulama masing-masing golongan hanya sebatas ijtihad, yaitu berusaha mencari kebenaran dan kepastian, benar dan salah dalam berijtihad Nabi Saw telah memberikan penilaian, sebagaimana sabda beliau:

“إذا حكم الحاكم فاجتهد ثم أصاب فله أجران, وإذا حكم فاجتهد ثم أخطأ فله أجر”

Seorang hakim, ketika berijtihad dan ijtihadnya benar, maka baginya dua pahala, namun ketika ijitihadnya salah, maka baginya satu pahala”. (HR. Bukhari, no: 6919).

Kita bekerjasama dalam hal yang kita sefaham, dan saling memaafkan satu sama lain terhadap hal yang kita perselisihkan.

Dengan konsep kembali ke ajaran masing-masing dan tidak memaksakan golongan lain, dalam mimbar ini kita mengharap persaudaran dan hidup berdampingan akan teralisasi. Alangkah indahnya persaudaraan sesama Islam, tanpa menghiraukan suku, kelompok dan alirannya. Kalau kita sama-sama merenungi ucapan imam at-Thahawi:

“ولا نكفر أحدا من أهل القبلة بذنب ما لم يستحله”

Tidaklah kami kafirkan seseorang dari umat Islam (Ahli Kiblat) selama ia tidak menghalalkan hal dosa yang ia perbuat”.

Maksudnya, antara sesama mukmin dan muslim tidak perlu saling mengkafirkan. Sebab label kafir atau muslim itu adalah urusan Allah, bukan urusan manusia. Masalah “Takfir” sangat berat, karena menyangkut urusan station terakhir yaitu, Surga atau Neraka.

Persamaan tidak akan pernah terjadi dalam dunia ini, Allah berfirman:

11_118

 Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, [11:118]

10_99

Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?. [10:99]

Ayat di atas menegaskan bahwa dalam lipatan dan rentetan sejarah manusia semenjak dari Nabi Adam as, sebenarnya sudah ada pertentangan antara golongan.

Oleh karena itu, tidak ada salahnya berbeda dan bersilang pendapat, tapi jangan sampai perbedaan tersebut meningkat kepada permusuhan. Dapat menganggap salah orang lain, tapi jangan mencela dan mencaci. Tanamkan sikap toleransi bukan ta’assub, menyambung persaudaraan sesama muslim bukannya memutuskan hubungan, berdialog bukan berseteru antara satu sama lainnya. Prioritaskan bendera “agama” bukan bendera “mazhab” dan “orang”.

———————-

[1] DR. Kamaluddin Nurdin, Kamus Sinonim Emirat-Indonesia, “Syawarifiyyah”, hal 138.
[2] Ibnu Manzhur, 1406H, Lisanul Arab, Beirut-Lebanon, al-Maktab al-Islamy. hal 13/226.
[3] Ibnu Manzhur, 1406H, Lisanul Arab, Beirut-Lebanon, al-Maktab al-Islamy. hal 13/226.
[4] Raghib al-Asfahani, al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, Beirut-Lebanon, Darul Ma’rifat, hal 96, 97.
[5] Yang dimaksud dengan “Pemikiran Salafi” di sini adalah metode berpikir (Manhaj Fikri) yang tercerimin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan berpedoman kepada hidayah al-Qur’an dan tuntunan Nabi Saw. Lihat: Ibnu Abi al-‘Izz, 1997, Syarh Aqidah at-Thahawi, Muassasah ar-Risalah, Beirut-Lebanon.
[6] Ibnul Jauzi, Talbis Iblis hal 16.
[7] Ibnu Taimiyah, Minhaj as-Sunnah, 1/256.
[8] Ibnu Abdil Barr, Al-Intiqa fi Fadlail at-Tsalatsatil Aimmatil Fuqaha. Hal 35.
[9] Ibnu Taimiyah, 1306 H, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah, Muassasah Qordova, 2/221.
[10] Imam Malik, al-Muwattha ‘, bab “an-Nahyu’ Anil Qaul tagihan Qadri”.

DR. Kamaluddin Nurdin Dosen Aqidah Filsafat USIM Malaysia

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 April 2017 in umum

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: