RSS

MAKNA TAUHID DALAM ISLAM & KRISTEN

28 Apr

BAGIAN X

Tanya : Apa perbedaan Islam dan Kristen dalam perjuangan Tauhid?

Jawab : Kristen mengembangkan ajaran Tauhid murni yang diajarkan Yesus untuk hanya menyembah Tuhan Allah, menjadi menyembah Tuhan Allah ditambah Tuhan Yesus dan Tuhan Roh Kudus. Artinya, membawa ajaran Tauhid Yesus ke ajaran Trinitas. Sedangkan Islam yang disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW mengembalikan ajaran Trinitas dan Politheisme ke Tauhid yang murni.

Tanya : Apakah pengertian Tauhid, dan apa hubungannya dengan keimanan Kristen?

Jawab : Tauhid atau Keesaan Allah adalah menyakini bahwa Allah itu Esa tanpa ada sekutunya. Ada tiga aspek tauhid:

  1. Keesaan Ketuhanan Allah (Tauhid Rububiyah).
    Seorang muslim percaya bahwa Tuhan pencipta dan penguasa alam semesta ini hanya satu (tidak pernah dikerjakan gotong royong dengan oknum-oknum lain). Dia adalah Pencipta dan Pemelihara alam semesta tanpa sekutu atau patner. Ini adalah inti ajaran Nabi Muhammad SAW dan Yesus.
  2. Keesaan menyembah Allah (Tauhid Uluhiyyah).
    Seorang muslim percaya bahwa hanya Allah yang wajib disembah, tidak ada yang lain. Ini diajarkan pula oleh Yesus sebagaimana yang di terangkan diatas.
  3. Keesaan nama dan sifat Allah (Tauhid-al Asma was Sifat).
    Seorang muslim harus menyebut nama Allah dengan nama-nama yang sudah disebut dalam Al-Qur’an (Asma-ul-Husna). Sifat-sifat Allah inilah yang oleh para penyembah berhala dianggap sebagai oknum-oknum lain yang ikut disembah sebagai Tuhan.

Dari ketiga aspek Tauhid diatas tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Yesus (Isa) sebagai seorang Muslim. Tetapi tentu bertentangan dengan ajaran penyembah berhala Platonis dan Stoic yang mengatakan bahwa Tuhan memiliki perantara (Logos) untuk urusan dunia yang kemudian oleh Gereja dikatakan bahwa Logos (Firman) telah menjadi daging dan mengambil bentuk manusia dalam diri Yesus.

Disamping itu ajaran Tauhid dalam Islam merupakan koreksi terhadap ajaran Trinitas dalam Kristen yang dipetik dari ajaran agama Mesir, Babylonia dan Yunani.

Tanya : Apa pengertian Penyembah Berhala dalam Islam?

Jawab : Penyembah Berhala adalah keyakinan yang dianut oleh para Penyembah Berhala bahwa :

  1. Tuhan mempunyai sekutu. Ini meliputi pengertian bahwa ada Tuhan lain disamping Tuhan Allah, Apakah Tuhan lain tersebut terpisah dari Tuhan Allah, berserikat, maupun bersatu.
  2. Penyembah Berhala juga berarti percaya bahwa selain Tuhan Allah ada oknum lain yang memiliki sifat-sifat keilahian.
  3. Penyembah Berhala juga percaya bahwa selain Tuhan Allah, ada oknum lain yang dapat mendatangkan ganjaran baik dan buruk.

Penyembah berhala di zaman dahulu percaya bahwa perserikatan Tuhan memiliki struktur kepemimpinan. Tuhan merupakan pemimpin atau kepala. Kemudian menyusul Anak. Yang lebih rendah dari anak adalah para dewa. Kesemuanya disembah. Dewa pun disembah dan dimohon pertolongan untuk kasus-kasus tertentu seperti Dewa Cinta, Dewa Padi, Dewa Laut dan lain-lain.

Dalam Agama Kristen Pemimpin Gereja dan Kaisar Romawi menganut ajaran Kesatuan Tiga Tuhan dalam Trinitas. Kalau bagi penyembah berhala di zaman dahulu, Tuhan, Anak dan dewa-dewa berada dalam struktur atasan-bawahan, maka ajaran Kristen, Tuhan Allah, Yesus, dan Roh Kudus diangap satu kesatuan dalam Trinitas dan masing-masing memiliki kedudukan yang sama (co-equal).

Dalam ajaran Islam Keesaan Allah berarti Allah satu-satunya Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian Allah sama sekali tidak punya sekutu, baik dalam bentuk bawahan, maupun patner sebagaimana yang diajarkan oleh semua Nabi termasuk Nabi Muhammad SAW maupun Nabi Isa (Yesus).

Dalam Islam, setiap ajaran yang mensyarikatkan Tuhan baik dalam bentuk atasan-bawahan maupun dalam bentuk patner yang bersatu maupun seimbang (co-equal) dianggap penyembahan berhala.

Tanya : Menurut Hamran Ambrie, orang Kristen menjadikan Yesus dan Ibunya menjadi illah (Tuhan) disamping Allah (Al-Maidah 5:116) adalah tidak benar. Menurutnya ajaran Kristen tidak mengajarkan demikian.

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?….” (Al-Maidah 5:116)

Apakah mempertuhankan Yesus dan Ibunya bukan ajaran Kristen?

Jawab : Kalau Hamran Ambrie mengingkarinya, kita bersyukur! Ini berarti sudah ada kemajuan. Hamran Ambrie mengingkari ajaran ini, karena memang tidak pernah diwahyukan Allah, tidak pernah diajarkan Yesus, dan tidak ada dalam Alkitab. Seharusnya sikap seperti ini juga diperlihatkannya untuk menolak ajaran Trinitas dan Ketuhanan Yesus, karena kategorinya sama dengan apa yang dia ingkari diatas. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah “Apakah tuduhan ayat Al-Qur’an diatas tidak punya dasar?” Ada dua alternatif dari pernyataan diatas:

  1. Kalau Al-Qur’an menuduh demikian sementara Gereja tidak pernah mengatakan/memutuskan untuk menyembah Yesus dan Ibunya, berarti tuduhan Al-Qur’an tersebut tidak ada dasarnya.
  2. Kalau Gereja pernah mengatakan/memutuskan untuk menyembah Yesus dan Ibunya, berarti Hamran Ambrie tidak memahami sejarah Kristen, atau kalau dia sudah tahu berarti dia ingin mengibuli umatnya.

Kalau pembaca pernah berkunjung ke Filipina, terutama di kota Metropolitan Manila, pembaca akan menyaksikan gambar Yesus dan bunda Maria dipajang di hampir setiap pintu gerbang rumah penduduk. Apakah Gambar Yesus yang bersanding dengan bunda Maria ini hanya sekedar pajangan atau hiasan? Ataukah lebih dari itu?

Ralph Edward Woodrow, dalam bukunya Babylon Mystery Religion, 1966, hal. 10, menjelaskan bagaimana Tuhan Ibu para penyembah berhala di Babylonia dibawa ke dalam agama Kristen:

“You see, many pagans had been drawn to Christianity, but so strong was their adoration for the mother goddess, they did not want to forsake her. Compromising Church leaders saw that if they could find some similarity in Christianity with the worship of the mother goddess they could greatly increase their number. But who could replace the most logical person for them to choose…. Little by little, the worship that had been associated with the pagan mother was transfer to Mary”

(Lihatlah, berapa banyak para penyembah berhala yang menganut agama Kristen, namun pemujaan mereka terhadap Tuhan Ibu sedemikian kuat, sehingga mereka tidak mampu untuk meninggalkannya. Para pemimpin Gereja melihat kesempatan bahwa kalau mereka dapat menemukan dalam Kristen pengganti Tuhan Ibu (Penyembah berhala), maka (golongan Kristen) akan bertambah dengan pesat. Namun siapa (di dalam Kristen) yang akan menggantikan Tuhan Ibu penyembah berhala ini? Sudah tentu (bunda) Maria adalah yang paling cocok mereka pilih…. Lambat laun penyembahan mereka terhadap (Tuhan) Ibu penyembah berhala beralih ke (bunda) Maria).

Apakah Para Pemimpin Gereja dan para penyembah berhala yang masuk Kristen hanya berhenti pada kompromi-kompromi seperti ini? Ternyata tidak benar. Kaisar Romawi, Theodosius II bersama para pemimpin Gereja yang bersidang di Efesus Juni 431, mengeluarkan SK. Bunda Maria sebagai Ibu Tuhan (theotokos) yang disembah. Woodrow menambahkan:

“Yet, within just a few more years, Mary worship was not only condoned but become an official doctrine at the Council of Ephesus in 431 AD”

(Namun, hanya dalam beberapa tahun kemudian, penyembahan terhadap Maria bukannya diabaikan, malah ditetapkan menjadi ajaran resmi Gereja yang diputuskan dalam sidang di Efesus tahun 431 M).

Mengapa sidang tentang Ibu Tuhan ini diselenggarakan di Efesus? Fausset dalam bukunya Fausset’s Bible Encyclopedia, hal 484, menjelaskan bahwa di kota inilah Diana disembah sebagai Tuhan Perawan dan Keibuan sejak zaman purbakala. Tony Lane dalam bukunya Christian Thought, 1984, hal. 46, memperlihatkan bagian dari SK. Maria sebagai Ibu Tuhan yang disembah.

According to this understanding of the unconfused union, we confess the holy virgin to be theotokos, because God the Word was incarnate and become man and from his conception itself united to himself the temple that he took from her“.

(Berdasarkan pengertian tentang kesatuan yang tidak meragukan ini, kita menyatakan perawan yang suci (Maria) sebagai Ibu Tuhan, Karena Tuhan Firman berinteraksi dan menjadi manusia dan dari kelahirannya sendiri, tubuh kasar yang diwarisi dari Maria bersatu dengannya).

Jadi rupanya Hamran Ambrie tidak menyadari bahwa nenek moyang umat Kristen pernah berkumpul di Efesus 16 abad yang lalu untuk memutuskan: Maria sebagai Ibu Tuhan yang disembah!

Kelemahan seperti ini ditunjukan oleh John Davidson dari Cambridge University, Inggris dalam bukunya The Gospel of Jesus, 1992, hal. 13:

“For the most part, they have channeled their religious aspiration – weak or wrong – into a belief in certain received tenets without ever questioning their reliability and while understanding still less of their history”

(Sebagian besar, mereka (umat Kristiani) menyandarkan aspirasi agama mereka baik yang lemah ataupun yang kuat – pada kepercayaan berdasarkan ajaran ajaran yang diterima, tanpa pernah mempertanyakan kebenarannya, sementara pengetahuan mereka tentang sejarah (Kristen) masih sangat terbatas).

Oleh karena itu Yesus diminta oleh Allah SWT dalam ayat Al-Qur’an diatas untuk mempertanggung jawabkan perbuatan jahil orang-orang yang menyembahnya yang kemudian memperparah kemusyrikan mereka dengan mempersandingkan Yesus dan Maria sebagai oknum yang disembah selain Allah.

Makanya Davidson bertanya secara serius kepada umat Kristen, termasuk kepada dirinya sendiri dalam buku yang sama di hal. 15:

Have we been misled for the last two thousand years?

(Apakah kita (umat Kristiani) telah tersesat selama dua ribu tahun?)

Tanya : Hamran Ambrie dalam bukunya “Keilahian Yesus Kristus dan Allah Tritunggal Yang Esa”, hal. 114 mengatakan : “Ayat Qur’an ini (surat An-Nisa:171) jelas menolak faham Tritheisme (Ketiga Allah-an) dan bukanlah menolak faham Allah Tritunggal (Trinity), ajaran imannya orang-orang Kristen”. Apakah ayat tersebut di atas benar-benar tidak mengoreksi ajaran Trinitas?

Jawab : Sebelum dijawab benar atau salah, baiklah kita perhatikan ayatnya dengan seksama! :

Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimatNya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara“. (An-Nisa 5:171)

Marilah kita ulas seobyektif mungkin setiap pernyataan dari ayat tersebut diatas.

  1. “Wahai Ahli Kitab” adalah himbauaan dan ajakan terhadap mereka yang menganut ajaran Taurat yang diwahyukan Allah kepada Nabi Musa dan ajaran Injil yang diwahyukan Allah kepada Nabi Isa (Yesus).
  2. “Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu”. Catatan kaki Al­Qur’an dan Terjemahnya menjelaskan: `Maksudnya : jangan kamu mengatakan Nabi Isa (Yesus) itu Allah‘, sebagaimana yang dikatakan oleh Hamran Ambrie dalam bukunya tersebut di atas halaman 100.
  3. “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar”. Kaisar Romawi dan Gereja ternyata tidak berkata benar tentang Tuhan Allah yang disembah Yesus. Karena Tuhannya Yesus tidak berserikat ataupun bersatu dengan Yesus dan Roh Kudus dalam Trinitas.
  4. “Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah”. Berkali-kali dalam Alkitab Yesus dengan tegas mengatakan bahwa dirinya adalah rasul utusan Allah. Umatnya, bani Israel, juga menganggapnya sebagai seorang pemimpin dan nabi mereka. Karena Yesus adalah utusan Allah, tentu beliau bukanlah Allah, karena Allah tidak mungkin mengutus diriNya sendiri.
  5. “Dan (yang diciptakan dengan kalimatNya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam”. Yesus diciptakan dengan kalimat (firman) Allah: “Kun” (jadilah). Kata “Jadilah” ini yang menciptakan jasad Yesus, Adam, serta segala mahluk di jagat raya ini termasuk kita semua. “Kun” yang menjadikan Yesus tidak lebih istimewa bagi Allah dari “Kun” yang menjadikan Adam dan kita semua. Perhatikan ayat Al-Qur’an berikut ini:
    Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa (Yesus) disisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: `Jadilah’ (seorang manusia) maka jadilah dia“. (Ali Imran 3: 59 )
    Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun. “Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril: “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia“. (Ali Imran 3:47)
    Dalam Islam Allah menciptakan manusia dalam dua tingkatan:

    Yang pertama adalah penciptaan jasad. Dengan firman Allah : “Jadilah“, maka jadilah jasad seorang manusia. Oleh sebab itu setiap manusia termasuk Adam, Yesus dan kita semua adalah hasil firman Allah, hasil kata “Jadilah. Oleh karena itu Islam tidak dan tidak akan pernah menganut ajaran yang dipetik dari filsafat penyembah berhala bahwa Yesus adalah Logos atau satu-satunya Firman. Hamran Ambrie yang mengatakan bahwa ayat ini dapat dijadikan dalil bahwa firman telah menjadi manusia, adalah jauh panggang dari api. Ini adalah paham penyembah berhala orang-orang Romawi bahwa setiap fungsi Tuhan (mencipta, berfirman, memelihara, dan lain-lain) menjadi oknum-oknum Tuhan yang lain. Dengan pernyataan Al-Qur’an seperti diatas, maka Roh Kudus tidak perlu harus turun ke bumi menaungi Maria agar hamil, sebagaimana yang dikemukakan penulis Injil Lukas 1:35:
    Dan (dengan tiupan) roh dari-Nya“.Tingkat kedua dalam penciptaan manusia adalah disaat Allah meniupkan roh ke suatu jasad sehingga jasad mahluk tersebut menjadi jasad yang hidup. Ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini akan memberikan gambaran yang jelas tentang roh dari Allah untuk kehidupan jasad manusia:
    Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya” (Shaad 38:72).
    Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)Nya” (as-Sajdah 32:9).
    Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga (Trinitas)”.Ulasan diatas sangat jelas memperlihatkan bahwa firman Allah bukanlah Yesus, melainkan ucapan Allah (“jadilah“) yang menjadikan jasad manusia dan mahluk lainnya termasuk Yesus sendiri. Sedangkan yang dimaksud dengan roh, bukanlah Roh Kudus, melainkan roh dari Allah atau roh ciptaan Allah yang ditiupkan Allah kepada jasad agar hidup. Allah memisahkan dan tidak mencampur adukkan antara Al-Khalik dan mahluk ciptaan-Nya termasuk para rasul. Oleh karena itu Allah melarang keras mereka yang mengatakan/mengajarkan Trinitas.
  6. “Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu”. Kalau saat ini para pakar Alkitab dan sejarawan dunia ini meneriakkan slogan “Demythologize Jesus!” (jangan mengkultuskan Yesus!), maka sesungguhnya slogan seperti ini telah didengungkan oleh Nabi Muhammad SAW 14 abad yang lalu:
    “Jangan mengatakan Trinitas! Yesus itu hanyalah seorang Nabi! Berhentilah dari ucapan itu!“.
    Ayat ini sama sekali tidak berbicara tentang Zeus, Mithra, Apollo, Tammuz, Osiris, Ra, Krisna, Buddha Gautama, atau ratusan tuhan dan dewa-dewa lainnya. Jadi bukan tentang Tritheis atau Politheis.
    Ayat ini semata-mata berbicara tentang Trinitas!!! Tentang Yesus, rasul Allah, yang dipertuhankan sama dengan Allah dalam kesatuan Trinitas.
  7. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa“. Ketika Yesus mengatakan kepada umat Israel bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan Yang Maha Esa, umatnya mengaminkannya dengan mengatakan:
    Tepat sekali, guru, benar katamu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia” (Markus 12:32).
    Jika Yesus adalah anggota Trinitas bersama Tuhan Allah dan Roh Kudus, tentu Yesus akan menginterupsi misalnya:
    “Sesungguhnya Aku dan Roh Kudus ada dalam kesatuan Trinitas bersama Tuhan Allah”. Namun Yesus malah membenarkan pendapat mereka. Yesus semasa hidupnya didunia, dalam kapasitas apa pun, beliau selalu berdoa kepada tuhan Allah. Kegiatan berdoa ini hanya dilakukan oleh manusia yang tiada berdaya, yang senantiasa memohon pertolongan Tuhan Allah. Tuhan tidak mungkin berdoa. Kalau Tuhan Allah Al-Khalik bersatu dalam diri Yesus, untuk apa lagi beliau berdoa, sementara Al­ Khalik ada dalam dirinya sebagaimana yang diakui oleh Hamran Ambrie.
  8. “Maha Suci Allah dari mempunyai anak”. Siapakah yang diulas dalam ayat ini? Tiada lain, tiada dua, hanyalah Yesus.
    Siapakah anakAllah dalam ajaran Kristen? Tiada lain tiada dua, hanyalah Yesus. Yesus adalah anak tunggal Allah. Yesus anak Allah inilah yang menurut Paul Tillich dipetik dari ajaran penyembah berhala. “Son of Godis very familiar pagan concept. The pagan gods propagated son on earth. Because of this the words “only begotten” were added”. (“Anak Allah” adalah istilah yang sangat umum dalam ajaran penyembah berhala. Tuhan-tuhan penyembah berhala beranak pinak di bumi. Oleh karena itu mereka menambahkan istilah “satu-satunya yang diperanakkan” (anak tunggal).
  9. “Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara”.

Dalam ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa, Tuhan Allah tidak memerlukan Logos/Firman/Anak untuk urusan dunia. Allah Yang Maha Kuasa mampu mengatur dan memelihara seluruh alam semesta.

Paham Platonisme, Stoicisme dan Gnostisisme mengajarkan bahwa Tuhan yang mulia tidak dapat berhubungan langsung untuk menolong dunia yang berdosa ini. Oleh karena itu dibutuhkan Logos/Firman atau Anak untuk berurusan dengan dunia dan manusia.

Rudolf Bultmann dalam bukunya Primitive Christiannity (1956), hal. 195, memperlihatkan ajaran Gnostosisme tentang “Anak”:

“The supreme deity takes pity on the imprisoned spark of ligh, and sends down the heavenly figure of light, his Son, to redeem them. This son array himself fin the garment of the earthly body, lest the demons should recognize him. He invites him own to join him, awaken them from their sleep, remind them of their heavenly home, and teach them about the way to return. His chief task is to pass on the sacred password which are needed on the journey back”.

(Tuhan Yang Maha Kuasa ingin menyucikan berkas-berkas cahaya (umat manusia) yang terbelenggu (dalam dosa), dan mengirim cahaya dari sorga, Anaknya, untuk menyelamatkan mereka. Anak ini menyamar dalam pakaian manusia, agar setan tidak mengenalnya. Dia mengajak miliknya (manusia) untuk mengikutinya, membangunkan dari tidur mereka, mengingatkan mereka akan hidup yang kekal, dan bagaimana menuju kesana. Tugas utamanya adalah menyampaikan kunci rahasia yang diperlukan untuk mengetahui jalan pulang (ke sorga).

Ajaran Platonisme dan Gnostisisme tentang “Anak” yang akan mengurus dunia inilah yang dipetik oleh Paulus dan dijadikan ajaran Kristen (Filipi 2:6-7).

Islam bukan agama penyembah berhala sehingga umat Islam tidak mengenal istilah “Anak Allah” sebagai perantara urusan dunia untuk menembus dosa manusia dengan dalih apapun!

Tanya : Benarkah menurut Hamran Ambrie yang mengatakan bahwa Mesias/Almasih berarti “Utusan Allah yang teragunglterakhir, sehingga penyebutan “Muhammad Utusan Allah” sudah tidak relevan lagi, karena terakhir sudah menjadi batasan yang tidak boleh dilampaui lagi?

Jawab : Kita tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi dengan suatu agama kalau setiap orang seperti Hamran Ambrie yang dengan bebas membuat definisi yang tidak ada dasarnya. Kalau Hamran Ambrie berdusta kepada umat Kristiani, umat Islam tidak perlu memusingkannya. Tetapi kalau pernyataan tersebut sudah berkaitan dengan iman Islam tentu sangat perlu untuk diluruskan.

Satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa dusta untuk menyenangkan umat ini adalah ajaran pendiri agama Kristen, Paulus. Jadi kalau Hamran Ambrie mengikuti jurus-jurus Paulus, dapat dimaklumi.

Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaanNya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” (Roma 3:7)

“Mesias” adalah istilah Yahudi. Apa arti kata “Mesias” bagi mereka? Perhatikanlah pernyataan Pakar Yahudi, Max I. Dimont dalam bukunya “Jews, god and History”:

“The word “Mesias” come from the Hebrew word mashiah, meaning “one who is anointed”, that is a messiah”

(Kata “Messiah/Mesias” diambil dari bahasa Ibrani mashiah yang berarti “seorang yang dilantik” (dalam suatu jabatan tertentu).

Edward Gibbon dalam bukunya “The Decline and Fall of the Roman Empire” (1980), ha1.265, menjelaskan pengertian Mesias bagi umat Yahudi:

“Messiah…of the Jews had been more frequently represented under the character of a king and conqueror…”.

(Mesias…bagi orang Yahudi lebih banyak diharapkan akan hadir sebagai seorang raja dan penakluk….)

Russell Shorto dalam bukunya “Gospel Truth” (1997), Hal. 1 b7, menjelaskan:

“A Messiah was a warrior, a king, an absolut victor on the battlefield”

(Mesias adalah panglima perang, raja, pemenang dalam pertempuran)

Michael Baigent, Richard Leigh & Henry Lincoln dalam bukunya The Messianic Legacy, menjelaskan konsep Mesias:

“The Messiah whom Jesus’ contemporaries awaited was…the specifically Judaic equivalent of the sacred priest-king”

(Mesias yang dinanti-natikan para pengikut Yesus adalah kepala pemerintahan sekaligus pemimpin agama sesuai dengan ajaran Yahudi)

Kalau kita menelaah pengertian yang diberikan para pakar Alkitab dan sejarawan di atas, maka secara jujur, definisi diatas, malah lebih tepat untuk Nabi Muhammad SAW dari pada untuk Yesus.

Ini hanya sekedar beberapa kutipan yang mewakili ratusan buku yang menjelaskan tentang arti kata “mesias“. Tidak ada satu pun tanda-tanda yang memberi petunjuk bahwa Mesias berarti “utusan Allah yang teragung/terakhir“.

Oleh sebab itu penerbit buku ini dengan senang hati menyediakan hadiah cuma-cuma sebesar Rp 1.000.000,- bagi mereka yang dapat menunjukkan buku yang menyatakan bahwa kata “mesias” berarti “Utusan Allah yang teragung/terakhir“.

Tanya : Benarkah menurut Hamran Ambrie bahwa Yesus disebut Tuhan karena Ketuhanan dan kepenguasaan Allah telah dilimpah-kuasakan kepada Yesus sesuai dengan Matius 11:27 dan Matius 28:18?

Jawab : Sebelum di jawab ya atau tidak, baiklah kita memperhatikan konteks ayat tersebut dengan memperhatikan ayat 25-29:

Pada waktu itu berkatalah Yesus: ‘Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semua itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya, Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu. Semua telah diserahkan kepadaku dan tidak seorang pun mengenal anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain anak dan orang yang kepadanya anak itu berkenan menyatakannya. Marilah kepadaku, semua yang letih, lesu dan berbeban berat, aku akan memberi kelegahan kepadamu. Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah padaku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan“. (Matius 11:25-29).

Konteks dari ayat-ayat tersebut diatas adalah tentang ilmu/pengetahuan yang disembunyikan orang bijak dan pandai tetapi diajarkan kepada orang kecil/tidak terpelajar. Oleh sebab itu ayat 27: “Semua telah diserahkan kepaku oleh Bapaku, bukan berarti telah terjadi acara serah terima segala kekuasaan dari Allah kepada Yesus, tetapi pemberian ilmu dari Allah, khusus kepada Yesus.

Ini diperjelas dengan komentar tentang ayat ini oleh Robert Funk, Roy W. Hoover dan 74 orang anggota Seminar Yesus dalam buku The Five Gospels (1993) hal. 182,:

“The second (Matius 11:27) of which has to do with privileged knowledge and communication…involve two claims: one has to do with privilege knowledge shared by Father and son, the other with privilege communication between son and f ollower. ”

(Yang kedua (Matius 11:27) berhubungan dengan ilmu khusus dan komunikasi…. Menyangkut dua hal: yang satu berhubungan dengan ilmu khusus yang dimiliki oleh bapa dan anak, sedang yang kedua berhubungan dengan komunikasi antara anak dengan para pengikutnya).

Jurus untuk memotong-motong ayat dan menafsirkannya keluar dari konteksnya merupakan pekerjaan para penginjil sejak zaman dahulu kala. Hamran Ambrie tinggal mewarisinya saja. Burton L. Mack, Professor Sejarah Kristen pada institute Theologi di Claremont dalam bukunya Who Wrote the New Testament, (1989), hal. 2, menjelaskan taktik ini:

“And it does not matter that, for a particular teaching or view, the “biblical” basis may consist of only a small set of sentences taken out of contexy and pressed into a dogma”

(Dan tidak perduli, demi untuk ajaran atau pandangan tertentu landasan “Alkitab” dapat berupa kalimat/penggalan kalimat, yang ditafsirkan keluar dari konteksnya, kemudian dipaksakan menjadi dogma (ajaran agama).

Dengan penjelasan diatas, maka pernyataan Hamran Ambrie bahwa Yesus adalah Tuhan karena ke-Tuhan-an dan Ke-Penguasa-an Allah telah dilimpah kuasakan kepada Yesus sebagai-mana Matius 11:27 adalah tidak benar! ! !

Menganai Matius 28:18 “Kepadaku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi”, sudah dijelaskan sebelumnya bahwa para pakar Alkitab menyatakan ayat ini sebagai ayat palsu. Robert Funk menjelaskan:

“The charge to annunce the good news to the whole world (Mark 13:10 and Matt 28:18-20) was developed by Paul”.

(Perintah untuk memberikan injil ke seluruh dunia (Markus 13:10 dan Matius 28:18-20) baru diciptakan oleh Paulus)

Selanjutnya Hugh J. Sconfield (1998) mengomentari Matius 28:16-20 sebagai berikut:

“This (Matt. 28:15) would appear to be the end of the Gospel. What follows (Matt 28:16-20), from the nature of what is said, would then be a later addition “.

(Ayat ini (Matius 28:15) nampak sebagai penutup injil (Matius). Dengan demikian, ayat-ayat selanjutnya (Matius 28:16-20), dari kandungan isinya, nampak sebagai (ayat-ayat) yang baru ditambahkan kemudian).

Untuk itu amatlah keterlaluan bagi mereka yang masih mau menggunakan ayat palsu yang tidak pernah diucapkan oleh yesus ini sebagai dasar untuk mempertuhankan Yesus.

Labih keterlaluan lagi adalah ayat-ayat palsu ciptaan Gereja yang tidak pernah diucapkan Yesus, diakui sebagai ucapan Yesus dan menjadi senjata pamungkas untuk mendiskreditkan keimanan umat Islam.

Tanya : Kalau menurut ajaran Islam, Yesus diutus dunia ini sebagai Nabi Muslim untuk mengajarkan tauhid, mengapa Allah masih mengutus Nabi Muhammad SAW?

Jawab : Andaikata ajaran tauhid yang diajarkan Yesus tidak dicemari ajaran penyembah berhala, atau hanya diselewengkan oleh bani Israil, mungkin Allah hanya akan mengutus lagi Nabi dari antara Bani Israil. Namun karena yang menyelewengkan ajaran tauhid bukan lagi orang-orang Yahudi, tetapi bangsa­bangsa lain, sehingga kehadiran Nabi Muhammad SAW kedunia ini demikian pentingnya berdasarkan pertimbangan berikut ini:

  1. Yesus (Nabi Isa) diutus Allah hanya untuk bani Israil. “Jawab Yesus: `Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat israel… tidak patut mengambil roti (ajaran Yesus) yang disediakan bagi anak-anak (bani Israel) dan melemparkannnya kepada anjing (bangsa non Yahudi). (Matius 15: 24, 26 ).
  2. Ajaran Tauhid Yesus dicemari oleh ajaran penyembah berhala dari luar Israel (Romawi, Yunani, Babilonia dan Mesir), sehingga tidak mungkin lagi mengutus nabi untuk bani Israel, tetapi untuk seluruh umat manusia.
    Sebab itu, aku berkata kepadamu (Hai Bani Israil), bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah kerajaan itu“. (Matius 21:43) Tugas berat yang dinyatakan Yesus ini dipikul dan dilaksanakan dengan baik oleh Nabi Muhammad SAW untuk seluruh umat manusia:
    Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu….” (an-Nisa 4:1).
    Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi….” (al-Baqarah 2:168).
    Oleh karena itu alangkah tidak bijaksananya kalau kita mengaku seorang manusia kemudian tidak mengikuti ajakan Nabi Muhammad SAW. Demikian pula, alangkah tidak bijaksananya kalau kita sebagai bangsa Indonesia yang jelas-jelas bukan bani Israil, ikut-ikutan menyahuti panggilan yang tidak ditujukan kepada kita, tetapi hanya kepada bani Israil.
  3. Injil yang diwahyukan Allah kepada Yesus tidak lagi dipertahankan kemurniannya dari serbuan ajaran penyembah berhala. Para penulis injil bukannya menulis ajaran Tauhid yang diajarkan Yesus tetapi ajaran baru yang mengawinkan ajaran Yesus dengan ajaran penyembah berhala disesuaikan dengan keinginnan para penyembah berhala di kerajaan Romawi. Hal ini dikemukakan dengan jelas oleh Max I Dimont, professor sejarah Yahudi di Amerika Serikat, Kanada, Afrika Selatan, Brazilia dan Finlandia dalam bukunya Jews, God and History, 1962, hal 147:
    “The accounts of the history of Christianity in the Pauline Epistoles and the Gospels, especially the latter relate to the trial of Christ, become under-standable now that we realize they were written not for the Jews but for the pagans”
    (Cerita tentang sejarah Kristen dalam Surat-Surat Paulus dan Injil-injil (dalam Alkitab), terutama (Injil-injil) yang menulis tentang penyaliban Yesus, menjadi jelas dan kita sadari sekarang bahwa (Surat-Surat Paulus dan Injil-injil) tersebut bukan ditulis untuk umat Yahudi (umatnya Yesus), tetapi untuk penyembah berhala).
  4. Ajaran Yesus yang bercampur baur dengan ajaran penyembah berhala yang ditulis oleh para penulis Injil dari kerajaan Romawi, menjadi lebih parah ketika para penyalin Injil mendapat restu Gereja untuk merubah, menambah dan mengurangi atau menciptakan ayat-ayat baru dan memasukkannya kedalam Alkitab seakan-akan ayat asli atau ucapan Yesus. James H. Charlesworth dalam bukunya Jesus and the Dead Sea Scrolls, 1992, hal 150 menjelaskan:

“It is certain that Jesus’ authentic words were altered significantly in the forty years that separated his crucifixion from the composition of the first Gospel”

(Jelas bahwa kata-kata yang diucapkan Yesus telah banyak dirubah selama 40 tahun yang memisahkan antara penyaliban dan penulisan Injil yang pertama (Injil Markus)

Pernyataan serupa juga datang dari Robert W. funk dan Roy W. hoover dalam buku mereka The Five Gospels:

“Word borrowed from the fund of common lore or the Greek scriptures are of ten put on the lips of Jesus.. the evangelists frequently attributed their own statement to Jesus”

(Kata-kata yang diambil dari cerita rakyat atau naskah Yunani sering disuapkan kepada Yesus untuk diucapkan… Para penginjil sering mengaku bahwa ucapan yang mereka ciptakan adalah ucapan Yesus)

Selanjutnya mereka menambahkan:

“And handmade manuscript have almost always been ‘corrected’ here and there, of ten by more than one hand”

(Dan naskah yang ditulis tangan hampir selalu ‘dikoreksi’ (dirubah) disana sini, kebanyakan oleh lebih dari satu orang).

Perbuatan ini sangat dicelah oleh Allah SWT yang tercermin dalam surat al-Baqarah 2:79:

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (Al-Baqarah 2:79)

Akibat dari bencana yang menimpa agama tauhid yang diajarkan semua nabi sebelumnya inilah, Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah sebagai nabi terakhir untuk menyempurnakan dan memurnikan iman dan akhlak umat manusia yang telah dicemari oleh ajaran penyembah berhala. Kepercayaan dengan menyembah Allah dan oknum-oknum lain di samping Allah, dikembalikan untuk hanya berserah diri kepada Allah SWT.

Renungkanlah peringatan Allah berikut ini, semoga kita semua menjadi umat yang bertaqwa, mendapat ridha Allah, dan selamat dunia akhirat:

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia“. (Al-Ikhlas 112:1-4)

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu“. (Al­-Maidah 5:72)

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga (dalam Trinitas)” (Al-Maidah 5:73)

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam“. (Ali Imran 3:19)

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu“. (Al-Maidah 5:3)

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi“. (Ali Imran 3: 85).

BAGIAN XI
KESIMPULAN

Dengan segala kerendahan hati, kami mengharap semoga tulisan ini menjadi bahan inspirasi bagi saudara-saudaraku muslim dalam upaya memurnikan iman serta mengikis berbagai keraguan yang datang menteror silih berganti.

Melalui tulisan ini semoga muslim mengetahui, menyadari, dan menyakini seyakin-yakinnya bahwa Allah SWT tidak pernah mewahyukan Trinitas kepada semua Rasul yang diutus ke dunia ini, termasuk Nabi Isa (Yesus). Demikian pula Yesus dan murid-muridnya tidak pernah menyebut-nyebut, apalagi mengajarkan ajaran asing dan aneh ini. Paulus sendiri sebagai pendiri agama Kristen juga tidak pernah menyebut-nyebut dan mengajarkan Trinitas.

Kalau masyarakat awam Kristen tetap berada dalam kegelapan dan ngotot mempertahankan Trinitas, harap maklum, karena menurut Robert Funk, meskipun para pastor, pendeta dan penginjil telah ditatar bahwa Yesus bukan Anggota Trinitas dan bukan Tuhan yang harus di sembah, namun mereka tidak punya nyali untuk menyampaikan kebenaran ini kepada jemaat karena takut di damprat.

Dari tulisan ini jelas terlihat dari kacamata Islam adanya dua permasalahan yang dilahirkan oleh ajaran Trinitas yang dianut dari filsafat Yunani dan agama Mesir :

  1. Keteledoran yang disengaja oleh para pemimpin Gereja yang menobatkan Yesus sebagai Logos penyembah berhala, sehingga Yesus dengan serta-merta harus memikul berbagai gelar Logos yang tidak pernah beliau impikan. Tanpa sepengetahuan dan seizin beliau, para pemimpin Gereja langsung menyematkan gelar Tuhan, Juru Selamat, Anak Allah, Firman, Alfa dan Omega, perantara antara Tuhan dan Manusia dan puluhan gelar lainnya kepada Yesus.
  2. Kecurangan para penulis Injil-injil dalam Alkitab yang menciptakan ucapan-ucapan palsu, kemudian menyuapnya kepada Yesus sehingga memberi kesan seakan-akan ucapan tersebut keluar dari mulut Yesus. Ayat-ayat ini di golongkan dalam “Ayat Asli Ucapan Palsu“. Disamping itu para penyalin injil-injil dalam Alkitab tidak pula ketinggalan menciptakan ayat-ayat palsu yang diakui sebagai ucapan Yesus kemudian menyelipkannya ke dalam Injil yang baru mereka salin. Ayat-ayat ini tergolong dalam “Ayat Palsu Ucapan Palsu“.

Dengan demikian terdapat dua golongan ayat-ayat palsu dalam injil-injil di Alkitab. Pertama, “Ayat Asli Ucapan Palsu”, dan kedua “Ayat Palsu Ucapan Palsu”.

Sementara hasil seminar Yesus selama 6 tahun yang diikuti 75 pakar Alkitab Internasional di Amerika Serikat menemukan bahwa “Ayat Asli Ucapan Asli”, yang dianggap benar-benar ucapan Yesus hanya 18%.

Anehnya, Ayat-ayat palsu yang diciptakan para penulis injil dan yang diselipkan para penyalin Injil, ternyata merupakan fondasi ajaran Kristen.

Andaikata Trinitas tidak melibatkan Yesus (Nabi Isa), umat Islam tidak punya urusan untuk membahasnya. Namun umat islam menjadi berkepentingan dan terlibat dalam membahas Trinitas, karena para pemimpin Gereja mengatakan bahwa Yesus (Nabi Isa sebagai Rasul Islam), adalah Logos penyembah berhala, anggota Trinitas, dan bahwa Trinitas adalah ajaran yang diajarkan Yesus (Nabi Isa). Padahal Al-Qur’an sendiri telah menjelaskan bahwa mereka telah sesat dan curang sejak 15 abad yang lalu.

Perhatikan, betapa mulianya pernyataan yang diajukan pakar Alkitab, John Davidson dalam bukunya The Gospel of Jesus yang di tujukan kepada umat Kristiani, terutama untuk dirinya sendiri:

Have we been misled for the last two thousand years?

(Apakah kita (umat Kristiani) telah tersesat selama dua ribu tahun?)

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hambanya di jalan yang benar.  Amin.

-oOo-

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 April 2017 in Dialog Trinitas

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: