RSS

Pengesahan Yesus 100% Tuhan dan 100% Manusia

28 Apr

BAGIAN V

S.K : Yesus 100% Tuhan dan 100% Manusia

Tanya : Kapan SK yang memutuskan Yesus 100% Tuhan sekaligus 100% manusia ditetapkan?

Jawab : Hal itu diputuskan pada konsili di Efesus Juni 431 (400 tahun setelah Yesus tiada) yang disponsori oleh Kaisar Romawi, Theodosius II.

We confess therefore our Lord Jesus Christ, the only begotten Son of God to be perfect (100%) God and perfect (100%) man“.

(Oleh Karena itu kita mengakui bahwa Tuan Yesus Kristus, Anak Tunggal Tuhan, sebagai Tuhan yang sempurna (100%) sekaligus manusia yang sempurna (100%).

Keputusan ini kemudian diperkuat lagi oleh SK yang diterbitkan dalam konsili di Chalcedon, Oktober 451 yang juga disponsori oleh Kaisar Romawi saat itu, Marcion.

Followinq the holy fathers we confess with one voice that the one and only Son, our Loard Jesus Christ, is perfect in Godhead and perfect in manhood truly God and truly man…

(Sesuai dengan ajaran para pemimpin Gereja, kami bersaksi dengan suara bulat bahwa satu-satunya Anak, Tuan kita Yesus Kristus, adalah Tuhan yang sempurna (100%) dan manusia yang sempurna (100%), Tuhan yang sesungguhnya dan manusia yang sesungguhnya)

Namun pendirian yang mengatakan bahwa Yesus 100% manusia dan 100% Tuhan saat ini mendapat tantangan yang luas dari para ilmuwan dan pakar Alkitab.

Prof. John Hick dalam bukunya The Myth of God Incarnate mengatakan:

“What the orthodoxy developed as the two natures of Jesus, divine and human coinherinq in one historical Jesus Christ remains a form of words without assignable meaning…. for to say without explanation that the historical Jesus of Nazareth was also God is adevoid of meaning…That Jesus was God the Son incarnate is not literally true since it has no literal meaninq but it is an application to Jesus of a mythical concept whose function is analogous to that of the notion of divine sonship ascribed in ancient world to aking”

(Apa yang diciptakan oleh golongan Kristen Orthodoks tentang ke-dwi sifat-an (dua kodrat) Yesus sebagai Khalik dan makhluk dalam diri Yesus hanyalah merupakan kata-kata tanpa arti…. karena dengan mengatakan tanpa penjelasan bahwa manusia Yesus adalah juga Tuhan, adalah sesuatu yang tidak memiliki makna…. bahwa Yesus adalah inkarnasi Tuhan Anak secara harfiah tidak benar, karena secara harfiah tidak ada artinya dan hanya diterapkan kepada Yesus dalam mitos yang fungsinya mirip seperti pandangan tentang raja sebagai anak dewa dalam legenda).

Huston Smith, pakar perbandingan agama dalam bukunya The Word’s Religion hal 340 mengomentari ke-dwi sifat-an Yesus:

“To be fully divine mean one has to be free of human limitation. If he has only one human limitation then he is not God. But according to the creed, he has every human limitation. How, then can he be God?”

(Untuk sepenuhnya ilahi, berarti dia harus bebas dari segala keterbatasan manusia. Kalau dia memiliki satu kelemahan manusia, berarti dia bukan Tuhan. Tetapi berdasarkan kredo, dia (Yesus) memiliki segala keterbatasan sebagai seorang manusia. Oleh sebab itu mana mungkin dia Tuhan?).

Randolph Ross dalam bukunya Command Sense Christiannity dengan tegas mengatakan:

“Not because it is difficult to understand, but because it cannot be meaningfuly be said…. not only impossible according to our understanding of the laws of nature…. but impossible according to the rule of logic upon which all our reasoning is based”

(Bukan hanya karena sulit dimengerti, tetapi karena tidak ada maknanya….tidak hanya mustahil berdasarkan hukum alam….tetapi juga mustahil berdasarkan akal sehat dimana logika berpikir kita didasarkan).

Sekarang bila menganggap anak disatukan dengan Tuhan, hal ini akan menjadi seperti bila saya nyatakan bahwa anak saya si John dan saya adalah satu. Bila pernyataan yang demikian adalah benar, saya akan menjadi ayah dari diri saya sendiri, sebab saya adalah anak saya sendiri, John. Dan anak saya, John, akan menjadi anak dari dirinya sendiri, sebab dia adalah saya. Jadi, Tuhan akan menjadi ayah dari diriNya sendiri, dan anakNya akan menjadi anak dari diriNya sendiri.

Tuhan adalah tidak, dan tidak dapat menjadi ayah dari setiap kehidupan atau zat mati bila keayahannya digunakan untuk arti yang sebenarnya. Bila kata itu digunakan di dalam arti kiasan, artinya bahwa Tuhan adalah sebagai berbelas kasih pada kehidupan yang diciptakanNya sebagai Ayah, maka Dia tidak akan hanya menjadi Ayah dari satu orang tetapi Ayah dari seluruh manusia. Dan ini adalah apa yang dapat dimengerti dari sembahyangnya orang Kristen “Ayah kita, kepandaianmu di langit (sorga) …” Tetapi, walaupun bersatu, pemakaian arti kiasan dari kata ini adalah bertentangan dengan Islam sebab hal itu menyesatkan dan mengacaukan pada orang-orang. Orang-orang Islam, tidak menggunakan hal itu.

Namun walaupun ajaran yang tidak masuk akal ini mendapat tantangan dari para ilmuwan dan pakar Alkitab, Gereja tetap mempertahankannya mati-­matian karena umat Kristiani sudah terlanjur diajari bahwa dua kodrat Yesus merupakan syarat untuk menjadikannya sebagai Juru Selamat sesuai ajaran agama Yunani.

Tanya : Apakah Paulus pernah mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan atau setara dengan Tuhan?

Jawab : Paulus (5-67M) yang hidup di zaman Yesus tidak pernah mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan atau setara dengan Tuhan Allah.

Tanya : Apa upaya yang dilakukan Gereja untuk menjadikan Anak Allah setara dengan Allah?

Jawab : Dengan mengatakan bahwa Anak Allah (Tuhan) adalah Logosnya filsafat Yunani.

Tanya : Siapa yang mengatakan bahwa Logos (Firman) adalah anak Allah (Tuhan)?

Jawab : Yang mengatakan demikian adalah Philo dari Alexandria. Dia mendefinisikan Logos sebagai “Protogenes huios theou” (Anak sulung Tuhan). Paham penyembah berhala ini dianut mentah-mentah oleh Hamran Ambrie dalam bukunya: “Keilahian Yesus Kristus dan Allah Tritunggal Yang Esa” hal 19-20:
Yesus, asal kejadiannya adalah dari zat Allah sendiri yaitu “Firman” atau kalam, dan Roh Kudus. (Matius 1:18). Firman dengan kata lain dikatakan juga “Anak Sulunq“, ada sebelum segala makhluk diciptakan (Kolose 1:15) adalah zat Allah itu sendiri.”

Gelar anak Tuhan ini kemudian digunakan oleh Paulus untuk Yesus. Selanjutnya penyalin Injil yang umumnya adalah para pengikut Paulus juga ikut-ikutan menyebut Yesus sebagai Anak Allah (Tuhan), dengan menambahkannya kedalam ayat-ayat Injil.

Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah“. (Markus 1:1) “Jawabnya (Sida-sida): ‘Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah“. (Kis. 8:37).

Kata “Anak Allah” dari kedua ayat tersebut diatas adalah palsu. Kata-kata tersebut tidak ada dalam teks Injil Markus maupun Kisah Para Rasul dari (Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus) yang diperkirakan ditulis tahun 325M. kata Anak Allah” dalam kedua kitab diatas, baru diselipkan di akhir abad ke IV atau abad ke V.

baca: Einstein Bingung, Tuhan Mengambil Bentuk Seperti Manusia

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 April 2017 in Dialog Trinitas

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: