RSS

TIDAK SEMUA KRISTEN MEMPERTUHANKAN YESUS

28 Apr

BAGIAN VII
TIDAK SEMUA KRISTEN MEMPERTUHANKAN YESUS

Tanya : Apakah semua pemimpin Gereja setuju untuk mempertuhankan Yesus?

Jawab : Tidak! Sebelum abad ke IV para pemimpin Gereja disibukkan dengan bagaimana memformulasikan hubungan yang tepat antara Allah dan Yesus. Hubungan tersebut berkisar pada kedudukan Tuhan sebagai Bapak, dan Yesus sebagai Anak Tuhan. Atau hubungan antara Allah sebagai Tuhan yang Mulia, Baka dan Sempurna dengan Logos dari Allah sebagai perantara Tuhan dan manusia.

Oleh karena itu sampai dengan awal abad ke IV para pemimpin Gereja umumnya masih berpendirian bahwa Tuhan Allah adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah. Kalau pun Yesus sudah mulai dikultuskan, masih dalam koridor Anak Allah atau Logos, dan bukan Tuhan. Arius misalnya, hanya mengakui Bapa (Allah) sebagai satu-satunya Tuhan, dan menganggap Yesus sebagai makhluk.

Keadaan berubah secara drastis ketika Kaisar Romawi, Constantine, menyatakan masuk Kristen tahun 312 M. masuknya Kaisar ini disambut dengan semangat yang berapi-api oleh umat Kristen saat itu. Kaisar menetapkan Kristen sebagai agama Kerajaan. Walaupun hal ini disambut dengan gembira, beberapa kalangan saat itu mengkhawatirkannya. Tony Lane menjelaskan kesalahan yang mengerikan ini dalam bukunya Christian Thought hal. 11:

“…Some had doubts from the beginning, and it is increasingly fashionable today to regard the link as a horrible mistake…the asoption of Christianity as the state religion led to amassive influx of superficial converts from paganism. This resulted in decline moral standard and the adoption of some pagan and idolatrous practices” (Sejak semula sebagian kalangan telah meragukannya, dan bertambah jelas seperti yang nampak saat ini bahwa hubunqan antar Gereja dan Kaisar merupakan kesalahan yang mengerikan….ketetapan (Kaisar) yang memutuskan Kristen sebagai agama Kerajaan menyebabkan membanjirnya para penyembah berhala yang sekedar masuk Kristen sebagai lambang. Ini menyebabkan jatuhnya standar moral dan masuknya ajaran penyembah berhala (kedalam ajaran Kristen) Jalan menuju Ketuhan Yesus tidaklah mulus, malah penuh dengan pertumpahan darah. Namun ajaran Trinitas dari agama Mesir dan Babilonia, yang kemudian diidealkan oleh Plato, yang kemudian dianut oleh para pemimpin Gereja, menyebabkan lahirnya bibit-bibit pendukung Trinitas dalam Gereja Kristen. Mereka inilah yang berjuang mati-matian memasukkan ajaran Trinitas kedalam Kristen yang dimulai dengan upaya mempertahankan Yesus. Salah seorang tokohnya adalah Athanasius.

Tanya : Bagaimana para pendukung Athanasius memperoleh kemenangan untuk mempertuhankan Yesus?

Jawab : Ketika Constantine menjadi Kaisar Romawi, secara terbuka dia menyatakan diri sebagai pendukung Athanasius yang dianggapnya sesuai dengan latar belakang filsafat Yunani yang dia anut. Untuk menghabisi paham tauhid Arianisme, Kaisar menyarankan istilah “homoousios” yang pengertiannya adalah “Yesus satu zat dengan Allah“. Tony Lane menambahkan dalam bukunya:

“The Emperor himself advocated the word (homoousios), probably at the instigation of his western eclesiatical advisor….lt was a word which was congenial to the west, which since Tertullian had thouqht of the Trinity as three persons in one substance”.
(Kaisar sendiri menganjurkan (penggunaan) kata (homoousios), diduga atas anjuran penasehat spiritualnya….Kata tersebut dianggap cocok untuk (Gereja) bagian barat sejak Tertullian memperkenalkan Trinitas sebagai oknum dalam satu zat).

Tanya : Mengapa Athanasius berjuang mati-matian untuk mempertuhankan Yesus?

Jawab : Athanasius dibesarkan di Mesir, daerah yang sangat subur ajaran Trinitasnya. Di Mesir penduduk menyembah tiga Tuhan dalam satu: Osiris, Isis dan Horus. Disamping itu, ajaran Filsafat Platonis dan Stoa juga berkembang pesat di Alexandria, dimana Athanasius tinggal mengidealkan Trinitas agama Mesir.

Bagi Athanasius yang sudah terbiasa di alam tiga Tuhan, ajaran tauhid para pengikut Kristen saat itu dirasakannya sangat mengganggu. Oleh karena itu arus masuknya para penyembah berhala ke dalam Kristen serta didukung Kaisar Romawi untuk mengawinkan ajaran Kristen dengan ajaran penyembah berhala di kerajaan, dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Athanasius untuk menghabisi ajaran tauhid yang masih bercokol di kalangan Kristen. Menurut filsafat Yunani, walaupun Tuhan sangat ingin menyelamatkan manusia, namun tidak mungkin langsung dapat melakukannya. Untuk menyelamatkan manusia, Tuhan menggunakan perantara yakni Logos. Karena pemimpin Gereja menginginkan Yesus sebagai Logos, sehingga Yesus selanjutnya harus menduduki posisi Logos. Inilah yang diperjuangkan oleh Athanasius agar Yesus menduduki posisi baru sebagai Logos penyembah berhala yang akan menjalankan fungsi Anak Tuhan dan Juru Selamat.

S.E.Frost Jr. dalam bukunya Basic Teachinq of the Great Philosophers ha1.110 menjelaskan: “God as we have seen conceived as pure, holy, perfect. Thus it became necessary to introduce an intermediate being, the Logos, to account for the cretion of the universe. Many thinkers identify this beinq (Logos) with Christ…” (Tuhan sebagaimana paham filsafat Platonis dianggap suci, mulia dan sempurna. Oleh karana itu diangap penting untuk memperkenalkan perantara, yakni Logos (Firman), untuk menciptakan jagat raya. Beberapa ahli pikir kemudian menganggap Logos ini adalah Kristus (Yesus).

Tanya : Hamran Ambrie dalam bukunya “Keilahian Yesus Kristus dan Allah Tritunggal Yang Esa” mengutuip Kitab Kisah para Rasul 2:36:

Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa (Tuhan) Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis.2:36)

Dengan menggunakan ayat diatas Hamran Ambrie mengatakan bahwa umat Islam telah keliru menuduh umat Kristen mengangkat Yesus menjadi Tuhan.

Jadi jelaslah bahwa persangkaan orang-orang Muslim yang sering menuduh bahwa orang-orang Kristen sendirilah yang mengangkat Yesus menjadi Tuhan adalah keliru… melainkan memang penyebutan Tuhan itu justru datangnya dari Allah itu sendiri….” Apakah benar orang-orang Muslim keliru ?

Jawab : Jangan sampai Hamran Ambrie sendiri yang keliru atau dia sengaja ingin mengelirukan orang. Orang Muslim sesungguhnya tidaklah keliru. Allah tidak pernah mengangkat Yesus sebagai Tuhan sebagaimana yang diakui oleh Hamran Ambrie.

Sebenarnya yang mengangkat Yesus sebagai Tuhan adalah orang-orang Kristen di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

LAI melencengkan terjemahan “Kyrios” dan “Lord” dalam Injil.

Sekarang logikanya saja, untuk apa Allah membuat Tuhan??? Dalam agama Tauhid pernyataan ini tidak ada jawabannya. Tetapi bagi penyembah berhala Platonis dan Stoic, Tuhan yang mulia harus membuat Logos untuk menyelamatkan dunia yang berdosa.

Dalam Alkitab dengan jelas dapat dibedakan. Kalau ayatnya mengatakan Allah Juru selamat kita, berarti itu adalah sisa-sisa yang masih terdapat dalam Alkitab. Tetapi kalau ayatnya mengatakan Yesus Juru selamat kita berarti ajaran penyembah berhala telah merasuk dalam Alkitab.

Namun yang ingin dijelaskan disini adalah bagaimana Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan Alkitab sehingga lahirlah terjemahan ayat seperti yang diperlihatkan oleh Hamran Ambrie.

Pada saat Lembaga Alkitab Internasiaonal menerjemahkan Alkitab bahsa Yunani kedalam bahasa Inggris, kata “Kyriosyang berartiTuan/Boss” diterjemahkan menjadi “Lord” atau “Siryang juga berartiTuan/Boss“.

Misalnya :

Land Lord = Tuan Tanah

Drug Lord = Tuan/Boss Obat terlarang

Gambling Lord = Tuan/Boss Judi

Lord of the Universe = Tuan Alam Semesta (Tuhan).

Namun Lembaga Alkitab Indonesia bukannya menerjemahkan “Kyrios” dan “Lord” sebagai “Tuan” tetapi “Tuhan“. Memang untuk ini, LAI tidak perlu bekerja membanting tulang. Cukup dengan membubuhkan huruf “h” di tengah-­tengah kata “Tuan” maka sim salabim, seorang makhluk dalam sekejap berubah menjadi Khalik (Pencipta).

Dengan cara ini Lembaga Alkitab Indonesia dengan sengaja telah merubah Yesus “Tuan/Pemimpin umat Israel menjadi “Tuhan yang olehnya segala sesuatu telah dijadikan”, persis seperti Logos penyembah berhala Platonis. Terjemahan yang dipaksakan ini akhirnya menjadi janggal di telinga mereka yang mendengarnya. Apalagi ketika kata “Tuhan” diterapkan kembali ke pasangan kata seperti diatas, maka artinya menjadi lain.

Land Lord tentu sudah tidak sama dengan Tuhan Tanah.
Gambling Lord tentu sudah tidak sama dengan Tuhan Judi.

Kalau Lord of the Universe dapat saja berarti Tuan atau Tuhan, karena Tuan semesta alam adalah Tuhan. Disinilah letak ketidak-jujuran Lembaga Alkitab Indonesia dalam menerjemahkan Alkitab dengan benar.

Sebagaimana diketahui, kata Tuan digunakan untuk manusia, terkecuali Tuan semesta alam adalah Tuhan. Tetapi kata “Tuhan” sudah jelas tidak digunakan untuk manusia, terkecuali bagi para penyembah berhala.

Perhatikanlah kejanggalan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia atas kata “Kyrios” dan “Lord” yang diterjemahkan sebagai Tuhan:

Tuhan, Enqkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam…” (Yohanes 4:11)

Tuhan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang Nabi” (Yohanes 4:19)

Siapakah Engkau, Tuhan?” (Kis. 9:5)

Coba bayangkan, untuk apa timba bagi Tuhan? Yang perlu timba hanyalah manusia! Selanjutnya, dari mana perempuan Samaria tahu bahwa yang perlu timba dihadapannya adalah Tuhan Penguasa Alam Semesta?

Sungguh aneh, untuk “memberi makan 5.000 orang” Tuhan mampu, sementara untuk memperoleh seteguk air saja, Tuhan harus menunggu diberi timba.

Perhatikanlah ayat berikut ini (Yohanes 4:11) dalam teks bahsa Inggris di berbagai versi Alkitab :

1. “Sir,” the woman said, ‘you haven’t qot a bucket…”
(Good News Bible, 1976)

2. “The woman saith unto him, Sir, thou hast nothing to draw with…”
(Holy Bible Authorized King James Version)

3. “Sir” she challenger him, “You do not have bucket…”
(The New Testament of the New American Bible, 1970)

4. “She said to him: “Sir, you have not even a bucket…”
(The Kingdom Interlinear Translation of The Greek Scroptures, 1985)

5. “The woman said to Him, “Sir, you have nothing to draw with,…”
(New Tastament, Psalms, Proverbs, 1982)

6. “The woman saith unto him, Sir, thou hast nothing to draw with…” (The First Scofield Reference Bible, 1986)

Dari ayat-ayat yang dikutip dari berbagai versi Alkitab bahasa Inggris diatas, nyata dan jelas bahwa penggunaan kata Sir adalah identik dengan kata Lord yang artinya Tuan, bukan Tuhan (God)!

Perlu disadari bahwa tidak ada satu pun kamus bahasa inggris di muka bumi ini yang menerjemahkan kata “Sir” sabagai “Tuhan“!

Dalam Yohanes 4:19, perempuan Samaria tersebut menyebut Tuhan sebagai orang yang artinya menyamakan Tuhan Pencipta (Khalik) dengan yang dicipta (makhluk). Padahal dalam berbagai versi Alkitab berbahasa Inggris Yesus dalam ayat ini disapa dengan Sir atau Tuan, bukan Tuhan!.

Yang lebih aneh lagi adalah pertanyaan Paulus dalam Kis. 95:

“Siapa Engkau, Tuhan?”.

Kalau Paulus benar-benar bertanya demikian, kita tentu wajar mempertanyakan:

Apakah Paulus sudah pikun atau tidak waras?“. Lucu amat Paulus sebagai pendiri agama Kristen tidak tahu dan masih bertanya siapa Tuhannya. Ini sungguh keterlaluan!

Tetapi kalau kata “Kyrios” atau “Lord” diterjemahkan dengan kata “Tuan“, kan enak dan pas dibaca:

Tuan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam…” (Yohanes 4:11)

Tuan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang Nabi” (Yohanes 4:19)

Siapakah Engkau, Tuan?” (Kis. 9:5)

Camkanlah istilah tepat yang digunakan Yesus untuk dirinya sendiri:

Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias (Yesus)” (Matius 23:10)

Kalau memang Yesus adalah Tuhan tentu beliau akan berkata:

“Janganlah pula kamu disebut Tuhan, karena hanya satu Tuhanmu yaitu diriku (Yesus)”.

Oleh karena itu sangat menyedihkan betapa tokoh besar seperti Hamran Ambrie bisa keliru dan disesatkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia. Padahal maksud ayat tersebut adalah:

Allah menjadikan Yesus sebagai tuan/pemimpin dan rasul untuk Bani Israil“.

TanyaKapan S. K. Ketuhan Yesus ditetapkan, dan oleh siapa?

Jawab : S.K. Ketuhan Yesus ditetapkan pada konsili di Nicea tanggal 20 Mei 325M. Kaisar Romawi Constantine, menghimpun 220 uskup di Nicea tahun 325. Sebagian besar mereka berasal dari Gereja bagian Timur yang mendukung Athanasius.  Kosili ini memutuskan untuk mengutuk paham tauhid Arius dan mengumumkan kredo (creed) anti Arian yang dikenal dengan nama “the Creed of Nicea“.

Dalam konsili inilah diterbitkan S.K. Ketuhanan Yesus dan sejak saat itu Yesus diresmikan sebagai Tuhan, malah sekaligus ditetapkan sebagai Tuhan yang sesungguhnya (true God), 300 tahun setelah Yesus tiada.

Dalam konsili inilah Kaisar Romawi menetapkan bahwa Yesus satu zat dengan Allah (Homoousios). “He (Jesus) is God from God, Light from Light and true God from true God” (Dia (Yesus) adalah Tuhan yang berasal dari Tuhan, Cahaya yang berasal dari Cahaya, dan Tuhan sesungguhnya yang berasal dari Tuhan yang sesungguhnya) Sejak saat itulah Tuhan menjadi dua yakni Tuhan Allah dan Tuhan Yesus yang harus dipercayai bahwa keduanya bersatu padu dalam satu zat (homoousios) sebagaimana yang diputuskan oleh Kaisar Romawi.

Tanya : Apakah ada ketetapan resmi untuk menyembah Yesus sebelum abad ke IV?

Jawab : Belum ada! Dalam kitab “Shepherd of Hermes” nama Yesus sama sekali tidak disebut-sebut.

“First of all ( belive that God is one, who hs made all thing, bringing them out of nothing into being”.
(Pertama-tama percayalah bahwa Tuhan itu Esa, yang menciptakan segala makhluk, dari tidak ada menjadi ada)

Selanjutnya dalam Apostle Creed yang menurut Gereja ditulis oleh para rasul diperkirakan ditulis pada akhir abad ke II, ada menyebut nama Yesus, tetapi bukan sebagai Tuhan yang disembah. “And in Jesus Christ, his onl y Son, our Lord…” (Dan di dalam Yesus Kristus, anaknya yang tunggal, tuan kita)

Kredo ini telah mengalami beberapa kali tambahan dan perubahan sepanjang abad ke IV dan ke V untuk disesuaikan dengan perkembangan ajaran kristen.

Tanya : Kesulitan apakah yang dihadapi Gereja sehingga dibutuhkan waktu sekian ratus tahun untuk mengangkat status Yesus dari sekedar Nabi menjadi “Tuhan penguasa alam semesta”?

Jawab :

Pertama, di abad pertama perkembangan agama Kristen, persoalan yang cukup berat muncul di permukaan. Bagaimana caranya agar Tuhan Filsafat Yunani yang Mulia, dan sempurna, dapat menyelamatkan manusia yang berdosa dan tidak sempurna. Untuk mengatasi hal ini, logos filsafat Yunani digunakan sebagai perantara Tuhan dan manusia. Beberapa ahli pikir Yunani yang memeluk agama kristen memandang Yesus sebagai Logos filsafat Yunani (Frost, 1989):

Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita…” (Yohanes 1:14)

…Kristus Yesus yanq walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah, itu sebaqai milik yanq harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seoranq hamba dan menjadi sama denqan manusia” (Filipi 2:5-7)

Tetapi karena Logos bukan Tuhan sehingga otomatis Yesus pun bukan Tuhan.

Kedua, ketika Gereja mulai berusaha mengangkat status Yesus menjadi Tuhan, problem lain tampil ke permukaan. Bagaimana caranya mengangkat status Logos yang lebih rendah dari Tuhan ini menjadi setara dengan Tuhan. Untuk mengatasi hal ini, Gereja memperkenalkan ide Logos (Firman) adalah Tuhan Allah:

Pada mulanya adalah Firman Logos Firman Logos itu bersama-sama dengan Tuhan dan Firman Logos itu adalah (dari) Allah. la Logos pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia Logos dan tanpa Dia (Logos) tidak ada sesuatu pun yanq telah jadi dari seqala yanq telah dijadiakan” (Yohanes 1:1-3)

Paham penyembah berhala ini digunakan sebagai senjata pamungkas oleh para penginjil (Termasuk Hamran Ambrie) untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dengan menempatkan Yesus sebagai Logos penyembah berahala. Dengan demikian, tuhan Allah (yang “katanya” adalah Logos) yang berada di sorga sudah turun ke bumi mengambil bentuk manusia dalam diri Yesus.

Dalam buku “Keilahian Yesus Kristus dan Allah Tritunggal”, hal 94, Hamran Ambrie mengatakan:

“Dulu wahyu melalui mimpi etc. disebut Firman, tetapi kemudian (setelah ajaran Kristen dicemari filsafat Yunani), Firman itu sendiri menjadi daging kehidupan melalui kelahiran seorang manusia Maria, maka penyebutan firman itu pun berubah menjadi “Anak Allah“.

*Catatan : tambahan dalam kurung dimaksudnya untuk memperjelas.

Konsep penyembahan berhala sudah ranum ini, akhirnya tersaji dalam SK Ketuhanan Yesus yang disponsori bersama oleh Kaisar Romawi, Constantine dan para pemimpin Gereja pada Konsili di Nicea 20 Mei 325 M.

Tanya : Dapatkah kita menganggap the Creed of Nicea sebagai formulasi dan definisi Trinitas?

Jawab : Tidak! Karena Konsili tidak pernah menganggap Roh Kudus sebagai Tuhan atau sesuatu yang harus disembah. Dalam konsili tersebut tidak pernah dibahas tentang Roh Kudus. Nanti belakangan, Gereja kemudian menambahkan kalimat tentang Roh Kudus dalam kredo tersebut (Karen Armstrom 1993). “And in the holy Spirit” (Dan dalam Roh Kudus).

Tanya : Siapa yang pertama memberikan perhatian serius terhadap status Roh Kodus?

Jawab : Athanasius! Sampai dengan pertengahan abad ke IV perhatian Gereja dicurahkan pada bagaimana bentuk dan corak hubungan antara Bapa (Tuhan) dan Anak (Yesus). Kalimat yang baru ditambahkan dalam Kredo: dan dalam Roh Kudus, memperlihatkan betapa kecilnya perhatian yang diberikan terhadap status Roh Kudus.

Dalam tulisannya “Oration Against the Arians 2:24, 33″, Athanasius mempromosikan ketuhanan Yesus tanpa menyinggung-nyinggung Roh Kudus. Selanjutnya pada suratnya kepada Serapion berubahlah dia berbicara tentang status Roh Kudus.

Buku The Paganism in Our Christianity yang dikutip oleh M.A.C Cave menjelaskan :

“The early Christians, however, did not at first think of applinq the (Trinity) idea to their own faith. They paid their devotions to God the Father and to Jesus Christ, the Son of God, and they recognizes the….Holy Spirit; but there was no thought of this three being an actual Trinity, co-equal, and united in one”.
(Umat Kristiani dulu, pada kenyataannya, tidak pernah berpikir untuk menganut paham Trinitas. Perhatian mereka tercurah pada (hubungan) Tuhan Bapa dan Yesus Kristus, Anak Tuhan, dan mereka mengenal…. Roh Kudus, tetapi tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka bahwa ketiganya bersatu dan setara dalam Trinitas).

TanyaKapan S.K. untuk menyembah Roh Kudus di tetapkan?

Jawab : Pada Konsili di Konstantinople yang didelenggarakan dari bulan Mei s/d Juli 381M. Konsili ini dapat dikatakan Konsili para pemimpin Capadocian yang mendukung Trinitas. Gregory dari Nazianzus (329-389M), yang merupakan tokoh Capadocian memperkenalkan formula Trinitas dalam bukunya “Five Theological Oration“, hal. 39:

“…. Godhead is one in three and the three are one…. ” (Kesatuan Tuhan itu adalah satu dalam tiga dan ketiganya adalah satu)

Dia memainkan peranan penting dalam menggolkan ajaran Trinitas dalam konsili. Kaisar Theodorius yang merupakan pendukung Ketuhanan Yesus ingin sekaligus menghabisi paham Tauhid Arius. Dalam konsili inilah untuk pertama kali dinyatakan bahwa Roh Kudus harus disembah:

“And in the Holy Spirit, the Lord and life giver, who proceeds from the Father. Toqether with the Father and the son he is worshipped and glorified”.
(Dan dalam Roh Kudus, Tuan dan pemberi hidup, yang datang dari bapa. Bersama dengan Bapa dan Anak dia disembah dan dimuliakan).

Tanya : Apakah Konsili di Constantinople memutuskan bahwa Roh Kudus adalah Tuhan?

Jawab : Tidak! Walaupun dalam Konsili ini Roh Kudus dinyatakan sebagai objek yang disembah, tetapi belum dinyatakan sebagai Tuhan.

Tanya : Mengapa Konsili tidak sekalian memutuskan Roh Kudus sebagai Tuhan?

Jawab : Konsili ini juga dihadiri oleh 36 Uskup Macedonia yang menentang keras segala bentuk penyembahan terhadap Roh Kudus. Mereka berpendirian bahwa Roh Kudus hanyalah makhluk ciptaan Tuhan. Oleh karena itu dia bukan Tuhan, sehingga tidak perlu disembah. Namun karena para uskup Capadocia jumlahnya lebih banyak sehingga para uskup Macedonia kalah. Dalam penentuan apakah Roh Kudus adalah Tuhan atau tidak, bantahan mereka masih didengar. Namun ketika para uskup Capadocia ngotot untuk menyembah Roh Kudus, akhirnya para uskup Macedonia menyerah dan meninggalkan ruangan konsili (walk out).

Tanya : Kapan ide lengkap tentang Trinitas pertama kali dijelaskan?

Jawab : Antara tahun 359-360M ketika Athanasius didesak untuk menghadapi kelompok Tropici dari Mesir yang mengajarkan bahwa Roh Kudus hanya sekedar makhluk yang diciptakan dari tidak ada menjadi ada. Uskup mereka, Serapion, yang tidak mampu menghadapi mereka meminta tolong pada Athanasius. Dalam suratnya “Letter to Serapion“, Atahnasius untuk pertama kalinya menjelaskan secara detail tentang Teologi Trinitas.

Tanya : Apakah Athanasian Creed merupakan formulasi yang ditampilkan oleh Athanasius kepada Serapion?

Jawab : Tidak! Athanasian Creed bukanlah sebuah kredo dan juga tidak ditulis oleh Athanasius. Gereja yang tidak tahu siapa penulis Athanasian Creed, menganggapnya di tulis oleh Athanasius hanya karena dia dianggap sebagai pencipta ajaran Trinitas.

Tanya : Apa yang diulas atau diputuskan oleh Athanasian Creed?

Jawab : Athanasian Creed yang diperkirakan ditulis pada abad ke VI menetapkan sesuatu yang dapat dianggap sebagai formulasi dan definisi akhir dari Trinitas. Ketetapan penting yang tercantum dalam Kredo ini adalah diumumkannya S.K. Ketuhanan Roh Kudus:

“Thus the Father is God, the Son is God, and the Holy Spirit is God. Yet there are not three God but only one God”.
(Bapak adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan dan Roh Kudus adalah Tuhan. Namun bukan tiga Tuhan tetapi hanya satu Tuhan).

Tanya : Apakah perbuatan para Kaisar Romawi dan pemimpin Gereja yang selama beratus tahun mengutak-atik Yesus dan Roh Kudus untuk dipersandingkan dengan Allah dalam kesatuan Trinitas, diilhami oleh Yesus?

Jawab : Bukannya diilhami tetapi malah dimarahi. Yesus sama sekali tidak dapat menerima mereka yang menyembahnya, dengan mengikuti ajaran penyembah berhala yang di ajarkan manusia (Plato dan Zeno). Sementara Yesus sendiri mengajarkan pada umat Israel untuk hanya menyembah Allah:

Bangsa ini memuliakan aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaku. Percuma mereka beribadah kepadaku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (Matius 15:8-9)

Berbagai kredo yang dihasilkan oleh konsili bukan merupakan penjelasan atau konfirmasi dari Allah atau Yesus tentang siapa Tuhan sebenarnya, melainkan sekedar pertarungan antar pendapat yang selalu dimenangkan oleh kelompok yang didukung Kaisar. Hal ini dijelaskan oleh Uskup John Shelby Spong dalam bukunya: Why Christian must Change or Die, 1998, hal 18 :

“The purpose of every written creed historically was not to clarify the truth of God. It was, rather, to rule out some contending point of view.”
(Tujuan dari setiap kredo yang dihasilkan di setiap konsili bukan untuk menjelaskan siapa sesungguhnya Tuhan, tetapi sekedar untuk menyingkirkan pendapat yang tidak sejalan dengan yang dianut Kerajaan dan Gereja)

Oleh karena itu Yesus tidak punya urusan dengan ajaran maupun definisi Trinitas sebagaimana yang dianut oleh umat Kristiani saat ini. Yesus tidak pernah mengajarkan Trinitas kepada murid-muridnya, apalagi bermimpi bahwa dirinya adalah oknum kedua dari Trinitas. Hal ini ditegaskan oleh A.N.Wilson dalam bukunya Jesus A Live, 1992, hal XIV:

“I had to admin that I found it impossible to believe that a first century Galilean holy man (Jesus) had at any time of his life believed himself to be the Second Person of the Trinity. ”
(Saya harus mengakui bahwa memang mustahil untuk mempercayai bahwa orang suci dari Galilea di abad I (Yesus) pernah sekali saja dalam hidupnya merasa dirinya sebagai oknum kedua dari Trinitas),

Gerejalah yang menciptakan Matius 28:19 dan menyuapkannya kepada Yesus untuk diucapkan :

Karena itu pergilah, jadikanlah senua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus“.

Apa yang diajarkan oleh Yesus adalah tauhid (Ke-Esa-an Allah).

 

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 28 April 2017 in Dialog Trinitas

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: