RSS

Einstein dan Pandangannya Terhadap Agama

04 Mei

Pandangan Einstein Tentang Kebebasan Berpikir
Menelaah Pemikiran Einstein antara Agama, Sains, dari sudut Pola Pikir Manusia secara umum.
Albert Einstein
(14 March 1879 – 18 April 1955)

Sebagai seorang Ilmuwan yang peduli pada dunia, ia-pun turut andil dalam menyuarakan hak tentang kebebasan berpikir sebagaimana yang tertera pada buku: Introduction Oleh Winston Churchill, George G. Harrap & Co. (dicetak ulang 1977, Beaufort Books Inc., ISBN 0836916077 ISBN 9780836916072) hal. 107.

“Kediktatoran merupakan moncongnya senjata sebagai wujud dari pengkerdilan. Ilmu pengetahuan bisa berkembang hanya dalam suasana kebebasan berbicara“.

Adanya Deskriminasi ini akibat pola pikir manusia yang berimbas terbentuknya “Antisemitisme” dan terkenal dengan sebutan Holocaust, yang akhirnya berimbas pula pada Genosida yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa terhadap kaum Yahudi dan memakan korban kira-kira enam juta penganut Yahudi Eropa selama Perang Dunia II, suatu program pembunuhan sistematis yang didukung oleh negara Jerman Nazi, dipimpin oleh Adolf Hitler, berlangsung di seluruh wilayah yang dikuasai oleh Nazi. Dari sembilan juta Yahudi yang tinggal di Eropa sebelum Holocaust, sekitar dua pertiganya tewas. Secara khusus, lebih dari satu juta anak Yahudi tewas dalam Holocaust tersebut, serta kira-kira dua juta wanita Yahudi dan tiga juta pria Yahudi.

Sejarah mencatat, setelah kematian sang Ayah, Hitler pindah ke Wina, Austria dan bersekolah di kota ini yang didanai oleh tunjangan anak yatim dan bantuan dari ibunya. Saat Hitler tinggal di sana, Wina adalah tempat penuh prasangka agama dan rasisme. Kekhawatiran bahwa Wina akan dipenuhi imigran dari Timur meluas, dan wali kotanya yang populis, Karl Lueger, mengeksploitasi retorika antisemitisme untuk kepentingan politiknya. Antisemitisme pan-Jermanik Georg Schönerer mendapat dukungan kuat di distrik Mariahilf, tempat Hitler tinggal. Hitler membaca koran-koran setempat, seperti Deutsches Volksblatt, yang mengompori prasangka dan membakar ketakutan umat Kristen yang khawatir akan terusir oleh membanjirnya pendatang Yahudi dari timur. Menolak apa yang disebutnya sebagai “Jermanofobia” Katolik, ia mulai menyukai Martin Luther.(sumber: Wikipedia)

Diskriminasi terhadap orang Yahudi ini secara khusus disebut antisemitisme. Puncak diskriminasi ini terjadi pada Perang Dunia II, yakni ketika Yahudi dibantai di Eropa oleh kaum Nazi Jerman karena dituduh mengambil kekayaan secara paksa.

Seperti yang lazim terjadi, adakalanya gejolakpun dimanfaatkan sebagai komoditas politik, apapun bentuk dan tujuannya, sehingga rekannya Einstein, Léopold Infeld dalam bukunya Quest: An Autobiography (1949), hlm. 291, mengemukakan kembali ucapan Einstein :

“But to me our equations are far more important, for politics are only a matter of present concern. A mathematical equation stands forever”. Tapi bagiku, kesetaraan kami jauh lebih penting (antara politikus dan ilmuwan), karena politik hanyalah masalah sekarang. Sementara matematika eksist untuk selamanya.

Menarik untuk dicermati  yang keluar dari seorang pemikir jenius Einstein dari suatu ceramahnya  pada tanggal 5 Mei 1920 di Universitas Leiden, serta ceramah  di Akademi Prusia yang diterbitkan menjadi bundel suatu makalah oleh Sitzungsberichte der Preussischen Akademie der Wissenschaften, 1921 (hlm. 1), hlm. 123-130 : beliau mengatakan:

In so far as theories of mathematics speak about reality, they are not certain, and in so far as they are certain, they do not speak about reality.
Sejauh teori matematika berbicara tentang kenyataan, mereka tidak yakin, dan sejauh mereka yakin, mereka tidak berbicara tentang kenyataan.

E=mc2.png
“Massa Tubuh Adalah Ukuran Kandungan Energinya”

Kata-kata ini bukan sekedar keluar dari mulut seorang Einstein, namun kata-kata tersebut lahir melalui pikiran sebagai seorang ilmuwan. Kata-kata tersebut-pun tidak lepas dari stigmanya sebagai seorang Yahudi dimana selama berabad-abad orang Yahudi banyak mengalami Diskriminasi dari kaum Kristen di Eropa. Ditambah lagi dengan sejarah kelam para Ilmuwan yang sulit terlupakan oleh sejarah atas doktrin gereja. Dengan secara tidak langsung kata-kata bijak diatas menyingung pola pikir masyarakat secara umum khususnya ditujukan pada masyakarat Eropa. Coba simak makna yang dilontarkan Einstein ini:

Sejauh teori matematika berbicara tentang kenyataan, mereka tidak yakin, dan sejauh mereka yakin, mereka tidak berbicara tentang kenyataan“.

Sebenarnya Quot ini menarik kembali tabir masa lampau sebagai contoh pola pikir manusia ditambah dengan “dokrin gereja” saat itu dimana Eropa secara umum yang umatnya mayoritas penganut Kristen harus tunduk pada aturan-aturan yang dikeluarkan gereja, sehingga gereja membentuk aturan sendiri dengan mendirikan lembaga inkuisisi. Lembaga inkuisisi inilah yang nantinya dipakai sebagai alat propaganda apabila ada orang-orang cerdik pemikir yang dianggap tidak sesuai dengan isi Alkitab (Bible) yang mereka yakini maka orang tersebut akan diadili sampai-sampai dihukum mati dan dibakar hidup-hidup. Dan masih juga terdapat pemikiran yang seperti ini di era sekarang, kebenaran adakalanya sering dikaitkan dengan pikiran atau mitos yang menjadi keyakinannya yang justru seringkali melahirkan prinsip egoistik yang mendalam.

Disini Einstein mencoba membuka tabir kembali terhadap olah pikir manusia dimana orang hanya mampu meyakini sesuatunya sesuai dengan kenyataan yang dilihat saja, contoh umumnya orang hanya tahu bahwa matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat sesuai dengan apa yang dilihatnya saja, kenyataannya secara ilmu pengetahuan modern sama sekali salah, matahari tidak mengenal terbit dan terbenam sesuai dengan apa yang kita lihat, terjadinya siang dan malam karena adanya rotasi bumi. Begitupun dengan “Sinar Bulan”, seolah-olah bulan memproduksi sinar, padahal berlawanan dengan konsep ilmu pengetahuan yang sesungguhnya Bulan tersebut hanya memantulkan bulan karena adanya sinar dari Matahari), inilah yang menyebabkan Terbelenggunya Sain dari para ilmuwan kala itu atas doktrin gereja yang menimpa Galileo, Covernicus dan yang lainnya. Akan tetapi manusia dengan egonya tetap menggambarkan sesuai dengan persepsi dan konsepsinya sendiri!, itulah makna dari kutipan (kata-kata bijak) Einstein diatas!!!.

baca: Al-Qur’an, Tentang Cahaya Bulan

Einsteinpun Bingung, Tuhan Mengambil Bentuk Seperti Manusia.

Pola pikir manusia ini masih juga jadi acuan Eistein seolah-olah ia turun tangan seperti kutipannya yang diterbitkan oleh majalah yang dimuat pada New York Times tahun 1930; Albert Einstein wrote in The New York Times in 1930:

“I cannot imagine a God who rewards and punishes the objects of his creation, whose purposes are modeled after our own–a God, in short, who is but a reflection of human frailty. Neither can I believe that the individual survives the death of his body, although feeble souls harbor such thoughts through fear or ridiculous egoism”.

Terjemahannya kurang lebih :

Albert Einstein menulis dalam majalah The New York Times pada tahun 1930:

Saya tidak bisa membayangkan bisa-bisanya Tuhan memberi hadiah dan menghukum objek-objek ciptaan-Nya, yang bentuk objeknya diambil dari kita sendiri setelah diciptakan-Nya – Tuhan, singkatnya, hanyalah cerminan dari kelemahan manusia, dapatkah saya percaya bahwa seseorang bisa bertahan setelah kematian tubuhnya sementara tubuh sendiri merupakan pelabuhan jiwa yang lemah adanya, pikiran-pikiran demikian menunjukkan kecemasan atau egoisme yang mengada-ada”. (Sumber: Einstein, My World-view) (1931).

**Note: kalau diterjemahkan ke bahasa orang awam maksudnya:

“Kok bisa-bisanya wujud Tuhan  mengambil bentuk manusia, sementara manusia sendiri hasil kreasi/ciptaanya, apakah Tuhan itu kehabisan ide?”.

“Mein Weltbild” (1931) [“Pandangan Dunia Saya”, atau “Pandangan Saya tentang Dunia” atau “Dunia yang Saya Lihat Ini”], diterjemahkan sebagai esai judul buku The World as I See It (1949 ). Berbagai edisi yang diterjemahkan telah diterbitkan dari esai ini; Atau bagiannya, termasuk yang berjudul “What I Believe”; Kompilasi lain yang mencakupnya adalah Ide dan Pendapat (1954)
Betapa anehnya kita sebagai manusia biasa! Masing-masing dari kita ada di sini (pen.didunia ini) untuk tinggal sebentar; Untuk tujuan apa diapun tidak tahu, meskipun terkadang dia dapat mengira-ngira juga apa yang dirasakan. Tapi tanpa refleksi yang lebih dalam, seseorang tahu dari kehidupan sehari-hari bahwa seseorang ada untuk orang lain (pen. bermanfaat untuk orang banyak) – pertama-tama bagi orang-orang yang tersenyum dan bahagia, kebahagiaan kita sepenuhnya bergantung, dan kemudian bagi banyak orang, yang tidak kita ketahui, yang takdir kita adalah Terikat oleh ikatan simpati. Seratus kali setiap hari saya mengingatkan diri saya bahwa kehidupan batin dan luar saya didasarkan pada kerja orang lain, hidup dan mati, dan bahwa saya harus mengerahkan diri saya untuk memberikan ukuran yang sama seperti yang telah saya terima dan masih saya terima…
Saya sangat tertarik pada kehidupan yang sederhana dan saya sering tertindas oleh perasaan bahwa saya mengasyikkan dengan kerja keras sesama orang yang tidak perlu. Saya menganggap perbedaan kelas bertentangan dengan keadilan dan, pada upaya terakhir, berdasarkan kekuatan. Saya juga menganggap bahwa hidup biasa itu baik untuk semua orang, baik fisik maupun mental.
Dalam kebebasan manusia dalam pengertian filosofis saya pasti seorang kafir. Semua orang bertindak tidak hanya di bawah dorongan eksternal tapi juga sesuai dengan kebutuhan batin. Perkataan Schopenhauer, bahwa “seseorang dapat melakukan apa yang dia kehendaki, tapi tidak akan seperti yang dia inginkan,” telah menjadi inspirasi bagi saya sejak masa muda saya, dan penghiburan yang terus-menerus dan kesabaran yang terus-menerus dalam menghadapi kesulitan dari Hidup, milikku dan orang lain ‘. Perasaan ini dengan penuh kasih mengurangi rasa tanggung jawab yang mudah melumpuhkan, dan ini mencegah kita untuk menganggap diri kita dan orang lain terlalu serius; Ini memberi kesan pada pandangan hidup di mana humor, terutama, memiliki tempat yang seharusnya.

Saya tidak pernah melihat kemudahan dan kebahagiaan seperti tujuan pada diri mereka sendiri – dasar etika yang saya sebut lebih tepat untuk kawanan babi. Cita-cita yang telah menerangi saya dalam perjalanan dan waktu demi waktu memberi saya keberanian baru untuk menghadapi hidup dengan riang, adalah Kebenaran, Kebaikan, dan Keindahan. Tanpa rasa persekutuan dengan orang-orang seperti pikiran, keasyikan dengan tujuan, yang selamanya tak terjangkau di bidang seni dan penelitian ilmiah, hidup sepertinya bagiku kosong. Benda-benda biasa dari usaha manusia – properti, kesuksesan lahiriah, kemewahan – selalu tampak hina.

Hal paling adil yang bisa kita alami adalah misterius. Ini adalah emosi mendasar yang berdiri di tempat lahirnya seni sejati dan sains sejati. Siapa yang tidak mengetahuinya dan tidak bisa lagi bertanya-tanya, tidak lagi takjub, sama nyatanya dengan mati, lilin yang dihisap (pen. rela tubuhnya terbakar demi sedikit lentera untuk menerangi). Itu adalah pengalaman misteri – bahkan jika dicampur dengan rasa takut – yang menimbulkan agama. Pengetahuan tentang keberadaan sesuatu yang tidak dapat kita tembus, manifestasi dari alasan paling dalam dan keindahan yang paling indah, yang hanya dapat diakses oleh alasan kita dalam bentuk dasar mereka – pengetahuan dan emosi inilah yang merupakan perilaku religius sejati. ; Dalam pengertian ini, dan dalam hal ini saja, saya adalah orang yang sangat religius.

Seperti dikutip dari After Einstein: Prosiding Perayaan Centennial Einstein (1981) oleh Peter Barker dan Cecil G. Shugart, hal. 179
Hal terindah yang bisa kita alami adalah yang misterius. Ini adalah sumber semua seni dan sains sejati. Dia kepada siapa emosi ini adalah orang asing, yang tidak bisa lagi berhenti sejenak untuk bertanya-tanya dan berdiri dengan kagum, sama baiknya dengan kematian: matanya tertutup.

Seperti dikutip dalam Introduction to Philosophy (1935) oleh George Thomas White Patrick dan Frank Miller Chapman, hal. 44

Emosi terindah yang bisa kita alami adalah yang misterius. Ini adalah emosi mendasar yang berdiri di tempat lahir semua seni dan sains sejati. Dia kepada siapa emosi ini adalah orang asing, yang tidak bisa lagi bertanya-tanya dan berdiri terpesona dengan takjub, sama nyatanya dengan mati, lilin yang dihisap (pen. rela tubuhnya terbakar demi memberi setitik lentera). Untuk merasakan bahwa di balik segala sesuatu yang dapat dialami, ada sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh pikiran kita, yang keindahan dan keagungan-Nya hanya mencapai secara tidak langsung: ini adalah religiusitas. Dalam pengertian ini, dan dalam pengertian ini saja, saya adalah seorang yang saleh beragama”.
Dia yang tidak bisa lagi berhenti sejenak untuk bertanya-tanya dan berdiri terpesona, sama nyatanya dengan kematian; Matanya tertutup

Saya puas dengan misteri keabadian hidup dan dengan pengetahuan, pengertian, tentang struktur eksistensi yang luar biasa – dan juga usaha sederhana untuk memahami bahkan sebagian kecil dari Nalar yang memanifestasikan dirinya di alam.
Cukup bagi saya misteri keabadian hidup, dan pertanda struktur realitas yang luar biasa, bersamaan dengan usaha sepenuh hati untuk memahami sebagian, tidak pernah begitu kecil, dari alasan yang memanifestasikan dirinya di alam.

“Wording in Ideas and Opinions: It is therefore easy to see why the churches have always fought science and persecuted its devotees. On the other hand, I maintain that the cosmic religious feeling is the strongest and noblest motive for scientific research. Only those who realize the immense efforts and, above all, the devotion without which pioneer work in theoretical science cannot be achieved are able to grasp the strength of the emotion out of which alone such work, remote as it is from the immediate realities of life, can issue. What a deep conviction of the rationality of the universe and what a yearning to understand, were it but a feeble reflection of the mind revealed in this world, Kepler and Newton must have had to enable them to spend years of solitary labor in disentangling the principles of celestial mechanics! Those whose acquaintance with scientific research is derived chiefly from its practical results easily develop a completely false notion of the mentality of the men who, surrounded by a skeptical world, have shown the way to kindred spirits scattered wide through the world and through the centuries. Only one who has devoted his life to similar ends can have a vivid realization of what has inspired these men and given them the strength to remain true to their purpose in spite of countless failures. It is cosmic religious feeling that gives a man such strength. A contemporary has said, not unjustly, that in this materialistic age of ours the serious scientific workers are the only profoundly religious people”

(Menurut Gagasan dan Pendapat: Oleh karena itu, mudah untuk melihat mengapa gereja selalu melawan sains dan menganiaya para peminatnya. Di sisi lain, saya berpendapat bahwa perasaan religius terhadap kosmik (jagad raya) adalah motif paling kuat dan paling mulia untuk penelitian ilmiah. Hanya mereka yang menyadari usaha besar dan, di atas segalanya, pengabdian yang tanpanya karya pelopor dalam ilmu pengetahuan teoretis tidak dapat dicapai dapat memahami kekuatan emosi yang darinya hanya merupakan pekerjaan semacam itu, jauh dari kenyataan hidup yang sebenarnya. Betapa keyakinan mendalam tentang rasionalitas alam semesta dan betapa kerinduan untuk mengerti, apakah itu hanyalah refleksi lemah dari pikiran yang diungkapkan di dunia ini, Kepler dan Newton pasti harus memungkinkan mereka menghabiskan bertahun-tahun kerja soliter dalam menguraikan prinsip-prinsip Mekanika langit! Mereka yang berkenalan dengan penelitian ilmiah terutama berasal dari hasil kerjanya dengan mudah mengembangkan gagasan yang sama sekali salah tentang mentalitas orang-orang yang dikelilingi oleh dunia yang skeptis, telah menunjukkan jalan menuju roh-roh baik yang tersebar luas melalui dunia dan selama berabad-abad. Hanya seseorang yang telah mengabdikan hidupnya untuk tujuan yang sama dapat memiliki realisasi yang jelas tentang apa yang telah mengilhami orang-orang ini dan memberi mereka kekuatan untuk tetap setia pada tujuan mereka meskipun ada banyak kegagalan. Ini adalah perasaan religius kosmik yang memberi kekuatan pada pria. Seorang kontemporer mengatakan, tidak secara tidak adil, bahwa pada zaman materialistis kita, para pekerja ilmiah yang serius adalah satu-satunya orang yang sangat religius). ** dari suratnya tahun 1947 yang ditulis Einstein kepada Murray W. Gross,pada bagian Einstein and Religion (1999)

Even though the realms of religion and science in themselves are clearly marked off from each other, nevertheless there exist between the two strong reciprocal relationships and dependencies. Though religion may be that which determines the goal, it has, nevertheless, learned from science, in the broadest sense, what means will contribute to the attainment of the goals it has set up. But science can only be created by those who are thoroughly imbued with the aspiration toward truth and understanding. This source of feeling, however, springs from the sphere of religion. To this there also belongs the faith in the possibility that the regulations valid for the world of existence are rational, that is, comprehensible to reason. I cannot conceive of a genuine scientist without that profound faith. The situation may be expressed by an image: science without religion is lame, religion without science is blind“.

(Meskipun alam agama dan sains dalam diri mereka sendiri jelas ditandai satu sama lain, namun ada di antara dua hubungan timbal balik dan ketergantungan yang kuat. Meskipun agama mungkin yang menentukan tujuannya, namun, belajar dari sains, dalam arti seluas-luasnya, berarti apa yang akan berkontribusi pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkannya. Tapi sains hanya bisa diciptakan oleh orang-orang yang benar-benar dijiwai dengan aspirasi terhadap kebenaran dan pengertian. Sumber perasaan ini, bagaimanapun, berasal dari bidang agama. Untuk ini juga ada kepercayaan bahwa kemungkinan peraturan yang berlaku bagi dunia eksistensi itu rasional, yaitu, dapat dipahami dengan akal. Saya tidak bisa membayangkan seorang ilmuwan sejati tanpa iman yang mendalam itu. Situasinya bisa diungkapkan dengan sebuah kiasan: sains tanpa agama lumpuh, agama tanpa sains adalah buta).

“Though I have asserted above that in truth a legitimate conflict between religion and science cannot exist, I must nevertheless qualify this assertion once again on an essential point, with reference to the actual content of historical religions. This qualification has to do with the concept of God. During the youthful period of mankind’s spiritual evolution human fantasy created gods in man’s own image, who, by the operations of their will were supposed to determine, or at any rate to influence, the phenomenal world. Man sought to alter the disposition of these gods in his own favor by means of magic and prayer. The idea of God in the religions taught at present is a sublimation of that old concept of the gods. Its anthropomorphic character is shown, for instance, by the fact that men appeal to the Divine Being in prayers and plead for the fulfillment of their wishes”.

(Meskipun saya telah menegaskan di atas bahwa sebenarnya konflik yang seharusnya antara agama dan sains tidak dapat terjadi, bagaimanapun, saya harus mengkualifikasikan kembali pernyataan ini sekali lagi, dengan mengacu pada isi sesungguhnya dari historis agama-agama. Kualifikasi ini berkaitan dengan konsep TuhanSejak awal evolusi spiritual manusia, fantasi manusia menciptakan tuhan dalam citra manusia, yang, oleh operasi kehendak mereka seharusnya menentukan, atau mempengaruhi dunia fenomenal. Manusia berusaha mengubah disposisi para allah ini demi kebaikannya dengan cara sihir dan doa. Gagasan tentang Tuhan dalam agama-agama yang diajarkan saat ini adalah sebuah sublimasi dari konsep kuno para dewa tersebut. Karakter antropomorfiknya ditunjukkan, misalnya, oleh fakta bahwa laki-laki menarik Sang Ilahi dalam doa dan memohon pemenuhan keinginan mereka). (sumber Einstein, Science and Religion)

Inilah Quot Inspirasinya yang ditinggal buat renungan dan semangat kita:

sepeda einstein.png
“Hidup itu seperti mengendarai sepeda.
Untuk menjaga keseimbangan, Anda harus terus bergerak!!!.”

-o0o-

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Mei 2017 in Bedah Kasus

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: