RSS

Melacak Moyangnya Makhluk Hidup Menurut SAIN dan AL-QUR’AN

01 Jun

Sepanjang sejarah manusia modern muncul perdebatan sengit di seputar asal usul kehidupan makhluk di muka Bumi. Semua itu muncul dari naluri kemanusiaan kita sendiri. Adalah wajar jika kita ingin tahu siapakah sebenarnya nenek moyang kita.

Ada dua kelompok besar dalam hal ini. Yang pertama adalah kelompok agamawan. Sedangkan yang kedua adalah kelompok ilmuwan. Pada masing-masing kelompok besar itu masih terbagi dalam beberapa kelompok juga yang berbeda-beda pendapat tentang asal-usul sejarah manusia.

Kelompok agamawan berpendapat bahwa makhluk hidup, khususnya manusia adalah diciptakan oleh Tuhan. Semua agama berpendapat sama tentang hal ini. Termasuk Islam. Namun hal ini tidaklah demikian menurut para ilmuwan – khususnya sebelum abad 20 – mereka berpendapat bahwa makhluk hidup muncul di muka Bumi karena faktor alamiah.

Dari sinilah munculnya perdebatan sengit itu. Terutama antara agamawan kristen dengan para ilmuwan. Meskipun, pada akhirnya pihak gereja mengakui bahwa manusia agaknya memiliki keturunan yang sama dengan nenek moyang kera. Hal ini dikemukakan oleh Paus Johanes Paulus II dalam pidatonya, 22 Oktober 1996. Bahwa, antara manusia modern dengan dengan kera purba terdapat ‘diskontinuitas ontologis’. Yaitu, ketika Tuhan meniupkan ruh kepada sosok makhluk yang semula keturunan hewan. Maka sejak itulah sosok yang tadinya belum manusia itu menjadi manusia.

Sedangkan di kalangan umat Islam sendiri, tidak ada suatu kesepakatan tentang hal ini. Secara bulat umat Islam memiliki pendapat bahwa Allah menciptakan manusia dari tanah dengan mengucapkan kata ‘kun’. Maka jadilah ia seorang manusia. Ia adalah manusia pertama yang diberi nama Adam. Dan, hawa adalah istri yang diciptakan dari dirinya…

Sebelum kita membahas nenek moyang makhluk hidup ada baiknya mengetahui umur alam semesta menurut sain yang dihubungkan dengan Al-Qur’an sebagai rujukan dan sebagai tolak ukur tentang kebenaran otoritas suatu Kitab Suci.

Tidak dapat dipungkiri lagi, pesatnya perkembangan Sain saat ini dengan metode modern para ilmuwan telah mampu menghitung umur alam semesta, ringkasnya, umur elemen kimia dapat diperkirakan berdasarkan uji radio aktif terhadap atom tersebut. Dan umum­nya dapat ditentukan dengan menggunakan uji contoh batu-­batuan, yaitu dengan mengukur perubahan elemen berat seperti Rubidium Rb-87. Bila uji Rubidium ini diterapkan atas batuan yang tertua di bumi akan didapatkan bahwa batuan tertua ber­umur 3,8 miliar tahun. Jika diterapkan atas batuan tertua dari meteor akan didapatkan angka 4,56 miliar tahun. Kesimpulan ini membuktikan bahwa tata surya kita berumur sekitar 4,6 miliar tahun, dengan tingkat kesalahan/margin error  100 juta tahun.

Sedikit berbeda, bila metode ini digunakan untuk mengukur gas di alam semesta maka akan menyebabkan tingkat variasi yang lebih lebar. Ilmuwan cukup puas mengetahui umur alam se­mesta sejak Dentuman Besar (Big Bang) dengan perhitungan elemen kimia yaitu antara 11-18 miliar tahun. Mohamed Asadi dalam bukunya The Grand Unifying Theory of Everything mengatakan bahwa umur alam semesta, berdasarkan penyelidikannya terhadap bintang-bintang tertua, adalah antara 17 sampai 20 miliar tahun. Sedangkan Profesor Jean Claude Batelere dari College de France menyatakan bahwa umur alam semesta kira-kira 18 miliar tahun.¹

Hal yang demikian bukanlah masalah bagi umat Islam karena mempunyai rujukan Al-Qur’an sebagai sumber keimanannya, Al-Qur’an telah memberikan sinyal ayat sebagai kajian. (baca: Apakah Sebelum Adam Terdapat Makhluk Hidup di Bumi?)

Namun tidaklah demikian dengan kebanyakan agama khususnya Kristen yang berasumsi bahwa umur bumi sama persis dengan waktu dijadikannya manusia oleh Tuhan yaitu pada hari ke-enam setelah itu Tuhan lalu beristirahat di hari ke-tujuh (capek?) sesuai dengan Kitab Kejadian dalam Alkitab yang dapat disimpulkan alam semesta terjadi 38 abad (± 3.800 tahun) sebelum Yesus. (untuk jelasnya baca: Kesalahan Perjanjian Lama dalam menceritakan tahun penciptaan dan tahun munculnya manusia di bumi oleh Dr. Maurice Bucaille).

Dalam Al-Qur’an ada dua ayat yang mengindikasikan perhitungan alam semesta selain makna relativitas waktu, yaitu Surat As-Sajdah (32:5) dan Al-Ma’arij (70:4):

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. 32: 5).

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun (QS. 70: 4).

Kita dapat mencatat bahwa Al-Qur’an tidak mengatakan “50.000 tahun” waktu bumi. Karena waktu ini adalah waktu relatif di suatu tempat di langit, di mana satu hari sama dengan 1000 tahun waktu bumi. Hari relatif tersebut merupakan umur alam semesta di mana sistem tata surya manusia (kita) berada.

Mari kita konversikan waktu relatif alam semesta:

50.000 x 365,2422 = 18.262.110

Satu hari relatif di “satu tempat” di alam semesta, di tempat malaikat melaporkan urusannya, sama dengan 1000 tahun di bumi:

18.262.110 x 1000 = 18.262.211.000 tahun atau 18,26 miliar tahun.

Dengan demikian, umur alam semesta relatif adalah 18,26 miliar tahun. Hasilnya hampir sama dengan perhitungan Profesor Jean Claude Batelere dari College de France tersebut di atas.

NASA memperkirakan umur alam semesta antara 12-18 miliar tahun berdasarkan pengukuran seberapa cepat alam semesta kita ini ekspansi setelah terjadinya “Dentuman Besar” atau Big Bang.

Dr. Marshall Joy dan Dr. John Carlstrom dari Universitas Chicago (tim NASA) telah mampu mengatasi masalah pengukuran kecepatan ekspansi alam semesta dengan teknik terbaru, yaitu menggunakan radio interferometer untuk menyelidiki dan mengukur fluktuasi Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR). Dengan demikian, umur alam semesta dapat diperkirakan. Sedangkan tim NASA lainnya memperkirakan umur alam semesta antara 8-12 miliar tahun berdasarkan pengukuran jarak galaksi “M100” dengan teleskop ruang angkasa Hubble. Galaksi tersebut diperkirakan berjarak 56 juta tahun cahaya dari bumi. Namun demikian, pengukuran umur alam semesta ini menimbulkan pertanyaan, bagaimana mungkin alam semesta umurnya lebih muda, padahal salah satu bintang di Bima Sakti mungkin umurnya jauh lebih tua dari perkiraan tersebut?

Pembaca telah mendapatkan pengetahuan bahwa kata-kata dalam Al-Qur’an mempunyai makna yang bertingkat. Beberapa kata mempunyai arti langsung, tetapi yang lain tidak, atau belum tentu. Misalnya saja, kata yang berarti bulan adalah syahr, dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 12 kali. Ini sesuai dengan 12 bulan dalam 1 tahun. Sedangkan kata yang berarti hari adalah yaum, yang disebutkan 365 kali dalam Al-Qur’an. Ini juga sesuai bahwa 1 tahun rata-rata sama dengan 365 hari. Tetapi kata yang berarti tahun, yaitu sanah disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 19 kali! Bagaimana kita memahaminya?

Terima kasih kepada cabang pengetahuan astronomi. Ang­ka 19 atau 19 tahun adalah satu periode di mana posisi relatif bumi dan bulan kembali ke posisi semula secara berulang sete­lah 19 tahun kemudian. Siklus ini ditemukan oleh Meton orang Yunani dan disebut Metonic cycle. “Jika sekarang tanggal 20 Maret tahun 2000, dan bulan purnama terlihat pada posisi dekat bintang Virgo, kapan kita dapat melihat bulan purnama pada posisi yang sama?”

“Jawabnya bukan bulan depan atau tahun depan, tetapi tanggal 20 Maret tahun 2019, 19 tahun kemudian.”

Mengapa 19 tahun? Karena fase Tahun Matahari dan Tahun Bulan akan bertemu tepat pada siklus yang ke-19, di mana 235 bulan Kalender Bulan tepat sama dengan siklus 19 tahun berdasarkan Kalender Matahari. (29,53 hari x 235 kira-kira sama dengan 365,24 hari x 19). Meton dari Athena pada tahun 440 SM mengetahui bahwa 235 bulan berdasarkan Kalender Bulan sama dengan 19 tahun Kalender Matahari. Oleh karena itu, siklus ini dikenal dengan siklus Meton, dan merupakan basis perhitungan kalender di Yunani sampai Kalender Julius Caesar diperkenalkan pada tahun 46 SM. Bagi kaum Muslim, menggunakan Kalender Bulan karena sesuai dengan kebutuhan untuk perhitungan bulan Ramadhan, bulan Haji, dan peristiwa-peristiwa Islam lainnya. Namun sebelumnya, Kalender Bulan ini dipergunakan juga oleh kaum Yahudi, bangsa Babilonia, dan Cina.

Dengan demikian, jumlah penyebutan kata-kata tertentu dalam Al-Qur’an mempunyai, makna yang sangat dalam, dan baru dapat diketahui oleh pembaca jika ia mempunyai penge­tahuan dan sains yang cukup luas. (baca: Angka 19 Merupakan Pendeteksi Keaslian Al-Qur’an).

 

Penetitian Biomolekuler

Ilmu pengetahuan modern, khususnya penetitian biomolekuler, mengarah pada kemajuan yang luar biasa. Banyak hal yang tadinya tersimpan rapat, kini mulai terkuak. Banyak pihak yang kini optimis bahwa penelitian bidang biomolekuler akan memberikan arah baru dalam peradaban manusia di abad-abad mendatang. Terutama dalam bidang kedokteran palaentologi.

Yang satu berperan dalam pengobatan penyakit dengan menggunakan teknologi rekayasa genetika, sedangkan yang kedua bermanfaat untuk melacak asal-usul sejarah kahidupan di muka Bumi.

Yang menarik dalam bidang palaentologi adalah adanya indikasi bahwa struktur genetika kita itu merekam berbagai peristiwa di masa lampau. Kalau benar, ini sungguh suatu kejutan yang luar biasa. Dan akan memberikan manfaat yang sangat besar untuk melacak asal-usul kehidupan di muka Bumi.

Catatan-catatan sejarah yang selama ini mengandalkan cerita-cerita bakal mendapatkan saingan ketat dari informasi genetika. Selama ini, catatan sejarah dikritik sebagai milik para penguasa, karena merekalah yang bisa mengatur dan memanipulasi cerita mana yang harus ditulis, dan bagian mana yang harus dihilangkan. Tapi, dengan adanya rekaman sejarah dalam genetika ini, kita tidak bisa dibohongi lagi. Kecuali oleh para interpretatornya – yaitu para ilmuwan genetika yang sudah berpihak kepada penguasa.

Namun lepas dari itu semua, catatan sejarah dalam genetika kita memang lebih valid. Konon, menurut penelitian genetika, bangsa-bangsa yang pernah dijajah oleh Jenghis Khan memiliki rekaman sejarah penjajahan itu di dalam genetikanya. Atau, mungkin, bangsa-bangsa yang dijajah oleh Belanda – seperti Indonesia – pun kalau diteliti bakal menunjukkan data-data sejarah tersebut, lewat kode-kode genetikanya…

Sebelum menyimpang lebih jauh, saya ingin mengajak anda untuk kembali kepada penelusuran nenek moyang makhluk hidup di permukaan planet Bumi.

Struktur genetika manusia modern ternyata menyimpan gen-gen makhluk sebelumnya. Maksud saya bukan hanya manusia, melainkan juga genetika hewan dan genetika tumbuhan.

Di antaranya, genetika kita menyimpan genetika binatang primata yang hidup sekitar 50 juta tahun silam. Juga mengandung gen binatang merayap yang hidup sekitar 360 juta tahun silam. Kita juga mengandung gen reptilia yang hidup sekitar 200 juta tahun silam. Kita juga mengandung gen Chordata yang hidup sekitar 500 juta tahun yang lalu. Juga memuat gen-gen yang lebih sederhana sampai makhluk-makhluk bersel tunggal miliaran tahun yang lalu…

Penemuan ini memunculkan babak baru dalam debat yang lebih sengit tentang asal usul nenek moyang manusia. Para pembela teori evolusi berpendapat, ini menjadi bukti bahwa manusia berasal dari makhluk-makluk bersel lebih sederhana. Mereka mengalami evolusi selama miliaran tahun hingga menjadi seperti sekarang. Buktinya, genetika mereka diturunkan kepada manusia generasi sekarang.

Sedangkan para pembela teori penciptaan mengatakan bahwa belum ada data yang akurat tentang rekaman sejarah dalam genetika itu. Yang berhasil dipetakan barulah gen-gen manusia. sedangkan gen-gen makhluk lainnya masih belum ada yang diteliti secara utuh. Karena itu belum bisa diambil kesimpulan yang akurat tentang asal-usul manusia.

Bahwa DNA penyusun manusia – hewan – tumbuhan – itu adalah sama, kedua belah pihak sepakat. Akan tetapi, kesamaan itu pun tidak harus menjadi bukti bahwa ketiga makhluk hidup itu muncul melewati mekanisme evolusi.

Seperti bangunan rumah saja. Meskipun bahan penyusunnya sama – yaitu batu bata – tetapi tidak berarti rumah bertingkat tiga adalah hasil renovasi rumah bertingkat dua, dan hasil renovasi dari rumah berlantai 1. Ketiga jenis rumah itu bisa saja diciptakan berbarengan oleh pembuatnya.

Jadi meskipun tanaman, hewan dan manusia memiliki DNA yang sama, bukan berarti mereka, muncul secara berevolusi. Bisa saja diciptakan berbarengan oleh Sang Pencipta. Buktinya adalah munculnya ribuan jenis makhluk hidup di jaman Cambrian, sekitar 500 juta tahun yang lalu. Ini menunjukkan bahwa suatu makhluk tidak selalu muncul dari perkembangan makhluk lainnya yang lebih rendah.

Begitulah perdebatan sengit masih terus berlangsung hingga kini. Masing-masing memiliki argumentasi sendiri-sendiri yang diklaim paling henar. Masalahnya memang, masing-masing juga memiliki kelemahan dari segi data yang menguatkan argumentasinya.

Harapan kita, dengan semakin majunya penelitian genetika akan diperoleh data yang semakin valid yang bakal menunjukkan arah baru dalam memahami siapa sebenarnya nenek moyang makhluk hidup di muka Bumi. Benarkah kita semua berasal dari makhluk bersel satu yang dikenal dengan nama LUCA (Last Universal Common Anchestor)? Ia adalah makhluk bersel tunggal yang diperkirakan hidup sekitar 3,5 miliar tahun lalu. Ataukah, manusia ini diciptakan secara khusus tanpa melewati jalur bertingkat dari makhluk bersel lebih rendah.

Dalam hal demikian, sebenarnya Al Qur’an memberikan guidance alias petunjuk komprehensif, bahwa kita harus melakukan eksplorasi dua sisi. Sisi pertama, adalah menggali arahan Al Qur’an tentang asal usul penciptaan manusia. Dan sisi yang kedua, petunjuk itu mesti kita telusuri dari tanda-tanda yang dihamparkan Allah di alam sekitar kita. Petunjuk pertama berdasar pada ayat-ayat qauliyah, sedangkan petunjuk kedua berasal dari ayat-ayat kauniyah.

QS. As Sajadah (32): 26 :

Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda. Maka apakah mereka tidak mendengarkan (memperhatikan)? Allah mengarahkan agar umat Islam memperhatikan peninggalan-peninggalan umat terdahulu. Karena, di sana banyak pelajaran yang bisa kita petik. Termasuk menelusuri sejarah keberadaannya. Inilah yang selama ini berkembang sebagai ilmu sejarah, anthropologi, dan palaentologi.

Dari ketiga ilmu itu kita sebenarnya memperoleh banyak pelajaran kehidupan. Namun, tentu saja kita harus tetap kritis dalam menyikapi berbagai penemuan itu. Perkembangan yang terjadi harus tetap kita cross-check dengan petunjuk utama kehidupan kita, Al Qur’an.

Dalam hal nenek moyang bersama ini, Al Qur’an menunjuk kepada kesamaan yang luar biasa ketika Allah menyebut air dan tanah sebagai bahan baku asal usul manusia maupun makhluk hidup. Di bawah ini saya kutipkan kembali ayat yang menginformasikan bahwa seluruh makhluk hidup diciptakan Allah dari air.

QS. Al Anbiyaa’ (21): 30 :

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Bahkan di ayat lainnya, Allah juga menyebut secara lebih spesifik tentang asal-usul manusia dan hewan, yang diciptakan dari air itu.

QS. Al Furqaan (25): 54 :

Dan Dia yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.

QS. An Nuur (24): 45-46 :

Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Yang menarik, adalah rangkaian ayat pada surat An Nuur : 45-46. Kedua ayat itu mengatakan bahwa hewan-hewan diciptakan dari air, dan kemudian bermunculanlah binatang-binatang daratan yang berjalan dengan perutnya, kaki dua dan kaki empat.

Ayat ini sering diklaim oleh para penganut teori evolusi muslim sebagai bukti adanya perpindahan binatang air ke binatang darat. Itu adalah masa-masa dimana muncul binatang amphibi dan reptilia yang berjalan dengan perut, dua kaki, dan kemudian ada yang empat kaki. Dalam periodisasi evolusi, itu terjadi sekitar 360 juta tahun yang lalu.

Namun, ayat ini memang tidak menyebut secara eksplisit bahwa binatang daratan itu berasal dari binatang air yang berevolusi. Kalimat khalaqa kulla daabatin min maa-in‘menciptakan setiap binatang melata dari air’ itu bisa ditafsirkan bahwa masing-masing binatang daratan itu diciptakan Allah dari air. Bukan dari binatang air yang lebih rendah tingkatannya.

Karena itu, data-data sejarah sangat penting. Ayat-ayat Qur’an hanya memberikan tanda-tanda dan koridor agar kita tidak menyimpang terlalu jauh dari kejadian sesungguhnya. Nah, tugas kita adalah membuktikan tanda-tanda yang bersifat arahan itu dengan data ilmiah.

Hal itu dikatakan Allah pada surat An Nuur ayat 46 diatas, bahwa Allah telah menurunkan ayat-ayat (tanda-tanda) yang menjelaskan dan memimpin siapa yang dikehendakinya ke arah jalan yang lurus. Jalan yang mengantarkan kita kepada bukti-bukti yang menguatkan petunjuk itu.

Namun, yang menarik adalah data-data periode munculnya kehidupan di muka Bumi. Data-data yang disusun berdasar usia fosil itu sungguh sangat misterius, sekaligus menarik untuk dikaji.

Dikatakan bahwa fosil tertua adalah fosil-fosil makhluk bersel satu. Usianya sekitar 3,5 miliar tahun yang lalu. Fosil yang lebih muda muncul pada 2 miliar tahun yang lalu berupa makhluk yang disebut sebagai eukariyot. Sejenis makhluk kecil yang bersel banyak.

Tumbuhan air bersel lebih banyak, muncul di fosil yang berusia lebih muda, sekitar 580 juta tahun yang lalu. Namanya Ediacaran Fauna. Jadi selama sekitar 2 miliar tahun di awal usia Bumi, penghuni planet ini hanyalah makhluk-makhluk mikroorganisme.

Barulah pada sekitar 500 juta tahun yang lalu terjadi ‘ledakan cambrian’, dimana secara tiba-tiba muncul binatang-binatang air dalam jumlah yang sangat besar. Di antaranya adalah jenis cacing dan trilobit. Mereka berenang-renang dan melejit-lejit di seluruh perairan di muka Bumi.

Para ilmuwan dibuat heran dengan adanya peristiwa ini. Terutama para penganut teori evolusi. Mereka tidak habis pikir bagaimana bisa muncul jumlah spesies demikian banyak hanya dalam waktu demikian singkat. Sekitar 10-20 juta tahun, dan kemudian musnah secara massal. Kecuali beberapa saja di antaranya.

Masa sesudah itu didominasi oleh binatang air yang berderajat lebih tinggi, yaitu binatang bertulang belakang. Di antaranya adalah jenis-jenis ikan purba. Dalam waktu bersamaan, di daratan mulai muncul tanaman & pepohonan.

Tapi tak lama kemudian semua itu musnah secara massal lagi. Usia hidup mereka diperkirakan sekitar 60 juta tahun. Dan, disusul dengan munculnya binatang jenis siput air, selama kurang lebih 10 juta tahun. Berbarengan dengan kehidupan siput air itu, di daratan muncul binatang melata Arthropoda, dan kemudian disusul jenis amphibi & reptilia yang berjalan dengan dua kaki dan empat kaki.

Lebih jauh, semakin tua usia Bumi bermunculanlah makhluk udara jenis capung dan serangga lainnya. Disambung munculnya binatang besar dalam kelompok dinosaurus. Waktu itu Bumi semakin ramai dihuni oleh makhluk hidup, di perairan, di daratan dan di udara. Tapi, semua itu mengalami kepunahan massal lagi, sekitar 250 juta tahun yang lalu.

Tapi anehnya, kehidupan makhluk Bumi justru menjadi semakin ramai di fase berikutnya. Yaitu, di jaman Jurasik. Bermunculanlah berbagai jenis ikan di perairan, burung-burung di udara, dan mamalia di daratan. Termasuk kemunculannya lagi dinosaurus. Pepohonan yang berbunga pun ikut memarakkan pemandangan planet Bumi. Masa ini bertahan cukup lama sekitar 150 juta tahun. Sebelum kemudian punah massal sekitar 65 tahun yang lalu.

Fase terakhir dari data palaentologis itu adalah kemunculan primata sekitar 60 juta tahun yang lalu. Pepohonan dan padang rumput semakin banyak di mana-mana. Jenis-jenis ikan berenang-renang kesana kemari di perairan. Burung-burung pun semakin banyak beterbangan di udara Bumi.

Dan, puluhan juta tahun setelah itu – sekitar 2 juta tahun yang lalu – muncullah spesies manusia untuk pertama kalinya. Sosok makhluk tertinggi yang menghuni planet Bumi. Fosilnya muncul tersebar di berbagai benua. Ada di Afrika. Ada di Australia. Muncul juga di China, di Eropa, Asia, dan timur tengah. Para ahli sejarah manusia pun dibuatnya kebingungan. Ini mengingatkan mereka pada ‘Ledakan Cambrian’ ketika begitu banyak spesies muncul secara tiba-tiba di perairan Bumi.

Muncullah perdebatan panjang dalam menafsiri kapan persisnya kemunculan spesies istimewa ini. Dimana muncul pertama kalinya. Dan siapakah yang menjadi nenek moyangnya. Apakah mereka muncul secara bersamaan dan tersebar ataukah muncul secara berurutan seperti diperkirakan oleh teori evolusi. Dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan ini masih belum bisa terjawab dengan tuntas dan meyakinkan.

Di kalangan penganut teori penciptaan sendiri tidak ada yang mengajukan penjelasan yang memadai. Kebanyakan hanya mengatakan: kalau Allah menghendaki apa pun bisa terjadi. Cukup dengan mengatakan kun, maka jadilah apa yang dikehendakiNya.

Cara pandang yang demikian tentu tidak memberikan nilai tambah terhadap kualitas keimanan kita. Karena, sebenarnya Allah menghendaki kita untuk berpikir dan melakukan penelitian terhadap segala ciptaanNya. Termasuk diri kita. Man arafa nafsahu, arafa rabbahu – ‘barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal siapa Tuhannya’.

Al Qur’an sendiri mendorong kita untuk melakukan eksplorasi besar-besaran terhadap segala ciptaan Allah agar kita bisa memahami betapa dahsyat dan Agungnya Tuhan kita, Sang Maha Pencipta…!

Ada baiknya kita mencermati sedikit kajian Dialog tentang Terjadinya Alam Semesta oleh Wilson H. Guertin, Ph.D. (seorang Pakar Psychology serta Guru Besar University of Florida yang akhirnya mengakui kebenaran Al-Qur’an) dan Mohammad Jawad Chirri (seorang berkebangsaan Libanon dan memperoleh ijazah dari Institute Agama Najaf, di Iraq)

WILSON (Tanya) :

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, timbul banyak pertanyaan mengenai terjadinya alam semesta. Nampaknya, pertanyaan ini mendapatkan jawaban di dalam Alkitab (Bible), dan kadang-kadang kita mendapatkan beberapa pernyataan dari Alkitab yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang ada sekarang.

Saya ragu, apakah kita dapat menemukan jawaban-jawaban dari beberapa pertanyaan itu di dalam buku-buku Islam.

Telah dibuktikan, bahwa alam semesta telah sangat tua. Diperkirakan umurnya telah bermilyar-milyar tahun.

Tampaknya Alkitab yang dimiliki Kristen mengecilkan (mengurangi) umur alam semesta beberapa ribu tahun. Apakah Kitab Suci Al-Qur’an memiliki definisi tentang umur alam semesta (universe)?

CHIRRI (Jawab) :

Kitab Suci Al-Qur’an tidak  menyatakan  umur  alam  semesta. Ilmu pengetahuan sejauh  ini  tidak  dapat dengan  tepat mengetahui bila alam semesta mulai ada. Kitab Suci Al-Qur’an telah  diperkenalkan  di  masa tidak adanya ilmu pengetahuan (in a non scientific age), di saat manusia, saya kira, tidak dapat membayangkan lamanya: berapa milyar atau juta tahun itu.  Jika Al-Qur’an  menerangkan bahwa   bintang-bintang terjelma milyar-milyar tahun yang lalu, manusia mungkin telah menolak seluruh konsep Islam. Karena itu Al-Qur’an berdiam diri dalam masalah ini. Anda tidak perlu mengatakan seluruh kebenaran yang anda ketahui, karena anda perlukan hanya menahan diri dari penerangan yang salah. Jadi, pintu telah terbuka untuk setiap teori ilmu pengetahuan, dan penerangan Agama tidak ada bentrok dengan setiap  ilmu pengetahuan.

WILSON (Tanya) :

Benda-benda langit, bintang-bintang, dan planet-planet, sekarang diperkirakan berjumlah bermilyar-milyar dan beratus-ratus milyar. Berukuran sangat besar, kadang-kadang di luar dugaan kita.

Untuk membentuk benda-benda yang tak terhitung itu, memerlukan bahan di luar kemampuan perhitungan kita. Apakah ada keterangan di dalam Al-Qur’an mengenai jenis bahan yang membentuk benda-benda ini.

CHIRRI (Jawab) :

Kitab Suci Al-Qur’an menerangkan bahwa bahan yang membentuk benda-benda ini sejenis gas. Ini sesuai dengan teori modern yang mengatakan bahwa benda-benda langit dibentuk dari gas Hidrogen.

Kitab Suci Al-Qur’an berkata:

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” (QS. 41: 11).

WILSON (Tanya) :

Apakah Kitab Suci Al-Qur’an menerangkan tentang bahan pertama yang membentuk bintang-bintang dan planie?

CHIRRI (Jawab) :

Baris pertama dari ayat di atas menunjukkan bahwa gas atau susunan gas adalah molekul-molekul dan atom-atom yang merupakan bahan pertama.

WILSON (Tanya) :

Dari bahan apa yang Maha Kuasa menciptakan kehidupan?

CHIRRI (Jawab) :

Kitab Suci Al-Qur’an menyatakan bahwa Tuhan telah menciptakan seluruh kehidupan dari air:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”. QS. 21: 30.

“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. 24: 45).

TINGKAT-TINGKAT PENCIPTAAN

WILSON (Tanya) :

Apakah Al-Qur’an membenarkan pernyataan dari Bibel yang dimuat di dalam buku pertama Taurat tentang tingkat terjadinya alam semesta?

CHIRRI (Jawab) :

Al-Qur’an tidak berisi pernyataan tentang tingkat kejadian, akan  tetapi  orang-orang Islam tidak menyetujui isi fasal pertama dalam buku Taurat  (Genesis/Kejadian) sebab menunjukkan beberapa kelainan (ketidak sesuaian).

WILSON (Tanya) :

Berikan pada saya beberapa contoh perbedaan-perbedaan yang saudara nyatakan.

CHIRRI (Jawab) :

Kita ambil beberapa contoh:

1. “Hendaklah ada terang, lalu terangpun jadilah. Maka dilihat Allah terang itu baiklah adanya, lalu diceraikan Allah terang itu dengan gelap. Maka dinamai Allah terang itu siang dan gelap itu malam. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang pertama.” Genesis/Kejadian 1: 3-5

Pernyataan ini menunjukkan bahwa yang pertama diciptakan yaitu siang dan malam. Tetapi kita mengetahui bahwa siang dan malam akan datang setelah adanya matahari dan melalui terbitnya dan terbenamnya matahari. Ayat 14 dari fasal yang sama menunjukkan bahwa matahari diciptakan pada hari keempat;

“Maka firman Allah: Hendaklah ada beberapa benda terang dalam bentangan langit. Supaya diceraikannya siang dan malam dan menjadi tanda dan ketentuan masa dan hari dan tahun, dan supaya ia itu menjadi benda terang  pada  bentangan langit akan  menerangkan bumi maka jadilah demikian. Maka dijadikan Allah kedua benda terang yang besar itu  yaitu  terang  yang besar itu akan memerintahkan siang dan terang yang kecil itu akan memerintahkan malam,  dan  memerintah segala  bintang. Maka dia ditaruh Allah dalam bentangan langit untuk memberi terang di atas bumi, dan akan memerintahkan siang dan malam, dan  akan menceraikan terang itu dengan gelap, maka dilihat Allah itu baiklah adanya. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang keempat.” (Kitab Kejadian 1: 14-19)

Pernyataan ini menunjukkan bahwa matahari diciptakan pada hari keempat, dan dari sini mulainya masa (hari -hari). Ini tentu bertentangan dengan ayat 3 yang menerangkan pada kita mulainya tiga tingkat masa sebelum pembentukan matahari.

2.  Fasal yang sama  menerangkan bahwa, tumbuh-tumbuhan, tanam-tanaman buah-buahan diciptakan dan tumbuh pada hari ketiga:

“Maka firman Allah: Hendaklah bumi itu menumbuhkan rumput dan pokok yang berbiji dan pohon yang berbuah dengan tabiatnya, yang berbiji dalamnya di atas bumi itu, maka jadilah demikian, yaitu ditumbuhkan rumput di bumi dan pohon yang berbiji dan pohon  yang  berbuah-buah, serta pohon berbiji di dalamnya maka dilihat Allah itu baiklah adanya. Setelah petang dan pagi maka inilah hari  yang  ketiga.” (Kejadian 1: 11-13).

Tetapi kita tahu bahwa tidak ada tumbuh-tumbuhan dan tanaman tidak dapat tumbuh tanpa matahari, padahal fasal yang sama menyatakan pada kita bahwa matahari diciptakan pada hari keempat.

3. Fasal yang sama menyatakan bahwa Tuhan, pada hari  keenam menciptakan manusia:

“Maka firman Allah: Baiklah Kita jadikan manusia atas peta dan atas teladan Kita, supaya diperintahkannya segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang di udara dan segala binatang yang jinak dan seisi bumi dan segala binatang melata yang menjalar di tanah. Maka dijadikan Allah manusia itu atas petanya, yaitu atas peta Allah dijadikannya ia,  maka  dijadikannya mereka itu laki-laki dan perempuan.” (Kejadian 1: 26-27).

Orang-orang Islam percaya bahwa Tuhan  itu  tidak berbentuk dan tidak memiliki angan-angan gambaran). Dia adalah tak terbatas yang mengelilingi seluruh alam semesta.

Dia tidak bertubuh, juga tidak berjasmani, juga tidak ada gambaran yang dapat menggambarkan  Dia. Memikirkan bahwa Tuhan mempunyai bentuk seperti manusia, untuk orang-orang Muslim, adalah menyalahi seluruh konsep Tuhan.

4. Fasal kedua bertentangan dengan fasal pertama.

Fasal pertama sebagai anda ketahui, menyatakan bahwa tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman diciptakan pada hari ketiga, sebelum diciptakannya manusia, yang diciptakan pada hari keenam. Fasal kedua memberitahu kita bahwa manusia diciptakan sebelum tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman:

“Maka  demikianlah  asalnya langit dan bumi pada masa ia itudijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan langit  dan bumi,  pada  masa  itulah  belum ada tumbuh-tumbuhan di atas bumi dan tiada pokok bertunas di padang, karena  belum lagi diturunkan Tuhan Allah hujan kepada bumi dan belum ada orang menggarap tanah itu, melainkan naiklah uap dari  bumi  serta membasahkan  segala  tanah itu. Maka diwujudkan Tuhan Allah manusia dari pada debu tanah dan dihembuskanNya nafas  hidup ke  lubang  hidungnya, demikianlah manusia itu menjadi suatu nyawa yang hldup adanya. Maka diperbuat Tuhan Allah pada suatu  taman dalam Eden, di sebelah timur, maka di sanalah ditaruhNya manusia, yang telah dirupakanNya itu.

Maka di sana ditumbuhkan Tuhan Allah di atas tanah berbagai-bagai pohon yang permai di pandangan mata dan baik untuk dimakan, dan lagi ada pohon alhayat di tengah-tengah taman itu dan pohon pengetahuan akan hal baik dan jahatpun.” (Kejadian 2: 4-9).

Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa tidak ada tumbuh-tumbuhan sebelum terciptanya manusia.

Ada hal lain di dalam pernyataan  ini, yaitu: Bahwa ada tanaman pengetahuan (pohon pengetahuan) akan hal baik dan jahat. Tetapi kita mengetahui bahwa pengetahuan tidak tumbuh dari  tanam-tanaman, ilmu   pengetahuan datang melalui pengalaman dan pelajaran.

5.  Fasal pertama telah menyatakan bahwa binatang diciptakan pada hari kelima:

“Maka firman Allah: Hendaklah dalam air itu bergerak makhluk yang bernyawa dan hendaklah ada unggas terbang di atas bumi, dalam bentangan  langit. Maka dijadikan Allah ikan yang besar-besar dan segala binatang, yang bergerak dalam air itu dengan tabiatnya, dan segala unggas yang bersayap dengan tabiatnya, maka dilihat Allah itu baiklah adanya.

Maka diberkati Allah akan dia, FirmanNya: “Berkembang-biaklah kamu dan ramaikanlah air yang di dalam laut itu dan hendaklah segala unggas itupun bertambah di atas bumi. Setelah petang dan pagi  maka  itulah hari yang kelima.” (Kejadian 1: 20-23).

Pernyataan ini dengan jelas menunjukkan bahwa manusia diciptakan setelah penciptaan ikan, burung-burung, hewan-hewan dan hewan-hewan ternak, tetapi fasal  kedua menunjukkan bahwa manusia diciptakan   sebelum ikan, burung-burung,  hewan-hewan dan hewan-hewan ternak. Dan lagi berfirman Tuhan Allah demikian:

“Tiada baik manusia itu sendirian, Aku  hendak  menciptakan seorang  penolong yang sejodoh dengan dia. Karena setelah dijadikan Tuhan Allah segala binatang yang di atas bumi  dan segala unggas yang di udara dari tanah, maka didatangkannya sekaliannya itu kepada Adam, supaya melihat bagaimana Adam itu, bagaimana dinamai Adam  segala nyawa yang hidup itu, menjadi namanya.” (Kejadian 2: 18-19).

6. Kita dapatkan di dalam fasal tiga dari  Kitab Kejadian ini  bahwa  Hawa (Eve) didustai oleh ular yang membujuknya untuk makan dari tanaman yang dilarang:

“Maka kata ular  kepada  perempuan  itu. Barangkali  firman Allah  begini: Jangan kamu makan buah-buah segala pohon yang dalam taman ini.

Maka sahut perempuan  itu  kepada  ular: Boleh kami makan buah-buah segala pohon yang dalam taman ini, akan tetapi tentang buah pohon yang di tengah taman itu firman Allah: Janganlah engkau makan atau jamah dia, supaya jangan engkau mati. Kata ular kepada perempuan  itu: Niscaya tiada kamu akan mati, karena telah diketahui Allah, jika engkau makan buah itu, tak dapat tiada  pada  ketika  itu juga tajamlah matamu dan engkau jadi seperti Allah, sebab mengetahui baik dan jahat.” (Kejadian 3: 1-5).

Tetapi kita mengetahui bahwa ular tidak sanggup  berbicara, menipu, membujuk. Ular tidak diberi kesanggupan mengucapkan kata-kata atau bercakap-cakap.

7.  Dalam fasal yang sama  kita  temui pembatasan ilmu pengetahuan  Tuhan, dan bahwa Dia adalah sesuatu yang dapat berjalanan dan bahwa Adam dan Hawa dapat menyembunyikan dirinya dari Tuhan:

“Maka kedengaranlah oleh mereka  suara Tuhan Allah, yang berjalan-jalan dalam taman pada masa angin silir, maka Adam dan Hawapun menyembunyikan dirinya dari hadirat Tuhan Allah dalam belukar taman itu. Maka Tuhan Allah berseru kepada Adam, kataNya: Di manakah engkau? Maka sahut Adam: Kudengar suaramu dalam taman, maka takutlah aku, karena aku telanjang, sebab itu aku bersembunyi. Maka firman Allah: Siapa gerangan memberitahu engkau bahwa engkau telanjang?

Sudahkah engkau makan dari pada pohon yang telah Ku Pesan jangan engkau makan buahnya?” (Kejadian 3: 8-11).

Tidak seorangpun dapat menyembunyikan dari Tuhan yang selalu berada dan yang mengetahui segala sesuatunya.

Tuhan tidak memerlukan bertanya pada Adam dimana dia, juga tidak perlu bertanya apakah dia telah makan buah tanaman itu.

 

Rujukan:

1. Baca buku M. Asadi Koran atau ringkasan bukunya, bisa ditemukan pada web site:

http://members.aol.com/masadi/sci.htm. Fenomena ini adalah fenomena khusus yang baru-baru saja ditemukan oleh pengetahuan manusia.

2. http://antwrp.gsfc.nasa.gov/apod/ap950711.html. (1 Juni 2017).

3. Salah seorang ilmuwan yang berpandangan bahwa Lauh Mahfuzh me­rupakan Pusat  Arsip Kosmos adalah Jaques Jomier, ahli sejarah dan agama Islam dari Perancis. Pandangan serupa dalam bentuk waktu (abadi, tidak dikenal masa lalu, kini, dan akan datang) dikemukakan oleh Harun Yahya dari Turki-Inggris. Dalam aI-Qur’an berbagai ayat menjelaskan Inuh Mahfuzh, intinya merupakan “catatan atau rekaman seluruh peristiwa di bumi dan langt” meliputi daun yang gugur, musim, sarang binatang yang terkecil dan berbagai bencana alam, buku amal manusia, kehidupan di akhirat-satu pun fidak ada yang tertinggal. Catatan tersebut telah ada sebelum kejadiannya berlangsung.

 

 

 –oo0oo–

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Juni 2017 in tabir

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: