RSS

Polemik Yang Tak Akan Pernah Padam

10 Agu

Adakalanya kita bingung memandang alam sekitar kita, dimana-dimana kita bisa melihat orang-orang pada berdebat hanya untuk mempertahankan keyakinan yang dianggap paling benar dari yang lainnya.

Namun kita sadari… itulah fitrah yang dimiliki oleh makhluk yang bernama manusia sejak hadirnya Adam dan Hawa ke dunia karena sifat ego yang telah diselimuti sebagai pelengkap pembentukan jati diri manusia.

Hanya karena perbedaan pandangan, olah-pikir, mahzab yang diyakini, kultus, dokrin yang diyakini, dan lain sebagainya, sehingga manusia rela saling mengkafirkan satu sama lainnya.  Sebenarnya adanya agama tidak lain agar manusia berada pada ril yang benar agar hidup tidak menjadi kacau dan brutal sehingga mendapat ketentraman sesama makhluk yang ada di sekitar kita.

Marilah kita renungkan sejenak, apakah dengan adanya doktrin Surga dan Neraka lantas akan menjamin manusia tersebut  berbuat baik dalam pandangan umum ?. Tidak juga!.  Justru dengan adanya doktrin surga yang mereka yakini demi menggapai cita-cita suci, mereka rela menjadi sang pengantin pelaku bom bunuh diri seperti yang banyak terjadi di berbagai belahan dunia saat ini.  Hal ini mereka lakukan hanya karena jihad semata dengan imbalan surga yang dijanjikan jika mereka rela menolong agama Allah seperti yang mereka yakini, sehingga dengan mempergunakan kaca mata kudanya menganggap pandangan orang lain kafir semua karena tidak sesuai dengan pandangannya dalam berpikir.

Harusnya ada baiknya kita berhikmah seperti yang dicontohkan oleh seorang sufi di kota Basrah Irak dalam hal bagaimana cara memahami perjalanan spiritual sebagai hamba Allah :

Menurut sebuah kisah, seorang sufi perempuan pertama, Rabiah Al-Adawiyyah (717-801 M), suka berlari-lari di jalan-jalan kota Basrah sambil di satu tangannya menjinjing seember air dan di satu tangannya yang lain menggenggam sebuah obor bernyala. Ketika ditanya apa yang sedang dilakukannya, Rabiah menjawab, “Aku mau menyiram api neraka sampai padam, dan membakar sorga (sampai jadi debu), karena baik api neraka maupun pahala sorga menghalangi jalan orang ke Tuhan. Aku tidak ingin beribadah karena takut ancaman api neraka atau karena teriming-imingi hadiah sorga. Bagiku, orang beribadah kepada Tuhan haruslah hanya karena cinta pada Tuhan.

Mampukah kita berhikmah pada filosofi ini ?, jika mampu niscaya semua amal ibadah kita tidak akan terbuang setetespun dari keringat dengan sia-sia, dan  akan sampai dengan sempurna  ke hadirat sang Ilahi, karena kita berbuat berlandaskan cinta semata, bukan karena adanya hadiah surga ataupun di takut-takuti dengan adanya ancaman neraka.

Ironisnya lagi hanya karena mengutip ayat yang tidak sesuai kontek sebenarnya langsung hujatanpun lahir dengan menuding yang bersangkutan kafir dan dianggap telah menodai umat Islam lainnya apalagi ayat tersebut dipakai sebagai prisainya toleransi terhadap sesama agama oleh seseorang hanya karena berfaham libral  yang di negara kita disebut dengan Jaringan Islam Libral (JIL) yang dekade akhir-akhir ini memprakarsai nama dengan “Islam Nusantara”. Apakah karena ketidak-tahuan  mereka atau hanya keberpura-puraan tidak tahu kontek dari makna ayat tersebut. Adapun ayat toleransi yang dibuat sebagai prisainya adalah QS. Al-Baqarah ayat 62:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal sholih, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Dari makna ayat ini seolah-olah semua agama sama dan semua penganutnya akan diridhoi oleh Allah karena Tuhan  kita sama dan hanya agama saja yang berbeda. Sehingga tudinganpun datang dari pihak non-Islam sebagai cemoohan akibat dalil salah kaprah sesama Islam sendiri, mereka mengatakan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an bertolak belakang/kontradiksi satu sama lainnya, yang tentunya QS. Al-Baqarah ayat 62 tersebut diatas akan bertolak belakang dengan QS. Ali-Imran: 85: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.”. 

Tanpa kita sadari yang demikian banyak dimanfaatan oleh pihak diluar Islam sebagai bahan acuan mereka pada debat-debat kristologi, tujuan ayat tersebut mereka paparkan untuk menunjukkan bahwa Islampun punya toleransi tinggi terhadap kehidupanan sesama. Apakah ayat-ayat lain tidak ada lagi yang bisa dibuat sebagai ayat toleran?. Kalaupun mereka mengukuhkan ayat ini sebagai toleran apakah mereka telah buta terhadap dalil-dalil yang memperkuat ayat ini sehingga bukan merupakan ayat yang bertentangan/bertolak belakang?, apakah mereka tidak mengetahui Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) dari ayat QS. Al-Baqarah 62. Tahukah anda sesungguhnya ayat ini diturunkan karena Sahabat Rasulullah Muhammad SAW yang bernama Salman Alfarisi yang sebelumnya beragama Majusi/Zoroaster, dalam pencaharian cahaya kebenaran selanjutnya ia memeluk Kristen sebelum masuk Islam, sebagai orang yang taat agama tentunya beliaupun rajin beribadah dan beliau bertanya kepada Rasulullah tentang ibadah yang pernah ia lakukan sebelum ia masuk Islam, lalu turunlah ayat QS. Al-Baqah 62 yang isinya seperti diatas. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsir Al-Quran Al’azhim mengatakan terkait ayat tersebut :  “Telah berkata Ibnu Abi Hatim, telah menceritakan kepada kami Ubay, telah menceritakan kepada kami Umar Ibnu Abi Umar Al-Adawi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abi Nujaih, dari Mujahid yang mengatakan bahwa Salman radhiyallahu ‘anhu telah berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang pemeluk agama yang dahulunya aku salah satu seorang dari mereka, maka aku ceritakan kepada beliau tentang cara sholat dan ibadah mereka. Lalu turunlah firman-NYA:“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian,” hingga akhir ayat.

 

Semoga bermanfaat…

Baca: Pengembaraan Salman Al Farisi Mencari Cahaya Kebenaran

 

-o0o-

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Agustus 2017 in Bedah Kasus

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: