RSS

Penciptaan Langit dan Bumi

Al-Qur’an dan Sains Modern

III. PENCIPTAAN LANGIT-LANGIT DAN BUMI
PERBEDAAN DAN PERSAMAAN DENGAN RIWAYAT DALAM BIBLE

Berbeda dengan Perjanjian Lama, Al-Qur’an tidak menyajikan suatu riwayat yang menyeluruh tentang penciptaan. Sebagai ganti suatu riwayat yang sambung menyambung, kita dapatkan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an ayat-ayat yang menunjukkan aspek-aspek tertentu daripada penciptaan dan memberi sedikit banyak perincian mengenai kejadian-kejadian yang menunjukkannya secara berturut-turut.

Untuk mempunyai gambaran yang jelas tentang bagaimana kejadian-kejadian itu disajikan, kita harus mengumpulkan bagian-bagian yang terpisah-pisah dalam beberapa surat. Menyebutkan sesuatu kejadian dalam beberapa tempat dalam Al-Qur’an tidak hanya khusus mengenai penciptaan. Banyak soal-soal penting juga dilakukan semacam itu, baik mengenai kejadian-kejadian di bumi atau di langit atau mengenai soal-soal tentang manusia yang sangat penting bagi ahli Sains. Bagi tiap-tiap kejadian tersebut, telah diadakan suatu pengumpulan ayat-ayat.

Bagi banyak pengarang Eropa, riwayat Al-Qur’an tentang penciptaan sangat mirip dengan riwayat Bible, dan mereka senang untuk menunjukkan dua riwayat tersebut secara paralel. Saya merasa bahwa ide semacam itu salah, karena terdapat perbedaan-perbedaan yang nyata antara dua riwayat. Dalam soal-soal yang penting dari segi ilmiah, kita dapatkan dalam Al-Qur’an keterangan-keterangan yang tak dapat kita jumpai didalam Bible. Dan Bible memuat perkembangan-perkembangan yang tak ada bandingan/kajiannya dalam Al-Qur’an.

Persamaan yang semu antara dua teks sangat terkenal; di antaranya angka-angka yang berurut tentang penciptaan, pada permulaannya nampak identik; enam hari dalam Al-Qur’an sama dengan enam hari yang ada dalam Bible. Tetapi pada hakekatnya, persoalannya adalah lebih kompleks dan perlu diselidiki.

Enam Periode Penciptaan Langit dan Bumi
ENAM PERIODE DARIPADA PENCIPTAAN

Riwayat Bible*9 menyebutkan secara tegas bahwa penciptaan alam itu terjadi selama enam hari dan diakhiri dengan hari istirahat, yaitu hari Sabtu, seperti hari-hari dalam satu minggu. Kita telah mengetahui bahwa cara meriwayatkan seperti ini telah dilakukan oleh para pendeta pada abad keenam sebelum Masehi, dan dimaksudkan untuk menganjurkan mempraktekkan istirahat hari Sabtu; tiap orang Yahudi harus istirahat pada hari Sabtu sebagaimana yang dilakukan oleh Tuhan setelah bekerja selama enam hari.

Jika kita mengikuti faham Bible, kata “hari” berarti masa antara dua terbitnya matahari berturut-turut atau dua terbenamnya matahari berturut-turut. Hari yang difahami secara ini ada hubungannya dengan peredaran Bumi sekitar dirinya sendiri. Sudah terang bahwa menurut logika orang tidak dapat memakai kata “hari” dalam arti tersebut di atas pada waktu mekanisme yang menyebabkan munculnya hari, yakni adanya Bumi serta beredarnya sekitar matahari, belum terciptakannya pada tahap-tahap pertama daripada Penciptaan menurut riwayat Bible; ketidak mungkinan hal ini telah kita bicarakan dalam bagian pertama daripada buku ini.

Jika kita menyelidiki kebanyakan terjemahan Al-Qur’an, kita dapatkan, seperti yang dikatakan oleh Bible, bahwa bagi wahyu Islam: proses penciptaan berlangsung dalam waktu enam hari. Kita tidak dapat menyalahkan penterjemah-penterjemah Al-Qur’an karena mereka memberi arti “hari” dengan arti yang sangat lumrah. Kita dapatkan terjemahan Surat 7 (A’raf) ayat 54:

7_54

Artinya: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam..” [QS. 7: 54]

Sedikit jumlah terjemahan atau tafsir Al-Qur’an yang mengingatkan bahwa kata “hari” harus difahami sebagai “periode.” Ada orang yang mengatakan bahwa teks Al-Qur’an tentang penciptaan alam membagi tahap-tahap penciptaan itu dalam “hari-hari” dengan sengaja dengan maksud agar semua orang menerima hal-hal yang dipercayai oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen pada permulaan lahirnya Islam agar soal penciptaan tersebut tidak bentrok dengan keyakinan yang sangat tersiar luas.

Dengan tidak menolak cara interpretasi seperti tersebut, apakah kita tidak dapat menyelidiki lebih dekat dan meneliti arti yang mungkin diberikan oleh Al-Qur’an sendiri dan oleh bahasa-bahasa pada waktu tersiarnya Al-Qur’an, yaitu kata yaum (jamaknya ayyam).

Arti yang paling terpakai daripada “yaum” adalah “hari“, tetapi kita harus bersikap lebih teliti. Yang dimaksudkan adalah terangnya waktu siang dan bukan waktu antara terbenamnya matahari sampai terbenamnya lagi. Kata jamak”ayyam” dapat berarti beberapa hari akan tetapi juga dapat berarti waktu yang tak terbatas, tetapi lama. Arti kata”ayyam” sebagai periode juga tersebut di tempat lain dalam Al-Qur’an, surat 32 (Sajadah) ayat 5:

32_5

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam suatu hari yang panjangnya seribu tahun dari perhitungan kamu“. [QS.32: 5]

Dalam ayat lain, surat 70 (Al-Ma’arij) ayat 4, kita dapatkan:

70_4

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun“.  [QS. 70: 4]

Bahwa kata “yaum” dapat berarti “periode” yang sangat berbeda dengan “hari” telah menarik perhatian ahli-ahli tafsir kuno yang tentu saja tidak mempunyai pengetahuan tentang tahap-tahap terjadinya alam seperti yang kita miliki sekarang.

Maka Abussu’ud, ahli tafsir abad XVI M., tidak dapat menggambarkan hari yang ditetapkan oleh astronomi dalam hubungannya dengan berputarnya bumi dan mengatakan bahwa untuk penciptaan alam diperlukan suatu pembagian waktu, bukan dalam “hari” yang biasa kita fahami, akan tetapi dalam “peristiwa-peristiwa” atau dalam bahasa Arabnya “naubat.”

Ahli-ahli Tafsir modern mempergunakan lagi interpretasi tersebut. Yusuf Ali (1934) dalam tafsirnya (bahasa Inggris), selalu mengartikan “hari” dalam ayat-ayat tentang tahap-tahap penciptaan alam, sebagai periode yang panjang, atau “age.”

Kita dapat mengakui bahwa untuk tahap-tahap penciptaan alam, Al-Qur’an menunjukkan jarak waktu yang sangat panjang yang jumlahnya enam. Sains modern tidak memungkinkan manusia untuk mengatakan bahwa proses kompleks yang berakhir dengan terciptanya alam dapat dihitung “enam”. Tetapi Sains modern sudah menunjukkan secara formal bahwa persoalannya adalah beberapa periode yang sangat panjang, sehingga arti “hari” sebagai yang kita fahami sangat tidak sesuai.

Suatu paragraf yang sangat panjang dan membicarakan penciptaan alam merangkaikan riwayat tentang kejadian-kejadian di bumi dengan kejadian-kejadian di langit; yaitu surat 41 (Fussilat) ayat 9 sampai 12 sebagai berikut:

41_9
41_10
41_11
41_12

Artinya:

Katakanlah Hai Muhammad, sesungguhnya patutkah kamu tidak percaya kepada zat yang menciptakan bumi dalam dua periode, dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya. Ia adalah Tuhan semesta alam. [41:9]

Dan Ia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)-nya dalam empat masa yang sama (cukup) sesuai bagi segala yang memerlukannya. [41:10]

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, dan dia (langit itu masih merupakan) asap lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab: ‘Kami datang-dengan suka hati.’ [41:11]

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” [41:12]

Empat ayat dari Surat 41 tersebut menunjukkan beberapa aspek; bentuk gas yakni bentuk pertama daripada bahan samawi serta pembatasan secara simbolis bilangan langit sampai tujuh. Kita akan melihat nanti apa arti angka tersebut. Percakapan antara Tuhan di satu pihak dan langit dan bumi di pihak lain adalah simbolis; maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa setelah diciptakan Tuhan, langit-langit dan bumi menyerah kepada perintah-perintah Tuhan.

Ada orang-orang yang mengatakan bahwa paragraf tersebut bertentangan dengan ayat yang mengatakan bahwa penciptaan itu melalui enam periode. Dengan menjumlahkan dua periode yang merupakan penciptaan bumi dan empat periode untuk pembagian makanan bagi penduduknya dan dua periode untuk penciptaan langit, kita akan mendapatkan delapan periode, dan hal ini merupakan kontradiksi dengan enam periode tersebut di atas.

Sesungguhnya teks yang dimaksudkan untuk mengajak orang berfikir tentang kekuasaan Tuhan dengan memulai memikirkan bumi sehingga nanti dapat memikirkan langit, teks tersebut merupakan dua bagian yang dipisahkan dengan kata: “tsumma” yang berarti: di samping itu (selain daripada itu)”. Tetapi kata tersebut juga berarti: kemudian daripada itu. Maka kata tersebut dapat mengandung arti urut-urutan. Yakni urutan kejadian atau urutan dalam pemikiran manusia tentang kejadian yang dihadapi. Tetapi juga mungkin hanya berarti menyebutkan beberapa kejadian-kejadian tetapi tidak memerlukan arti: urut-urutan.

Bagaimanapun juga, periode penciptaan langit dapat terjadi bersama dengan dua periode penciptaan bumi. Sebentar lagi kita akan membicarakan bagaimana Al-Qur’an menyebutkan proses elementer penciptaan alam dan bagaimana hal tersebut dapat terjadi pada waktu yang sama untuk langit dan bumi sesuai dengan konsep modern. Dengan begitu kita akan mengerti benar kebolehan menggambarkan simultanitas kejadian-kejadian yang disebutkan dalam fasal ini.

Jadi tak ada pertentangan antara paragraf yang kita bicarakan dengan konsep yang terdapat dalam teks-teks yang lain yang ada dalam Al-Qur’an, yakni teks yang mengatakan bahwa penciptaan alam itu terjadi dalam enam periode.

Penciptaan Langit dan Bumi

AL-QUR’AN TIDAK MENUNJUKKAN URUT-URUTAN DALAM PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI

Dalam dua paragraf daripada Al-Qur’an yang baru saja kita sebutkan, terdapat ayat mengenai penciptaan langit-langit dan bumi (surat 7 ayat 54), dan dilain tempat disebutkan penciptaan bumi dan langit-langit (surat 41 ayat 9 s/d 12), nampak bahwa Al-Qur’an tidak menunjukkan urut-urutan dalam penciptaan langit-langit dan bumi.

Terdapat beberapa ayat yang menyebutkan penciptaan bumi lebih dahulu seperti dalam surat 2 ayat 29, dan dalam surat 20 ayat 4. Akan tetapi terdapat lebih banyak ayat-ayat dimana langit-langit disebutkan sebelum bumi (surat 7 ayat 54, surat 10 ayat 3, surat 11 ayat 7, surat 25 ayat 59, surat 32 ayat 4, surat 50 ayat 38, surat 57 ayat 4, surat 79 ayat 27, dan surat 91 ayat 5 s.d. 10).

Jika kita tinggalkan surat 79, tak ada suatu paragraf dalam Al-Qur’an yang menunjukkan urutan penciptaan secara formal. Yang terdapat hanya huruf “wa” yang artinya “dan” serta fungsinya menghubungkan dua kalimat. Terdapat juga kata “tsumma” yang sudah kita bicarakan di atas dan yang dapat menunjukkan, sekedar sesuatu di samping sesuatu lainnya, atau urutan.

Pada hemat saya, hanya terdapat satu paragraf dalam Al-Qur’an, di mana disebutkan urutan antara kejadian-kejadian penciptaan secara jelas, yaitu ayat 27 s.d. ayat 33 surat 79.

Artinya: “Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membinanya,
[S. 79, An Naazi’aat: 27]

Artinya: Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.
[S79, An Naazi’aat: 28]

Artinya: dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.
[S. 79, An Naazi’aat: 29]

Artinya: Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.
[S. 79, An Naazi’aat: 30]

Artinya: Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.
[S. 79, An Naazi’aat 31:]

Artinya: Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh,
[S. 79, An Naazi’aat: 32]

Artinya: (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu”.
[S. 79, An Naazi’aat: 33]

“Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang, dan bumi sesudah itu dihamparkannya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya, dan gunung-gunung dipancangkannya dengan teguh, semua itu untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu”. [QS. 79: 29-33] 

Perincian nikmat-nikmat Dunia yang Allah berikan kepada manusia, yang diterangkan dalam bahasa yang cocok bagi petani atau orang-orang pengembara (nomad) di Jazirah Arabia, didahului dengan ajakan untuk memikirkan tentang penciptaan alam. Akan tetapi pembicaraan tentang tahap Tuhan menggelar bumi dan menjadikannya cocok untuk tanaman, dilakukan pada waktu pergantian antara siang dan malam telah terlaksana.

Jelas bahwa di sini ada dua hal yang dibicarakan: kelompok kejadian-kejadian samawi dan kelompok kejadian-kejadian di bumi yang diterangkan dengan waktu. Menyebutkan hal-hal tersebut mengandung arti bahwa bumi harus sudah ada sebelum digelar dan bahwa bumi itu sudah ada ketika Tuhan membentuk langit.

Dapat kita simpulkan bahwa evolusi langit dan bumi terjadi pada waktu yang sama, dengan kait mengkait antara fenomena-fenomena. Oleh karena itu tak perlu memberi arti khusus mengenai disebutkannya bumi sebelum langit atau langit sebelum bumi dalam penciptaan alam. Tempat kata-kata tidak menunjukkan urutan penciptaan, jika memang tak ada penentuan dalam hal ini pada ayat-ayat lain.

Proses fundamental daripada pembentukan kosmos dan kesudahannya dengan penyusunan alam.

Dalam dua ayat Al-Qur’an disajikan suatu sintesa singkat daripada fenomena-fenomena yang menyusun proses fundamental tentang pembentukan kosmos.

Surat 21 ayat 30: 21_30

Artinya: “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air, Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapakah mereka tiada juga beriman?“. [Al Anbiyaa’: 30]

Dalam surat 41 ayat 11, kita dapatkan sebagai berikut:

41_11Artinya: “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan dia (langit itu masih merupakan) asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: Datanglah kamu keduanya menurut perintah Ku dengan suka hati atau terpaksa. Keduanya menjawab: Kami datang dengan suka hati“. [Fushshilat: 11]

Nanti kita akan membicarakan tentang asal kehidupan yang dikatakan “air,” di samping masalah-masalah biologi yang terdapat dalam Al-Qur’an. Untuk sementara kita dapat menyimpulkan sebagai berikut:

Menetapkan adanya suatu kumpulan gas dengan bagian-bagian kecil yang sangat halus. Dukhan = asap. Asap itu terdiri dari stratum (lapisan) gas dengan bagian-bagian kecil yang mungkin memasuki tahap keadaan keras atau cair, dan dalam suhu rendah atau tinggi.

Menyebutkan proses perpisahan (fatq) dari suatu kumpulan pertama yang unik yang terdiri dari unsur-unsur yang dipadukan (ratq). Kita tegaskan lagi, “fatq” dalam bahasa Arab artinya memisahkan dan “ratq” artinya perpaduan atau persatuan beberapa unsur untuk dijadikan suatu kumpulan yang homogen.

Konsep kesatuan yang berpisah-pisah menjadi beberapa bagian telah diterangkan dalam bagian-bagian lain dari Al-Qur’an dengan menyebutkan alam-alam ganda. Ayat pertama dari surat pertama dalam Al-Qur’an berbunyi:

“Dengan nama Allah, Maha Pengasih dan Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam”.

Kata-kata alamin (alam-alam) terdapat berpuluh kali dalam Al-Qur’an. Langit-langit juga disebutkan sebagai ganda, bukan saja dalam bentuk kata jamak; tetapi dengan angka simbolik yaitu angka tujuh. Angka tujuh dipakai dalam Al-Qur’an 24 kali untuk maksud bermacam-macam. Sering kali angka tujuh itu berarti “banyak” dan kita tidak tahu dengan pasti sebabnya angka tersebut dipakai. Bagi orang-orang Yunani dan orang-orang Rumawi, angka 7 juga mempunyai arti “banyak” yang tidak ditentukan. Dalam Al-Qur’an angka 7 dipakai 7 kali untuk memberikan bilangan kepada langit, angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan langit-langit yang tidak disebutkan. Angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan 7 jalan di langit.

Bacalah ayat-ayat di bawah ini:

Surat 2 ayat 29:
Artinya: “Dialah .Allah, yang menyaksikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikanNya tujuh langit Dan Dia maha mengetahui segala sesuatu“.

Surat 23 ayat 17:
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan, dan Kami sekali- kali tidaklah lengah terhadap ciptaan“.

Surat 67 ayat 3:
Artinya: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Karena itu lihatlah berulang-ulang adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?“.

Surat 71 ayat 15-16:
Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat“.

Artinya: “Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?”.

Surat 78 ayat 12:
Artinya: “Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah langit yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari)“.*10

Untuk ayat-ayat tersebut para ahli tafsir Al-Qur’an sepakat bahwa angka 7 menunjukkan “banyak” dengan tak ada perinci.*11

Langit-langit adalah banyak, dan bumi juga banyak. Pembaca modern yang membaca Al-Qur’an akan heran bahwa ia menemukan dalam suatu teks dan abad VI suatu benda yang mengatakan bahwa bumi-bumi seperti bumi kita terdapat dalam kosmos, padahal manusia pada zaman kita sekarang ini, sampai hari ini belum dapat membuktikan.

Sesungguhnya surat 65 ayat 12 berbunyi:

65_12

Artinya: “Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi, berlaku perintah (Allah) di antaranya, (Allah menciptakan yang demikian) supaya kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah, ilmunya benar-benar meliputi segala sesuatu“. [Ath Thalaaq: 12]

Karena angka tujuh menunjukkan “ganda” yang tak ditentukan, kita dapat mengambil konklusi bahwa teks Al-Qur’an menunjukkan dengan jelas bahwa tidak hanya terdapat suatu bumi, bumi manusia, tetapi terdapat bumi-bumi lain yang serupa dalam kosmos ini. Suatu hal lain yang mentakjubkan pembaca Al-Qur’an pada abad 20 ini adalah ayat-ayat yang menyebutkan tiga macam benda-benda yang diciptakan, yaitu:

Benda-benda yang terdapat di langit,
Benda-benda yang terdapat di atas bumi,
Benda-benda yang terdapat di antara langit-langit dan bumi.

Bacalah ayat-ayat :

Surat 20 ayat 6 :
Artinya: “KepunyaanNyalah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semuanya yang di bawah tanah“.

Surat 25 ayat 59 :
Artinya: “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa“.

Surat 32 ayat 4:
Artinya: “Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Ia bersemayam di atas ‘arsy”.

Surat 50 ayat 38:
Artinya: “Dan sesunggahnya telah Kami ciptaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan“.*12

Kata-kata “yang ada di antara langit dan bumi,” terdapat juga dalam surat 21 ayat 16, surat 44 ayat 7 dan 38, surat 78 ayat 37, surat 15 ayat 85, surat 46 ayat 3 dan surat 43 ayat 85.

Penciptaan di luar langit dan bumi yang berkali-kali tersebut dalam Al-Qur’an, secara apnori kurang dapat digambarkan. Untuk memahami ayat-ayat tersebut, kita perlu kembali kepada penemuan manusia yang paling modern tentang adanya bahan-kosmik ekstra galaktik, dan untuk itu kita harus mengarah dan yang paling sederhana kepada yang paling kompleks dan mengikuti hasil-hasil Sains masa-kini mengenai terbentuknya kosmos. Hal ini akan kita bicarakan dalam paragraf yang akan datang.

Tetapi sebelum memasuki pemikiran-pemikiran yang bersifat ilmiah murni, saya rasa baik untuk meringkaskan dasar-dasar pokok yang dipakai oleh Al-Qur’an untuk memberi penerangan kepada kita tentang penciptaan kosmos. Menurut hal-hal yang telah kita bicarakan, dasar-dasar tersebut adalah sebagai berikut:

  • Adanya enam periode untuk penciptaan pada umumnya,

  • Adanya jaringan yang berkaitan antara tahap-tahap penciptaan langit-langit dan tahap-tahap penciptaan bumi,

  • Penciptaan kosmos mula-mula dari kumpulan yang unik yang merupakan kesatuan dan kemudian terpecah,

  • Terdapatnya banyak langit dan banyak bumi,

  • Terdapatnya benda-benda ciptaan Tuhan antara langit-langit dan bumi.

bucaile-icon
BIBEL, Al-Qur’an, dan Sains Modern : Dr. Maurice Bucaille,
Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science,
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi, Penerbit Bulan Bintang, 1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta.

Edited by Mediatama Computer Sumedang

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: