RSS

Al-Qur’an, Hadits & Sains

Al-Qur’an, Hadits dan Sains Modern

Al-Qur’an bukanlah merupakan satu-satunya sumber doktrin dan hukum Islam. Ketika Nabi Muhammad masih hidup dan sesudah beliau meninggal, ada sumber tambahan yaitu tindakan-tindakan dan ucapan-ucapan Nabi.

Informasi tentang tindakan dan ucapan Nabi tergantung kepada tradisi mulut; orang-orang yang mengambil inisiatif untuk mengumpulkannya dalam suatu teks mengadakan penyelidikan yang rumit jika tradisi lisan tersebut akan dijadikan tulisan tentang kejadian-kejadian.

Dalam mengumpulkan informasi tersebut mereka sangat gigih mencari kebenaran; hal ini dapat dibuktikan dengan fakta bahwa dalam tiap riwayat mengenai kehidupan Nabi Muhammad atau kata-katanya, terkumpul nama-nama orang-orang yang mempunyai reputasi baik yang melaporkan riwayat tersebut, dan urutan nama-nama itu menanjak sampai kepada keluarga Nabi atau sahabat-sahabat yang menjadi sumber pertama daripada informasi itu.

Dengan cara tersebut, muncullah kumpulan-kumpulan tindakan dan ucapan-ucapan Nabi, yaitu yang biasanya dinamakan “Hadits arti kata itu adalah “kata-kata” tetapi yang dimaksudkan ialah ucapan-ucapan dan tindakan.*30

Kumpulan-kumpulan Hadits itu disiarkan beberapa puluh tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad; yang muncul pada abad pertarna Hijriyah sangat terbatas. Kumpulan-kumpulan yang lebih penting baru muncul dua abad sesudah Nabi Muhammad wafat. Dengan begitu maka kumpulan Hadits yang memberi informasi yang paling lengkap bukan kumpulan yang paling dekat kepada zaman Nabi Muhammad. Kumpulan Bukhari dan Muslim yang diselenggarakan lebih dari 200 tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad memberikan dokumentasi yang terluas dan paling dapat dipercayai. Kumpulan Bukhari dianggap yang paling autentik setelah Al-Qur’an. Haudas dan Marcais telah menterjemahkannya ke dalam bahasa Perancis antara tahun 1903 dan 1904, dengan judul: Les Traditions Islamiques.

Pada akhir-akhir ini telah diterbitkan juga dengan teks Arab dan terjemahan Inggris oleh Dr. Mohammad Muhsin Khan, dari Universitas Islam di Medina. Dengan begitu Hadits dapat dibaca oleh orang yang tak mengerti bahasa Arab. Tetapi kita perlu bersikap sangat hati-hati terhadap beberapa terjemahan yang dilakukan oleh orang-orang Barat termasuk orang-orang Perancis, karena kita telah dapatkan kekeliruan yang tidak merupakan terjemahan akan tetapi merupakan interpretasi; malahan kadang-kadang mereka itu merubah arti Hadits sehingga memberi pengertian yang tidak dimaksudkan.

Dari segi asal mulanyaorang dapat membandingkan kumpulan-kumpulan Hadits itu dengan Bibel. Kedua macam buku itu mempunyai sifat yang sama, yaitu:

  • Pertama, telah ditulis oleh pengarang-pengarang yang bukan merupakan saksi mata kejadian yang mereka laporkan; dan

  • Kedua, telah ditulis setelah lama kejadian-kejadian tersebut terjadi.

Sebagaimana halnya dengan Bibel, Hadits-hadits itu tidak semuanya dapat diterima sebagai autentik. Hanya jumlah kecil dipandang autentik oleh ahli-ahli Hadits, dan dalam satu kumpulan kita dapat menemukan Hadits-hadits autentik di samping Hadits yang diragukan bahkan Hadits yang harus ditolak.

Berbeda dengan Injil empat, yang tidak pernah disangkal oleh umat Kristen, kumpulan-kumpulan Hadits-hadits walaupun yang dianggap paling autentik, pada suatu waktu dalam sejarah Islam, telah merupakan sasaran kritik tajam dari para ahli pikir Islam. Tetapi Al-Qur’an, tetap menjadi buku yang pokok dan tak dapat dipersoalkan lagi tentang kebenarannya.

Saya menganggap penting untuk menyelidiki dalam kumpulan hadits-hadits tersebut, bagaimana ditinjau diluar wahyu Ilahi, Muhammad diriwayatkan telah membicarakan soal-soal yang pengetahuan modern baru dapat membuka rahasianya pada beberapa abad sesudahnya dan saya sangat membatasi diri dengan hanya penyelidikan Hadits yang biasanya dianggap paling autentik, yaitu kumpulan Hadits Bukhari, sebabnya ialah karena saya selalu berpikir bahwa karena Hadits-hadits itu banyak yang disusun oleh para pengumpulnya menurut tradisi oral/lisan, maka mereka dapat meriwayatkan fakta-fakta yang sama akan tetapi dengan cara berbeda yang berhubungan dengan kesalahan orang-orang yang meriwayatkannya.

Hal tersebut berbeda dengan Hadits yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang banyak jumlahnya sehingga dapat mencapai martabat Hadits autentik.

Saya menyelidiki pernyataan-pernyataan Hadits dalam hal-hal yang pernah kita bicarakan tentang Al-Qur’an dan Sains modern. Hasil penyelidikan saya sangat jelas. Ada perbedaan yang sangat besar antara pernyataan-pernyataan Al-Qur’an yang cocok jika dihadapkan dengan Sains modern dan pernyataan Hadits dalam bidang sama yang sangat mudah dikritisi.

Hadits yang merupakan tafsiran mengenai beberapa ayat Al-Qur’an kadang-kadang memberi penjelasan yang tak dapat diterima sekarang.

Ada satu Hadits Bukhari yang menafsirkan surat 36 ayat 38 (Surat Yassin) yang telah kita bicarakan dalam fasal Astronomi, dengan tafsiran sebagai berikut:

“Ketika matahari terbenam, ia sujud di bawah Arasy Tuhan. Matahari minta izin untuk mengulangi perjalanannya, dan sujud sekali lagi. Akhirnya ia kembali ke tempat dari mana ia datang dan bangun kembali dari Timur.”

Teks aslinya adalah kabur dan sukar diterjemahkan. (Kitab permulaan penciptaan, fasal 54, bab 4 no. 421). Bagaimanapun juga, Hadits tersebut mengandung khayalan tentang perjalanan matahari dan hubungannya dengan bumi. Sains telah menunjukkan bahwa yang benar adalah sebaliknya isi Hadits tersebut. Jadi Hadits tersebut tidak autentik.

Dalam fasal yang sama (Kitab permulaan penciptaan) fasal 54 bab 6 no. 430, terdapat keterangan tentang tahap-tahap pertama yang berkaitan terhadap perkembangan embriyo. Keterangan tentang waktu yang diperlukan oleh tahap-tahap itu terasa aneh; satu tahap untuk mengumpulkan unsur-unsur yang menyusun manusia, lamanya 40 hari, satu tahap di mana embryo itu merupakan “sesuatu yang melekat” lamanya 40 hari, dan satu tahap di mana embryo menjadi seperti daging yang dikunyah lamanya juga 40 hari. Kemudian setelah campur tangan malaikat untuk menentukan hari kemudian embryo itu, suatu ruh ditiupkan dalam embryo tersebut. Gambaran perkembangan embriyo seperti tersebut di atas tidak sesuai dengan Sains modern.

Kecuali dalam surat 16 (Nahl) ayat 69 yang menyebutkan bahwa madu itu mengandung obat (tanpa menyebutkan untuk penyakit apa), Al-Qur’an tidak memberi tuntunan tentang pengobatan. Tetapi Hadits memberikan tempat yang luas untuk soal obat-obatan.

Dalam kumpulan Hadits Bukhari ada suatu bab khusus untuk obat-obatan (bab 76). Dalam terjemahan Houdas dan Marcais hal tersebut terdapat dalam jilid 4, halaman 62 s/d 91, dan dalam bukunya Dr. Muhammad Muhsin Khan dengan terjemahan bahasa Inggris terdapat dalam jilid 7 halaman 395 s/d 452. Halaman-halaman tersebut memberi gambaran tentang pendapat-pendapat orang pada waktu Hadits tersebut dikumpulkan mengenai soal-soal yang berhubungan dengan obat-obatan. Orang dapat saja menambahkan kepada hadits-hadits dalam bab tersebut yang disesuaikan dengan hadits-hadits lain yang terdapat dalam bagian-bagian lain yang ada pada  kumpulan Hadits Bukhari.

Dalam hadits-hadits yang saya sebutkan terakhir tadi, terdapat pemikiran-pemikiran tentang sihir, mata jahat, pengusiran setan dan lain-lain, walaupun Al-Qur’an telah membatasi hal-hal tersebut. Terdapat suatu hadits yang mengatakan bahwa buah kurma dapat menjaga manusia dari pengaruh sihir, dan dapat menyembuhkan gigitan binatang berbisa.

“Kita tidak perlu heran karena dalam zaman teknik dan farmakologi belum maju, kita menemukan anjuran untuk praktek-praktek yang sederhana atau obat-obatan alamiah seperti cantuk (Hijamah) atau cara lain untuk mengeluarkan darah kotor, mengobati luka dengan api, mencukur untuk mengobati penyakit kulit, meminum susu unta, biji tertentu atau tumbuh-tumbuhan tertentu, abu semacam tumbuh-tumbuhan (untuk menghentikan darah keluar), dalam keadaan yang berbahaya, orang perlu menggunakan segala cara dan upaya yang dapat dilakukan, dan yang memang berguna, tetapi saya rasa kurang baik untuk menganjurkan minum kencing unta”.

Kita juga kurang setuju dengan penjelasan-penjelasan mengenai patologi, dibawah ini beberapa contoh:

  1. Asalnya penyakit panas badan: empat orang saksi menguatkan pernyataan bahwa: panas badan itu datangnya dari api neraka (Kitab pengobatan fasal 28).
  2. Tentang adanya obat bagi tiap-tiap penyakit, “Tuhan tidak menurunkan penyakit kecuali ia juga menurunkan obatnya (Kitab pengobatan fasal 1)”. Contoh konsepsi ini adalah Hadits lalat (Kitab pengobatan, fasal 28 dan Kitab permulaan penciptaan, bab 54, fasal 15, 16), “Jika ada lalat jatuh dalam satu wadah, lalat itu harus ditenggelamkan seluruhnya, karena satu sayapnya mengandung racun, dan yang satu lagi mengandung penawar, lalat mula-mula membawa racun kemudian membawa obat”.
  3. “Keguguran itu disebabkan karena si hamil melihat ular tertentu (ular itu juga menyebabkan kebutaan)”, ini disebutkan dalam Kitab permulaan penciptaan, fasal 13 dan 14.
  4. Mengeluarkan darah di luar waktu haid. Kitab Haid fasal 6 memuat Hadits tentang sebab mengeluarkan darah di luar waktu haid (bab 16, 21 dan 28). Hal ini mengenai dua orang wanita. Dalam satu kasus, tanpa perincian, mengenai symptom/gejala tersebut, dinyatakan bahwa mengeluarkan darah itu sebabnya karena suatu saluran darah (‘irq); dalam kasus lainnya, yaitu tentang seorang wanita yang mengeluarkan darah diluar haid selama tujuh tahun. Di sini sebab-musabab yang sama dinyatakan kembali. (Manusia bisa saja membuat hipotesa tentang sebab yang sesungguhnya dari suatu gejala tersebut, tetapi mengingat zaman Hadits Nabi Muhammad tersebut, kita tak dapat menggambarkan bagaimana diagnosa tersebut hanya didasarkan kepada suatu argumen. Walaupun adakalanya hal ini mungkin juga benar).
  5. Tidak adanya penyakit menular, kumpulan Hadits Bukhary menyebutkan dalam beberapa bagian dalam buku itu (fasal 19, 25, 30 31, 53 dan 54 kitab pengobatan, bab 76), kasus-kasus khusus seperti lepra, pest, kolera, penyakit kulit unta, dan juga penyakit menular secara umum. (Pemikiran tentang hal-hal tersebut mengandung pernyataan yang kontradiksi. Tetapi, terdapat juga suara anjuran supaya orang jangan pergi ke tempat di mana wabah pest berjangkit, dan supaya orang menjauhi orang yang terserang penyakit lepra).*31

Dengan begitu, kita dapat mengambil kesimpulan tentang adanya hadits yang tak dapat diterima. Tetapi di samping kesangsian tentang kebenaran hadits tersebut, dengan disebutkannya di sini kita mendapat faedah yaitu bahwa dengan memperbandingkannya dengan pernyataan ilmiah yang terdapat dalam Al-Qur’an, kita mengerti bahwa hadits-hadits tersebut mengandung pernyataan yang tidak tepat. Konstatasi ini mempunyai arti yang besar.

Kita harus ingat bahwa ketika Nabi Muhammad meninggal, ajaran-ajaran yang diterima oleh para sahabat dari beliau dapat dibagi menjadi dua kelompok:

  • Pertama, banyak pengikut Nabi yang hafal Al-Qur’an seperti beliau dan selalu mengulangi pembacaannya, di samping itu terdapat tulisan-tulisan wahyu Al-Qur’an yang dibuat waktu Nabi Muhammad masih hidup, dan malahan sebelum hijrah.
  • Kedua, anggota-anggota dari sahabat-sahabatnya yang terdekat dan beberapa pengikutnya yang menyaksikan tindakan dan kata-katanya, mereka itu memelihara apa yang mereka saksikan atau dengarkan, dan menjadikannya sebagai sandaran disamping Al-Qur’an, untuk menetapkan doktrin dan hukum yang sedang tumbuh.

Dalam tahun-tahun sesudah meninggalnya Nabi Muhammad, teks-teks, tentang dua macam ajaran yang ia tinggalkan bermunculan. Kumpulan Hadits yang pertama muncul 40 tahun setelah Nabi meninggal, akan tetapi sebelum teks itu muncul, Al-Qur’an sudah dikumpulkan lebih dahulu pada zaman Abubakar dan Umar. Utsman membuat teks definitif pada waktu ia memerintah; yakni antara tahun 12 dan 24 sesudah Nabi meninggal.

Yang perlu digaris bawahi adalah perbedaan antara kedua macam teks dan segi sastra dan dari segi isi. Sesungguhnya tak mungkin diadakan perbandingan dari segi style Al-Qur’an dan susunan tata Hadits. Dan lagi jika kita mernbandingkan isi yang berkaitan dua teks kitab tersebut dengan menghadapkannya kepada hasil-hasil Sains modern, sesungguhnya kita akan heran karena perbedaan yang sangat besar. Semoga saya mampu dan berhasil menunjukkan perbedaan antara:

  • Disatu pihak, pernyataan Al-Qur’an yang sering kelihatan remeh, tetapi jika diselidiki secara ilmiah dengan hasil-hasil Sains modern ternyata benar-benar bahwa pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan hal-hal yang kemudian dibenarkan oleh Sains.
  • Dilain pihak, beberapa pernyataan hadits yang kelihatannya sesuai dengan cara berpikir pada waktu itu, tetapi ternyata sekarang mengandung pernyataan-pernyataan tidak mampu dibuktikan secara ilmiah. Pernyataan-pemyataan tersebut terselip dalam doktrin dan hukum Islam yang semua orang menganggap autentik dan tak berani mempersoalkannya.

Pada akhirnya, kita harus mengetahui bahwa sikap Nabi Muhammad terhadap Al-Qur’an sangat berbeda dengan sikap beliau terhadap ucapan-ucapan beliau pribadi. Al-Qur’an bukanlah merupakan fatwa-fatwa beliau, Al-Qur’an adalah wahyu Ilahi. Nabi menyusun bagian-bagian Al-Qur’an dalam waktu kurang lebih dua puluh tahun dengan sangat hati-hati seperti yang sudah kita bahas. Al-Qur’an merupakan hal yang harus ditulis selama Nabi Muhammad masih hidup dan harus dihafalkan untuk dijadikan bacaan sembahyang. Adapun Hadits yang disajikan sebagai hal yang menunjukkan tindakan dan ucapan Nabi, hadits itu diserahkan kepada pengikutnya untuk menjadi contoh dalam tindakan mereka dan untuk ditulis sebagaimana mereka fahami. Ia tidak memberi pengarahan dalam hal ini.

Oleh karena hanya jumlah tertentu yang ada pada hadits dapat dianggap secara pasti sebagai pemikiran Nabi Muhammad, maka kebanyakan hadits hanya menunjukkan hal-hal yang dianggap benar oleh orang-orang pada zaman dahulu, khususnya tentang hal-hal ilmiah yang telah disebutkan dalam ketabiban.

Dengan membandingkan antara teks hadits dan teks Al-Qur’an, maka selanjutnya kita dapat membedakan antara Al-Qur’an dan hadits yang tidak benar dan tidak autentik. Perbandingan ini menjelaskan perbedaan besar antara tulisan-tulisan pada waktu itu yang penuh dengan kekeliruan-kekeliruan ilmiah jika dibandingkan Al-Qur’an sebagai wahyu yang sudah dibukukan dan yang bebas dari kesalahan-kesalahan ilmiah.

Ketika penterjemah bertemu dengan saya (pengarang) dalam konferensi pemikiran Islam di Aljazair pada bulan September 1978, saya berpesan agar paragraf dibawah ini ditambahkan dalam Bab Al-Qur’an, Hadits dan Sains Modern. Pada cetakan keenam, (edisi bahasa Perancis) paragraf tersebut memang telah dimuat.

Kebenaran Hadits dari segi keagamaan sama sekali tidak menjadi persoalan. Tetapi jika Hadits itu membicarakan soal-soal profane (yang bukan agama), maka tak ada perbedaan antara Nabi Muhammad dan manusia lainnya.

Sebuah Hadits yang meriwayatkan pernyataan Nabi Muhammad sebagai berikut:

“Jika aku berikan perintah kepadamu mengenai agama, ikutilah, dan jika aku menyampaikan sesuatu hal yang berasal dari pendapatku sendiri, ingatlah bahwa aku adalah seorang manusia.”

Al Saraksi dalam bukunya “Al Usul” menafsirkan, sebagai berikut:

“Jika aku memberi tahu tentang hal agama, kerjakanlah menurut keteranganku dan jika aku memberitahu tentang soal-soal keduniaan, maka sesungguhnya kamu lebih tahu tentang urusan keduniaanmu.”

KONKLUSI UMUM

Pada akhir penyelidikan, telah nyata bahwa pendapat yang dianut kebanyakan orang di Barat tentang kitab-kitab suci yang kita miliki sekarang adalah tidak benar. Kita telah melihat keadaan-keadaan dan zaman-zaman serta caranya unsur-unsur Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan Al-Qur’an dikumpulkan dan disusun. Keadaan yang mendahului lahirnya tiga kitab wahyu berbeda sekali satu dengan lainnya, hal ini berimbas pada hal yang sangat pokok mengenai autentisitas teks dan aspek-aspek tertentu terkait isinya.

Perjanjian Lama merupakan kumpulan karya sastra yang dihasilkan selama ± 9 abad. Perjanjian Lama merupakan campuran mosaik yang unsur-unsurnya sepanjang masa telah dirubah-rubah oleh manusia; beberapa paragraf baru, ditambah-tambahkan kalimatnya kepada yang sudah ada sehingga pada waktu sekarang sangat sulit untuk menyelusuri asalnya.

Sedangkan Perjanjian Baru dimaksudkan untuk memberi pelajaran kepada manusia dengan jalan meriwayatkan tindakan dan ucapan Yesus, yaitu ajaran-ajaran yang ia ingin wariskan ketika tugasnya di atas bumi sudah selesai. Kesulitan yang terdapat dalam Perjanjian Baru ialah bahwa penulis-penulisnya bukan saksi mata yang menyaksikan fakta-fakta yang mereka laporkan.

Ajaran-ajaran Perjanjian Baru hanya merupakan ekspresi berita tentang kehidupan Yesus yang ditulis oleh juru bicara masyarakat Yahudi Kristen, dalam bentuk tradisi lisan atau tulisan yang sekarang sudah musnah dimana dahulunya menjadi perantara antara tradisi lisan dan teks yang definitif.

Dengan latar belakang inilah orang harus memandang kitab suci Yahudi Kristen dimana jika kita ingin memikir secara obyektif maka kita harus meninggalkan konsepsi tafsir-tafsir kunoBanyaknya sumber-sumber asal, mengakibatkan kontradiksi dan pertentangan yang tak dapat dielakkan, seperti yang telah kita jelaskan banyak contoh. Pengarang-pengarang Perjanjian Lama mempunyai kecenderungan untuk membesar-besarkan beberapa fakta mengenai Yesus, sebagaimana pengarang sastra epik Perancis di abad Pertengahan berbuat tentang “Chansons de geste”, dengan begitu maka kejadian-kejadiannyapun digambarkan sesuai dengan nada khusus yang dimiliki oleh pengarang-pengarang itu serta autentisitas fakta yang diriwayatkan, sehingga dalam beberapa kasus menjadi sangat diragukan.

Dalam kondisi semacam itu, pernyataan-pernyataan kitab suci Yahudi Kristen yang berkaitan dengan pengetahuan modern harus diteliti dengan sikap hati-hati (reserve) yang diharuskan oleh aspeknya yang diragukan.

Kontradiksi, kekeliruan, pertentangan dengan hasil-hasil penyelidikan Sains modern dapat difahami sepenuhnya karena hal-hal yang kita uraikan diatas, sebaliknya timbulnya rasa keheran-heranan umat Kristen kian besar jika mereka mengetahui dimana usaha ahli-ahli tafsir resmi berjalan terus secara mendalam dan terus menerus dilakukan untuk menutupi hal-hal yang bertentangan dengan pengetahuan modern, dengan permainan akrobatik dialektik yang hilang dalam lyrik apologi.

Disini dapat kita ambil contoh yakni mengenai silsilah keturunan Yesus dalam Injil Matius dan Lukas yang kontradiksi dan tak dapat diterima secara ilmiah, dan menunjukkan keadaan mental yang tidak wajar, dan juga Injil Yahya menarik perhatian kita karena perbedaan-perbedaannya yang menyolok terhadap ketiga Injil lainnya khususnya mengenai kesepian yang biasanya tidak diperhatikan orang, yaitu tentang tidak disebutkannya Ekaristi di dalamnya.

Wahyu bagi Al-Qur’an mempunyai sejarah yang secara fundarnental berbeda dengan dua kitab suci sebelurnnya. Diturunkan secara bertahap selama kurun waktu kurang lebih dua puluh tahun. Al-Qur’an yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad dengan perantaraan Malaikat Jibril yang berbicara langsung kemudian dihafalkan oleh orang-orang yang percaya dan pada waktu yang sama juga saat itu ditulislah Al-Qur’an yakni ketika Nabi Muhammad masih hidup.

Sementara penelitian Al-Qur’an yang terakhir dilakukan 24 tahun sesudah meninggalnya Nabi Muhammad yang berada dibawah pemerintahan Usman dan dikuatkan melalui pengontrolan orang-orang yang memang sudah hafal teks Al-Qur’an, karena mereka mengerti Al-Qur’an pada waktu turunnya wahyu dan kemudian selalu mengulangi hafalannya. Dari semenjak itulah teks Al-Qur’an telah dipelihara secara sangat ketat. Al-Qur’an tidak mengandung problem tentang autentik atau tidak autentik.

Al-Qur’an yang diwahyukan sesudah kedua kitab suci sebelumnya, bukan saja bebas dari kontradiksi dalam riwayat-riwayatnya, kontradiksi yang menjadi ciri Bibel karena disusun oleh manusia tetapi juga menyajikan kepada orang yang mempelajarinya secara obyektif dengan mengambil petunjuk dari Sains modern, suatu sifat yang khusus, yakni persesuaian yang sempurna dengan hasil Sains modern.

Lebih dari itu semua, sebagaimana yang sudah kita buktikan bahwa Al-Qur’an mengandung pernyataan ilmiah yang sangat modern yang tidak masuk akal jika dikatakan bahwa orang yang hidup pada waktu Al-Qur’an diwahyukan itu adalah pencetus-pencetusnya. Dengan begitu maka pengetahuan ilmiah modern memungkinkan kita memahami ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’an yang sampai sekarang tidak dapat ditafsirkan.

Perbandingan beberapa riwayat Bible dengan riwayat Al-Qur’an tentang hal yang sama menunjukkan adanya perbedaan fundamental antara pernyataan Bible yang tak dapat diterima secara ilmiah dengan pernyataan Al-Qur’an yang sesuai sepenuhnya dengan Sains modern, umpamanya tentang penciptaan dan tentang banjir Nabi Nuh seperti yang sudah kita bahas.

Mengenai Exodus Musa kita dapatkan dalam Al-Qur’an suatu tambahan yang berharga kepada riwayat Perjanjian Lama. Tambahan itu seluruhnya sesuai dengan hasil-hasil penyelidikan arkeologi yang menunjukkan bila kejadian-kejadian dalam sejarah Musa itu terjadi.

Perbedaan sangat penting antara Al-Qur’an dan Bible pada aspek yang lain adalah pertentangan dengan anggapan bahwa Muhammad menjiplak suatu isi Alkitab/Bibel untuk menulis Al-Qur’an, semua itu tanpa bukti.”

Akhirnya, penelitian perbandingan tentang penyataan yang penting untuk Sains, yang terdapat dalam Hadits (perkataan Muhammad) dimana banyak diantaranya yang disangsikan kebenarannya, walaupun menunjukkan kepercayaan manusia pada waktu itu namun dilain pihak pernyataan Al-Qur’an yang mengenai Sains juga, menunjukkan perbedaan besar yang meyakinkan kita bahwa sumber Hadits berlainan dengan sumber Al-Qur’an.

Orang tidak dapat membayangkan bahwa banyak pernyataan Al-Qur’an yang mempunyai aspek ilmiah itu adalah karya manusia, karena keadaan pengetahuan pada zaman Muhammad tidak memungkinkan hal tersebut.

Oleh karena itu adalah wajar, bukan saja untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an itu ekspresi suatu wahyu akan tetapi juga untuk memberikan kedududukan yang istimewa terhadap wahyu Al-Qur’an terkait dengan jaminan autentisitasnya dan dihubungkan dengan terdapatnya pernyataan-pernyataan ilmiah yang setelah diteliti pada zaman kita sekarang ini, ternyata penjelasan Al-Qur’an merupakan suatu tantangan bagi manusia itu sendiri.

baca: Non-Muslim Tanya Arti, “KAFF HAA YAA ‘AIN SHAAD” Pada Al-Qur’an
baca: Al-Qur’an, Tentang “Ketika Bulan Terbelah”

bucaile-icon
BIBEL, Al-Qur’an, dan Sains Modern: Dr. Maurice Bucaille,
Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science,
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi,
Penerbit Bulan Bintang, 
1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta.
re-Edited by Mediatama Computer Sumedang

MEDIATAMA
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: