RSS

HUKUM HELIOCENTRIS

C. PENGATURAN SAMAWI (ORGANISATION CELESTE)

Surat 14 ayat 33

Artinya: dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (Q.S Ibrahim 33)

Surat 6 ayat 96

Artinya: “Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat dan menjadikan matahari dan bulan untuk perhitungan.” [Q.S Al An’aam:96]

Surat 55 ayat 5

Artinya: “dan matahari dan langit (beredar) menurut perhitungan.” [Q.S Ar Rahmaan:5]

Yang kita dapatkan dalam Al-Qur’an tentang pengaturan samawi pada pokoknya mengenai sistem matahari, tetapi disamping itu terdapat isyarat-isyarat tentang fenomena-fenomena di luar sistem matahari yang pada zaman modern ini sudah dapat diungkapkan oleh Ilmu Pengetahuan.

Terdapat dua ayat penting yang ada hubungannya dengan orbit matahari dan bulan:

Surat 21 ayat 33:

Surat 21 ayat 33
Artinya: “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, masing-masing dan keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [Al Anbiyaa’: 33]

Surat 36 ayat 40:

Surat 36 ayat 40

Artinya: “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaasiin: 40]

Dengan ayat tersebut, telah disebutkan suatu fakta yang sangat pokok, yaitu adanya orbit untuk bulan dan untuk matahari; dan isyarat tentang berpindah-pindahnya benda-benda tersebut dalam angkasa (space) dengan gerakan khusus. Di samping itu ada suatu hal negatif yang nampak dalam pembicaraan ayat-ayat tersebut; diterangkan bahwa matahari pindah diatas orbit, tetapi orbit itu tidak diterangkan hubungannya dengan bumi.

Pada waktu Al-Qur’an diwahyukan, manusia mengira bahwa matahari pindah tempat bersama dengan bumi seperti keduanya terikat satu dengan lainnya, gambaran itu adalah sistem geocentrisme yang tersiar semenjak Ptolomeus pada abad II SM, dan tetap dianut orang sampai munculnya Copernicus pada abad XVI.

Konsepsi Ptolomeus yang diterima orang pada zaman Nabi Muhammad, tak tersebut dalam Al-Qur’an, baik dalam ayat ini atau ayat lainnya ADANYA ORBIT BAGI BULAN DAN MATAHARI. Yang diterjemahkan dengan “orbit” adalah kata bahasa Arab “Falak.”

Banyak penterjemah Perancis mengartikannya sebagai: Sphere, memang itu arti dasar. Dr. Hamidullah menterjemahkan dengan “orbit.” Kata tersebut telah menimbulkan kesulitan kepada ahli tafsir Al-Qur’an pada zaman dahulu, karena mereka itu tidak dapat menggambarkan perputaran bulan dan matahari; oleh sebab itu mereka mempunyai gambaran yang kurang tepat atau malah sama sekali salah tentang peredaran bulan dan matahari dalam angkasa.

Si Hamzah Boubekeur (seorang ulama Maroko) dalam terjemahan Al-Qur’an yang ia lakukan menyebutkan bermacam-macam tafsiran tentang falak seperti semacam axis (poros) seperti batang dari besi dan suatu kitiran berkeliling sekitarnya; sphere samawi, orbit, alamat zodiak, kecepatan, gelombang… selanjutnya ia menambahkan kata-kata ahli tafsir yang masyhur yaitu al Tabari dari abad X-XI; “Kita harus tutup mulut jika kita tidak tahu.”

Hal tersebut menunjukkan bahwa pada waktu itu manusia belum dapat mengerti arti: orbit, daripada matahari dan bulan. Sudah tentu, jika kata “Falak” itu menunjukkan sesuatu tentang astronomi pada zaman Nabi Muhammad, penafsiran ayat-ayat tersebut tidak akan menimbulkan kesulitan. Hal tersebut berarti bahwa dalam Al-Qur’an terdapat idea-idea baru yang baru beberapa abad kemudian menjadi jelas.

1. ORBIT UNTUK BULAN

Pada zaman kita sekarang ini banyak orang sudah mengetahui bahwa bulan merupakan satelit bumi berputar keliling bumi setiap 29 hari. Tetapi perlu diadakan koreksi tentang kebulatan orbit oleh karena astronomi modern memberi excentriq*15 kepada orbit bumi dan orbit bulan. Karena itu maka jarak antara bumi dan bulan yang diperkirakan 384.000 km, itu hanya merupakan jarak pertengahan.

Diatas, kita telah melihat bahwa Al-Qur’an menonjolkan faedahnya mengamati gerak bulan untuk mengukur waktu, Surat 10 ayat 5:

Surat 10 ayat 5

Artinya: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Yunus: 5)

Pada ayat ini sering orang mengkritik sistem perhitungan yang dianggap kuno, dengan dalil tidak praktis dan tidak ilmiah jika dibandingkan dengan sistem yang didasarkan atas peredaran bumi disekitar matahari yang dapat kita lihat dengan jelas dalam penanggalan Yulius. Kritik tersebut memerlukan dua penjelasan:

  • Al-Qur’an, hampir 14 abad yang lalu, berbicara kepada penduduk Jazirah Arab yang biasa memakai perhitungan bulan, dan Al-Qur’an perlu berbicara dengan mereka dalam bahasa yang mereka pahami dan tidak mengacaukan kebiasaan mereka untuk mengukur tempat dan waktu, apalagi kebiasaan itu memang cukup memenuhi kebutuhan. Kita tahu bahwa penghuni-penghuni Sahara biasa mengamati langit dengan petunjuk bintang-bintang atau mengetahui waktu dengan perantaraan tahap-tahap bulan, yaitu cara yang paling sederhana dan paling meyakinkan bagi mereka.
  • Jika kita kesampingkan para spesialis dalam hal ini, kita dapat mengatakan bahwa pada umumnya orang tidak mengetahui persesuaian yang sempurna antara kalender Yulius dan kalender Bulan, 235 bulan lunar (perhitungan bulan) sama dengan 19 th. Yulius yang terdiri daripada 365.25 hari; lamanya tahun kita yakni 365 hari tidak benar betul, karena ia memerlukan koreksi setiap 4 th. (tahun kabisat). Dengan mempergunakan kalender Bulan/Komariah, segala sesuatu terulang tiap 19 tahun kalender Yulius. Ini namanya Cyclus Meton. Meton adalah seorang astronom Yunani yang pada abad V S.M., menemukan persesuaian total antara kalender Matahari dengan kalender Bulan.

2. MENGENAI MATAHARI

Adanya orbit lebih sukar untuk diamati oleh karena kita terbiasa menganggap bahwa sistem matahari diatur disekitar matahari. Untuk memahami ayat Al-Qur’an, kita harus menyelidiki situasi matahari dalam galaksi kita dan menggunakan hasil-hasil yang berkaitan dengan Sains modern. Galaksi kita memuat jumlah yang sangat besar terkait bintang-bintang yang dibagi menurut suatu disk (bundaran/cakram) yang tengahnya lebih tebal daripada pinggirnya, dan matahari menduduki tempat yang jauh dari suatu pusat disk tersebut.

Oleh karena galaksi berputar sendiri dengan axis sebagai pusatnya, maka matahari itu beredar sekitar pusat tersebut menurut orbit putaran. Astronomi modern sudah dapat menghitung beberapa perincian.

Pada tahun 1917 Shapley telah mengatakan bahwa jarak antara matahari dan pusat galaksi adalah 10 kiloparsecs; ini berarti dalam kilometer angka 3 ditambah dengan 17 nol. Untuk memutari dirinya sendiri, galaksi dan matahari memerlukan 250 miliun tahun, dan dalam gerak ini matahari bergeser dengan kecepatan 250 kilometer tiap detik, itulah gerakan orbit matahan yang disebutkan oleh Al-Qur’an 14 abad yang lalu, adanya orbit serta bintang-bintang di dalamnya telah dibuktikan kebenarannya oleh Astronomi modern.

Petunjuk kepada pergeseran Bulan dan Matahari dalam Angkasa (Space) dengan Gerak Pribadi.

Soal ini tidak disinggung dalam terjemahan-terjemahan Al-Qur’an yang dilakukan oleh ahli-ahli sastra, karena mereka tidak mengerti astronomi, mereka menterjemahkan kata bahasa Arab yang menunjukkan pergeseran dengan salah satu arti kata tersebut, yaitu berenang. Hal ini terjadi dalam terjemahan Perancis dan dalam terjemahan Inggeris yang sangat populer yaitu terjemahan Yusuf Ali. Kata bahasa Arab yang menunjukkan pergeseran dengan gerak pribadi adalah kata kerja sabaha (yasbahuna dalam kedua ayat); arti kata kerja itu mengandung pergeseran dengan gerak pribadi dari benda yang bergeser.

Hal itu dinamakan “berenang” jika terjadi dalam air, dan dinamakan bergeser dengan gerakan anggotanya jika pergeseran itu terjadi di atas bumi. Untuk pergeseran dalam angkasa, orang tidak dapat menunjukkan maksud tersebut kecuali dengan memakai arti yang asli.

Dengan cara ini, rasanya tidak ada kekeliruan, karena pertimbangan-pertimbangan berikut:

Bulan berputar sekitar dirinya sendiri dalam waktu ia melakukan edaran sekitar bumi, kira-kira 29.5 hari, sehingga ia menunjukkan wajah yang sama kepada penglihatan kita.

Matahari beredar sekitar dirinya sendiri dalam waktu kira-kira 25 hari. Terdapat keistimewaan edaran untuk khatulistiwa dan kutub-kutub. Kita tak akan membicarakan perincian ini, akan tetapi bintang itu pada umumnya mengandung gerak edar.

Jadi jelas bagi kita bahwa Al-Qur’an terdapat nuansa kata kerja yang menunjukkan gerak pribadi daripada matahari dan bulan. Gerak daripada dua benda samawi telah dibuktikan adanya oleh hasil-hasil Sains modern, dan kita tidak dapat mengerti bagaimana seorang yang hidup pada abad VII M., dapat mengetahuinya, walaupun orang itu yang pandai pada waktunya, dan sudah terang Muhammad bukan orang yang paling pandai.

Kadang-kadang orang membandingkan berita Al-Qur’an yang dikuatkan oleh Sains modern dengan contoh-contoh ahli pikir zaman kuno yang mengumumkan fakta-fakta yang kemudian diakui kebenarannya oleh Sains.

Mereka tidak dapat sampai kepada fakta-fakta itu dengan jalan deduksi; mereka itu memakai cara berpikir filsafat, sebagai contoh mereka menyebutkan pengikut-pengikut Pythagoras yang pada abad VI S.M., yang mempertahankan teori peredaran bumi di sekitar dirinya sendiri dan gerak planet memutari matahari; Sains modern membenarkan teori tersebut.

Jika kita mengikuti kasus para pengikut Pythagoras, menjadi mudahlah bagi kita untuk mengatakan suatu hipotesa bahwa Muhammad adalah seorang ahli pikir yang istimewa, yang dengan dirinya sendiri dapat mengkhayalkan hal-hal yang kemudian diungkapkan oleh Sains modern beberapa abad sesudahnya. Jika kita berbuat begitu, kita lupa menyebutkan aspek-aspek lain tentang hasil-hasil pemikiran para filsuf itu dan lupa pula menyebutkan kekeliruan-kekeliruan besar terdapat dalam karya-karya mereka, misalnya saja, para pengikut Pythagoras mempertahankan teori yang mengatakan bahwa matahari tetap (tidak bergerak) dalam angkasa, bahwa matahari adalah pusat alam dan tak ada organisasi samawi sekelilingnya.

Sudah menjadi kebiasaan untuk menemukan pada filsuf-filsuf besar di zaman kuno itu suatu campuran daripada pendapat yang benar dan pendapat yang salah tentang kosmos. Hendaknya gemerlapan yang diberikan oleh konsep-konsep yang sangat maju kepada karangan-karangan manusia itu jangan sampai pula melupakan kita kepada konsep-konsep yang salah yang juga diwariskan oleh mereka.

Di sinilah perbedaan antara karangan-karangan para filsuf tersebut dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an menyebutkan bermacam-macam persoalan yang sesuai dengan ilmu pengetahuan modern, dan sama sekali tidak mengandung hal yang bertentangan dengan Sains yang sudah diakui kebenarannya pada waktu ini.

URUTAN-URUTAN ANTARA SIANG DAN MALAM

Pada waktu manusia menganggap bahwa bumi itu pusat alam dan matahari itu bergerak di sekitar bumi, siapa yang tidak menyebutkan matahari dalam membicarakan urut-urutan antara siang dan malam?, tetapi hal semacam itu tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an membicarakan urut-urutan siang dan malam sebagai berikut:

Surat 7 ayat 54:

Surat 7 ayat 54
Artinya: Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. “Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat”, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. [Al A’raaf: 54]

Surat 36 ayat 37:

36_37

Artinya: “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam. Kami tanggalkan siang dan malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.” [Yaa Siin :37]

Surat 31 ayat 29
Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam kedalam siang dan memasukkan siang kedalam malam, dan Ia mudahkan (perjalanan) matahari dan bulan? Tiap-tiap suatu berjalan hingga satu tempat yang ditentukan …”  [QS. 31. Luqman: 29]

Surat 39 ayat 5:

Surat 39 ayat 5
Artinya: “Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam.” [Az Zumar: 5]

Ayat pertama tidak memerlukan penjelasan. Ayat kedua hanya memberi gambaran. Ayat ketiga dan keempat dapat menarik perhatian tentang penggulungan malam kepada siang dan penggulungan siang kepada malam. Penggulungan (enrouler, bahasa Perancis) seperti terdapat dalam terjemahan R. Blachete nampaknya melupakan terjemahan yang paling baik untuk kata kerja bahasa Arab “kawwara. ” Arti dasar daripada kata kerja itu ialah rnenggulung serban berbundar-bundar di atas kepala. Dalam kata lain, arti menggulung itu tetap ada.

Apakah yang sesungguhnya terjadi di angkasa? Seperti yang telah dilihat dan diambil fotonya oleh astronout-astronout Amerika dari pesawat luar angkasa mereka, jauh daripada bumi, mulai daripada bulan umpamanya, matahari itu menyinari secara terus menerus (kecuali dalam keadaan gerhana). Separo bumi yang berhadapan dengannya, sedangkan yang separo lagi dalam kegelapan. Bumi berputar sekitar dirinya sendiri dan pada waktu itu pancaran sinar tetap berlangsung; satu bagian (zone) yang diterangi dan merupakan separo bumi melakukan putaran sekeliling bumi selama 24 jam, sedang yang separo lagi yang dalam gelap menyelesaikan perputaran pada waktu yang sama.

Perputaran yang terus menerus antara siang dan malam dilukiskan dalam Al-Qur’an secara sempurna. Hal ini sekarang dengan mudah dapat dimengerti manusia oleh karena kita mempunyai ide tentang “diam” (fixedness)nya matahari yang relatif serta ide tentang peredaran bumi. Proses penggulungan yang terus-menerus, dengan penetrasi (masuk) yang juga secara terus menerus, dari satu bagian ke bagian yang lain telah digambarkan oleh Al-Qur’an, seakan-akan pada waktu Al-Qur’an diwahyukan orang sudah mengetahui bahwa bumi itu bulat.

Pada hakekatnya, pada waktu itu manusia belum mengetahui hal tersebut. Kita perlu memberi tambahan terhadap pemikiran tentang urut-urutan siang dan malam. Tambahan itu ialah bahwa beberapa ayat Al-Qur’an menyebutkan beberapa timur dan barat. Hal ini adalah sekedar diskriptif, oleh karena fenomena ini dapat dilihat dari pengamatan yang sederhana. Hal tersebut saya cantumkan di sini dengan maksud untuk menunjukkan apa yang dikandung oleh Al-Qur’an selengkap mungkin, umpamanya, dalam Surat 70 ayat 40:

Surat 70 ayat 40
Artinya: “Aku bersumpah dengan Tuhan yang memiliki timur dan barat.”[Al Ma´aarij: 40]

dan Surat 55 ayat 17:

Surat 55 ayat 17
Arinya: “Tuhan dua timur dan dua barat.” [Ar Rahmaan: 17]

Dalam surat 43 ayat 38, jarak dua timur menunjukkan jarak yang sangat besar antara dua tempat. Orang yang mengamati terbit dan terbenamnya matahari mengetahui benar bahwa matahari terbit pada beberapa tempat-tempat yang berlainan di timur, dan terbenam di beberapa tempat yang berlainan di barat menurut musim.

Tanda-tanda yang diambil dari beberapa ufuk (horizon) menunjukkan titik-titik yang paling berjauhan yang menunjukkan dua timur dan dua barat dan di antara tempat-tempat itu terdapat-titik-titik pertengahan sepanjang tahun. Fenomena yang disebutkan di sini dapat dikatakan tidak penting, tetapi yang perlu diperhatikan adalah mengenai soal-soal lain yang dibahas dalam fasal ini, dimana didalamnya fenomena-fenomena astronomi yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah sesuai dengan pengetahuan modern.

Untuk mengetahui secara lengkap baca: Rotasi dan Revolusi Bumi dalam Al-Qur’an


re-Edited by Mediatama Computer Sumedang 
Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: