RSS

Kata Pengantar

Bagian 1

Masing-masing dari tiga agama Samawi mempunyai kumpulan kitab yang khusus. Dokumen-dokumen itu merupakan dasar kepercayaan tiap penganut agama itu, baik ia orang Yahudi, orang Kristen atau orang Islam. Dokumen-dokumen tersebut bagi mereka itu merupakan penjelmaan material yang berisikan wahyu Ilahi, juga bersifat wahyu langsung seperti yang diterima oleh Nabi Ibrahim atau Nabi Musa, atau merupakan wahyu yang tidak langsung seperti dalam hal Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Nabi Isa berkata atas nama Bapa dan Nabi Muhammad menyampaikan kepada seluruh manusia wahyu-wahyu Tuhan yang ia terima dengan perantaraan malaikat Jibril.

Untuk membicarakan sejarah Agama, saya mengambil sikap untuk menempatkan Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan Al-Qur’an dalam tempat yang sejajar sebagai wahyu tertulis. Sikap saya tersebut yang pada prinsipnya dapat disetujui oleh umat Islam namun tidak diterima oleh pengikut agama di negeri-negeri Barat yang terpengaruh oleh agama Yahudi dan Kristen, karena mereka itu tidak mengakui Al-Qur’an sebagai suatu kitab yang diwahyukan. Sikap tersebut nampak dalam masing-masing kelompok jika menghadapi kedua agama lainnya, dalam soal Kitab Suci.

Kitab Sucinya agama Yahudi adalah Bible Ibrani. Bible bahasa Ibrani ini berbeda daripada Perjanjian Lama yang ada pada agama Masehi dengan tambahan-tambahan fasal-fasal yang tak terdapat dalam bahasa Ibrani. Dari segi praktek, perbedaan ini tidak menyebabkan perubahan dalam aqidah. Akan tetapi orang-orang Yahudi tidak percaya kepada adanya sesuatu wahyu setelah kitab suci mereka.

Agama Masehi menerima Bible Ibrani dengan menambahkan beberapa tambahan. Akan tetapi tidak dapat menerima segala sesuatu yang termuat di dalamnya untuk membuktikan kenabian Isa. Gereja Masehi telah melakukan potongan-potongan yang sangat penting dalam fasal-fasal yang mengenai kehidupan Isa/Yesus serta ajaran-ajarannya. Gereja Masehi tidak memasukkan dalam Perjanjian Baru kecuali tulisan-tulisan yang sangat terbatas jumlahnya, yang terpenting ialah Injil yang empat. Agama Masehi tidak menganggap adanya wahyu yang turun sesudah Yesus dan sahabatnya. Dengan begitu mereka tidak mengakui Al-Qur’an.

Enam abad setelah Nabi Isa, Al-Qur’an sebagai wahyu terakhir, banyak menyebutkan Bible Ibrani serta Bible. Al-Qur’an sering menyebut Torah*1 dan Injil. Al-Qur’an mewajibkan kepada semua orang muslim untuk percaya kepada kitab-kitab sebelumnya (surat 4 ayat 136). Al-Qur’an menonjolkan kedudukan tinggi para Rasul dalam sejarah Wahyu, seperti Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan para Nabi Bani Israil, dan juga kepada Nabi Isa (Yesus) yang mempunyai kedudukan istimewa di antara mereka. Kelahiran Yesus telah dilukiskan dalam Al-Qur’an sebagai suatu kejadian ajaib (supernatural) seperti juga dilukiskan oleh Bible. Al-Qur’an menyebutkan Maryam secara istimewa. Bukankah surat no. 19 dalam Al-Qur’an bernama surat Maryam?

Perlu saya nyatakan bahwa hal-hal yang mengenai Islam pada umumnya tak diketahui orang di negeri-negeri Barat. Hal ini tidak mengherankan jika kita mengingat bagaimana generasi-generasi diberi pelajaran agama dan bagaimana selama itu mereka terbelenggu dalam ketidak-tahuan mengenai Islam. Pemakaian kata-kata “religion Mahometane” (Mohamedanism) dan Mahometans (Mohamedans) sampai sekarang masih sering dipakai, untuk memelihara suatu anggapan yang salah yakni bakwa Islam adalah kepercayaan yang disiarkan oleh seorang manusia, dan dalam Islam itu tak ada tempat bagi Tuhan (sebagaimana yang difahamkan oleh kaum Masehi).

Banyak kaum terpelajar zaman sekarang yang tertarik oleh aspek-aspek Islam mengenai filsafah kehidupan, kemasyarakatan atau ketatanegaraan, tetapi mereka tidak menyelidiki lebih lanjut bagaimana dalam mengetahui aspek-aspek itu sesungguhnya, yang bersumber dari wahyu yang diberikan kepada Islam . Biasanya orang bertitik tolak dari anggapan bahwa Mohammad bersandar kepada wahyu-wahyu yang diterima nabi-nabi sebelum dia sendiri, dengan begitu mereka ingin mengelak dari mempersoalkan “wahyu.”

Orang-orang Islam selalu dianggap remeh oleh golongan tertentu dalam umat Kristen. Saya mempunyai pengalaman dalam hal ini, ketika saya berusaha mengadakan dialog untuk penelitian perbandingan antara teks Bible dan teks Al-Qur’an mengenai sesuatu masalah; saya selalu disambut dengan penolakan untuk menyelidiki sesuatu yang mungkin diungkapkan oleh Al-Qur’an tentang hal tersebut. Hal seperti ini seakan-akan berarti menganggap bahwa Al-Qur’an itu ada hubungannya dengan Syaitan.

Pada akhir-akhir ini telah terjadi perubahan besar dalam tingkat tertinggi daripada Dunia Kristen. Setelah konsili Vatican II (1963-1965), sekretariat Vatican (Departemen) untuk urusan-urusan dengan umat bukan Kristen, menyiarkan Dokumen “Orientasi untuk dialog antara umat Kristen dan umat Islam;” cetakan ketiga terbit pada tahun 1972. Dokumen tersebut menunjukkan pergantian sikap yang mendalam secara resmi, mula-mula Dokumen tersebut mengajak untuk melempar jauh image yang diperoleh umat Kristen tentang Islam yaitu image usang yang telah diwarisi dari masa silam atau image yang salah karena didasarkan prasangka dan fitnahan. Kemudian Dokumen tersebut mengakui terjadinya ketidak adilan pada masa lalu, yaitu “ketidak adilan yang dilakukan oleh Pendidikan Kristen tethadap umat Islam” diantaranya mengenai gambaran umat Kristen yang salah tentang fatalisme Islam, juridisme Islam, fanatisme dan lain-lain.

Dokumen tersebut menegaskan kesatuan akan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Serta menyebutkan bahwa Kardinal Koenig telah membuat para pendengarnya tercengang ketika dalam suatu ceramah resmi di Universitas Al Azhar pada bulan Maret 1969 menerangkan hal tersebut. Dokumen tersebut juga mengatakan bahwa sekretariat (Departemen) urusan non-Kristen mengajak umat Kristen pada tahun 1967 untuk mengucapkan selamat kepada umat Islam sehubungan dengan bulan puasa Ramadhan “sesuatu nilai agama yang autentik”.

Usaha-usaha untuk pendekatan antara Vatican dan Islam telah diikuti dengan bermacam-macam manifestasi dan pertemuan yang konkrit. Tetapi hal-hal tersebut sangat sedikit yang mengetahuinya di negara Barat walaupun banyak terdapat mass media seperti: pers, radio dan televisi.

Surat-surat kabar menyiarkan tentang kunjungan Kardinal Pignedoli, Ketua Departemen urusan bukan Kristen kepada Baginda (almarhum) raja Faisal dari Saudi Arabia, pada tanggal 24 April 1974. Harian Le Monde (Dunia) tanggal 25 April 1974 hanya memuat berita itu dalam beberapa baris. Tetapi berita tersebut adalah penting karena Kardinal Pignedoli menyampaikan kepada Sri Baginda tentang pesan dari Paus Paulus VI yang berisi: rasa hormat Paus Paulus VI, yang diiringi dengan keyakinan yang mendalam tentang kesatuan Dunia Islam dan Dunia Kristen yang kedua-duanya menyembah Tuhan yang Satu.

Enam bulan kemudian pada bulan Oktober 1974, Paus Paulus VI secara resmi menerima ulama-ulama Saudi Arabia di Vatican. Pada waktu itu juga diadakan diskusi antara pihak Islam dan pihak Kristen mengenai: Hak-hak manusia dalam Islam. Surat kabar Vatican L’observatore Romano yang terbit pada tanggal 26 Oktober 1974 memuat berita diskusi tersebut pada halaman pertama. Berita-berita tersebut ditempatkan sebagai hot Head-Line utamanya daripada surat-kabar tentang penutupan sidang Synode uskup-uskup di Roma.

Ulama-ulama Arabia kemudian mengunjungi Majelis Ekumeni Gereja di Geneva dan diterima oleh Monsigneur Elchenger, uskup Strasburg yang kemudian meminta kepada mereka untuk sembahyang dzuhur di Kathedral. Hal tersebut saya sajikan karena luar biasa dan karena artinya yang besar. Tetapi meskipun begitu, sedikit sekali orang yang saya tanya dapat mengerti akan hal makna daripada kejadian-kejadian tersebut.

Sikap keterbukaan terhadap Islam yang diperlihatkan oleh Paus Paulus VI yang pernah berkata, dijiwai dengan kepercayaan penuh tentang kesatuan Dunia Islam dan Kristen yang menyembah Tuhan Yang Satu, akan membuka halaman baru dalam hubungan kedua agama. Mengingat sikap Kepala Gereja Katolik terhadap umat Islam adalah perlu sekali, karena banyak orang Kristen terpelajar masih berpikir seperti yang dilukiskan oleh Dokumen Orientasi untuk Dialog antara umat Kristen dan umat Islam dan tetap menolak menyelidiki ajaran-ajaran Islam. Dan karena ulah sikap tersebutlah mereka tetap tidak memahami realitas dan tetap berpegangan kepada ide yang sangat salah mengenai Wahyu Islam.

Bagaimanapun juga adalah sangat wajar jika seseorang mempelajari aspek wahyu dalam suatu agama Samawi, ia akan mengadakan perbandingan dengan dua agama lainnya mengenai persoalan yang sama. Sesuatu penyelidikan tentang sekelompok masalah-masalah lebih menarik daripada penyelidikan tentang hanya sesuatu masalah. Oleh karena itu konfrontasi dengan hasil-hasil penemuan ilmu pengetahuan abad XX mengenai masalah-masalah yang tersebut dalam kitab suci, adalah penting bagi ketiga agama itu. Bukankah lebih baik jika ketiga agama itu merupakan suatu blok yang kompak dalam menghadapi bahaya materialisme yang mengancam Dunia. Dewasa ini, di kalangan-kalangan ilmu pengetahuan, baik di negeri-negeri yang dibawah pengaruh agama Yahudi Kristen (Barat) maupun di negeri-negeri Islam banyak orang berpendapat bahwa agama dan Sains tak dapat disesuaikan. Untuk membicarakan soal ini, agama dan ilmu, perlu pembahasan yang sangat luas. Akan tetapi saya hanya akan membicarakan satu aspek yaitu: penyelidikan tentang Kitab-kitab Suci dengan mempergunakan pengetahuan Sains modern.

Maksud tersebut mendorong untuk mengajukan suatu pertanyaan yang fundamental: Sampai dimana kita dapat menganggap teks kitab-kitab suci yang kita miliki itu autentik?. Soal ini mendorong kita untuk menyelidiki kejadian-kejadian yang terjadi sebelum pembukuan Kitab-kitab Suci tersebut yang akhirnya hasil kajiannya sampai juga kepada kita sekarang.

Bagian 2

Kritik teks, suatu ilmu yang telah dibagi-bagi dalam jurusan-jurusan telah berguna untuk membuka tabir tentang adanya persoalan-persoalan yang sangat penting, akan tetapi kita sering merasa sangat kecewa membaca buku-buku yang dinamakan kritik, tetapi yang nyatanya berhadapan dengan kesulitan-kesulitan penafsiran dan hanya dapat menyajikan argumentasi apologetik yang dimaksudkan untuk menutupi kejahilan pengarang. Dalam keadaan semacam ini, bagi orang yang tetap memelihara kekuatan berfikir dan secara obyektif, kontradiksi dan kesalahan akan tetap berkesan; ia akan menyesalkan sikap yang berlawanan dengan logika, untuk mempertahankan bagian-bagian yang mengandung kesalahan dalam Kitab Suci. Hal yang semacam ini sangat membahayakan keutuhan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi orang-orang yang terpelajar.

Bagaimanapun juga pengalaman menunjukkan bahwa walaupun sebagian orang dapat menunjukkan beberapa kesalahan semacam itu, namun mayoritas besar dari umat Kristen tidak tahu-menahu tentang adanya kesalah tersebut, dan tetap tidak mengetahui ketidaksesuaian-ketidaksesuaian kitab suci terhadap pengetahuan umum yang kadang-kadang bahkan bersifat elementer.

Islam mempunyai Hadits, dan Hadits ini dapat disamakan dengan Bible. Hadits adalah kumpulan kata-kata Nabi Muhammad serta riwayat tindakan-tindakannya. Bible adalah seperti Hadits dalam soal-soal yang menyikapi Yesus. Kumpulan yang pertama dari Hadits ditulis beberapa puluh tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad, sebagaimana Bible ditulis orang sesudah beberapa puluh tahun setelah Yesus wafat. Kedua-duanya, merupakan kesaksian manusia tentang kejadian-kejadian dalam waktu yang sudah lampau. Berlainan dari apa yang dikira oleh orang banyak, Injil empat (Matius, Lukas, Markus, Yahya) dikarang oleh orang-orang yang tidak menyaksikan kejadian-keiadian yang termuat dalam Bible tersebut. Keadaannya sama dengan kumpulan Hadits.

Perbandingan antara Hadits dan Bible harus berhenti disini, oleh karena jika kita membicarakan kebenaran Hadits ini atau Hadits itu, kita akan mirip kepada orang yang kembali kepada abad-abad pertama dari Gereja, di mana orang hanya mampu menentukan Injil empat walaupun di antara empat itu terdapat kontradiksi dalam beberapa persoalan. Adapun Injil-Injil yang ada pada waktu itu harus disembunyikan, itulah sebabnya maka Injil-Injil selain yang empat itu dinamakan Injil apokrif yakni yang tersembunyi.

Ada lagi perbedaan yang fundamental antara Kitab Suci dalam agama Masehi dan dalam Islam yaitu bahwa agama Masehi tidak mempunyai teks yang diwahyukan, jadi merupakan teks yang tetap, sedang Islam mempunyai Al-Qur’an yang memenuhi syarat wahyu dan tetap.

Al-Qur’an adalah penjelmaan wahyu yang diterima oleh Muhammad dari Tuhan dengan perantaraan Jibril. Setelah ditulis, dan dihafal, Al-Qur’an dibaca oleh kaum muslimin di waktu sembahyang dan khususnya pada bulan Ramadhan. Al-Qur’an dibagi-bagi dalam bentuk surat-surat oleh Nabi Muhammad sendiri. Setelah Nabi Muhammad meninggal, pada zaman Khalifah Usman (tahun 12-14 setelah wafatnya Nabi Muhammad) Al-Qur’an dibukukan sehingga menjadi seperti yang kita lihat sekarang.

Berbeda sekali dengan apa yang terjadi dalam Islam, wahyu (Kitab Suci) Kristen didasarkan atas kesaksian-kesaksian manusia yang bermacam-macam dan tidak langsung. Orang Kristen tidak mempunyai kesaksian dari seorang saksi hidup dari zaman Yesus, kendatipun demikian banyak sekali orang Kristen tak mengetahui hal ini. Dengan begitu maka timbullah soal kebenaran (autentitas) teks kitab suci Kristen dan teks kitab suci Islam.

Di samping hal tersebut di atas, konfrontasi antara teks Kitab Suci Kristen dengan penemuan-penemuan ilmiah selalu menjadi bahan pemikiran manusia. Mula-mula orang berpendirian bahwa keserasian antara Kitab Suci (Bible) dan Sains merupakan unsur yang pokok dalam kebenaran (autentitas) teks Kitab Suci. Santo Agustinus dalam suratnya no. 82 yang akan kami muat nanti, telah menetapkan prinsip tersebut secara formal. Kemudian, setelah Sains berkembang, terasa adanya perbedaan-perbedaan antara Bibel dan Sains dan pemimpin-pemimpin agama Kristen tidak mengadakan lagi pendekatan antara keduanya. Dengan begitu maka timbullah suatu situasi yang berbahaya dan pada waktu ini berhadapanlah ahli Bibel dan para ahli Sains. Sesungguhnya tak mungkin orang mengatakan bahwa wahyu Illahi dapat menyebutkan sesuatu hal yang secara ilmiah sudah dibuktikan keliru. Hanya ada satu jalan untuk penyesuaian logis, yaitu dengan mengatakan terus terang bahwa bagian-bagian dari Bible yang menyebutkan hal-hal yang tidak dapat diterima oleh Sains, harus dinyatakan salah. Tetapi pemecahan persoalan seperti tersebut tidak pernah dilakukan. Orang Kristen tetap berpegang teguh kepada kemurnian teks Bible, dan hal ini memaksakan ahli-ahfi tafsir Bible untuk mengambil sikap yang bertentangan dengan akal ilmiah.

Islam, seperti Santo Agustinus bersikap terhadap Bible, mengatakan bahwa antara teks Al-Qur’an dan fakta-fakta ilmiah selalu ada keserasian. Penyelidikan teks Al-Qur’an pada zaman modern tidak menunjukkan perlunya peninjauan baru tentang sikap tersebut. Al-Qur’an, sebagai nanti akan diterangkan secara terperinci, Al-Qur’an menyebutkan fakta-fakta yang banyak hubungannya dengan Sains, dan dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada masalah-masalah dalam Bible. Tak ada perbandingan antara jumlah terbatas daripada sikap Bible mengenai pengetahuan dengan jumlah yang besar daripada soal-soal ilmiah yang tersebut dalam Al-Quran. Tidak ada soal-soal yang tersebut dalam Al-Qur’an yang dapat dibohongkan oleh Sains. Inilah hasil yang pokok dari penyelidikan ini.

Di lain pihak pembaca akan mendapatkan pada akhir buku ini bahwa mengenai kumpulan sabda-sabda Nabi (hadits) yang bukan merupakan teks wahyu Al-Qur’an, keadaannya agak berlainan, karena beberapa hadits tertentu tak dapat diterima menurut Sains. Hadits-hadits semacam itu telah diselidiki menurut prinsip-prinsip Al-Qur’an yang menganjurkan pemakaian fakta dan akal dan sebagai hasil penyelidikan ini, beberapa Hadits telah dinyatakan tidak autentik (tidak benar).

Pemikiran tentang ciri-ciri yang dapat diterima atau ditolak secara ilmiah mengenai teks Kitab Suci, memerlukan suatu penjelasan. Jika kita bicara tentang hasil ilmiah, kita maksudkan hanya hal-hal yang sudah dinyatakan secara definitif. Dengan begitu kita harus menjauhkan teori-teori explicatif (teori-teori penafsiran) yang berfaedah untuk memberi penjelasan tentang sesuatu fenomena, tetapi yang mungkin sebentar lagi terpaksa dihapuskan dan diganti dengan teori lainnya yang lebih sesuai dengan perkembangan ilmiah. Yang saya selidiki di sini adalah fakta-fakta yang tak dapat dikembalikan kepada masa sebelumnya, walaupun Sains hanya memberi penjelasan yang kurang sempurna, tetapi cukup kuat dan tidak mengandung resiko kesalahan.

Umpamanya, kita tidak tahu kapan manusia mulai hidup di atas bumi ini, walaupun secara kira-kira; tetapi kemudian telah ditemukan bekas-bekas pekerjaan manusia yang oleh ilmu pengetahuan dianggap secara pasti telah terjadi 10 ribu tahun sebelum lahirnya Yesus. Atas dasar tersebut maka kita tidak dapat menerima pernyataan Bible bahwa asal manusia (penciptaan Adam) adalah pada abad ke 37 sebelum Yesus sebagaimana yang disebutkan oleh Perjanjian Lama (Kitab Kejadian). Mungkin dikemudian hari Sains dapat menentukan secara lebih pasti dari pengetahuan kita sekarang, akan tetapi kita sudah yakin dari sekarang bahwa tidak mungkin orang membuktikan bahwa manusia sudah berada di bumi semenjak 5736 tahun seperti yang dikatakan oleh Perjanjian Lama. Dengan begitu maka keterangan Bible tentang umurnya jenis manusia sudah terang salah.

Konfrontasi dengan Sains tidak akan menyinggung soal-soal yang semata-mata bersifat keagamaan. Jadi Sains tak akan dapat menjelaskan cara bagaimana Tuhan menampakkan kehadiranNya kepada Nabi Musa, atau menjelaskan rahasia yang mengelilingi kelahiran Nabi Isa dengan tak mempunyai Bapak alamiah. Mengenai hal-hal tersebut Kitab-kitab Suci juga tidak memberi penjelasan.

Penyelidikan dalam buku ini adalah mengenai kejadian-kejadian alamiah bermacam-macam yang tersebut dalam kitab-kitab Suci dan disertai dengan tafsiran-tatsiran bermacam-macam pula. Dalam hal ini perlu kita perhatikan kekayaan yang melimpah yang terkandung dalam Al-Qur’an dan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengenai hal yang sama.

Saya menyelidiki keserasian teks Al-Qur’an dengan Sains modern secara obyektif dan tanpa prasangka. Mula-mula, saya mengerti, dengan membaca terjemahan, bahwa Al-Qur’an menyebutkan bermacam-macam fenomena alamiah, tetapi dengan membaca terjemahan itu saya hanya memperoleh pengetahuan yang samar (ringkas). Dengan membaca teks Arab secara teliti sekali saya dapat mengadakan inventarisasi yang membuktikan bakwa Al-Qur’an tidak mengandung sesuatu pernyataan yang dapat dikritik dari segi pandangan ilmiah di zaman modern ini.

Saya telah melakukan penyelidikan yang sama terhadap Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mengenai Perjanjian Lama saya tak perlu menyelidiki lebih jauh dari Kitab Kejadian untuk mendapatkan pernyataan-pernyataan; yang tak dapat disesuaikan dengan hal-hal yang sudah ditetapkan secara pasti oleh Sains di zaman sekarang.

Mengenai Bible (Perjanjian Baru), dengan membaca genealogi (silsilah keturunan) Yesus yang terdapat dalam halaman pertama, saya telah terjerumus dalam persoalan yang sangat serius, karena teks Injil Matius dalam hal ini sangat kontradiksi dengan Injil Lukas, dan Injil Lukas menunjukkan ketidakserasian dengan ilmu pengetahuan modern mengenai asal mula manusia di atas bumi.

Adanya kontradiksi, ketidak serasian ini, saya kira tidak akan merubah kepercayaan kepada adanya Tuhan, karena hal-hal tersebut hanya mengenai tulisan-tulisan manusia. Tak ada orang yang dapat menerangkan bagaimana teks yang asli dan yang mana yang merupakan redaksi yang aneh dan yang mana yang merupakan perubahan yang dimasukkan dengan sengaja atau yang mana yang merupakan perubahan yang tidak disengaja.

Yang sangat menarik perhatian pada waktu sekarang, adalah bahwa menghadapi kontradiksi dan ketidakserasian dengan hasil Sains, para ahli penyelidikan Bible ada yang pura-pura tidak mengetahuinya dan ada pula yang mengetahui kesalahan-kesalahan itu; akan tetapi berusaha untuk menutupinya dengan akrobatik dialektik (permainan kata-kata).

Mengenai Injil Matius dan Injil Yahya saya akan memberi contoh tentang cara-cara apologetik yang diberikan oleh ahli-ahli tafsir Bible yang ternama. Cara-cara menutupi (camuflase) kesalahan atau kontradiksi dengan menamakannya secara halus “kesukaran” biasanya dapat berhasil, dan ini menunjukkan bahwa terlalu banyak orang Kristen yang tidak mengetahui kesalahan-kesalahan yang serius dalam beberapa bagian dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Para pembaca akan mendapatkan contoh-contoh yang tepat dalam bagian pertama dan kedua dalam buku ini!.

Dalam bagian ketiga, pembaca akan mendapatkan contoh aplikasi Sains dalam menyelidiki Kitab Suci, bantuan dari ilmu pengetahuan modern untuk lebih memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang sampai sekarang masih jadi teka-teki atau masih belum dapat difahami. Hal ini tak perlu mengherankan karena dalam Islam, agama dan sains selalu dianggap sebagai saudara kembar. Dari semula, mempelajari Sains merupakan bagian dari kewajiban keagamaan, Aplikasi ajaran ini telah menghasilkan kekayaan ilmiah yang melimpah pada zaman perkembangan kebudayaan Islam, yang juga telah menjadi sumber bagi Barat pada zaman sebelum renaissance.

Pada zaman sekarang kemajuan yang diperoleh oleh manusia karena Sains dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang selama ini tak dimengerti atau disalah-tafsirkan, merupakan puncak daripada konfrontasi antara Kitab Suci dengan Sains.

bucaile-iconBIBEL, Al-Qur’an, dan Sains Modern: Dr. Maurice Bucaille,
Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science,
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi,
Penerbit Bulan Bintang, 
1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta.

Catatan:
1. Yang dimaksud dengan Torah ialah kitab-kitab lima yang pertama dalam Bibel yaitu: Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat orang Levi, Kitab Bilangan dan Kitab Ulangan.
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: