RSS

Konfrontasi Riwayat

Konfrontasi Riwayat Kitab Suci
dengan Pengetahuan Modern

Riwayat Al-Qur’an dan Bible mengenai menetapnya Bani Israil di Mesir dan keluarnya mereka dari negeri tersebut merupakan aspek-aspek yang dapat dijadikan bahan konfrontasi dengan pengetahuan baru walaupun dengan proporsi yang tidak sama, karena adanya aspek-aspek yang menimbulkan bermacam-macam problema, dan ada aspek-aspek yang tidak menjadi  perbincangan.

1. PENYELIDIKAN TENTANG PERINCI RIWAYAT-RIWAYAT
ORANG YAHUDI DI MESIR

Dengan tidak mengandung resiko kesalahan, dan sesuai dengan yang tersebut dalam Bible (Kejadian 15, 13 dan Keluaran 12, 40) kita dapat mengatakan bahwa orang-orang Yahudi menetap di Mesir selama 400 atau 430 tahun. Perbedaan antara Kejadian dan Keluaran tidak begitu penting karena hanya mengenai waktu 30 tahun; menetapnya kaum Yahudi di Mesir dimulai dengan kedatangan Yusuf anak Yakub dan saudara-saudara Yusuf ke negeri itu terjadi lama setelah zaman Ibrahim. Di samping Bible yang memuat riwayat yang saya sebutkan di atas,  Al-Qur’an juga menyebutkan perihal menetapnya Israil di Mesir dengan tidak memberi keterangan kronologi, kita sebagai manusia tidak mempunyai dokumen lain yang dapat memberi keterangan tentang hal ini selain merujuk pada kedua kitab suci tersebut.

Pada waktu ini, mulai dari P. Montet sampai Daniel-Rops, orang berpendapat bahwa kedatangan Yusuf dan keluarganya terjadi pada waktu yang sama dengan gerakan Hyksos berhijrah ke Mesir pada abad XVII S.M. Waktu itu, di Avaris ada seorang raja Hyksos yang menyambut kedatangan Yusuf dan saudara-saudaranya dengan baik.

Perkiraan tersebut bertentangan dengan Bible Kitab Raja-raja yang pertama (6, 1) yang mengatakan bahwa keluarnya Bani Israil dari Mesir terjadi 480 tahun sebelum pembangunan Candi/Haikal Sulaiman (± th. 971 S.M.). Jadi menurut perkiraan ini, exodus terjadi pada tahun 1450 S.M., dan masuknya Bani Israil ke Mesir terjadi kira-kira pada tahun 1850-1880. Akan tetapi orang sekarang memperkirakan bahwa Nabi Ibrahim hidup di sekitar waktu itu, dan antara Ibrahim dan Yusuf terdapat perbedaan waktu 250 tahun, menurut riwayat Bible. Maka paragraf daripada Kitab Raja-raja pertama dalam Bible secara kronologi tidak dapat diterima. Kita akan melihat bahwa teori yang kita pertahankan di sini tidak hanya bertentangan dengan teks yang tersebut dalam Kitab Raja-raja pertama, akan tetapi kekeliruan kronologi dalam teks Kitab Raja-raja pertama tersebut menghilangkan nilai teks tersebut sendiri.

Di luar hal-hal yang tersebut dalam Bible, bekas-bekas yang ditinggalkan oleh orang Yahudi di Mesir sangat kabur. Tetapi terdapat Dokumen hieroglyphik (bahasa Mesir Kuno) yang mengatakan bahwa di Mesir terdapat satu kelompok pekerja yang disebut Aperu atau Haperu atau Habiru yang banyak orang mengidentifikasikan dengan orang Ibrani, secara benar atau salah. Yang dimaksudkan dengan kelompok tersebut adalah pekerja-pekerja pembangunan, pekerja-pekerja pertanian, pembuat anggur dan lain-lain. Dari mana mereka itu datang? Sangat sulit untuk dijawab. Sebagaimana ditulis oleh R.P. de Vaux, mereka itu bukan penduduk asli, mereka tidak mempersatukan diri mereka dalam suatu kelompok masyarakat dan mereka tidak mempunyai pekerjaan atau kedudukan yang sama di antara mereka.

Di bawah pemerintahan Raja Tutmes III suatu dokumen papirus mengatakan bahwa mereka itu adalah pekerja untuk pemeliharaan kuda. Kita mengetahui bahwa Amenophis II pada abad XV S.M. telah mendatangkan mereka sebagai orang-orang hukuman dari Kan’an, karena mereka itu menurut R. P.de Vaux merupakan bagian penting daripada penduduk Syria Palestina.

Pada kira-kira tahun 1300 S.M., di bawah pemerintahan Sethi Pertama, orang-orang Aperu tersebut menimbulkan kekacauan di Kan’an, di daerah Beth-Shean. Di bawah Ramses II, mereka itu dipekerjakan sebagai pengangkut barang-barang atau tiang-tiang untuk pekerjaan pembangunan (seperti pylon atau bangunan monumen Ramses Miamon). Kita tahu pula dari Bible bahwa orang-orang Yahudi pada zaman pemerintahan Ramses membangun ibu kota utara, kota Ramses. Dalam buku-buku Mesir Kuno, terdapat pernyataan tentang Aperu pada abad XII, dan untuk yang terakhir pada zaman Ramses III.

Tetapi Aperu hanya disebutkan di Mesir; apakah istilah itu dapat dipakai khusus untuk menunjukkan orang Yahudi? Barangkali perlu kita ingat bahwa perkataan itu dapat berarti pekerja paksa, dengan tidak menunjukkan dari mana asalnya; jadi kata tersebut menunjukkan pekerjaan kelompok. Apakah kita tidak dapat membandingkan hal tersebut dengan kata: “Suisse” dalam bahasa Perancis yang berarti penduduk Switzerland, atau serdadu Swiss dalam kerajaan Perancis, atau pengawal Vatikan atau pegawai Gereja Kristen?

Bagaimanapun juga di bawah pemerintah Ramses II, orang-orang Yahudi (menurut Bible) atau Aperu (menurut teks hieroglyphik) mengambil bagian dalam pekerjaan-pekerjaan besar yang diperintahkan oleh Fir’aun dan yang dapat kita namakan, kerja paksa. Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Ramses II, adalah penindas orang-orang Yahudi. Kota-kota Ramses dan Pitom yang disebutkan dalam kitab Keluaran, dibangun pada bagian Timur Delta Nil. Desa Tanis dan Qantir sekarang, terpisah oleh jarak 25 kilometer antara satu dan lainnya, tepat pada tempat dua kilometer tersebut, yaitu Ibukota yang didirikan oleh Ramses II. Dan Ramses II ini adalah Fir’aun yang menindas Bani Israil.

Dalam konteks inilah Musa dilahirkan. Kita telah melihat dalam paragraf-paragraf sebelum ini kisah bagaimana ia diselamatkan daripada air sungai Nil. Nama Musa adalah nama Mesir. Dalam karangannya yang berjudul: Mesir dan Bible, P. Montet telah menunjukkan hal ini. Mesw atau Mesy terdapat dalam daftar kamus yang memuat nama-nama orang-orang dalam bahasa Mesir yang ditemukan oleh Ranke. Musa adalah nama tersebut ditulis dengan huruf Arab dalam Al-Qur’an.

PENDERITAAN MESIR

Dibawah nama penderitaan-penderitaan, Bible menyebutkan sepuluh hukuman yang ditimpakan oleh Tuhan dan memberikan perincian-perincian pada tiap-tiap penderitaan tersebut. Banyak daripada penderitaan-penderitaan itu yang mempunyai aspek adikodrati. Al-Qur’an hanya menyebutkan lima, yang sebenarnya hanya fenomena alamiah yang dibesar-besarkan, yaitu banjir, belalang, penyakit kulit, katak dan darah. Merajalelanya belalang dan katak disebutkan dalam Bible. Bible menyebutkan bahwa air sungai Nil dirubah menjadi darah yang membanjiri negeri; Al-Qur’an menyebutkan darah, tetapi tanpa perinci-perinci, jadi kita dapat membentuk hipotesa apa saja mengenai darah tersebut. Penderitaan-penderitaan lainnya, yaitu nyamuk, serangga, tumor kulit, butiran es, kegelapan dan matinya bayi yang dilahirkan pertama serta matinya binatang-binatang, yang disebutkan oleh Bible, berasal dari sumber-sumber yang bermacam-macam, seperti riwayat banjir yang dibentuk dengan campuran (selingan) dari dua sumber.

JALAN YANG DITEMPUH OLEH EXODUS

Al-Qur’an tidak menyebutkan sesuatu jalan, tetapi Bible menunjukkan satu jalan dengan pasti. R.P. de Vaux dan P. Montet, masing-masing telah mempelajari jalan itu. Permulaan Exodus ada di Tanis-Qantir, tetapi untuk seterusnya, tak terdapat bekas-bekas yang akan menguatkan riwayat Bible, sehingga orang tak dapat mengatakan di mana tempat lautan itu membelah dengan memungkinkan lewatnya kelompok Musa.

MUKJIZAT LAUTAN

Orang menggambarkan adanya air surut yang disebabkan oleh faktor astronomik, atau faktor sesmik (gempa) yang disebabkan oleh letusan gunung yang jauh. Mungkin orang-orang Yahudi mengambil kesempatan surutnya air laut, sedangkan orang-orang Mesir yang mengejar mereka telah dibinasakan oleh pulihnya keadaan air. Tetapi semua ini hanya hipotesa belaka.

2. PENEMPATAN EXODUS DALAM KRONOLOGI FIR’AUN

Untuk menentukan waktu terjadinya Exodus kita dapat sampai kepada hal-hal yang positif. Dari semenjak waktu yang sudah lama, orang mengatakan bahwa Meneptah pengganti Ramses II adalah Fir’aun Exodusnya Musa. Maspero seorang Perancis ahli ilmu sejarah Mesir pada permulaan abad XX, menulis pada tahun 1900 dalam karangannya: Petunjuk bagi pengunjung musium Cairo, bahwa “Meneptah, menurut dokumen-dokumen dari Iskandariyah adalah Fir’aunnya Exodus, yakni Fir’aun yang binasa di lautan merah.” Saya tidak dapat melihat dokumen yang oleh Maspero dijadikan dasar bagi pernyataannya, akan tetapi reputasi Maspero yang sangat serius mendorong kita untuk memberi nilai kepada apa yang dikatakan olehnya.

Selain P. Montet, sangat jarang ahli sejarah Mesir atau spesialis penafsiran Bible yang menyelidiki argumen-argumen yang menyokong atau menyanggah hipotesa tersebut. Sebaliknya dalam beberapa puluh tahun yang terakhir telah muncul hipotesa-hipotesa yang berlain-lainan yang nampaknya telah dilontarkan untuk menunjukkan persesuaian dengan suatu perinci dalam riwayat Bible, tetapi pencetus hipotesa itu tidak melihat aspek-aspek lain yang terkait dengan riwayat-riwayat Bible. Itulah sebabnya kita mendapatkan hipotesa-hipotesa yang kelihatannya sesuai dengan suatu aspek daripada riwayat Bible, akan tetapi pencetus hipotesa tersebut tidak mau menghadapkan hipotesanya dengan hal-hal lain yang tersebut dalam kitab suci (bukan saja dengan Bible) dan juga, pada waktu yang sama dengan hasil-hasil penyelidikan sejarah, arkeologi dan lain-lain.

Di antara hipotesa-hipotesa baru yang sangat ajaib adalah hipotesanya S. de Miceli (1960) yang mengakui telah dapat menentukan waktu Exodus, yakni pada tanggal 9 April 1495 S.M., dari hal tersebut disandarkan semata-mata kepada perhitungan kalender. Jika kita mengikuti pengarang ini, maka Fir’aunnya Exodus adalah Tutmes II yang memerintah Mesir pada waktu itu. Oleh karena dikatakan bahwa pada mumia Tutmes II terdapat bekas-bekas penyakit kulit yang dinamakan penyakit lepra oleh pengarang tersebut dengan tak ada penjelasan lebih lanjut, dan oleh karena salah satu penderitaan vang menimpa Mesir vang disebutkan oleh Bible adalah penyakit kulit, maka dengan begitu, hipotesa S. de Miceli tersebut telah dibuktikan kebenarannya.

Rekonstruksi yang aneh tersebut tidak mengindahkan fakta-fakta lain dalam riwayat Bible, khususnya mengenai disebutkannya kota Ramses. Dengan disebutkan kota Ramses dalam Bible maka tiap-tiap hipotesa tentang waktunya Exodus yang digambarkan sebagai terjadi sebelum Ramses memerintah adalah sangat lemah.

Mengenai bekas-bekas penyakit kulit yang terdapat pada mumia Tutmes II, hal tersebut tak cukup untuk membuktikan bahwa Tutmes II adalah Fir’aunnya Exodus, oleh karena anaknya, yakni Tutmes III dan cucunya, yakni Amenophis II semuanya menunjukkan bekas-bekas penyakit kulit; beberapa pengarang melontarkan hipotesa bahwa penyakit semacam itu adalah penyakit keluarga saja. Dengan begitu maka hipotesa bahwa Tutmes II adalah Fir’aun Exodus tak dapat dipertahankan.

Hal yang serupa dicetuskan oleh Daniel Raps dalam bukunya: Le Peuple de la Bible (‘Bangsa yang dibicarakan’ dalam Bible). Ia mengatakan bahwa Amenophis II adalah Fir’aunnya Exodus. Hipotesa itu tidak lebih kuat daripada hipotesa yang pertama. Dengan alasan bahwa, bapaknya, Tutmes III terlalu nasionalis, Daniel Raps mengatakan bahwa Amenophis II adalah penindas orang-orang Yahudi, dan ibu tirinya, yang bernama ratu Hatshep-sout (dengan tidak ada keterangan sesuatupun) adalah wanita yang mengambil Musa dari sungai.

R.P. de Vaux mendasarkan hipotesanya dalam bukunya Sejarah Kuno bangsa Yahudi, bahwa Ramses II adalah Fir’aunnya Exodus atas dasar yang lebih kokoh. Hipotesa tersebut walaupun tidak sesuai sepenuhnya dengan riwayat Bible, namun mempunyai sesuatu keunggulan yaitu, telah menunjukkan fakta yang penting, yakni bahwa Ramses II telah memerintahkan mendirikan kota-kota Ramses dan Pitom, yaitu kota-kota yang tersehut dalam Bible. Orang tidak akan menggambarkan bahwa Exodus itu dapat terjadi sebelum Ramses II menjadi Raja, yaitu menurut kronolog Driaton dan Vandier pada tahun 1301 S.M., dan menurut Rowton pada tahun 1290 S.M. Dua hipotesa yang tersebut di atas tak dapat diterima karena pertimbangan bahwa Ramses II adalah Fir’aunnya penindasan yang dibicarakan oleh Bible.

R. P. de Vaux berpendapat bahwa Exodus terjadi pada pertengahan pertama atau di tengah-tengah pemerintahan Ramses II. Datum yang diberikan oleh R.P. de Vaux tidak tepat sama sekali. Ia mengusulkan waktu tersebut agar dapat memberi waktu kepada pengikut-pengikut Musa untuk menetap di Kana’an dan kepada penggantl Ramses II, Fir’aun Mineptah untuk membereskan soal perbatasan ketika bapaknya meninggal dan untuk mengkoreksi Bani Israil, sebagai yang tertulis dalam suatu monumen tahun V daripada pemerintahannya.

Ada dua argumentasi yang dapat menyangkal hipotesa tersebut:

Bible menerangkan dalam kitab Keluaran (2, 23) bahwa raja Mesir meninggal ketika Musa menetap di negeri Madyan. Raja Mesir ini digambarkan dalam kitab Keluaran sebagai raja yang memerintahkan orang-orang Yahudi mendirikan kota Ramses dan Pitom dengan kerja paksa, Raja itu ialah Ramses II. Dengan begitu maka Exodus hanya dapat terjadi pada zaman penggantinya. Tetapi R.P. de Vaux rupanva lupa sumber dalam Bible, yakni kitab Kejadian fasal 2 ayat 23.

Yang lebih mengherankan lagi, ialah bahwa R.P. de Vaux yang merupakan direktur Sekolah Bible di Yerusalem itu tidak menyebutkan dua paragraf yang sangat penting dalam Bible ketika membicarakan teorinya tentang Exodus. Dua paragraf tersebut mengatakan bahwa Fir’aun mati dalam mengejar pelarian-pelarian. Hal ini menjadikan waktu Exodus tidak lain kecuali pada akhir pemerintahannya.

Perlu diulangi di sini bahwa sesungguhnya tidak disangsikan lagi bahwa Fir’aun mati dalam mengejar Bani Israil. Kitab Keluaran fasal 13 dan 14 dengan jelas menyebut-kan hal ini. Fir’aun mempersiapkan keretanya dan memimpin tentaranya ( 14, 6). Raja Mesir mengejar orang-orang Israil memimpin tentaranya (14, 8). Air laut pasang lagi dan menenggelamkan kereta-kereta dan penunggang kuda daripada tentara Fir’aun yang telah masuk di laut di belakang orang-orang Yahudi. Tak ada seorang pun yang tinggal (14, 28). Pujian 136 daripada Dawud menguatkan kematian Fir’aun, memohon kepada Yahweh, yang menenggelamkan Fir’aun, dan tentaranya dalam lautan yang penuh tumbuh-tumbuhan (136, 15).

Dengan begitu, ketika Musa masih hidup, ada seorang Fir’aun yang mati ketika Musa menetap di Madyan, dan ada lagi seorang Fir’aun yang mati dalam peristiwa Exodus. Jadi tak ada Fir’aunnya Musa, tetapi ada dua Fir’aun, yaitu Fir’aun yang menindas orang Yahudi dan Fir’aunnya Exodus. Hipotesa R.P. de Vaux yang mengatakan bahwa Ramses II adalah Fir’aun Exodus tidak memuaskan karena tidak memberi penjelasan yang menyeluruh. Pemikiran-pemikiran di bawah ini akan membawa argumen-argumen tambahan yang menolaknya.

3. RAMSES II FIR’AUN PENINDASAN, MINEPTAH FIR’AUN EXODUS

P. Montet mengambil dan tradisi asli dari Iskandariyah*23 yang disebutkan oleh Maspero dan yang ditemukan lagi lama sesudah itu dalam tradisi Islam dan dalam tradisi Kristen Kuno.*24

Teori tersebut ditulis dalam buku “Mesir dan Bible” karangan Delachaux dan Niestle, serta diperkuatkan dengan dokumen-dokumen tambahan, khususnya yang berhubungan dengan riwayat Al-Qur’an yang tidak pernah disinggung oleh ahli arkeologi besar itu. Sebelum mempelajari teori tersebut marilah kita kembali kepada Bible.

Kitab Kejadian memuat nama Ramses, walaupun nama Fir’aun tidak disebutkan. Dalam Bible, Ramses merupakan nama salah-satu dari dua kota yang dibangun dengan cara kerja paksa orang-orang Yahudi. Sekarang kita mengetahui bahwa dua kota tersebut berada di daerah Tanis Qantir, di bagian timur daripada Delta Nil. Di sana, Ramses menyuruh membangun ibukotanya. Sebelum Ramses II di tempat itu sudah ada bangunan-bangunan, tetapi Ramses II-lah yang menjadikan tempat itu penting. Dokumen-dokumen yang ditemukan pada puluhan tahun yang akhir ini memberikan satu bukti yang jelas. Untuk pembangunan itu Ramses memakai tenaga orang Yahudi yang dipaksa kerja.

Membaca nama Ramses dalam Bible tidak mengherankan orang zaman sekarang. Kota itu telah menjadi mashur semenjak Champolion menemukan kunci bahasa hieroglyph (Mesir kuno) 150 tahun yang lalu, dalam mempelajari ciri-ciri bahasa tersebut. Jadi sekarang orang sudah terbiasa membacanya dengan mengerti artinya. Tetapi kita perlu mengetahui bahwa bahasa Mesir kuno sudah tidak dikenal orang lagi pada abad III M, dan nama Ramses hanya terdapat dalam Bible dan beberapa buku Yunani atau Latin yang merubah bentuknya Tacite, dalam karangannya Annales, menyebut nama Ramses.

Bible telah memelihara bentuk nama itu, dan nama itu disebutkan empat kali dalam Pentateuqe atau Taurat yakni pada kitab-kitab: Kejadian, 47, 11; Keluaran 1, 11 dan 12, 37; kit dan Bilangan 33, 3 dan 33, 5).

Dalam bahasa Ibrani, nama Ramses ditulis dengan dua cara: RA(E)MSS, atau RAEAMSS. Dalam Bible cetakan Yunani yang dinamakan Septante, bentuk nama itu adalah RAMESSE. Bible latin (Volgate) menuliskannya Ramesses. Dalam Bible Clementine edisi Perancis (edisi pertama pada tahun 1621), nama itu ditulis Ramses. Edisi Perancis ini banyak tersiar pada waktu Napoleon melakukan penelitian-penelitian. Dalam karangannya: Ringkasan Sistem Hieroglyphiq Orang Mesir Kuno (cetakan kedua tahun 1828 halaman 276) Champolion membicarakan tentang cara menulis “Ramses” dalam Bible.

Dengan begitu maka Bible telah memelihara nama Ramses dalam bentuk Ibrani, Yunani dan Latin.

Hal tersebut di atas memungkinkan kita untuk mengatakan:

  • Exodus tak dapat digambarkan sebelum seorang Ramses memegang pemerintahan Mesir,
  • Musa dilahirkan di masa pemerintahan raja yang membangun kota Ramses dan Pitom, yakni Ramses II,
  • Ketika Musa menetap di negeri Madyan, Fir’aun yang memerintah, yakni Ramses II meninggal.

Sejarah Nabi Musa selayaknya terjadi pada zaman pengganti Ramses II, yaitu Mineptah.

Di samping hal-hal tersebut, Bible menyebutkan suatu unsur yang sangat penting untuk menunjukkan waktu terjadinya Exodus, yaitu bahwa ketika Musa menjalankan perintah Tuhan untuk meminta agar Bani Israil dimerdekakan, ia sudah berumur 80 tahun.

Kitab Keluaran 7, 7: Musa berumur 80 tahun dan Harun berumur 83 tahun ketika mereka berbicara kepada Fir’aun. Dilain pihak, Kitab Keluaran, 2, 23 menyebutkan bahwa Fir’aun yang memerintah ketika Musa dilahirkan, telah meninggal ketika Musa menetap di negeri Madyan; walaupun riwayat Bible tersebut tidak menunjukkan pergantian nama Raja. Dua ayat dalam Bible tersebut mengandung arti bahwa jumlah waktu berkuasanya dua Fir’aun yang memerintah Mesir ketika Musa hidup disitu adalah sedikitnya 80 tahun.

Dipihak lain Ramses II memerintah selama 67 tahun (dari tahun 1301 sampai tahun 1235 S.M.) menurut perhitungan Driaton dan Vandier, atau dan tahun 1290 sampai tahun 1224 S.M. menurut perhitungan Rowton. Ahli-ahli sejarah Mesir tak dapat memberikan angka tepat tentang lamanya pemerintahan Mineptah sebagai pengganti Ramses II, tetapi masa itu sedikitnya 10 tahun, karena tahun ke 10 daripada pemerintahan-nya diperingati oleh beberapa dokumen seperti yang diterangkan oleh R. P. de Vaux. Pengarang Manelhon mengirakan 20 tahun untuk masa pemerintahan Mineptah. Driaton dan Vandier memberikan dua kemungkinan, mungkin hanya 10 tahun dari tahun 1224 sampai tahun 1214 S.M., atau 20 tahun dari tahun 1224 sampai tahun 1204 S.M., dan ahli sejarah Mesir tidak tahu secara pasti bagaimana pemerintah Mineptah berakhir. Yang diketahui orang adalah bahwa setelah Mineptah, Mesir mengalami krisis dalam negeri yang berat selama kira-kira seperempat abad.

Walaupun kronologi raja-raja Mesir tidak tepat, kita dapat mengatakan bahwa selama Kerajaan Baru tak terdapat dua masa pemerintahan Raja yang berturut-turut yang dapat mencapai atau melebihi 80 tahun kecuali periode Ramses II s/d Meneptah, Pemberitaan Bible mengenai umur Musa ketika ia memikirkan pembebasan kaum Yahudi hanya dapat dimasukkan dalam rangka kesinambungan antara Pemerintahan Ramses II dan pemerintahan Mineptah.

Dengan begitu kita dapat mengatakan bahwa Musa lahir pada permulaan Pemerintahan Ramses II dan berada di Madyan ketika Ramses II meninggal dunia setelah memerintah selama 67 tahun, kemudian Musa menjadi pembela kaum Yahudi dan menghadapi Mineptah anak dan pengganti Ramses II. Hikayat itu mungkin terjadi pada pertengahan kedua dari pemerintahan Mineptah jika ia memerintah selama 20 tahun, dan hal ini sesuai dengan pendapat Rowton. Kemudian Musa memimpin orang-orang Yahudi keluar dari Mesir pada akhir pemerintahan Mineptah, karena raja itu binasa ketika mengejar orang-orang Yahudi yang meninggalkan Mesir seperti yang diterangkan oleh Al-Qur’an dan Bible.

Kerangka berpikir ini sangat sesuai dengan riwayat kitab suci tentang masa kecilnya Musa dan bagaimana ia diambil oleh keluarga Fir’aun. Kita tahu bahwa Ramses II sudah sangat tua waktu ia mati; ada yang mengatakan ia berumur 90 tahun atau 100 tahun; menurut hipotesa ini, pada perrnulaan pemerintahannya, Ramses berumur 23 atau 33 tahun, yakni permulaan masa kekuasaannya yang berlangsung selama 67 tahun. Pada umur muda itu ia mungkin sudah kawin. Tidak ada kontradiksi antara riwayat “Musa yang ditemukan di sungai oleh keluarga Fir’aun” menurut Al-Qur’an dengan campur tangan isteri Fir’aun yang meminta daripadanya supaya membiarkan anak itu hidup. Bible mengatakan bahwa yang menemukan Musa di sungai itu anak perempuan Fir’aun. Ramses yang sudah kita ketahui umurnya pada permulaan pemerintahannya, mungkin saja punya anak perempuan yang dapat menemukan Musa, si bayi yang ditingalkan keluarganya. Dengan begitu maka riwayat Al-Qur’an dan riwayat Bible tidak bertentangan.

Hipotesa yang kita susun di sini adalah secara mutlak, sesuai dengan Al-Qur’an. Tetapi bertentangan dengan suatu paragraf dalam Bible, yaitu ayat pertama dari fasal 6 dalam Kitab Raja-raja pertama (perlu ditegaskan bahwa paragraf tersebut tidak merupakan bagian dari Taurah). Paragraf tersebut sangat disangsikan dan R.P. de Vaux menolak kronologi terkait fasal ini dalam Perjanjian Lama, yaitu kronologi yang mengatakan bahwa waktu larinya Bani Israil dari Mesir terjadi sesudah dibangunnya Candi/Haikal Nabi Sulaiman. Bahwa hal tersebut masih menjadi pembahasan menyebabkan kita tidak dapat memberi nilai positif kepadanya, karena bertentangan dengan teori yang kita bicarakan di sini.

PROBLEMA MENGENAI MONUMEN TAHUN V
PEMERINTAHAN MINEPTAH

Mula-mula orang-orang mengira dapat menemukan suatu sangkalan terhadap teori bahwa larinya Bani Israil dari Mesir merupakan kejadian yang terakhir dari masa pemerintahan Fir’aun tersebut; sangkalan tersebut diduga telah ditemukan dalam teks monumen tahun ke V pemerintahan Mineptah. Monumen tersebut penting sekali karena merupakan satu-satunya dokumen dalam bahasa Mesir kuno yang mengandung kata “Israil.”

Monumen tersebut, yang dibangun pada masa pertama dari pemerintahan Mineptah telah ditemukan di Thebes dalam suatu kuburan Fir’aun, monumen tersebut menjelaskan kemenangan-kemenangan yang diperoleh Mesir terhadap tetangga-tetangganya, khususnya, pada akhir dokumen itu disebutkan: kemenangan terhadap Israil yang sudah dibinasakan dan tak mempunyai benih lagi. Orang mengambil konklusi dari dokumen tersebut bahwa orang-orang Yahudi sudah menetap di Kana’an pada tahun kelima pemerintahan Mineptah dan oleh karena itu keluarnya orang Yahudi dari Mesir telah terjadi sebelum dokumen tersebut dibuat.

Sangkalan tersebut tak dapat diterima karena sangkalan itu berarti bahwa tak ada orang Yahudi di Kana’an ketika ada orang-orang Yahudi di Mesir. Walaupun begitu, orang yang mengatakan bahwa Exodus terjadi pada zaman Ramses II, yaitu R.P. de Vaux menulis dalam buku-bukunya Sejarah Israil Kuno, mengenai penghunian di Kana’an: “Untuk daerah Selatan, waktu menetapnya orang-orang yang masih ada hubungan kerabat dengan Israil di daerah Cades, tak dapat ditentukan, akan tetapi terang sebelum Exodus.” Jadi R.P. de Vaux menggambarkan kemungkinan menetapnya kelompok-kelompok yang keluar dari Mesir sebelum terjadinya Exodus yang dipimpin Musa. Apiru atau Habiru yang diidentifilkasikan dengan orang-orang Israil sudah terdapat di Syria, Palestina, lama sebelum Ramses II, jadi sebelum Exodus. Bukankah raja Amenophis II menurut suatu dokumen telah mendatangkan orang-orang tawanan sebanyak 3.600 dan dikerjakan sebagai buruh di Mesir.

Pada zaman raja Seti pertama, orang-orang Yahudi menimbulkan keributan-keributan di Kana’an, di daerah Beth-Shean; begitulah disebutkan oleh P. Montet dalam bukunya Mesir dan Bible. Dengan begitu maka ada kemungkinan besar bahwa Mineptah menindak unsur-unsur pengacau di perbatasan, sedangkan didalam negeri Mesir, terdapat kelompok Yahudi yang pada akhirnya mengikuti Musa untuk keluar dari Mesir. Jadi terdapatnya monumen tahun kelima daripada Pemerintahan Mineptah tidak bertentangan dengan hipotesa kita.

Di lain pihak munculnya kata “Israil” dalam sejarah bangsa Yahudi tidak ada hubungannya dengan menetapnya kelompok pengikut Musa di Kana’an. Asal mula kata itu adalah sebagai berikut:

Menurut Kejadian (32, 29) Israil adalah nama kedua daripada Yakob, anak Ishak cucu Ibrahim, arti nama itu menurut ahli-ahli tafsir Terjemahan Ekumenik terkait Bible Perjanjian Lama (1975) adalah: “mudah-mudahan Allah menunjukkan dirinya Jaya.” Setelah kata itu dijadikan nama orang, tidak mengherankan jika orang memakainya untuk menunjukkan “kelompok” sambil mengingat-ingat seorang moyang yang besar. Jadi kata Israil itu sudah ada beberapa ratus tahun sebelum Musa. Tidak mengherankan kalau dalam monumen Mineptah kata itu disebutkan. Tetapi disebutkannya kata itu tidak merupakan argumen yang menguatkan terjadinya Exodus Musa sebelum tahun V daripada pemerintahan Mineptah.

Sesungguhnya dengan menunjuk kelompok yang dinamakan “Israil,” monumen Mineptah tidak menunjukkan suatu kelompok politik yang sudah berdiri, karena monumen tersebut ditulis pada akhir abad XIII S.M., sedangkan kerajaan Israil didirikan pada abad X S.M. Jadi, monumen tersebut hanya menunjuk kelompok manusia biasa.*25

Sekarang kita mengetahui bahwa untuk masuk dalam sejarah, Israil memerlukan waktu pembentukan selama 8 atau 9 abad. Dalam periode tersebut terdapat kelompok-kelompok setengah nomad dalam daerah Kana’an, khususnya kelompok Amorites dan Arameans. Dalam periode tersebut muncul pula di tengah-tengah rakyat patriach-patriach (kepala-kepala keluarga) seperti Ibrahim, Ishak dan Yakub atau Israil. Nama kedua dari kepala keluarga terakhir, yakni Israil, merupakan bibit pertama daripada kesatuan politik yang akan muncul lama setelah zaman Mineptah, karena kerajaan Israil berlangsung dari tahun 931-930 sampai 721 S.M.

4. DISEBUTKANNYA KEMATIAN FIR’AUN ZAMAN EXODUS OLEH
KITAB-KITAB SUCI

Matinya Fir’aun pada waktu Exodus merupakan suatu bagian yang sangat penting dalam riwayat Al-Qur’an dan Bible. Kematian Fir’aun itu dapat difahami dari teks dengan jelas sekali. Dalam Bible, kematian Fir’aun itu tidak hanya disebutkan dalam Pentateuqe atau Torah tetapi juga dalam Zaburnya Daud; pembicaraan tentang ini telah disebutkan di atas.

Adalah sangat mengherankan bahwa pengarang-pengarang Kristen tidak menyebutkan kematian Fir’aun. R.P. de Vaux berpendapat bahwa Exodus terjadi pada bagian pertama daripada pemerintahan Ramses II atau pada pertengahan pemerintahan itu; ia tidak memperhitungkan bahwa Fir’aun telah binasa dalam pengejaran kaum Yahudi, yang berarti bahwa Exodus itu terjadi pada akhir pemerintahannya. Dalam buku-bukunya: “Sejarah Israil Kuno,” direktur Sekolah Bible Yerusalem tidak mempedulikan kontradiksi antara pendapatnya dan paragraf-paragraf yang tersebut dalam dua kitab (fasal) daripada Bible.

P. Montet dalam bukunya “Mesir dan Bible” mengatakan bahwa Exodus terjadi pada zaman pemerintahan Mineptah, akan tetapi ia tidak menulis sepatah katapun tentang matinya Fir’aun yang memimpin pengejaran orang-orang Yahudi yang lari. Pendirian yang mentakjubkan ini sangat bertentangan dengan pendirian orang-orang Yahudi. Mazmur Daud no. 136 dalam ayat 15 memuji “Tuhan yang telah membinasakan Fir’aun dan tentaranya dalam lautan yang penuh dengan tumbuh-tumbuhan” sering disebutkan dalam doa-doa mereka. Mereka itu mengerti bahwa ada persesuaian antara ayat-ayat tersebut dengan kata-kata dalam Kitab Keluaran (14, 28): “Air kembali pasang dan menenggelamkan kereta-kereta serta para penumpang kuda dari tentara Fir’aun yang telah masuk ke laut di belakang mereka (kelompok Yahudi). Tak ada seorangpun yang tetap hidup.” Bagi mereka tak ada sangsi sedikitpun bahwa Fir’aun telah binasa bersama tentaranya. Teks yang sama juga terdapat dalam Bible Kristen.

Para ahli tafsir Kristen sengaja mengelakkan diri dan menentang segala bukti kematian Fir’aun. Tetapi sementara orang menyebutkan riwayat yang ada dalam Al-Qur’an dan menganjurkan pembacanya untuk mengadakan pendekatan yang khusus. Inilah yang kita temukan dalam Terjemahan Bible di bawah pengawasan Sekolah Bible di Yerusalem; kita dapatkan tafsiran R.P. Couroyer guru besar pada sekolah tersebut mengenai badan Fir’aun:

“Qur’an (Surat 10 ayat: 90-92) menyebutkan hal-hal tersebut, dan menurut tradisi orang awam, Fir’aun tenggelam dengan tentaranya, hal ini tak disebutkan dalam Al-Qur’an*26 dan badannya menetap di dasar laut dan memerintah para nelayan; jadi sejenis ikan laut.”

Pembaca yang tidak mengetahui isi Al-Qur’an akan menghubungkan antara pernyataan Al-Qur’an yang bertentangan (menurut pengarang tafsir Bible tersebut) dengan Bible, dengan dongengan yang aneh yang katanya berasal dari tradisi orang awam, yang disebutkan dalam tafsir Bible setelah menyebutkan Al-Qur’an.

Hakekat pernyataan Al-Qur’an tentang hal ini tak ada hubungannya dengan apa yang dikatakan oleh pengarang tafsir Bible tersebut; ayat 90 s/d 92 pada Surat 10 dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa Bani Israil melalui lautan selagi Fir’aun dan tentaranya mengejar mereka. Pada waktu ia hampir tenggelam, Fir’aun berteriak: “Aku percaya bahwa tak ada Tuhan kecuali Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri kepadaNya.” Tuhan menjawab: “Baru sekarang? Sebelum ini engkau telah membangkang dan menimbulkan kerusakan. Baiklah Aku akan menyelamatkan badanmu pada hari ini agar engkau menjadi bukti bagi mereka yang datang sesudahmu. Sesungguhnya banyak manusia yang lengah terhadap bukti-buktiKu.”

Inilah yang dimuat dalam Al-Qur’an tentang kematian Fir’aun. Baik dalam ayat ini maupun dalam ayat-ayat lain, dalam Al-Qur’an tak ada khayalan-khayalan seperti yang disebutkan oleh ahli tafsir Bible. Teks Al-Qur’an mengatakan dengan jelas bahwa badan Fir’aun akan diselamatkan; inilah hal yang pokok.

Pada waktu Al-Qur’an disampaikan kepada manusia melalui Nabi Muhammad, semua jenazah Fir’aun-Fir’aun yang disangka ada hubungannya dengan Exodus oleh manusia modern terdapat di kuburan-kuburan kuno di lembah raja-raja (Wadi al Muluk) di Thebes, di seberang Nil di kota Luxor. Saat waktu itu manusia tak mengetahui apa-apa tentang adanya kuburan tersebut. Baru pada abad 19 orang menemukan sesuai yang dikatakan oleh Al-Qur’an jenazah Fir’aunnya Exodus diselamatkan. Pada waktu ini jenazah Fir’aun Exodus disimpan di Museum Mesir di Cairo di ruang mumia, dan dapat dilihat oleh penziarah. Jadi hakekatnya sangat berbeda dengan legenda yang menertawakan yang dilekatkan kepada Al-Qur’an oleh ahli tafsir Bible, R.P. Couroyer.

5. MUMIA FIR’AUN MINEPTAH

Jenazah Mineptah yang sudah diawetkan, anak dari Ramses II yang dapat dipastikan sebagai Fir’aun Exodus, ditemukan orang pada tahun 1898 oleh Loret, di Thebes, di lembah Raja-raja (Wadi al Muluk). Elliot Smith membuka perban-perbannya pada tanggal 8 Juli 1907. Dalam bukunya The Royal Mummies (1912) ia menjelaskan apa yang dikerjakan dalam membuka mumia tersebut dan memeriksa badannya. Pada waktu itu mumia tersebut dapat dikatakan dalam keadaan baik walaupun ada kerusakan di beberapa bagian. Semenjak waktu itu mumia tersebut dipertunjukkan kepada para pengunjung museum Cairo. Kepala dan lehernya terbuka, sedang bagian-bagian badan lainnya ditutup dengan kain sedemikian rupa sehingga sampai sekarang museum tidak memiliki photo yang menyeluruh tentang badan mumia kecuali yang pernah diambil oleh Elliot Smith pada tahun 1912.

Pada bulan Juni tahun 1975, para penguasa tinggi di Mesir memperbolehkan diri saya untuk memeriksa bagian-bagian yang terkait dengan tubuh Fir’aun yang diketemukan serta mengambil gambarnya. Jika kita bandingkan keadaan mumia sekarang dengan keadaannya 60 tahun yang lalu ternyata sudah terdapat kerusakan-kerusakan, bahkan ada bagian-bagian yang hilang. Kain pembalut mumia telah banyak rusak, baik karena tangan manusia di beberapa bagiannya, atau karena waktu untuk bagian-bagian lain.

Kerusakan alamiah ini dapat diterangkan sebagai disebabkan oleh perbedaan cara memeliharanya semenjak orang menemukan mumia tersebut pada akhir abad XIX dalam kuburan Necropolis (negara orang-orang mati) di Thebes di mana tubuh itu berbaring lebih dari 3.000 tahun. Dalam keadaan sekarang, mumia itu hanya dilindungi oleh kaca yang tidak dapat menahan pengaruh udara dari luar dan polusi yang disebabkan oleh micro organisme. Dalam keadaan yang mudah terpengaruh oleh suhu udara dan tak terlindungi dari lembab musim, mumia tersebut pada waktu ini dalam kondisi yang berlainan sekali dengan kondisi yang telah dapat memeliharanya selama tiga ribu tahun, jauh dari faktor-faktor kerusakan. Mumia tersebut telah kehilangan proteksi pembalut-pembalutnya serta pertahanan tempat yang tertutup dalam kuburan yang temperaturnya tidak berubah dan udaranya kurang lembab daripada udara Cairo dalam musim-musim tertentu. Memang walaupun dalam necropole (kuburan raja-raja), mumia tersebut mungkin saja dalam bahaya daripada pencuri-pencuri kuburan atau perusak-perusak lain tetapi walaupun begitu, nampaknya kondisi dahulu lebih baik daripada kondisi sekarang untuk mempertahankan diri dari pengaruh waktu.

Pada waktu penelitian mumia tersebut dalam bulan Juni tahun 1975, atas usul saya telah dilakukan penyelidikan khusus. Penyelidikan radiografik telah dilakukan oleh Dr. El Melegy dan Dr. Ramsys; di lain pihak Dr. Mustafa menilainya telah melakukan penyelidikan tentang thorax*27 dan perut; ini adalah penyelidikan dengan endoscopie*28 yang diterapkan kepada mumia untuk pertama kali. Dengan cara ini kita dapat mengambil foto perinci-perinci penting di dalam tubuh. Dengan pemeriksaan microscope terhadap bagian-bagian yang jatuh sendiri daripada mumia itu, yaitu pemeriksaan yang dilakukan oleh Prof. Mignot dan Dokter Durignon, suatu penyelidikan legal akan dapat diselesaikan bersama dengan Prof. Ceccaldi.

Sangat disesalkan sekali bahwa hasil penyelidikan tersebut belum rampung ketika buku ini ditulis.

Yang dapat kita tarik kesimpulan sekarang ialah kerusakan tulang dan hilangnya substansi penting merupakan hal yang sangat fatal. Kita belum dapat memastikan apakah hal-hal tersebut terjadi sesudah atau sebelum matinya Fir’aun. Menurut riwayat kitab Suci, Fir’aun meninggal karena tenggelam atau karena rasa shock yang dahsyat yang mendahului tenggelamnya, dalam laut, atau kedua-duanya.

Hubungan antara kerusakan kulit dengan kerusakan seluruh mumia yang sebab-sebabnya telah kita jelaskan di atas, menimbulkan pertanyaan tentang masa depan pemeliharaan mumia Fir’aun ini jika pencegahan dan pemulihan tidak dilaksanakan secepat mungkin. Tindakan itu perlu sekali, agar satu-satunya bukti material/fisik yang ada sekarang tentang matinya Fir’aun Exodus dan penyelamatan tubuhnya yang dikatakan oleh Tuhan, tidak musnah dengan mudah.

Adalah sangat diharapkan bahwa kita dapat memelihara bekas-bekas sejarah. Tetapi dalam hal ini, ada hal yang lebih penting, yaitu materialisasi dalam mumia terhadap seorang yang mengenal Musa semasa hidupnya, menolak permohonannya, mengejarnya ketika ia lari, dan kemudian mati dalam pengejaran tersebut. Badannya, karena kehendak Tuhan, selamat dari kebinasaan, dan menjadi bukti bagi manusia, seperti diterangkan oleh Al-Qur’an.*29 Alangkah agungnya contoh-contoh yang diberikan oleh ayat-ayat Al-Qur’an tentang tubuh Fir’aun yang sekarang berada di ruang mumia di Museum Mesir di kota Cairo. Penyelidikan dan penemuan-penemuan modern telah menunjukkan kebenaran-kebenaran Al-Qur’an.


Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: