RSS

Kontradiksi Perjanjian Baru

V. KONTRADIKSI-KONTRADIKSI DAN KEKELIRUAN KEKELIRUAN RIWAYAT

Tiap-tiap Injil daripada empat Injil Perjanjian Baru membawakan hikayat-hikayat yang ada hubungannya dengan kejadian. Kejadian-kejadian itu ada yang khusus pada satu Injil dan ada pula yang terdapat dalam beberapa Injil atau malahan terdapat dalam keempat Injil. Kejadian khusus yang tersebut hanya dalam satu Injil menimbulkan problema. Jika kejadian itu sangat penting, kita akan merasa heran mengapa hanya diriwayatkan oleh satu Injil. Sebagai contoh, kejadian kenaikan Yesus ke langit pada hari ia dibangkitkan dari kubur. Di lain pihak, ada kejadian-kejadian yang diriwayatkan secara berbeda-beda oleh dua atau tiga Injil bahkan kadang-kadang sangat berbeda. Seringkali umat Kristen merasa heran akan adanya kontradiksi, jika mereka kebetulan menemukannya, oleh karena mereka berkali-kali diberi penjelasan yang meyakinkan bahwa pengarang-pengarang Injil adalah saksi-saksi mata daripada kejadian-kejadian yang mereka riwayatkan.

Dalam fasal-fasal yang terdahulu, kita telah menyebutkan beberapa kekeliruan dan kontradiksi yang menggelisahkan itu, akan tetapi secara istimewa, yang menjadikan bahan riwayat yang bertentangan dan berkontradiksi adalah kejadian-kejadian yang terakhir dalam kehidupan Yesus dan yang terjadi setelah penyaliban.

RIWAYAT-RIWAYAT PENYALIBAN

R.P. Rouguet mengatakan bahwa hari Paskah dalam hubungannya dengan santapan terakhir bersama dengan para rasul (sahabat Yesus) telah diriwayatkan oleh injil Yahya berbeda dengan riwayat Injil Sinoptik yang tiga. Yahya mengatakan bahwa santapan terakhir itu sebelum perayaan hari Paskah, sedangkan ketiga Injil lainnya mengatakan bahwa santapan itu terjadi dalam perayaan Paskah. Perbedaan riwayat ini menonjolkan kekeliruan yang terang; hikayat santapan terakhir menjadi tak dapat digambarkan karena kedudukan Paskah ditentukan dan didasarkan atas santapan terakhir tersebut. Jika kita ingat pentingnya Paskah dalam liturgi Yahudi, dan pentingnya santapan terakhir, santapan pamitan antara Yesus dengan muridnya, bagaimana kita dapat menggambarkan bahwa peringatan peristiwa yang penting itu dapat dihilangkan dari perayaan yang satu kepada perayaan yang lain dalam tradisi yang disebutkan kemudian oleh para pengarang Injil.

Secara umum, riwayat penyaliban diriwayatkan oleh ketiga Injil Sinoptik secara berbeda daripada riwayat Injil Yahya. Riwayat santapan Yesus yang terakhir dan riwayat penyaliban dalam Injil Yahya adalah dua kali lebih panjang daripada riwayat dalam Injil Markus dan Injil Lukas, dan satu setengah kali lebih panjang daripada riwayat Injil Matius. Dengan begitu Yahya meriwayatkan khutbah panjang yang diberikan oleh Yesus kepada murid-muridnya sepanjang 4 fasal (14-17) dalam Injil Yahya. Dalam percakapan yang sangat penting itu, Yesus mengatakan kepada murid-muridnya bahwa ia akan meninggalkan tuntunan-tuntunannya yang terakhir dan memberikan kepada mereka wasiat spiritual. Dalam Injil-Injil lain tak ada yang menyebutkan hal tersebut. Sebaliknya Matius, Lukas dan Markus meriwayatkan do’a Yesus di taman Gethsemani; Yahya tidak membicarakan hal ini.

DALAM INJIL YAHYA, LEMBAGA EKARISTI TAK DISEBUT-SEBUT

Suatu hal yang menarik perhatian orang yang membaca “Sengsara Tuhan Yesus” dalam Injil Yahya, adalah bahwa Yahya tidak menyebutkan lembaga Ekaristi selama santapan Yesus yang terakhir dengan murid-muridnya.

Tiap-tiap orang Kristen tentu pernah melihat gambar “Kana,” di mana terlihat Yesus duduk ditengah-tengah para rasul untuk kali yang terakhir. Banyak pelukis-pelukis besar yang menggambarkan pertemuan Yesus yang terakhir dengan seorang kerabatnya yang bernama Yahya; Yahya inilah yang sering dianggap sebagai penulis Injil Yahya.

Mungkin ini sangat mengherankan orang banyak; rasul (sahabat) Yahya tidak dianggap sebagai pengarang Injil Yahya oleh para ahli penyelidik, dan Injil Yahya juga tidak menyebutkan kelembagaan Ekaristi. Padahal do’a yang menjelmakan roti dan anggur menjadi badan dan darah Yesus adalah suatu do’a yang pokok dalam agama Kristen. Ketiga pengarang Injil lainnya menyebutkan hal ini, walaupun dengan cara yang berlain-lainan, sebagai yang telah kita sebutkan di atas. Yahya sama sekali tidak menyebutkannya. Keempat Injil mempunyai titik persamaan hanya dalam dua hal: ramalan bahwa Petrus akan mengingkari (mengatakan tidak kenal) Yesus, dan pengkhianatan salah satu sahabat kepadanya (dalam Injil Matius dan Injil Yahya, sahabat tersebut bernama Yuda). Hanya riwayat Yahya menceritakan bahwa Yesus membasuh kaki pengikut-pengikutnya sebelum bersantap.

Bagaimana kita menerangkan mengapa Injil Yahya tidak menyebutkan Ekaristi. Jika kita berfikir secara obyektif, dengan anggapan bahwa riwayat ketiga Injil yang pertama itu benar, kita akan membuat hipotesa bahwa bagian yang menceritakan hikayat yang sama daripada Injil Yahya telah hilang. Tetapi para ahli tafsir Kristen berfikir lebih jauh lagi.

Dalam bukunya Kamus Kecil tentang Bibel, A. Tricot menulis artikel: “Kana adalah santapan terakhir yang dilakukan oleh Yesus bersama dengan 12 sahabatnya. Dalam santapan itu Yesus melembagakan Ekaristi. Kita memiliki hikayatnya dalam ketiga Injil Sinoptik. Dan Injil keempat (Yahya) memberi perincian tambahan.”

Mengenai Ekaristi, pengarang tersebut yang menulis:

“Pelembagaan Ekaristi diterangkan secara singkat dalam tiga Injil pertama. Ekaristi itu dalam kateketik apostolik (yang diberikan oleh Gereja Katolik) merupakan satu hal yang sangat penting. Yahya telah memberi tarnbahan, yang diperlukan kepada riwayat-riwayat singkat daripada ketiga Injil pertama, dengan meriwayatkan khotbah Yesus tentang roti kehidupan (Yahya 6, 32-58). Dengan begitu maka A. Tricot mengatakan bahwa Yahya tidak menyebutkan pelembagaan Ekaristi oleh Yesus. Pengarang tersebut berbicara tentang “perincian tambahan” tetapi yang dimaksudkan bukan perincian tambahan lembaga Ekaristi; yang dimaksudkannya adalah upacara membasuh kaki para sahabat. Adapun “roti kehidupan” yang dibicarakan oleh A. Tricot adalah peristiwa yang terjadi di luar Ekaristi; tepatnya, adalah hikayat yang diucapkan oleh Yesus mengenai pemberian sehari-hari yang diberikan oleh Tuhan berupa manna kepada Bani Israil ketika mereka keluar dari Mesir, menuju ke sahara di bawah pimpinan Musa. Peringatan tersebut hanya diriwayatkan oleh Yahya. Dalam paragraf sesudah itu, Yahya dalam Injilnya menyebutkan Ekaristi yang dilakukan oleh Yesus, sebagai suatu penyimpangan hikayat karena terdapatnya kata-kata “roti.” Akan tetapi penulis Injil yang lain tidak membicarakan hikayat ini.

Dengan begitu kita merasa heran mengapa Yahya tidak membicarakan hal-hal yang dibicarakan oleh pengarang ketiga Injil Sinoptik, dan mengapa ketiga pengarang Injil Sinoptik (Matius Markus dan Lukas) tidak menyebutkan hal-hal yang disebutkan oleh Yahya.

Para penulis Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel, Perjanjian Baru, mengakui kekurangan yang besar ini dalam Injil Yahya, tetapi mereka memberi penjelasan tentang tidak disebutkannya lembaga Ekaristi sebagai berikut: “Secara umum Yahya tidak menaruh perhatian kepada tradisi dan kelembagaan Israil kuno, dan barangkali inilah yang membelokkannya daripada usaha untuk menunjukkan berakarnya Ekaristi dalam liturgi perayaan Paskah.” Tetapi bagaimana kita percaya bahwa kekurangan perhatian terhadap liturgi paskah Yahudi menyebabkan Yahya tidak membicarakan pelembagaan suatu perbuatan pokok dalam liturgi agama baru (Nasrani).

Persoalan ini telah membingungkan para ahli tafsir, sehingga para ahli teologi mencoba mencari benih atau persamaan daripada Ekaristi dalam sejarah kehidupan Yesus yang diceritakan oleh Yahya.

O. Culmann dalam bukunya “Peryanjian Baru” menulis: “Mu’jizat Kana dan berlipat gandanya roti mendahului dan menjadi dasar sakramen Kana (Ekaristi).” Kita ingat bahwa di Cana, Yesus yang menghadiri satu walimah perkawinan merubah air menjadi anggur (Yahya 2, 1-12). Adapun berlipat-gandanya roti (Yahya 6, 1-13) adalah untuk memberi makan 5000 orang dengan hanya 5 roti yang berlipat ganda. Oleh karena itu, dalam meriwayatkan kejadian-kejadian tersebut, Yahya tidak memberikan sesuatu komentar. Pendekatan antara hikayat ini dengan Ekaristi hanya imajinasi O. Culmann. Kita tidak dapat mengerti hubungan yang ia katakan dan kita merasa bingung membaca uraian pengarang, bahwa sembuhnya orang lumpuh dan orang yang buta dari kecil “memaklumkan pembaptisan” atau “air dan darah yang keluar dari Yesus setelah ia mati bersatu dalam satu kejadian” merupakan isyarat kepada pembaptisan atau Ekaristi.

Suatu pendekatan lain daripada O. Culmann terhadap Ekaristi disebutkan oleh R.P. Rouguet dalam bukunya “Pengantar kepada Injil” sebagai berikut:

“Beberapa ahli teologi Bibel seperti Oscar Culmann melihat dalam hikayat pembasuhan kaki murid Yesus sebelum Eucharisti sebagai suatu hal yang sama dengan Ekaristi secara simbolis.”

Orang merasa bahwa cara-cara yang dilakukan oleh ahli tafsir Injil untuk merasa puas dengan kekurangan yang menggelisahkan yang terdapat dalam Injil Yahya, adalah cara-cara yang tidak wajar.

YESUS YANG DIBANGKITKAN DARI KUBUR MENAMPAKKAN DIRI.

Suatu contoh besar daripada khayalan telah kita sebutkan mengenai Injil Matius dengan hikayatnya tentang fenomena-fenomena aneh yang membarengi kematian Yesus. Kejadian-kejadian yang terjadi sesudah kebangkitan Yesus dari kubur memberi bahan kepada hikayat-hikayat yang berkontradiksi dan aneh yang tersebut dalam empat Injil.

R.P. Rouguet dalam bukunya “Pengantar kepada Injil” halaman 182 memberikan contoh tentang hal-hal yang campur baur, tidak urut dan kontradiksi yang terdapat dalam Injil.

“Daftar nama wanita-wanita yang datang ke kubur tidak sama dalam ketiga Injil Sinoptik. Dalam Injil Yahya, hanya disebutkan seorang wanita bernama Maria Magdalena. Tetapi ia bicara memakai kata ‘kami’ seperti ia mempunyai teman, “kami tidak tahu dimana mereka menaruhnya (jenazah Yesus).” Dalam Injil Matius, malaikat berkata kepada para wanita bahwa mereka akan melihat Yesus di Galile. Dan, sekejap mata sesudah itu Yesus datang menemui mereka dekat kubur. Lukas merasakan kesulitan, kemudian mengatur sumbernya sedikit. Malaikat berkata, “Kamu ingat Yesus telah bicara kepadamu waktu ia masih berada di Galile.” Dan Lukas hanya menyebutkan bahwa Yesus menampakkan diri hanya tiga kali. Yahya mengatakan antara penampakan pertama dan kedua ada perbedaan 8 hari, yaitu di suatu kamar makan di Yerusalem. Penampakan yang ketiga kali terjadi dekat danau, jadi di Galile. Matius hanya menyebutkan penampakan sekali, yakni di Galile.

R.P. Rouguet tidak membicarakan bagian terakhir daripada Injil Markus, yaitu bagian yang menyebutkan penampakan-penampakan Yesus, oleh karena ahli tafsir Injil tersebut berpendapat “tidak ada keragu-raguan bahwa bagian tersebut tidak ditulis oleh Yahya tetapi oleh tangan lain.”

Kejadian-kejadian tersebut adalah berkontradiksi dengan hikayat penampakan-penampakan Yesus yang dimuat dalam surat pertama Paulus kepada orang-orang Korintus (15, 5-7) yaitu penampakan kepada 500 orang sekaligus, kepada Jack, kepada para rasul dan kepada Paulus sendiri.

Kita heran karena R.P. Rouguet dalam buku itu juga mengecam: “Khayalan yang aneh dan kekanak-kanakan dalam Injil-Injil apokrif mengenai kebangkitan Yesus.” Bukankah kata-kata tersebut lebih cocok jika dilontarkan kepada Matius dan Paulus, yang sangat kontradiksi dengan pengarang-pengarang Injil iainnya mengenai penampakan diri Yesus yang sudah-dibangkitkan dan kubur.

Selain itu ada lagi kontradiksi antara “Perbuatan para rasul” karangan Lukas mengenai penampakan diri Yesus kepada Paulus, dan apa yang diceritakan oleh Paulus sendiri secara singkat. Hal ini telah mendorong R.P. Kannengiesser, untuk menulis dalam bukunya: Foi en la Resurrection, Resurrection de la foi, 1974 (Iman Kepada Kebangkitan Yesus, Kebangkitan Iman) sebagai berikut: “Paul, satu-satunya saksi mata tentang kebangkitan Yesus dari kubur, yang suaranya telah sampai kepada kita langsung melalui tulisan-tulisannya, tidak pernah membicarakan tentang pertemuan pribadi dengan Yesus, kecuali tentang tiga isyarat yang terpisah-pisah. Lebih baik ia tidak menyebutkannya.”

Kontradiksi antara Paulus, satu-satunya saksi mata, tetapi yang dicurigai di satu pihak dan Injil-Injil di lain pihak, adalah jelas. O. Culmann dalam bukunya: “‘Perjanjian Baru” perhatian kita kepada kontradiksi antara Lukas dan Matius. Lukas mengatakan bahwa Yesus menampakkan diri di Yudea, Matius mengatakan hal itu-terjadi di Gilile. Mengenai kontradiksi antara Lukas dan Yahya, kita harus ingat bahwa hikayat yang ditulis oleh Yahya (21, 1-14) mengenai Yesus yang sudah bangkit dari kubur menampakkan diri di pinggir danau Tabaria kepada nelayan-nelayan, dan kemudian para nelayan itu mendapatkan ikan begitu banyak sehingga mereka tak dapat membawanya, hikayat tersebut adalah ulangan daripada hikayat mencari ikan yang ajaib di tempat yang sama, tetapi waktu Yesus masih hidup; dan hikayat itu ditulis oleh Lukas (5, 1-11).

Mengenai penampakan diri Yesus, R.P. Rouguet, dalam bukunya, meyakinkan kita, bahwa “terputus-putusnya kaitan, tidak adanya keseragaman dan tidak teraturnya hikayat-hikayat itu, memberikan kepercayaan kepadanya. Oleh karena fakta-fakta tersebut membuktikan bahwa para pengarang Injil tidak bekerja sama; kalau tidak begitu tentu mereka dapat menyesuaikan riwayat masing-masing. Pemikiran semacam itu adalah aneh. Sesungguhnya semua penulis Injil itu dapat meriwayatkan secara jujur sepenuhnya segala tradisi yang sudah dijadikan roman oleh masyarakatnya secara tidak sadar; mengapa tidak terdorong untuk membuat hipotesa ini sesudah berhadapan dengan kontradiksi dan kekeliruan yang begitu banyak dalam mengkaitkan kejadian-kejadian.

Yesus Naik ke Langit

Kontradiksi-kontradiksi ini berlangsung sampai berakhirnya hikayat, oleh karena baik Yahya maupun Matius tidak menyebutkan kenaikan Al Masih ke langit. Hanya Markus dan Lukas yang membicarakannya.

Bagi Markus (16, 19) Yesus “diangkat ke langit dan duduk di kanan Tuhan.” Waktunya pengangkatan itu dalam hubungannya dengan kebangkitan tidak diterangkan, akan tetapi perlu kita ingat bahwa akhir Injil Markus yang mengandung kalimat-kalimat tersebut menurut R.P. Rouguet tidak autentik, tetapi tambahan, walaupun menurut Gereja kalimat-kalimat tersebut adalah Kanon.

Tinggal Lukas, satu-satunya pengarang Injil yang menyebutkan hikayat Yesus naik ke langit (94, 51) dalam satu teks yang tidak diperdebatkan, “Yesus berpisah dari mereka, dan dinaikkan ke langit.” Kejadian itu diletakkan oleh Lukas pada akhir hikayat kebangkitan Yesus dari kubur, dan penarnpakan dirinya kepada 11 sahabatnya. Perinci-perinci hikayat memberi kesan bahwa kenaikan Yesus ke langit terjadi pada hari ia dibangkitkan dari kubur.

Tetapi dalam Kisah Perbuatan Para Rasul, Lukas yang dikira sebagai pengarangnya melukiskan (1, 2-3) penampakan Yesus kepada para sahabat antara penyaliban dan kenaikan ke langit sebagai berikut. “mereka itu mempunyai bukti-bukti bahwa selama 40 hari Yesus menampakkan diri kepada mereka dan berbicara dengan mereka soal Kerajaan Tuhan.” Paragraf dalam Kisah Perbuatan Para Rasul adalah dasar untuk menentukan Hari Besar Kristen, naiknya Al Masih ke langit, 40 hari sesudah Paskah yang bersamaan dengan hari Kebangkitan Yesus. Jadi hari Kenaikan Al Masih ditentukan dengan menentang Injil Lukas. Tak ada teks Bibel lain yang membenarkan penentuan hari tersebut.

Seorang Kristen akan merasa gelisah jika ia mengetahui keadaan seperti tersebut, oleh karena kontradiksi yang nyata. Terjemahan Ekumenik daripada Bibel, Perjanjian Baru, mengakui fakta-fakta tersebut akan tetapi tidak membicarakan kontradiksi, malahan merasa puas dengan mengatakan bahwa 40 hari sangat berguna bagi Yesus untuk menunaikan tugasnya.

Para ahli tafsir yang ingin menerangkan atau menyesuaikan hal-hal yang tak dapat disesuaikan, memberikan tafsiran-tafsiran yang aneh.

Ringkasan 4 Injil yang diterbitkan pada tahun 1972 oleh Sekolah Bibel di Yerusalem memuat penjelasan yang lucu (jilid II halaman 451). Dalam buku tersebut, kata-kata kenaikan (ascension) dikritik:

“Sesungguhnya tak ada kenaikan dalam artikata fisik oleh karena Tuhan itu tak ada di atas dan tak ada di bawah.” Kita tak dapat menangkap arti kritik ini, sebab Lukas tak dapat menerangkan hal tersebut dengan cara lain.

Di lain fihak, pengarang komentar tersebut merasakan adanya “tipuan bahasa” dalam kalimat “Dalam Kisah Perbuatan Rasul-rasul, diterangkan bahwa kenaikan Al Masih terjadi 40 hari sesudah dibangkitkan dari kubur.” “Tipuan bahasa,” dimaksudkan untuk menekankan bahwa periode penampakan diri Yesus di bumi sudah selesai.” Tetapi pengarang komentar tersebut menambahkan dalam Injil Lukas “kejadian tersebut terjadi pada hari Minggu malam Paskah, dan oleh karena pengarang Injil Lukas tidak menyebutkan perbedaan waktu antara kejadian-kejadian yang diriwayatkan, setelah kubur diketemukan kosong, pagi hari kebangkitan,” “bukankah ini juga merupakan tipuan bahasa untuk memberikan waktu luang antara beberapa penampakan Yesus?”.

Rasa kesal yang timbul daripada interpretasi seperti ini nampak jelas dalam karangan R.P. Rouguet yang membedakan dua macam kenaikan ke langit. “Kenaikan Yesus ke langit, dilihat dari pandangan Yesus, terjadi pada waktu yang sama dengan kebangkitannya dari kubur, akan tetapi dilihat dari pandangan para murid-muridnya, hal tersebut hanya terjadi setelah Yesus tidak lagi menampakkan diri kepada mereka, agar Ruhul Kudus dapat diutus kepada mereka dan agar zaman Gereja dapat mulai.”

Bagi pembaca yang kurang dapat merasakan kerumitan pembahasan teologi dalam argumentasi di atas, atau tidak punya dasar pengetahuan tentang Bibel, pengarang menyampaikan peringatan umum terhadap permainan bahasa yang bersifat apologetik.

“Di sini, sebagaimana dalam kasus-kasus serupa, persoalan tidak akan dapat dipecahkan kecuali jika orang memahami secara harafiah dan material segala yang tersebut dalam Injil, dengan melupakan arti keagamaannya. Kita tidak menafsirkan fakta-fakta dengan simbol-simbol yang tidak konsisten, tetapi kita mencari maksud teologi daripada mereka yang mengungkapkan rahasia kepada kita dalam meriwayatkan fakta-fakta, dalam alamat-alamat yang sesuai dengan sifat jiwa yang condong kepada godaan-godaan badaniyah.

Paraklet dalam Injil Yahya, PERCAKAPAN YESUS YANG TERAKHIR.

Yahya adalah satu-satunya pengarang Injil yang menyebutkan riwayat percakapan Yesus yang terakhir dengan para rasul (sahabat), yaitu pada akhir santapan Yesus dan sebelum ia ditangkap oleh tentara Romawi; percakapan tersebut berakhir dengan pidato yang amat panjang. Empat fasal dalam Injil Yahya (14-17) dikhususkan untuk pidato tersebut; ini tak ada bandingannya dalam Injil-Injil lain. Padahal fasal-fasal Yahya tersebut membicarakan soal-soal pokok, perspektif (pandangan terhadap) hari depan yang sangat penting; dan kedua hal tersebut ditulis dengan penuh keagungan yang layak bagi peristiwa itu, yaitu peristiwa perpisahan terakhir antara guru dan murid-muridnya.

Bagaimana kita dapat menerangkan mengapa riwayat perpisahan yang mengharukan dan yang mengandung pesan-pesan spiritual Yesus, tidak terdapat dalam Injil Matius, Markus dan Lukas? Kita dapat memajukan soal-soal sebagai berikut: Apakah teks tentang perpisahan tersebut terdapat dalam ketiga Injil yang pertama kemudian teks-teks tersebut dihilangkan? Mengapa dihilangkan? Tetapi marilah kita jawab sendiri- sendiri. Tidak ada jawaban terhadap soal-soal tersebut. Rahasia tetap tersembunyi mengenai kekurangan yang sangat besar dalam ketiga Injil pertama.

Jiwa daripada riwayat khutbah Yesus dapat kita gambarkan dalam percakapan tingkat tinggi tersebut, yaitu perspektif tentang hari kemudian manusia dan minat Yesus menyampaikan ajaran-ajaran dan perintahnya kepada seluruh manusa dengan perantaraan murid-muridnya; juga untuk memastikan pemimpin yang definitif yang harus diikuti oleh manusia setelah Yesus tidak ada lagi. Teks Injil Yahya (dan hanya Injil tersebut) menunjuknya secara terang dengan nama Yunani Paraklitos; kata itu dalam bahasa Perancis Paraklet. Di bawah ini saya kutip paragraf-paragraf yang pokok menurut Terjemahan Ekumenik daripada Bibel Perjanjian Baru.

“Jika kamu cinta kepadaku, ikutilah perintah-perintahku, Aku akan mohon kepada Bapa: Ia akan memberi kamu seorang Paraklet lain” (14, 15-16). Apakah arti Paraklet? Teks Injil Yahya yang kita miliki menjelaskan arti itu sebagai berikut:

“Paraklet, Ruhul Kudus yang Bapa akan mengutusnya atas namaku, akan menyampaikan segala sesuatu kepadamu dan mengingatkan kamu tentang apa yang telah aku katakan kepadamu.” (14, 26).

“Ia akan menyampaikan sendiri kesaksiannya daripadaku (15, 26).

“Adalah baik bagimu jika aku pergi; karena jika aku tidak pergi, Paraklet tidak akan datang kepadamu; tetapi jika aku pergi, aku akan mengirim dia kepadamu. Dan dengan kedatangannya ia akan menerangkan kepadamu isi dunia ini dari hal dosa dan keadilan dan hukuman.” (16, 7-8).

“Jika Ruh Kebenaran datang, ia akan membawa kamu kepada segala kebenaran karena ia tidak akan berkata dari dirinya sendiri, akan tetapi ia akan mengatakan segala hal yang didengarnya dan mengatakan kepadamu segala hal yang akan datang. Ia akan memuliakan aku.” (16, 13-14).

(Perlu diterangkan di sini bahwa paragraf-paragraf yang tidak kita kutip dari fasal 14-17 dari Injil Yahya tidak akan merubah arti umum daripada kutipan-kutipan di atas).

Jika orang membaca dengan lekas, teks Prancis yang mengidentikkan kata Yunani, Paraklet dengan Ruhul Kudus tidak akan menarik perhatiannya. Lebih-lebih judul-judul kecil dalam teks yang biasanya dipakai dalam terjemahan, serta istilah-istilah ahli tafsir yang dipakai dalam buku-buku untuk orang awam, semuanya mengarahkan pembaca kepada arti paragraf yang diberikan oleh faham resmi Gereja. Jika ada yang merasakan kesukaran, maka keterangan yang diberikan oleh Kamus Kecil tentang Perjanjian Baru karangan A. Tricot umpamanya akan dapat memberikan penjelasan.

Dalam Kamus Kecil itu, di bawah artikel: Paraklet, kita dapatkan keterangan seperti berikut:

“Nama atau julukan itu, yang disalin dari bahasa Yunani ke bahasa Perancis, tidak dipakai dalam Perjanjian Baru kecuali oleh Yahya; empat kali waktu ia meriwayatkan khutbah Yesus setelah santapan 19 (14, 16 dan 26, 15, 26, 16, 7) dan satu kali dalam surat Yahya yang pertama (2,1). Dalam Injil Yahya, kata itu dipakai untuk Ruhul Kudus; dalam surat Yahya, kata itu dipakai untuk Yesus. “Paraklet” adalah suatu istilah yang banyak dipakai oleh orang-orang Yahudi Yunani abad pertama dan berarti: juru syafa’at, (yang mempertahankan). Yesus mengumumkan: Ruh (esprit) akan dikirim oleh Bapa dan Anak dan tugasnya adalah untuk menyempurnakan si Anak dalam tugas penyelamatannya yang dilakukannya selama hidupnya untuk murid-muridnya. Ruh akan campur tangan dan bertindak sebagai pengganti Kristus dalam tugasnya sebagai Paraklet atau juru syafa’at yang kuasa.”

Komentar tersebut menjadikan Ruhul Kudus pemimpin tertinggi bagi manusia sesudah Yesus tidak ada. Apakah penjelasan A. Tricot tersebut sesuai dengan teks Yahya. Pertanyaan ini harus kita majukan oleh karena, secara a priori, nampak mengherankan jika kepada Ruhul Kudus kita nisbatkan paragraf terakhir yang telah kita sebutkan di atas. “Ia tidak akan berkata dari dirinya sendiri akan tetapi ia akan mengatakan segala hal yang didengarnya dan mengatakan kepada kamu segala hal yang akan datang.” Terasa tidak masuk akal jika kita mengatakan bahwa Ruhul Kudus dapat bicara dan dapat menyampaikan segala yang ia dengar. Sepanjang pengetahuan saya, soal yang mestinya harus ditimbulkan oleh logika, pada umumnya tidak menjadi soal bagi ahli tafsir Injil.

Untuk mendapatkan gambaran yang pasti mengenai soal ini, kita harus kembali kepada Naskah dasar Yunani yang sangat penting untuk menunjukkan apakah Yahya menulis Injilnya dalam bahasa Yunani dan bukan dalam bahasa lain.

Teks Yunani yang kita baca adalah Novam Testameritum Graece; terbitan Nestle dan Aland tahun 1971.

Tiap-tiap kritik teks yang sungguh-sungguh, dimulai dengan menyelidiki perbedaan. Dalam kumpulan-kumpulan manuskrip Injil Yahya yang telah diketahui, tidak ada perbedaan yang mungkin merubah arti kalimat-kalimat, kecuali perbedaan-perbedaan dalam paragraf 14, 26 daripada versi dalam bahasa Syriac, yaitu versi yang dinamakan Palimpseste.*20 Dalam teks ini tak disebutkan Ruhul Kudus; tetapi hanya Ruh, tanpa tambahan. Apakah tukang naskahnya lupa, atau ia menghadapi suatu teks yang harus dicopy, tetapi oleh karena teks itu mengatakan bahwa Ruhul Kudus dapat mendengar dan bicara, maka ia tidak berani menulis hal-hal yang ia anggap tidak masuk akal? Selain pengamatan ini, tak ada perbedaan lain, kecuali perbedaan gramatika yang tidak merubah arti umum; yang sangat penting adalah bahwa yang telah kita terangkan di sini mengenai arti kata kerja: “mendengar” dan “bicara” terdapat dalam semua manuskrip Injil Yahya, dan itulah yang terjadi.

Kata kerja “dengar,” dalam bahasa Yunani akoua, yang artinya merasakan suara. Dan bahasa Yunani akoua ini kita dapatkan kata acoustic yang berarti ilmu suara.

Kata kerja “bicara” dalam bahasa Yunani laleo, yang artinya mengeluarkan suara, khususnya bicara. Kata kerja laleo ini, sering terdapat dalam teks Injil Yunani untuk menunjukkan suatu pernyataan yang penting yang dikatakan oleh Yesus dalam ceramah-ceramahnya. Jadi nyata bahwa tugas Yesus untuk dakwah kepada manusia tidak hanya terdiri dari wahyu yang dibawa oleh Ruhul Kudus tetapi tugas dakwah itu mempunyai bentuk material yang nyata, yaitu sebagai yang difahami dari arti kata Yunani, yakni mengeluarkan suara.

Dua kata kerja Yunani akoua dan laleo adalah perbuatan yang konkrit yang hanya dilakukan oleh makhluk yang diberi alat untuk mendengar dan bicara. Memakai dua kata kerja tersebut untuk Ruhul Kudus adalah tidak mungkin.

Dengan begitu maka berdasarkan atas manuskrip Yunani, teks paragraf Injil Yahya sama sekali tidak dapat dimengerti, jika kita terima secara keseluruhan, yakni dengan kata “Ruhul Kudus” dalam paragraf (14, 26) yang berbunyi:

“Paraklet, Ruhul Kudus yang akan dikirim oleh Bapa, atas namaku” seterusnya, satu-satunya paragraf dalam Injil Yahya yang mengidentikkan Paraklet dengan Ruhul Kudus.

Akan tetapi jika kita hilangkan kata-kata Ruh Kudus (to pneuma to agion) dari paragraf ini, seluruh teks Yahya mempunyai arti yang sangat jelas. Sesungguhnya teks Yahya tersebut juga sudah dikonkritkan oleh teks lain daripada Yahya sendiri, yaitu teks surat Yahya yang pertama, di mana Yahya memakai kata Paraklet untuk menunjuk Yesus sebagai juru syafa’at di hadapan Tuhan. *21 Dan jika menurut Injil Yahya (16, 14;):

“Aku akan mendo’a kepada Bapa, Ia akan mengirim Paraklet lain,” ini berarti bahwa akan dikirim seorang Paraklet (juru Syafa’at) seperti dia, selama berada di atas bumi.

Kita mendapat kesimpulan menurut logika bahwa Paraklet yang disebutkan oleh Yahya adalah seorang manusia seperti Yesus, yang dianugerahi anggauta untuk mendengar dan bicara yang diakui dalam teks Yunani secara formal. Jadi, Yesus mengumumkan bahwa Tuhan kemudian akan mengirim seorang manusia di atas bumi ini untuk memainkan suatu peranan yang dijelaskan oleh Yahya, yaitu dengan ringkas, peranan seorang nabi yang mendengar suara Tuhan dan mengulangi risalahnya kepada manusia. Ini adalah interpretasi logis dari teks Yahya, jika kita memberi arti yang real kepada kata-kata.

Adanya kata Ruhul Kudus dalam teks yang kita miliki sekarang mungkin ada hubungannya dengan tambahan-tambahan baru yang disengaja untuk merubah arti yang sesungguhnya dalam suatu paragraf yang berkontradiksi dengan ajaran Gereja-gereja Kristen yang ingin mengatakan bahwa Yesus itu adalah Nabi yang terakhir, karena paragraf tersebut mengumumkan kedatangan seorang Nabi sesudah Yesus.

Kesimpulan Dari Kontradiksi Dalam Perjanjian Baru
IX. KESIMPULAN

Hal-hal yang telah kita bicarakan dalam buku ini dan komentar-komentar yang ditulis oleh ahli tafsir Kristen yang besar telah menolak pernyataan-pernyataan aliran Ortodoks yang bersandar kepada keputusan-keputusan Konsili Vatikan II bahwa Injil-Injil itu mempunyai sejarah yang mutlak dan telah menyampaikan kepada kita secara jujur segala yang diperbuat dan yang diajarkan oleh Yesus.

Argumentasi yang diberikan dalam buku ini bermacam-macam. Pertama, kutipan-kutipan Injil yang menunjukkan kontradiksi menonjol. Orang tidak dapat percaya akan adanya dua fakta yang bertentangan. Orang juga tidak dapat menerima kekeliruan atau pernyataan-pernyataan yang bertentangan dengan hal-hal yang sudah ditetapkan oleh pengetahuan modern. Dua silsilah keturunan Yesus yang disajikan oleh Injil dan kontradiksi yang ada di dalamnya adalah contoh yang menyolok.

Banyak orang Kristen yang tidak mengetahui kontradiksi, kekeliruan atau ketidak sesuaian dengan Sains modern, dan mereka terkejut sewaktu mereka mengetahuinya, oleh karena selama ini mereka terpengaruh oleh tafsiran-tafsiran yang memberikan penjelasan-penjelasan halus untuk meyakinkan mereka dengan bantuan permainan bahasa apologi. Telah dikemukakan beberapa contoh tentang kepandaian ahli tafsir untuk menyembunyikan hal-hal yang mereka namakan “kesukaran-kesukaran.”

Sangat jarang paragraf-paragraf Injil yang dianggap tidak autentik karena Gereja telah meresmikannya sebagai “Kanon.”

Karya kritik teks modern telah menunjukkan hal-hal yang menurut R.P. Kannengiesser, merupakan “revolusi metode penafsiran Injil” dan mendorong kita untuk tidak memahami secara harfiah kejadian-kejadian tentang Yesus yang disebut dalam Injil,” baik tulisan-tulisan pada waktu tertentu atau “tulisan-tulisan perjuangan.” Pengetahuan modern yang telah menyoroti sejarah agama Yahudi Kristen dan persaingan antara kelompok-kelompok, menerangkan adanya fakta-fakta yang menggelisahkan para pembaca zaman sekarang. Anggapan bahwa para penulis Injil adalah saksi mata tidak dapat lagi dipertahankan, walaupun masih banyak orang Kristen yang mempercayainya. Karya sekolah Bibel di Yerusalem (R.P. Benoit dan R.P. Boismard) menunjukkan dengan jelas bahwa Injil-Injil telah ditulis, diperiksa kembali dan dikoreksi beberapa kali. Dengan begitu maka pembaca Injil telah diperingatkan bahwa mereka jangan mengharap mendengarkan suara Yesus secara langsung.

Bahwa Injil-lnjil itu kitab yang bersejarah tak dapat dibantah, akan tetapi dokumen-dokumen itu hanya menunjukkan kepada kita, di sela-sela hikayat-hikayat mengenai Yesus, mental para pengarangnya yang menjadi juru bicara tentang tradisi kelompok-kelompok Kristen Purba dan mereka menjadi anggotanya, serta perjuangan antara agama Yahudi-Kristen dan Paulus. Karangan-karangan Kardinal Danielou merupakan autoritas dalam hal ini.

Kita tak perlu heran karena adanya perubahan-perubahan dalam beberapa kejadian dalam sejarah kehidupan Yesus, yaitu perubahan-perubahan yang dimaksudkan untuk mempertahankan pendapat pribadi. Kita tak perlu heran terhadap dihilangkannya beberapa kejadian dan tidak perlu heran terhadap gambaran beberapa kejadian yang penuh dengan khayalan.

Kita terdorong untuk membandingkan Injil dengan nyanyian kepahlawanan dalam sastra abad pertengahan. Perbandingan dengan: Chanson de Roland: (nyanyian Roland) suatu epik yang sangat terkenal, yaitu nyanyian yang menceritakan kejadian yang nyata dicampur dengan khayalan. Nyanyian Roland meriwayatkan kejadian autentik; musuh telah berhasil menjebak pengawal Raja Karl Agung, yang dipimpin oleh Roland, di lembah Rencevaux. Hikayat Roland yang tidak begitu penting itu telah terjadi pada tanggal 15 Agustus 778. Hikayat tersebut dibesar-besarkan sehingga dapat tergambar sebagai perang yang besar dan sebagai perang suci. Hikayatnya adalah khayalan, tetapi khayalan itu tidak dapat menghilangkan realitas daripada perjuangan Raja Karl Agung untuk menjaga tapal batas Kerajaan Perancis dari bahaya infiltrasi bangsa-bangsa tetangga; di situlah hal yang autentik yang tak dapat dihapus oleh bentuk syair kepahlawanan.

Keadaan yang sama berlaku bagi Injil: khayalan Matius, kontradiksi yang menonjol di antara Injil-Injil, kekeliruan, ketidaksesuaian dengan hasil-hasil Sains modern, perubahan-perubahan teks yang terus menerus, menyebabkan Injil-Injil itu memuat fasal-fasal dan paragraf-paragraf yang hanya sesuai dengan imajinasi manusia. Tetapi cacad-cacad ini tidak dapat menjadikan kita ragu-ragu terhadap adanya missi Yesus; keragu-raguan hanya mengenai jalannya missi tersebut.


Catatan:
19  Sesungguhnya bukan setelah santapan, tetapi dalam santapan.
20  Ditulis pada abad 4 atau 5 dan ditemukan di gunung Sinai tahun 1812 oleh Agnes S. Lewis. Manuskrip ini dinamakan Palimpseste oleh karena teks pertama asli telah ditutup oleh teks lain di atasnya, setelah teks yang menutupi ini dihapus, maka teks pertama terlihat lagi.
21  Banyak terjemahan dan tafsir, khususnya yang lama, menterjemahkan kata Paraklet dengan juru penenang (comforter). Ini adalah kesalahan besar. Dalam Injil Indonesia Paraklet diterjemahkan menjadi: Penolong. (Rasjidi).
 

One response to “Kontradiksi Perjanjian Baru

  1. pakde

    9 Agustus 2017 at 10:26 pm

    TULISAN YANG SANGAT MENCERAHKAN BAGI SETIAP ORANG YANG BERPIKIRAN BEBAS, TERBUKA DAN OBYEKTIF, DALAM RANGKA MENCARI KEBENARAN.

    TERUSLAH BERKARYA SAUDARAKU, TERIRING DOA SEMOGA ALLAH SWT SELALU MEMBIMBING DAN MERAHMATI ANDA DAN KITA SEMUA YANG BERTAQWA DAN MENGESAKAN-NYA, SEMOGA PANJANG UMUR DAN SENANTIASA DIKARUNIA KESEHATAN YANG PRIMA SEHINGGA BISA SEMAKIN BANYAK MENGHASILKAN KARYA2 YANG SEMAKIN MENCERAHKAN DAN MENAMBAH WAWASAN, AAMIIN YA ALLAH YRA.

    Suka

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: