RSS

Penyusunan Al-Qur’an

AL-QUR’AN DAN SAINS MODERN

II.  KEASLIAN Al-QUR’AN
     SEJARAH PENYUSUNANNYA

Keaslian yang tak dapat disangsikan lagi telah memberi kepada Al-Qur’an suatu kedudukan istimewa di antara kitab-kitab Suci, kedudukan itu khusus bagi Al-Qur’an, dan tidak dibarengi oleh Perjanjian lama dan Perjanjian Baru. Pada dua bagian pertama daripada buku ini kita telah menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi dalam Perjanjian Lama dan empat Injil, sebelum Bible dapat kita baca seperti dalam keadaannya sekarang.

Al-Qur’an tidak begitu halnya, oleh karena Al-Qur’an telah ditetapkan pada zaman Nabi Muhammad, dan kita akan lihat bagaimana caranya Al-Qur’an itu ditetapkan. Perbedaan-perbedaan yang memisahkan wahyu terakhir daripada kedua wahyu sebelumnya, pada pokoknya tidak terletak dalam kurun “waktu turunnya” seperti yang sering ditekankan oleh beberapa pengarang yang tidak memperhatikan hal-hal yang terjadi sebelum kitab suci Yahudi Kristen dibukukan, dan hal-hal yang terjadi sebelum pembukuan Al-Qur’an, mereka juga tidak memperhatikan bagaimana Al-Qur’an itu diwahyukan kepada Nabi Muhammad.

Orang mengatakan bahwa teks yang ada pada abad VII Masehi mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk dapat sampai kepada kita tanpa perubahan daripada teks yang jauh lebih tua daripada Al-Qur’an dengan perbedaan 15 abad. Kata-kata tersebut adalah tepat, akan tetapi tidak memberi keterangan yang cukup. Tetapi di samping itu, keterangan tersebut diberikan untuk memberi alasan kepada perubahan-perubahan teks kitab suci Yahudi Kristen yang terjadi selama berabad-abad, dan bukan untuk menekankan bahwa teks Al-Qur’an itu karena lebih baru daripada teks kitab suci Yahudi Kristen, sehingga lebih sedikit mengandung kemungkinan untuk dirubah oleh manusia.

Bagi Perjanjian Lama, yang menjadi sebab kekeliruan dan kontradiksi yang terdapat di dalamnya adalah: banyaknya pengarang sesuatu riwayat, dan seringnya teks-teks tersebut ditinjau kembali dalam periode-periode sebelum lahirnya Nabi Isa (Yesus); mengenai empat Injil yang tidak ada orang dapat mengatakan secara pasti bahwa kitab-kitab itu mengandung kata-kata Yesus secara setia dan jujur atau mengandung riwayat tentang perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan realitas yang sungguh-sungguh terjadi, kita sudah melihat bahwa redaksi-redaksi yang bertubi-tubi menyebabkan bahwa teks-teks tersebut kehilangan autentisitas. Selain daripada itu para penulis Injil bukanlah merupakan saksi mata terhadap kehidupan Yesus.

Kita harus bisa membedakan antara Al-Qur’an sebagai Wahyu tertulis, dan “Hadits jami’ yang merupakan kumpulan riwayat tentang perbuatan dan kata-kata Nabi Muhammad. Beberapa sahabat Nabi telah memulai mengumpulkannya segera setelah Nabi Muhammad wafat.*5 Dalam hal ini, dapat saja terjadi kesalahan-kesalahan yang bersifat kemanusiaan karena para penghimpun Hadits adalah manusia-manusia biasa; karena kumpulan-kumpulan mereka itu kemudian disoroti dengan tajam oleh kritik yang sangat serius, sehingga dalam prakteknya, orang lebih percaya kepada dokumen yang dikumpulkan orang, lama setelah Nabi Muhammad wafat, sebagaimana halnya dengan teks-teks Injil, Hadits mempunyai autentisitas yang berlainan, dari satu pengumpul kepada pengumpul yang lain. Juga sebagaimana hal Injil, tidak ada sesuatu Injil yang ditulis pada waktu Yesus masih hidup (karena semuanya ditulis lama sesudah Nabi Isa/Yesus meninggal) maka kumpulan Hadits juga dibukukan setelah (Nabi Muhammad meninggal).

Bagi Al-Qur’an, kondisinya berbeda. Teks Al-Qur’an atau Wahyu itu dihafalkan oleh Nabi dan para sahabatnya, langsung setelah wahyu diterima, dan ditulis oleh beberapa sahabat-sahabatnya yang ditentukannya. Jadi, dari permulaan, Al-Qur’an mempunyai dua unsur autentisitas tersebut, yang tidak dimiliki Injil. Hal ini berlangsung sampai wafatnya Nabi Muhammad. Penghafalan Al-Qur’an pada zaman dimana manusia sedikit sekali yang dapat menulis, memberikan kelebihan jaminan yang sangat besar pada waktu pembukuan Al-Qur’an secara definitif, dan disertai beberapa regu untuk mengawasi pembukuan tersebut.

Wahyu Al-Qur’an telah disampaikan kepada Nabi Muhammad oleh malaikat Jibril, sedikit demi sedikit selama lebih dari 20 tahun. Wahyu yang pertama adalah yang sekarang merupakan ayat pertama daripada surat nomor 96 (AL ‘ALAQ). Kemudian Wahyu itu berhenti selama 3 tahun, dan mulai lagi berdatangan selama 20 tahun sampai wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632 M.; dapat dikatakan bahwa turunnya Wahyu berlangsung 10 tahun sebelum Hijrah (622) dan 10 tahun lagi sesudah Hijrah.

Wahyu yang pertama diterima Nabi Muhammad adalah sebagai berikut:

(Surat 96 ayat 1-5):*6

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Professor Hamidullah mengatakan dalam Pengantar yang dimuat dalam terjemahan Al-Qur’an bahwa isi dari wahyu pertama adalah “penghargaan terhadap kalam sebagai alat untuk pengetahuan manusia” dan dengan begitu maka menjadi jelas bagi kita “perhatian Nabi Muhammad untuk menjaga kelangsungan Al-Qur’an dengan tulisan“.

Beberapa teks menunjukkan secara formal bahwa lama sebelum Nabi Muhammad meninggalkan Mekah untuk hijrah ke Madinah, ayat-ayat Al-Qur’an yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad sudah dituliskan. Kita nanti akan mengetahui bahwa Al-Qur’an membuktikan hal tersebut.

Kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya biasa menghafal teks-teks yang telah diwahyukan. Adalah tidak masuk akal jika Al-Qur’an menyebutkan hal-hal yang tidak sesuai dengan realitas, karena hal-hal itu mudah dikontrol disekeliling Muhammad yakni oleh sahabat-sahabat yang mencatat Wahyu tersebut.

Empat Surat Makiyah (diturunkan sebelum Hijrah) memberi gambaran tentang redaksi Al-Qur’an sebelum Nabi Muhammad meninggalkan Mekah pada tahun 622 M.

Surat 80 ayat 11-1 6:

Sekali-kali jangan (demikian), sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah peringatan, maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikan. Di dalam kõtab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan, lagi disucikan. Di tangan para penulis, yang mulia lagi berbakti“.

Yusuf Ali, dalam Terjemah Al-Qur’an yang ditulisnya pada tahun 1936 mengatakan bahwa pada waktu Surat tersebut diwahyukan sudah ada 42 atau 45 Surat yang beredar di antara kaum muslimin di Mekah (Jumlah Surat-surat dalam Al-Qur’an adalah 114 Surat).

Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al Al-Qur’an yang
mulia yang tersimpan dalam Lauhul Mahfudz“.

Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia (yang terdapat) pada kitab yang terpelihara (Lauhul Makfudz). Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam“.

Dan mereka berkata (lagi). Dongengan-dongengan orang-orang
dahulu dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang“.

Ayat tersebut menyinggung dakwaan para lawan Nabi Muhammad yang menuduh bahwa Muhammad adalah Nabi palsu, mereka menggambarkan bahwa ada orang yang mendiktekan sejarah-kuno kepada Nabi Muhammad dan Muhammad menyuruh sahabat-sahabatnya untuk menulisnya.

Ayat tersebut menyebutkan: “Pencatatan dengan tulisan” yang didakwakan kepada Muhammad oleh lawan-lawannya. Suatu Surat yang diturunkan sesudah Hijrah, menyebutkan tentang lembaran-lembaran yang di dalamnya tertulis perintah-perintah suci.

Surat 98 ayat 2 dan 3:

Seorang Rasul dari Allah (yaitu Nabi Mahammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al-Qur’an). Di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus“.

Dengan begitu maka Al-Qur’an sendiri memberitahukan bahwa penulisan Al-Qur’an telah dilakukan semenjak Nabi Muhammad masih hidup. Kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad mempunyai juru tulis-juru tulis banyak, di antaranya yang termashur adalah Zaid bin Tsabit.

Dalam pengantar dalam Terjemahan Al-Qur’annya (197) Prof. Hamidullah melukiskan kondisi waktu teks Al-Qur’an ditulis sampai Nabi Muhammad wafat.

Sumber-sumber sepakat untuk mengatakan bahwa tiap kali suatu fragmen daripada Al-Qur’an diwahyukan, Nabi memanggil seorang daripada para sahabat-sahabatnya yang terpelajar dan mendiktekan kepadanya, serta menunjukkan secara pasti tempat fragmen baru tersebut dalam keseluruhan Al-Qur’an. Riwayat-riwayat menjelaskan bahwa setelah mendiktekan ayat tersebut, Muhammad minta kepada juru tulisnya untuk membaca apa yang sudah ditulisnya, yaitu untuk mengadakan pembetulan jika terjadi kesalahan.

Suatu riwayat yang masyhur mengatakan bahwa tiap tahun pada bulan Ramadlan, Nabi Muhammad membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah diterimanya di hadapan Jibril. Pada bulan Ramadhan yang terakhir sebelum Nabi Muhammad meninggal, malaikat Jibril mendengarkannya membaca (mengulangi hafalan) Al-Qur’an dua kali.

Kita mengetahui bahwa semenjak zaman Nabi Muhammad, kaum muslimin membiasakan diri untuk berjaga pada bulan Ramadhan dan melakukan ibadah-ibadah tambahan dengan membaca seluruh Al-Qur’an. Beberapa sumber menambahkan bahwa pada pembacaan Al-Qur’an yang terakhir di hadapan Jibril terdapat juga juru-tulis Nabi Muhammad yang bernama Zaid hadir. Sumber-sumber lain mengatakan bahwa di samping Zaid juga ada beberapa orang lain yang hadir.

Untuk pencatatan pertama, orang memakai bermacam-macam bahan seperti kulit, kayu, tulang unta, batu empuk untuk ditatah dan lain-lainnya.

Tetapi pada waktu yang sama Muhammad menganjurkan supaya kaum muslimin menghafalkan Al-Qur’an, yaitu bagian-bagian yang dibaca dalam sembahyang. Dengan begitu maka muncullah sekelompok orang yang dinamakan hafidzun (penghafal Al-Qur’an) yang hafal seluruh Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang-orang lain.

Metoda ganda untuk memelihara teks Al-Qur’an yakni dengan mencatat dan menghafal ternyata sangat berharga. Tidak lama setelah Nabi Muhammad wafat (tahun 632 M.), penggantinya (sebagai Kepala Negara), yaitu Abu Bakar (Khalifah yang pertama), minta kepada juru tulis Nabi, Zaid bin Tsabit untuk menulis sebuah Naskah; hal ini ia laksanakan.

Atas inisiatif Umar (yang kemudian menjadi Khalifah kedua), Zaid memeriksa dokumentasi yang ia dapat dan mengumpulkannya di Madinah seperti: kesaksian daripada penghafal Al-Qur’an dan juga duplikat Al-Qur’an yang terbuat dari bermacam-macam bahan dan yang dimiliki oleh masing-masing pribadi, semua itu dilakukan untuk menghindari kesalahan transkripsi (penyalinan tulisan) sedapat mungkin. Dengan cara ini, berhasillah tertulis suatu naskah Al-Qur’an yang sangat dapat dipercayai.

Sumber-sumber mengatakan bahwa kemudian Umar bin Khathab yang menggantikan Abu Bakar pada tahun 634 M, menyuruh bikin satu naskah (mushaf) yang ia simpan, dan ia berpesan bahwa setelah ia mati, naskah tersebut diberikan kepada anaknya perempuan, Hafsah janda Nabi Muhammad, yakni putri Usman bin Affan (Khalifah ketiga) yang menjabat dari tahun 644 sampai 655, membentuk suatu panitia yang terdiri daripada para ahli dan memerintahkan untuk melakukan pembukuan besar yang kemudian membawa nama Khalifah tersebut.

Panitia tersebut memeriksa dokumen yang dibuat oleh Abubakar dan yang dibuat oleh Umar dan kemudian disimpan oleh Hafsah, panitia berkonsultasi dengan orang-orang yang hafal Al-Qur’an. Kritik tentang autentisitas teks dilakukan secara ketat sekali. Persetujuan saksi-saksi diperlukan untuk menetapkan suatu ayat kecil yang mungkin mempunyai arti lebih dari satu; kita mengetahui bahwa beberapa ayat Al-Qur’an dapat menerangkan ayat-ayat yang lain dalam soal ibadah. Hal ini adalah wajar jika kita mengingat bahwa kerasulan Muhammad adalah sepanjang dua puluh tahun.*7

Dengan cara tersebut di atas, diperolehlah suatu teks dimana urutan surat-surat mencerminkan urutan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan di hadapan malaikat Jibril seperti yang telah diterangkan di atas.

Kita mungkin bertanya-tanya tentang motif yang mendorong ke tiga Khalifah tersebut, terutama khususnya Usman yang menggagas  diadakannya koleksi serta pembukuan teks. Motif tersebut adalah sederhana; tersiarnya Islam yang sangat cepat pada beberapa dasawarsa yang pertama setelah wafatnya Nabi Muhammad. Tersiarnya Islam tersebut terjadi di daerah-daerah yang penduduknya tidak berbahasa Arab. Oleh karena itu perlu adanya tindakan-tindakan pengamanan untuk memelihara tersiarnya teks Al-Qur’an dalam menjaga kemurnian aslinya, tentunya pembukuan yang dilakukan Usman bertujuan untuk memenuhi hasrat ini.

Usman mengirimkan naskah-naskah teks pembukuannya ke pusat-pusat Emperium Islam, dan oleh karena itu maka menurut Professor Hamidullah, pada waktu ini terdapat naskah Al-Qur’an (mushaf) Usman di Tasykent*8 dan di Istambul. Jika kita sadar akan kesalahan penyalinan tulisan yang bisa terjadi, manuskrip yang paling kuno yang kita miliki dan yang ditemukan di negara-negara Islam adalah identik. Begitu juga naskah-naskah yang ada di Eropa. (Di Bibliotheque National di Paris terdapat fragmen-fragmen yang menurut para ahli, berasal dan abad VIII dan IX Masehi, artinya berasal dari abad II dan III Hijrah). Teks-teks kuno yang sudah ditemukan semuanya sama, dengan catatan ada perbedaan-perbedaan yang sangat kecil yang tidak merubah arti teks, jika konteks ayat-ayat memungkinkan cara membaca yang lebih dari satu karena tulisan kuno lebih sederhana daripada tulisan sekarang.

Surat-surat Al-Qur’an yang berjumlah 114, diklasifikasi menurut panjang pendeknya, dengan beberapa kekecualian. Oleh karena itu urutan waktu (kronologi) wahyu tidak dipersoalkan; tetapi orang dapat mengerti hal tersebut dalam kebanyakan persoalan. Banyak riwayat-riwayat yang disebutkan dalam beberapa tempat dalam teks, dan hal ini memberi kesan seakan-akan ada ulangan. Sering sekali suatu paragraf menambahkan perincian kepada suatu riwayat yang dimuat dilain tempat secara kurang terperinci. Dan semua yang mungkin ada hubungannya dengan Sains modern, seperti kebanyakan hal-hal yang dibicarakan oleh Al-Qur’an, dibagi-bagi dalam Al-Qur’an dengan tidak ada suatu tanda adanya klasifikasi.

bucaile-iconBIBEL, Al-Qur’an, dan Sains Modern: Dr. Maurice Bucaille,
Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science,
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi,
Penerbit Bulan Bintang, 
1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta.
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: