RSS

PERJANJIAN BARU

Injil

I. PENGANTAR

Banyak pembaca Injil yang merasa bingung bahkan ragu-ragu jika mereka memikirkan arti beberapa hikayat atau mengadakan perbandingan antara versi-versi yang bermacam macam mengenai suatu kejadian yang diceritakan dalam beberapa Injil. Hal tersebut adalah suatu konstatasi yang diberikan oleh R.P. Rouguet dalam bukunya: Pembimbing kepada Injil (Initiation a l’Evangile) cetakan Seuil 1973. Dengan pengalamannya selama beberapa tahun suatu mingguan Katolik yang ditugaskan untuk menjawab pembaca-pembaca yang mendapatkan kesulitan memahami teks Injil, R.P. Rouguet dapat mengukur pentingnya kebingungan para pembaca. Ia merasakan bahwa permintaan penjelasan dari para pembaca yang datang dari lapisan masyarakat dan kebudayaan orang bermacam-macam adalah mengenai teks yang kabur, yang tak dapat dimengerti, yang kontradiksi, absurd dan memalukan. Tidak ada syak lagi bahwa membaca teks Injil seluruhnya dapat membingungkan umat Kristen.

Pengamatan semacam ini adalah baru; buku R.P. Rouguet diterbitkan pada tahun 1973. Pada masa-masa yang belum terlalu lama, kebanyakan orang Kristen hanya mengetahui ayat-ayat yang dipilih oleh pendeta, dibacakan di waktu sembahyang atau ceramah agama. Diluar kaum Protestan, jarang sekali orang membaca seluruh Injil, diluar kesempatan-kesempatan tersebut.

Buku-buku pelajaran agama hanya memuat kutipan-kutipan. Tak ada teks lengkap yang beredar. Pada waktu saya menjadi siswa sekolah menengah katolik, saya selalu memiliki buku-buku karangan Virgile dan Plato, tetapi tidak memiliki Perjanjian Baru, pada hal teks Yunani Perjanjian Baru sangat berfaedah. Baru kemudian, setelah terlambat, saya baru tahu mengapa kami tidak disuruh menterjemahkan kitab suci Kristen. Pokoknya, terjemahan kitab itu akan mendorong kami memajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

Hal-hal yang dipertanyakan oleh pikiran yang kritis setelah membaca Injil secara menyeluruh telah mendorong Gereja untuk campur tangan dan membantu para pembaca mengatasi kesulitan mereka. R.P. Rouguet berkata: “Banyak orang Kristen yang memerlukan belajar membaca Injil,” mungkin orang setuju atau tidak setuju terhadap kata-kata tersebut, akan tetapi jasa seorang yang menghadapi problema-problema yang rumit amat diperlukan. Sangat disayangkan bahwa kita tidak selalu menjumpai sikap semacam itu dalam buku-buku mengenai Wahyu Kristen yang banyak jumlahnya.

Dalam edisi-edisi Bible yang disediakan untuk awam, biasanya terdapat kata pengantar yang menyajikan beberapa uraian dengan tujuan untuk meyakinkan para pembaca bahwa Injil tidak menimbulkan persoalan mengenai personnya, penulis-penulis fasal-fasalnya, keaslian teksnya dan kebenaran isinya, padahal banyak pengarang-pengarang yang tak terkenal, dan banyak pula keterangan yang memberi kesan benar dan pasti padahal hanya merupakan hipotesa; diantara keterangan-keterangan tersebut ada yang mengatakan bahwa pengarang Injil tertentu menyaksikan kejadian-kejadian yang diriwayatkannya padahal buku-buku para ahli mengatakan sebaliknya. Perbedaan waktu antara hidupnya Nabi Isa dengan timbulnya Injil-Injil dilukiskan sangat singkat. Ada usaha untuk meyakinkan orang banyak, bahwa hanya ada satu naskah semenjak tradisi lisan, padahal perubahan-perubahan teks telah dibuktikan oleh para ahli. Memang ada yang membicarakan kesulitan penafsiran, tetapi orang itu tergelincir dalam kontradiksi-kontradiksi yang menyolok. Dalam kamus kecil yang disusun di akhir edisi Bible tersebut, yaitu kamus yang dimaksudkan untuk menambah kata-kata pendahuluan yang meyakinkan tadi, sering terdapat bahwa kekeliruan, kontradiksi atau kesalahan-kesalahan yang besar dihilangkan atau ditutup dengan alasan apologetik yang lihai. Keadaan semacam itu adalah menyedihkan karena menunjukkan sifat yang menyesatkan.

Hal-hal yang saya sebutkan di atas tentu mengherankan para pembaca yang belum pernah memikirkan hal-hal tersebut. Oleh karena itu sebelum memasuki pembicaraan yang lebih dalam, saya ingin menyajikan contoh yang menyolok.

Matius dan Yahya tidak pernah membicarakan kenaikan Al Masih ke langit. Lukas menempatkan kejadian itu pada hari Yesus dihidupkan kembali. Hal ini ia sebutkan dalam Injilnya, padahal dalam fasal: “Perbuatan Para Rasul” yang ia sendiri menulisnya, kejadian tersebut ditempatkan empat puluh hari kemudian. Adapun Markus, ia menyebutkannya dengan tidak pakai waktu, dalam satu paragraf yang sekarang sudah dianggap tidak autentik lagi. Dengan begitu maka kenaikan Al Masih ke langit tidak mempunyai dasar yang kokoh dalam Perjanjian Baru. Walaupun begitu para ahli tafsir menganggap soal ini sangat enteng.

A. Tricot, dalam bukunya: Kamus Kecil Tentang Perjanjian Baru (Petit Dictionnaire du Nouveau Testament) dari Bible Crampon, yaitu suatu buku yang tersebar luas (terbit tahun 1960) tidak memuat artikel Ascension (kenaikan Al Masih). Synopse des Evangiles (Ringkasan Injil-Injil) karangan R. P. Benoit dan Boismard, gurubesar-gurubesar di sekolah Bible di Yerusalem (cetakan 1972) mengatakan pada jilid 11 halaman 451 dan 452 bahwa kontradiksi antara Lukas dalam Injilnya dan Lukas dalam fasal Perbuatan Para Rasul dapat diterangkan dengan “artifice Litteraire” (penipuan sastra). Apakah artinya ini?

Nampaknya R.P. Rouguet dalam: Pengantar kepada Injil (Initiation a Evangile) cetakan 1973 halaman 187 tidak tertarik dengan (penipuan sastra) tersebut. Akan tetapi penjelasan yang ia kemukakan adalah aneh, seperti berikut: “Di sini, seperti dalam beberapa kasus yang sama, persoalannya dapat dipecahkan, kecuali jika seseorang memahami isi kitab suci secara harfiah dan melupakan arti keagamaannya. Di sini soalnya bukan untuk memecahkan fakta-fakta dalam simbolisme yang tidak konsisten tetapi untuk menyelidiki maksud teologik dari mereka yang mengungkapkan rahasia-rahasia, dengan memberikan kepada kita fakta yang dapat diterima pancaindera dan alamat-alamat yang sesuai dengan kecenderungan-kecenderungan badaniah daripada jiwa kita.”

Bagaimana kita dapat merasa puas dengan tafsiran semacam itu? Cara-cara apologi seperti itu hanya sesuai dengan orang-orang yang bersifat dogmatis!

Tetapi pernyataan R.P. Rouguet penting karena ia mengatakan bahwa dalam Injil terdapat hal-hal yang sama dengan persoalan kenaikan Nabi Isa ke langit. Oleh karena itu kita perlu membicarakan persoalan ini secara menyeluruh, mendalam dan obyektif. Adalah bijaksana jika kita mencari penjelasan dalam pembahasan tentang kondisi waktu Injil-Injil itu ditulis dan suasana keagamaan pada waktu itu. Pengungkapan perubahan-perubahan redaksi asli semenjak menjelmanya dari tradisi lisan, perubahan-perubahan teks selama dialihkan dari generasi ke generasi sampai hari ini, telah menjadikan kita tidak terlalu terperanjat dalam menghadapi bagian-bagian yang kabur yang tidak dimengerti, yang keliru, yang menjurus untuk menjadi absurd atau tidak sesuai dengan realitas-realitas yang telah dibuktikan oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Kenyataan-kenyataan semacam itu menunjukkan partisipasi manusia dalam menyusun Injil dan menunjukkan pula perubahan-perubahan teks yang terjadi kemudian.

Semenjak beberapa puluh tahun telah timbul kecenderungan untuk mempelajari kitab-kitab suci dengan jiwa penyelidikan yang obyektif. Dalam suatu karangan baru yang berjudul “Foi en la Resurrection, Resurrection de la foi” (Kepercayaan bahwa Yesus hidup kembali, Kehidupan kembali dari kepercayaan). R. P. Kannengiesser, Guru Besar pada Institut Katolik di Paris memberikan gambaran tentang perubahan yang mendalam ini sebagai berikut: “Orang-orang yang percaya hampir tidak mengetahui bahwa suatu revolusi dalam metode penafsiran Bible telah terjadi semenjak periode Paus Pius XII (1939-1958). Revolusi yang dibicarakan itu memang baru. Revolusi tersebut dimulai dengan memperpanjang waktu pendidikan-pendidikan pemeluk agama Kristen, sedikitnya mengenai bahan-bahan yang diajarkan oleh ahli-ahli Injil yang memiliki jiwa pembaharuan. Suatu pembalikan terhadap perspektif yang telah sangat mantap tentang tradisi para pendeta, telah berjalan sedikit atau banyak dengan timbulnya revolusi metode menafsirkan ini.”

R.P. Kannengiesser memperingatkan kita “Jangan memahami secara harfiah” segala hal yang diceritakan oleh Injil tentang Yesus, karena “Injil itu adalah fasal-fasal yang ditulis pada keadaan-keadaan tertentu’? atau merupakan “fasal-fasal perjuangan” yang pengarang-pengarangnya bermaksud untuk memelihara dengan tulisan segala dongengan masyarakat mereka tentang Yesus. Mengenai dihidupkannya Yesus kembali, yaitu hal yang dibicarakan dalam bukunya, ia menandaskan bahwa tak ada pengarang Injil yang dapat mengatakan dirinya sebagai saksi mata.

Hal ini berarti bahwa, mengenai masa kenabian Yesus, keadaannya juga begitu, yakni tak ada pengarang Injil yang menjadi saksi mata, oleh karena tak ada seorang rasul (Hawari) selain Yudas,*7 yang berpisah dari gurunya (yakni dari Yesus) dari semenjak mereka mengikutinya sampai akhir penjelmaannya diatas bumi (Padahal para penulis Injil bukan Hawari).

Dengan begitu, maka kita sudah menjadi terlalu jauh dari sikap tradisional yang masih dipegang dengan khusuknya oleh Konsili Vatikan II, baru sepuluh tahun yang lalu; sikap tradisional tersebut juga masih terus nampak dalam buku-buku modern yang ditulis untuk awam. Tetapi sedikit demi sedikit kebenaran itu nampak juga.

Memang tidak mudah untuk menangkap kebenaran selama tradisi yang sudah turun temurun lama itu tetap dipertahankan. Jika seseorang ingin melepaskan diri dari tradisi tersebut ia harus meneliti permasalahannya dari dasarnya, artinya ia harus meneliti keadaan-keadaan yang meliputi lahirnya agama Kristen.

II. MENGINGAT KEMBALI SEJARAH 
    AGAMA YAHUDI KRISTEN (JUDEO-CHRISTIANISME) DAN PAULUS 

Kebanyakan umat Kristen mengira bahwa Injil-Injil itu ditulis oleh saksi-saksi mata yang menyaksikan kehidupan Yesus secara langsung, dan dengan begitu mereka itu merupakan saksi-saksi yang tak dapat disangsikan lagi mengenai kejadian-kejadian yang memenuhi kehidupannya dan dakwahnya. Dengan menghadapi jaminan-jaminan tentang kebenaran Injil, dapatkah orang mempersoalkan ajaran-ajaran yang dapat diambil dari Injil tersebut? Dapatkah orang ragu-ragu tentang kebenaran kelembagaan Gereja yang didirikan menurut petunjuk-petunjuk umum yang diberikan oleh Yesus sendiri? Cetakan-cetakan Injil sekarang yang diperuntukkan bagi orang awam memuat komentar-komentar yang dimaksudkan untuk menyebarluaskan idea-idea tersebut diantara mereka.

Kepada pengikut-pengikut agama yang setia, ditonjolkan aksioma bahwa para pengarang Injil adalah saksi-saksi mata. Bukankah Yustin pada abad II mengatakan bahwa Injil-Injil itu adalah memoir (catatan-catatan) para Rasul (sahabat-sahabat Nabi Isa). Kemudian diberikan pula keterangan yang terperinci mengenai para pengarang Injil sehingga orang tidak ragu-ragu lagi akan kebenarannya. Umpamanya: Matius adalah seorang yang sangat terkenal “pegawai bea Cukai di Kafrna’um, “Ia faham bahasa Aramaik dan bahasa Yunani. Markus disebutkan sebagai teman Petrus; sudah terang bahwa Markus bukan saksi mata yang melihat Yesus sendiri. Lukas adalah seorang tabib, sehingga Paulus mengatakan bahwa keterangan-keterangan tentang Lukas tersebut sangat tepat. Yahya adalah rasul (sahabat) yang selalu dekat dengan Yesus, anak dari Zebede, seorang nelayan di danau Genesareth.

Penyelidikan-penyelidikan modern tentang permulaan agama Kristen menunjukkan bahwa penyajian seperti tersebut di atas tidak sesuai dengan kenyataan. Kita nanti akan mengetahui siapa pengarang-pengarang Injil itu. Mengenai periode beberapa puluh tahun setelah Yesus tak ada lagi, kita harus tahu bahwa yang terjadi tidak seperti apa yang dikatakan, dan bahwa kunjungan Petrus ke Roma tidak mendirikan Gereja Katolik. Sebaliknya antara waktu Yesus meninggalkan bumi ini sampai pertengahan abad II, yakni selama lebih dari satu abad telah terjadi perjuangan antara dua aliran yakni agama Kristen menurut Paulus dan agama Yahudi-Kristen; dengan pelan-pelan aliran Paulus mendesak aliran asli yakni agama Yahudi-Kristen.

Banyak karangan-karangan yang muncul pada beberapa dasawarsa yang akhir ini dan yang berdasarkan penemuan-penemuan yang terungkap di zaman kita, telah memungkinkan kita memahami pikiran-pikiran modern yang disajikan oleh Kardinal Danielou. Artikel yang diterbitkan pada bulan Desember 1967 dalam majalah Etude (penyelidikan) berjudul: Suatu pandangan baru tentang asal agama Kristen atau Yudeo-Christianisme. Dengan mengutip karangan-karangan yang terdahulu, ia menjelajahi sejarah dan memungkinkan kita untuk menempatkan Injil dalam konteks yang sangat berbeda dengan apa yang dapat kita baca dalam uraian-uraian yang ditulis untuk kaum awam. Di bawah ini kita cantumkan ringkasan pikiran-pikiran pokok dalam artikel tersebut, dengan kutipan-kutipan:

Sesudah Yesus, tidak ada lagi kelompok kecil para rasul (sahabat) yang merupakan suatu “sekte Yahudi yang setia kepada ibadah dan upacara temple.” Tetapi ketika banyak orang-orang baru yang masuk agama Kristen dari agama Kafir (Pagan), mereka mengusulkan suatu aturan Khusus; konsili Yerusalem tahun 49 M yang membebaskan mereka dari khitan dan upacara-upacara Yahudi. Banyak orang-orang, Yahudi-Kristen yang tidak setuju dengan perlakuan khusus ini. Kelompok ini memisahkan diri dari Paulus. Malahan telah terjadi bentrokan antara Paulus dan kelompok Yahudi Kristen pada tahun 49 M itu juga di Antioch. Bagi Paulus, khitan, liburan hari Sabtu dan upacara di temple tidak perlu lagi, baik untuk pengikut Yesus atau untuk orang Yahudi sendiri. Agama Kristen harus membebaskan diri dari hubungan politico religious dengan agama Yahudi, dan membuka diri bagi orang gentil (yang bukan Yahudi).

Dalam pandangan orang Yahudi Kristen yang tetap setia, kepada ajaran Yahudi, Paulus adalah orang yang berkhianat. Dokumen-dokumen mereka mengatakan bahwa Paulus adalah musuh dan mendakwanya dengan taktik dua muka; tetapi sampai tahun 70 M Yudeo-Christianisme merupakan “mayoritas dalam gereja” dan “Paulus merupakan orang yang terasing.” Ketua daripada masyarakat Yudeo-Christian adalah Jack, seorang kerabat Yesus. Jack didampingi Petrus dan Yahya. Jack dapat dianggap sebagai tiangnya Yudeo-Christianisme, yang sengaja setia kepada agama Yahudi menentang agama Kristen yang dipimpin Paulus. Keluarga Yesus memegang peranan dalam gereja Yudeo-Christian di Yerusalem. Pengganti Jack adalah Simon, anak Cleopas, saudara sepupu Yesus. (Kardinal Danielou mengutip tulisan-tulisan Yudeo Christian yang mengungkapkan pandangan kelompok Yudeo Christian yang terbentuk sekitar para rasul (sahabat) terhadap Yesus: Injil orang-orang Ibrani (mengenai masyarakat Yahudi Kristen di Mesir), Hypotesa karangan Clement, rasa syukur Clement (Reconnaissance de Clement), Apocalypse Jack dan Injil Thomas).*8

Orang-orang Yahudi Kristen itulah yang menulis dokumen-dokumen Kristen kuno yang disebutkan secara terperinci oleh Kardinal Danielou.

“Pada abad I M, agama Yahudi Kristen tidak hanya di Yerusalem dan Palestina, akan tetapi di tempat-tempat lain juga, yakni sebelum aliran Paulus tersiar. Hal ini memberi penerangan mengapa surat-surat Paulus selalu menyebutkan adanya konflik,” memang di mana-mana Paulus mendapat rintangan yang sama, di Galitea, Korintus, Kolose, Roma dan Antioch.

Di tanah pesisir Siria Palestina, dari Gaza sampai Antioch, orang-orang menganut agama Yahudi Kristen, seperti yang diterangkan oleh surat-surat para rasul dan tulisan-tulisan Clement.”

Di Asia kecil adanya pengikut-pengikut agama Yahudi Kristen telah dibuktikan oleh surat untuk orang Galitia dan surat untuk orang Kolose, keduanya dikirim oleh Paulus. Tulisan-tulisan Papias memberi gambaran tentang agama Yahudi Kristen di Phrygie. Di negeri Yunani, khususnya di Apollos, surat Paulus kepada orang Korintus menunjukkan tersiarnya agama Yahudi Kristen. Roma merupakan suatu pusat penting, menurut surat Clement dan Pendeta dari Hernias. Di Suetone dan Tacite, orang-orang Kristen merupakan sekte Yahudi. Kardinal Danielou berpendapat bahwa agama Kristen yang masuk Afrika, mula-mula adalah agama Yahudi Kristen. Ini dikuatkan oleh Injil orang Ibrani dan tulisan-tulisan Clement dari Alexandria.

Adalah sangat penting untuk mengetahui fakta-fakta tersebut agar kita dapat memahami bahwa Injil-lnjil itu ditulis pada suasana perjuangan antara dua kelompok. Penyebaran teks yang kita punyai sekarang, setelah diadakannya perubahan-perubahan dalam teks sumbernya, dimulai sekitar tahun 70 M, yaitu waktu bentrokan antara kedua kelompok yang bersaingan. Pada waktu itu kelompok Yahudi Kristen lebih banyak. Tetapi dengan terjadinya Perang Yahudi (melawan Kerajaan Romawi) dan jatuhnya Yerusalem pada tahun 70, keadaan menjadi terbalik.

Kardinal Danielou menerangkan kemunduran ini sebagai berikut:

“Karena orang-orang Yahudi tidak dipercaya lagi di dalam Kerajaan Romawi, maka orang-orang Kristen menjauhkan diri dari mereka. Agama Kristen seperti yang tersiar di negeri Yunani mendapat kemajuan. Paulus mendapat kemenangan sesudah ia sendiri mati. Agama Kristen memisahkan diri dari agama Yahudi baik secara sosiologik maupun secara politik, dan menjadi kelompok ketiga, yakni selain Yahudi dan Kafir. Tetapi meskipun begitu sampai pemberontakan Yahudi yang terjadi pada tahun 140, agama Yahudi Kristen masih dominan secara kebudayaan.”

Dari tahun 70 sampai kira-kira tahun 110, timbullah empat Injil, yakni yang ditulis oleh Markus, Matius, Lukas dan Yahya. Injil itu bukan merupakan dokumen Kristen yang pertama; sebelumnya telah ada surat-surat Paulus. Menurut O. Culmann, Paulus menulis surat kepada orang Tesalonika pada tahun 50. Tetapi sudah jelas bahwa Paulus meninggal beberapa tahun sebelum Injil Markus selesai ditulis.

Paulus adalah seorang yang banyak dipersoalkan dan dianggap pengkhianat kepada ajaran Yesus oleh keluarga Yesus sendiri, dan oleh rasul-rasul (sahabat-sahabat Nabi Isa) yang tinggal di Yerusalem dengan Jack. Paulus dianggap telah menyiarkan ajaran-ajarannya sendiri dan merugikan para sahabat-sahabat yang dikumpulkan oleh Yesus sendiri untuk menyiarkan ajaran-ajarannya. Oleh karena Paulus tidak pernah bertemu dengan Yesus, maka ia memberi dasar untuk perbuatannya dengan mengatakan bahwa Yesus yang telah hidup kembali setelah di kubur, nampak kepadanya di jalan ke Damascus. Kita dapat bertanya-tanya, bagaimana yang mestinya terjadi dalam agama Kristen seandainya Paulus tidak muncul; tentu ada bermacam-macam hypotesa. Akan tetapi, dalam hal yang mengenai Injil-Injil, kita dapat mengatakan bahwa jika suasana bentrokan antara dua kelompok yang disebabkan oleh ajaran Paulus yang menyeleweng itu tiada ada, tentunya kita tidak akan menemukan Injil-lnjil seperti yang ada sekarang. Karena ditulis pada waktu pertentangan antara dua kelompok, maka tulisan-tulisan perjuangan (ecrits de Combat) seperti yang dinamakan oleh R.P. Kannengiesser, telah muncul dari tulisan-tulisan mengenai Yesus ketika agama Kristen menurut ajaran Paulus telah menang dan sedang menyusun kumpulan teks-teks resmi atau Canon, yaitu teks yang menghukum segala teks lain yang tidak sesuai dengan garis yang dipilih oleh Gereja serta menganggapnya sebagai bertentangan dengan ortodoksi.

Setelah pengikut agama Yahudi-Kristen bukan lagi rnerupakan kelompok yang berpengaruh, mereka itu biasanya dinamakan “Yudaisants” yakni orang-orang yang condong kepada agama Yahudi. Kardinal Danielou menulis:

“Orang-orang Yudeo-Kristen terputus dari Gereja Besar yang membebaskan diri dari pengaruh Yahudi, dan mereka itu musnah dengan cepat di Barat. Akan tetapi mereka masih terdapat di Timur pada abad III dan IV, khususnya di Palestina, Arabia, Yordania, Syria dan Mesopotamia (Irak). Di antara mereka banyak yang memeluk agama Islam, yang memang merekalah pewaris agama Kristen dari suatu segi, lainnya mengikuti ortodoksi Gereja Besar dengan mempertahankan kebudayaan Semit ;” seperti yang masih terdapat di Ethiopia dan Babylon .

Sejarah Injil Empat yang merupakan Injil dalam Perjanjian Baru.
III. INJIL EMPAT, SUMBER-SUMBER DAN SEJARAHNYA

Dalam karangan-karangan yang ditulis pada permulaan sejarah agama Kristen, Injil baru mulai disebutkan lama sesudah surat-surat Paulus. Bukti-bukti tentang adanya lnjil-Injil baru terdapat pada pertengahan abad II M, dan lebih tepat lagi sesudah tahun 140, padahal banyak pengarang-pengarang Kristen dari permulaan abad II sudah mengetahui adanya surat-surat Paulus.

Pernyataan-pernyataan yang dimuat dalam ‘Introduction a la Traduction oecumeniq de la Injil Nouveau Testament (Pengantar kepada terjemahan bersama Protestant, Katolik – Perjanjian Baru) cetakan tahun 1972 tersebut, perlu diingat betul-betul, dan perlu diingat pula bahwa buku Pengantar tersebut adalah hasil karya kolektif yang mengumpulkan sarjana-sarjana Protestant dan Katholik yang jumlahnya lebih dari 100 orang.

Injil yang kemudian menjadi resmi atau Kanonik, baru diketahui lama sesudah itu, meskipun redaksinya sudah selesai pada permulaan abad II. Menurut terjemahan ekumenik orang mulai menyebutkan riwayat-riwayat Injil mulai pertengahan abad II, “akan tetapi selalu sukar untuk menetapkan apakah riwayat-riwayat itu disebutkan menurut teks tertulis atau hanya menurut ingatan-ingatan fragmen daripada tradisi lisan.”

“Sebelum tahun 140 tak ada bukti-bukti bahwa ada orang yang mengetahui tentang kumpulan fasal-fasal Injil; begitulah yang kita baca dalam komentar mengenai terjemahan Bibel.” Keterangan tersebut di atas bertentangan dengan apa yang ditulis oleh A. Tricot (tahun 1960) dalam komentar terjemahan Perjanjian Baru. “Dari pagi-pagi semenjak permulaan abad II, telah ada kebiasaan memakai perkataan Injil, untuk menunjukkan fasal-fasal yang disekitar tahun 150 Yustin menamakan memoar para Rasul.” Pernyataan yang semacam itu sangat sering sehingga akibatnya orang awam mempunyai gambaran yang keliru tentang waktu pengumpulan Injil.

Injil-Injil menjadi suatu kesatuan satu abad setelah Yesus tidak ada lagi, dan bukan sebelum itu. Terjemahan Ekumenik Bible memperkirakan bahwa Injil yang empat itu mendapat status sebagai Injil Kanonik sekitar tahun 170.

Pernyataan Yustin yang mengatakan bahwa para pengarang Injil adalah para rasul (sahabat Yesus) tak dapat lagi diterima pada waktu ini, seperti yang akan kita lihat nanti mengenai waktu penyusunan Injil-Injil. A. Tricot menerangkan bahwa Injil Matius, Markus dan Lukas telah disusun sebelum tahun 70. Pernyataan tersebut tidak dapat diterima kecuali yang mengenai Markus. Juru tafsir, A. Tricot ini, seperti juru-juru tafsir lainnya merasa berbuat amal kebajikan untuk melukiskan bahwa para penulis Injil adalah rasul-rasul atau sahabat-sahabat Yesus, dan dengan begitu maka ia memajukan waktu penyusunannya sehingga dekat kepada waktu hidupnya Yesus. Adapun Yahya yang oleh A. Tricot digambarkan sebagai seorang yang hidup sampai tahun 100, orang-orang Kristen biasa membaca namanya disebutkan dekat Yesus dalam peristiwa-peristiwa penting, akan tetapi sangat sukar untuk memastikan bahwa orang itu adalah pengarang Injil yang membawa nama Injil Yahya. Rasul Yahya (sebagai juga Matius), bagi A.Tricot dan beberapa ahli tafsir lainnya adalah saksi yang cakap dan boleh dipercaya mengenai kejadian-kejadian yang diriwayatkannya; tetapi kebanyakan ahli kritik tidak menerima hypotesa yang mengatakan bahwa sahabat Yahya itu adalah pengarang Injil keempat.

Tetapi jika empat Injil itu tidak dapat dianggap secara memuaskan sebagai memoar para rasul atau para sahabat Yesus, darimanakah asal Injil-Injil itu?

O.Culmann dalam bukunya: Perjanjian Baru (1967), Presses Universitaire de France, menulis bahwa “para pengarang Injil adalah juru bicara dari masyarakat Kristen asli yang menentukan tradisi lisan; selama 30 tahun atau 40 tahun, Injil hanya ada dalam bentuk tradisi lisan; tradisi meriwayatkan kata-kata atau hikayat-hikayat yang terpisah-pisah. Para pengarang Injil menghubungkan hal-hal yang terpisah itu, masing-masing menurut caranya dan seleranya serta perhatian teolognya yang khusus. Pengelompokan kata-kata Yesus sebagai rangkaian riwayat-riwayat dengan kata-kata penghubung yang kabur seperti: sesudah itu, selekasnya, dan lain-lain yang terdapat dalam Injil-Injil Sinoptik*9 dan hanya merupakan susunan literer dan tidak mempunyai dasar sejarah.”

Pengarang tersebut meneruskan: “Kita harus ingat bahwa yang menjadi pedoman kelompok primitif (asli) dalam menentukan tradisi mengenai kehidupan Yesus bukan perhatian terhadap sejarah hidup Yesus”, akan tetapi kebutuhan untuk berdakwah untuk pendidikan dan untuk beribadah. Para rasul menggambarkan kebenaran kepercayaan yang mereka dakwahkan dengan cara meriwayatkan kejadian-kejadian dalam kehidupan Yesus. Khotbah-khotbah mereka itulah yang menentukan hikayat-hikayat tersebut. Kata-kata Yesus diriwayatkan khususnya dalam pengajaran kata-ketiknya Gereja asli.

Para penyusun “Terjemahan Ekumenik dari pada Bible” tidak menyebutkan mengenai penyusunan Bible kecuali terbentuknya tradisi lisan di bawah pengaruh nasehat-nasehat murid Yesus dan juru-juru dakwah lainnya. Pemeliharaan bahan-bahan tersebut dalam Injil adalah dengan jalan dakwah, liturgi, pengajian-pengajian para penganut agama yang setia. Kemungkinan tersusunnya bentuk tertulis mengenai kepercayaan, kata-kata tertentu dan pada Yesus seperti Hikayat Penyaliban umpamanya, para pengarang Injil memakai bentuk tertulis bersama dengan tradisi oral/lisan untuk menghasilkan teks yang sesuai dengan lingkungan yang bermacam-macam, untuk memenuhi kebutuhan Gereja, untuk menunjukkan pemikiran tentang kitab suci, untuk membetulkan yang salah dan untuk menjawab argumentasi lawan. Dengan begitu maka para pengarang Injil mengumpulkan secara tertulis hal-hal yang mereka dapatkan sebagai tradisi lisan, masing-masing menurut pandangan dan seleranya.

Sikap kolektif yang diperlihatkan oleh 100 ahli tafsir Perjanjian Baru Katolik dan Protestant berbeda sekali dengan garis yang ditetapkan oleh Konsili Vatikan II dalam penyusunan dogmatik tentang Wahyu, yaitu penyusunan yang dikerjakan antara tahun 1962 dan tahun 1965. Kita telah menyebutkan di atas tentang dokumen penting yang dihasilkan oleh Konsili tersebut mengenai Perjanjian Lama. Konsili Vatikan II telah mengatakan bahwa fasal-fasal Perjanjian Lama mengandung hal-hal yang tidak sempurna dan lemah (imparfait et caduc), akan tetapi Konsili tersebut tidak memberikan “reserve” yang sama terhadap Injil. Sebaliknya Konsili tersebut menyebutkan:

“Semua orang tahu bahwa di antara tulisan-tulisan Kitab suci, termasuk yang terdapat dalam Perjanjian Baru, Injil-Injil menunjukkan kelebihan yang menonjol, karena Injil itu merupakan kesaksian yang tertinggi tentang kehidupan dan ajaran kata Tuhan yang menjelma menjadi manusia, juru selamat kita. Di mana saja dan kapan saja, Gereja selalu mempertahankan bahwa empat Injil itu berasal dari para Rasul (sahabat Isa). Injil-Injil itu adalah apa yang telah diceramahkan oleh para Rasul dengan mengikuti perintah Yesus. Oleh karena itu maka para Rasul dan orang-orang yang selalu dekat dengan mereka, telah mendapat inspirasi suci dari Ruhul Kudus dan meriwayatkan tulisan-tulisan yang merupakan dasar kepercayaan Kristen, yakni Injil, dengan empat bentuknya yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yahya.” “Ibu Suci (Gereja) selalu berpegang dengan kuat bahwa empat Injil yang diberi sifat bersejarah telah menyampaikan dengan penuh amanat segala apa yang diperbuat dan diajarkan oleh Yesus, putra Tuhan, selama ia hidup di antara manusia sampai ia diangkat ke langit. Para pengarang suci kemudian menyusun Injil empat yang memberikan kepada kita segala yang benar dan jujur mengenai Yesus.”

Kata-kata yang kita kutip daripada Konsili Vatikan II itu menunjukkan secara tegas kepercayaan bahwa Injil telah meriwayatkan perbuatan dan perkataan Yesus. Akan tetapi kita merasakan ketidakserasian antara pernyataan Konsili tersebut dengan pernyataan pengarang-pengarang yang kita sebutkan sebelumnya, khususnya kata-kata R.P. Kannengiesser: “Kita tidak boleh memahami Injil-lnjil secara harfiah, oleh karena Injil itu merupakan tulisan-tulisan daripada keadaan-keadaan tertentu atau tulisan-tulisan perjuangan yang penulis-penulisnya memelihara tradisi masyarakat mereka mengenai Yesus dengan tulisan.”

“Injil-Injil adalah teks-teks yang menyesuaikan diri dengan bermacam-macam lingkungan, memenuhi kebutuhan-kebutuhan Gereja, melontarkan pikiran-pikiran mengenai Kitab suci, membetulkan kesalahan-kesalahan dan menjawab argumentasi lawan. Dengan begitu, Injil-Injil mengumpulkan dan menuliskan apa yang mereka terima dari tradisi lisan, menurut pandangan-pandangan pribadi mereka.” (Terjemahan Ekumenik dari Injil).

Nyata sekali hahwa antara deklarasi Konsili Vatikan dan sikap-sikap yang lebih baru terdapat kontradiksi. Tidak mungkin untuk menyesuaikan deklarasi Vatikan II yang mengatakan bahwa dalam Injil, kita menemukan riwayat yang jujur tentang perbuatan dan perkataan Yesus, dengan adanya kontradiksi, kekeliruan, kemustahilan material dan pemberitaan yang bertentangan dengan realitas ilmiah yang sudah pasti.

Sebaliknya, jika kita memandang Injil sebagai ekspresi dari pandangan-pandlangan pribadi dari orang-orang yang mengumpulkan tradisi-tradisi lisan yang terdapat dalam bermacam-macam kelompok, kita tidak merasa heran jika kita menemukan dalam Injil-Injil itu keterangan-keterangan yang menunjukkan bahwa Injil-lnjil tersebut ditulis oleh orang-orang dalam suasana yang telah kita terangkan di atas. Mereka itu dapat saja merupakan orang-orang yang sangat jujur walaupun mereka itu meriwayatkan hal-hal yang memuat kontradiksi dengan pengarang-pengarang lain karena mereka sendiri tak pernah merasa curiga akan kebenarannya, atau mungkin sekali karena ada persaingan keagamaan antara dua kelompok, sehingga mereka itu menyajikan riwayat kehidupan Yesus menurut kaca mata yang sangat berlainan dengan kaca mata lawannya .

Kita telah membaca bahwa konteks sejarah adalah sesuai dengan cara memandang Injil seperti tersebut. Bahan-bahan untuk menyelidiki Injil yang kita miliki semua menguatkan pandangan semacam itu.

Sejarah Penulisan Injil Matius. 
Injil MATIUS

Di antara empat Injil, Injil Matius adalah yang pertama dalam urutan kitab-kitab (fasal-fasal) Perjanjian Baru. Hal ini memang tepat oleh karena Injil Matius hanya merupakan kelanjutan dari Perjanjian Lama. Injil tersebut ditulis untuk menunjukkan bahwa “Yesus telah menamatkan sejarah Bani Israil” yaitu seperti yang dikatakan oleh para pengarang “Terjemahan Ekumenik daripada Bible” yang akan banyak kita kutip. Karena maksud tersebut di atas, Matius selalu mengutip dari Perjanjian Lama, serta menunjukkan bahwa Yesus telah berbuat sebagai Al Masih (Pemimpin yang diakui oleh rakyat dengan upacara mengusapkan minyak kasturi ke badannya) yang telah lama dinanti oleh orang-orang Yahudi.

Injil ini bermula dengan menyebutkan silsilah keturunan Yesus.*10 Matius menunjukkan bahwa asal-usul Yesus itu sampai kepada nabi Ibrahim melalui nabi Dawud. Kita akan menemukan kesalahan teks yang biasanya dianggap sepi oleh para ahli tafsir Injil. Bagaimanapun keadaannya, maksud Matius adalah jelas, yaitu untuk mempergunakan hubungan keturunan dengan Ibrahim sebagai bukti bahwa karangannya itu mempunyai suatu tujuan dan maksud. Matius mengikuti garis yang sama dengan selalu menonjolkan sikap Yesus terhadap hukum-hukum Yahudi yang mengandung tiga prinsip besar yaitu: sembahyang, puasa dan sedekah.

Yesus ingin menyampaikan ajarannya pertama-tama kepada rakyatnya. Ia berkata kepada para rasul yang dua belas: “Jangan mengikuti jalannya orang kafir dan jangan masuk ke kotanya orang-orang Samara;*11 lebih baik. Pergilah kepada domba-domba Bani Israil yang hilang” (Matius 15, 24). Pada akhir Injilnya, Matius memperluas tugas para murid-murid Yesus yang pertama dan melukiskan Yesus sebagai memerintahkan: “Pergilah dan timbulkan pengikut-pengikut dari segala bangsa (Matius 28, 19), tetapi permulaan dakwah harus diutamakan untuk Bani Israil.”
Mengenai Injil Matius ini, A. Tricot menulis: “Injil Matius adalah suatu buku Yahudi dalam bentuk dan jiwanya. Walaupun ditutup dengan pakaian Yunani, buku itu tetap berbau Yahudi dan menunjukkan ciri-ciri Yahudi.”

Pandangan-pandangan tersebut di atas menempatkan asal Injil Matius dalam tradisi masyarakat Yahudi Kristen, yang sebagaimana dikatakan oleh O. Culmann, berusaha sekuat-kuatnya untuk melepaskan diri dan ikatan agama-agama Yahudi, tetapi dengan tetap memelihara kontinuitas Perjanjian Lama. Pokok-pokok perhatian dan nada kitab Injil Matius pada umumnya menunjukkan adanya situasi yang tegang.

Faktor-faktor politik juga terasa dalam teks. Pendudukan Kerajaan Romawi di Palestina menyalakan semangat bangsa Yahudi untuk mencapai kemerdekaan, sehingga mereka berdo’a kepada Tuhan untuk membantu bangsa yang Ia pilih daripada bermacam-macam bangsa, Tuhannya Israil adalah Tuhan yang Maha Kuasa dan yang dapat memberi bantuan langsung dalam urusan-urusan manusia, sebagaimana Ia telah berbuat berkali-kali dalam sejarah.

Siapakah Matius itu? Kita mengatakan dengan tegas bahwa pada waktu sekarang ia tidak lagi dianggap sebagai sahabat Yesus. A. Tricot menggambarkan Matius dalam tafsirnya terhadap Terjemahan Perjanjian Baru tahun 1960 sebagai berikut: “Matius alias Levi adalah seorang pegawai kantor bea cukai di distrik Kafrna’um ketika ia diminta oleh Yesus supaya menjadi salah satu dari pengikut-pengikutnya.” Begitulah yang dikatakan oleh pemimpin-pemimpin Gereja seperti Origene, Yerome dan Epihane. Tetapi sekarang orang berpendapat lain; suatu hal yang tak dapat disangkal adalah bahwa Matius adalah seorang Yahudi, kata-katanya adalah kata-kata dari daerah Palestina, sedang susunan kata-katanya adalah Yunani. Pengarang (Matius) mengarahkan karangannya kepada kelompok yang berbicara dengan bahasa Yunani, mengetahui adat kebiasaan Yahudi dan bangsa Aramaik; begitulah menurut O. Culmann.

Menurut ahli-ahli tafsir “Terjemahan Ekumenik,” asal usul Injil Matius adalah sebagai berikut:

“Biasanya orang berpendapat bahwa Injil Matius ditulis di Syria atau di Phenisie karena di tempat tersebut terdapat banyak orang-orang Yahudi.*12 Kita dapat merasakan suatu polemik melawan agama Yahudi Sinagog yang ortodoks yang dianut oleh kaum Parisi sebagaimana yang terjadi dalam Konferensi Sinagog di Yamina kira-kira pada tahun 80. Dalam keadaan-keadaan semacam itu banyak pengarang-pengarang yang mengatakan bahwa Injil Matius ditulis di antara tahun 80-90, atau mungkin lebih dahulu sedikit, karena tak ada cara untuk mencari kepastian.”

“Oleh karena kita tidak mengetahui nama pengarang yang sesungguhnya, maka kita akan terpaksa merasa puas dengan sifat-sifat yang diterangkan dalam Injil tersebut; pengarang dapat dikenal dengan pekerjaannya. Ia mahir dalam pengetahuan tentang kitab-kitab suci, tradisi Yahudi, kenal dan menghormati pembesar-pembesar agama daripada bangsanya tetapi menghadapkan persoalan-persoalan kepada mereka dengan kasar; ia mahir dalam mengajar dan dalam memperkenalkan Yesus kepada para pendengar, selalu mendesakkan akibat-akibat praktis tentang ajaran-ajarannya, ia membalas baik terhadap sinyalemen seorang Yahudi terpelajar yang menjadi pemeluk agama Kristen, seorang pemilik rumah yang dapat mengeluarkan dari simpanannya hal-hal yang baru atau lama, seperti yang dikatakan oleh Matius 13: 52. Dengan gambaran seperti di atas, kita menjadi jauh daripada seorang pegawai kantor di Kafrna’um yang diberi nama Levi oleh Markus dan Lukas dan kemudian menjadi salah satu daripada dua belas orang sahabat Yesus.

Semua orang setuju untuk mengatakan bahwa Matius menulis Injilnya dengan mengambil bahan daripada sumber yang sama dengan sumbernya Markus dan Lukas akan tetapi riwayatnya berlainan dalam hal-hal yang pokok sebagai yang akan kita lihat nanti. Walaupun begitu “Matius telah mempergunakan Injil Markus, padahal Markus bukan muridnya Yesus,” begitulah kata O. Culmann.

Matius bersikap liberal (bebas) terhadap teks-teks. Kita akan menemukannya mengutip silsilah keturunan Yesus dari Perjanjian Lama dan diletakkannya pada permulaan Injilnya. Ia menyelipkan dalam Injilnya hikayat-hikayat yang tak dapat dipercayai (incroyable). Kata: “tak dapat dipercayai” adalah kata yang dipakai oleh R.P. Kannengiesser pada bukunya Foi en la Resurrection, Resurrection de la foi (Percaya terhadap hidup kembalinya Yesus, kembali hidupnya kepercayaan) dalam hikayat hidupnya Yesus kembali, yakni dalam hal yang mengenai “pengawal.” Ia menunjukkan “kurang bobotnya sejarah pengawal militer kuburan; pengawal militer kuburan itu adalah tentara Kafir yang tidak ada hubungannya dengan atasan mereka, akan tetapi mereka melapor kepada para pendeta besar yang menggaji mereka untuk mengatakan kebohongan-kebohongan.” Tetapi R.P. Kannengiesser menambahkan: “Kita tidak boleh mencemoohkan, karena maksud Matius adalah sangat baik, oleh karena ia mempersatukan bahan-bahan kuno tradisi lisan dengan karya yang ditulisnya. Penyajiannya mirip dengan Yesus Christ Superstar.*13

Penelitian-penelitian tentang Matius ini berasalkan dari seorang besar ahli teologi, seorang Professor dari Lembaga Katolik di Paris.

Matius menyebutkan dalam tulisannya kejadian-kejadian yang berbarengan dengan matinya Yesus; ini adalah suatu contoh lain tentang khayalannya. Beginilah bunyinya: “Setelah tutup daripada tempat suci itu robek menjadi dua, dari atas ke bawah, maka bumipun bergeraklah, batu-batu luluh, kuburan-kuburan menjadi terbuka, mayat-mayat para wali menjadi hidup. Setelah Yesus bangkit kembali, mayat-mayat hidup itupun masuk ke kota suci dan memperlihatkan diri kepada orang banyak”. Paragraf daripada Matius ini (27: 51-53) tak ada bandingannya dalam Injil-Injil lainnya. Kita tidak mengerti bagaimana mayat-mayat para wali dapat bangun hidup kembali pada waktu wafatnya Yesus (malam Sabat seperti yang tersebut dalam Injil-Injil) dan tidak keluar dari kuburan mereka sampai Yesus bangkit kembali (keesokan hari sesudah Sabat, menurut sumber-sumber itu juga).

Barangkali hanya dalam Injil Matius kita dapatkan kekeliruan-kekeliruan yang sangat menyolok dan tidak dapat dipertahankan lagi, yaitu hal yang dilukiskan sebagai kata-kata yang keluar dari mulut Yesus.

Matius meriwayatkan dalam Injilnya (12: 38-40) dongengan tentang alamat Yunus:

Yesus berada di tengah-tengah para ahli agama Yahudi dan orang-orang Parisi yang berkata kepadanya: “Ya Tuan. Guru, kami mengharap tuan Guru menunjukkan suatu alamat kepada kami,” Yesus menjawab: “Generasi jahat dan pelacurlah yang minta suatu alamat. Tak ada suatu alamat yang akan diberikan kepadanya kecuali alamat nabi Yunus. Karena sebagaimana Yunus berada dalam perut monster tiga hari dan tiga malam, begitu juga anak manusia (Yesus sendiri) akan berada di dalam tanah tiga hari dan tiga malam.” (teks terjemahan Ekumenik).

Sebagai tersebut di atas, Yesus mengumumkan bahwa ia akan berada dalam tanah tiga hari dan tiga malam. Padahal Matius dan juga Lukas dan Markus menyebutkan dalam Injil mereka, bahwa wafatnya Yesus dan penguburannya terjadi pada hari Sabtu malam, ini berarti bahwa Yesus berada di dalam tanah selama tiga hari. Akan tetapi semua kejadian itu hanya mengandung dua malam.*14

Biasanya para ahli tafsir Injil menutup mulut terhadap hikayat ini. Meskipun begitu R.P. Rouguet menunjukkan kekeliruan tersebut karena ia mengatakan bahwa hari itu hanya ada satu hari penuh, dan dua malam. Tetapi R.P. Rouguet menambahkan: “tetapi kalimat-kalimat itu diringkaskan dan hanya mempunyai satu arti yaitu tiga hari.” Adalah menyedihkan jika kita melihat para ahli tafsir memakai argumentasi-argumentasi yang tidak mempunyai arti positif, padahal seandainya mereka mengatakan bahwa ketidak serasian itu disebabkan oleh kekeliruan yang membuat naskah, keterangan mereka akan sangat memuaskan akal dan pikiran.

Yang menjadi ciri-ciri Injil Matius selain kekeliruan-kekeliruan tersebut di atas, adalah bahwa Injil Matius merupakan Injil kelompok Yahudi Kristen yang sedang memutuskan hubungannya dengan agama Yahudi, tetapi tetap dalam garis Perjanjian Lama. Injil Matius ini mempunyai arti yang sangat penting jika di pandang dari segi sejarah agama Yahudi Kristen.

Sejarah penulisan Injil Markus.
Injil MARKUS

Injil Markus adalah Injil yang paling pendek, tetapi ia merupakan Injil yang paling tua. Ia bukan buku karangan seorang sahabat Yesus, akan tetapi karangan seorang murid sahabat Yesus.

O. Culmann menulis bahwa ia tidak menganggap Markus sebagai murid Yesus, akan tetapi ia mengingatkan kepada mereka yang sangsi akan kebenaran anggapan bahwa Injil itu ditulis oleh Markus seorang rasul atau sahabat Yesus, bahwa “Matius dan Lukas tidak akan mempergunakan Injil tersebut seandainya mereka tidak yakin bahwa Injil Markus didasarkan pada ajaran seorang Rasul.” Tetapi argumentasi seperti ini tidak meyakinkan. O. Culmann juga mengutip untuk menguatkan “reserve”nya bahwa Injil tersebut memuat banyak kutipan-kutipan dari seorang. “Yahya yang digelari Markus” dalam Perjanjian Baru, akan tetapi kutipan-kutipan tersebut tidak menyebutkan nama seorang pengarang Injil, dan teks Markus sendiri juga tidak menyebutkan pengarangnya.

Kurangnya penerangan, tentang hal ini menyebabkan para ahli tafsir menganggap perincian-perincian yang bersifat khayalan sebagai hal yang berharga, contohnya sebagai berikut: berdasarkan anggapan bahwa Markus adalah satu-satunya pengarang Injil yang meriwayatkan kejadian penyaliban Yesus yang menuliskan hikayat seorang muda yang hanya memakai sehelai kain untuk pakaiannya, kemudian ketika ditangkap, ia menanggalkan sehelai kain tersebut serta lari telanjang (Markus 14, 51-52), banyak orang mengambil konklusi bahwa pemuda tersebut adalah Markus, seorang murid yang setia yang berusaha mengikuti gurunya (Terjemahan Ekumenik). Bagi beberapa orang lainnya dapat dilihat di sini “dengan kenang-kenangan pribadi, suatu bukti kebenaran, suatu tanda tangan anonime, membuktikan bahwa ia adalah saksi mata” (O. Culmann).

Bagi pengarang ini “banyak pemutaran kata-kata menguatkan hipotesa bahwa pengarang Injil Markus adalah seorang Yahudi,” tetapi adanya latinisme (bentuk kesusasteraan latin) memberi kesan bahwa pengarang tersebut menulis Injilnya di kota Roma. “Ia berbicara kepada orang-orang Kristen yang tidak tinggal di Palestina, dan ia berusaha untuk menjelaskan kalimat-kalimat Aramaik yang ia pergunakan.”

Tradisi menggambarkan, Markus sebagai teman Petrus di Roma. Ini didasarkan atas kata penutup daripada surat Petrus yang pertama, jika Petrus memang betul-betul orang yang menulis surat tersebut. Petrus telah menulis dalam suratnya: “Kelompok orang-orang yang terpilih yang ada di Babylon kirim salam kepadamu, begitu juga Markus, anakku,” Babylon amat boleh jadi Roma, begitu kita dapatkan dalam tafsir Terjemahan Ekumenik, sehingga orang mengira dapat mengambil konklusi bahwa Markus yang bersama Petrus berada di Roma adalah penulis Injil Markus. Apakah pemikiran semacam itulah yang mendorong Papias, uskup Hierapolis pada kira-kira tahun 150 mengatakan bahwa yang mengarang Injil adalah Markus, juru bahasa Petrus dan seorang yang juga bekerja sama dengan Paulus?

Dengan kaca mata ini, orang menempatkan penyusunan Injil Markus sesudah matinya Petrus, yakni paling pagi antara tahun 65 dan 70 menurut “Terjemahan Ekumenik,” atau kira-kira tahun 70 menurut O. Culmann.

Teks Injil Markus menunjukkan suatu cacat yang besar, karena ditulis tanpa mengindahkan kronologi. Dengan begitu Markus menyebutkan dalam permulaan Injilnya (1: 16-20), hikayat empat orang nelayan yang dilatih oleh Yesus dengan katanya: “Kamu akan menjadi pembaru manusia,” padahal saat itu mereka belum kenal dengan Yesus. Pengarang Injil ini juga menunjukkan ketidak mampuan menilai kebenaran.

Seperti yang dikatakan oleh R.P. Rouguet, Markus adalah seorang penulis yang kurang pandai, “yang paling bodoh di antara para pengarang Injil.” Ia tidak mengerti bagaimana menulis hikayat. Ahli tafsir Injil menyandarkan penilaian ini kepada paragraf yang meriwayatkan kelembagaan 12 rasul, yang terjemahan harfiahnya sebagai berikut: “Ia naik ke atas gunung dan mengundang mereka yang ia kehendaki, mereka datang kepadanya. Ia menjadikan 12 orang itu supaya bersama dengannya, supaya Ia dapat mengirim mereka mencari ikan dan mempunyai kekuatan untuk mengusir setan. Dan ia membuat 12 orang dan memaksakan nama Petrus kepada Simon” (Markus 3, 13-16).

Dalam beberapa hikayat, Markus berkontradiksi dengan Matius dan Lukas seperti yang kita pernah lihat berhubung dengan alamat Yunus. Di samping itu mengenai alamat yang diberikan oleh Yesus kepada beberapa orang selama Yesus bertugas, Markus (8, 11-12) meriwayatkan suatu dongengan yang tak dapat dipercaya, “orang-orang Parisi datang dan mulai bicara dengan Yesus; untuk menjebak Yesus, mereka minta suatu alamat yang datang dari langit. Sambil menunjukkan keluhan yang dalam, Yesus berkata: mengapa generasi ini minta alamat? Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tak ada alamat yang akan diberikan kepada generasi ini. Ia meninggalkan mereka, naik di atas perahu kecil dan berangkat ke daratan sebelah.”

Ini tidak dapat disangkal lagi adalah karena penegasan dari Yesus sendiri tentang niatnya tidak akan melakukan sesuatu perbuatan yang supernatural. Oleh karena itu ahli-ahli tafsir daripada Terjemahan Ekumenik heran karena Lukas menerangkan bahwa Yesus hanya akan memberikan satu alamat, yaitu alamat Nabi Yunus (silahkan baca Injil Matius), dan merasakan kontradiksi karena Markus berkata “generasi ini tidak akan mendapatkan sesuatu alamat, dan kemudian mereka memperingatkan kepada mukjizat yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri sebagai alamat” (Lukas: 7, 22 dan 11, 20).

Seluruh Injil Markus dianggap Canon (kanon) secara resmi. Akan tetapi kita harus ingat bahwa akhir Injil Markus ( 16, 9-20) dianggap oleh ahli-ahli modern sebagai suatu karya yang ditambahkan. Terjemahan Ekumenik tegas dalam hal ini. Bagian terakhir tersebut tidak dimuat dalam dua manuskrip kuno Injil yang komplit, yaitu Kodex Vatikanus dan Kodex Sinaitikus dari abad IV. Mengenai hal ini O. Culmann menulis: Manuskrip-manuskrip Yunani yang lebih baru dan beberapa versi telah menambah suatu konklusi yang tidak ditulis oleh Markus sendiri tetapi diambil dari beberapa Injil. Sesungguhnya versi bagian terakhir yang ditambahkan adalah banyak. Dalam teks kadang-kadang terdapat versi panjang, kadang-kadang terdapat versi pendek (dua-duanya telah diterbitkan dalam Terjemahan Ekumenik), kadang-kadang versi panjang dengan tambahan dan kadang-kadang kedua versi bersama.

R.P. Kannengiesser memberi komentar sebagai berikut: orang terpaksa menghapuskan ayat-ayat terakhir ketika Injil Markus diterima secara resmi oleh masyarakat yang menjamin, begitu juga ketika Injil Markus dicetak untuk awam. Baik Matius, maupun Lukas atau Yahya tidak tahu bagian yang ditinggalkan Injil Markus. Walaupun begitu kekosongan tersebut sangat terasa. Lama sesudah itu ketika Injil-Injil Matius, Lukas dan Yahya telah tersiar, orang mengumpulkan bagian terakhir dari Injil Markus dengan mengambil dari kiri dan kanan, dari para pengarang Injil lainnya, menjadi mudahlah untuk mengulangi bagian-bagian tebakan ini dengan membaca Markus (16: 9-20). Dengan begitu orang akan mendapatkan suatu ide yang kongkrit tentang kebebasan para pengarang dalam membentuk susunan literer hikayat-hikayat Bibel sampai permulaan abad II.

Tak ada pengakuan tentang adanya manipulasi teks suci yang dilakukan oleh manusia lebih terang dari pikiran-pikiran tersebut yang dicetuskan oleh seorang ahli teologi yang besar.

Sejarah Penulisan Injil Lukas
INJIL LUKAS

Menurut O. Culmann, Lukas adalah pencatat berita, dan menurut R.P. Kannengiesser, Lukas adalah penulis roman. Lukas menulis dalam Pendahuluan Injilnya, bahwa banyak orang lain menulis riwayat Yesus, maka ia akan menulis riwayat tentang kejadian-kejadian yang sama dengan mempergunakan hikayat dan informasi dari saksi-saksi mata (ini secara tidak langsung berarti bahwa Lukas bukan saksi mata) dan informasi-informasi yang datang dari ceramah-ceramah para rasul. Dengan begitu maka yang ia sajikan dengan syarat-syarat tersebut adalah suatu karya yang tersusun menurut metode:

Pendahuluan:

Sedangkan banyak orang sudah mencoba mengarang hikayat dari hal segala perkara yang menjadi yakin di antara kita.

Sebagaimana yang diserahkan kepada kita oleh orang, yang dari mulanya melihat dengan matanya sendiri dan menjadi pengajar Injil itu.

Maka tampaknya baik kepadakupun, yang telah menyelidiki segala perkara itu dengan betul-betul dari asalnya, menyuratkan bagimu dengan peraturannya, hai Teopilus yang mulia.

Supaya engkau dapat mengetahui kesungguhan segala sesuatu yang diajarkan kepadamu.

Dari baris-baris pertama kita sudah dapat merasakan perbedaan antara Lukas dengan Markus, seorang penulis yang kurang mahir yang bukunya telah kita bicarakan. Injil Lukas adalah suatu karya sastra yang tak dapat dipungkiri, tertulis dalam bahasa Yunani yang murni. Lukas adalah seorang kafir yang terpelajar dan kemudian memeluk agama Kristen. Orientasinya terhadap orang Yahudi nampak sekali.

Seperti yang dikatakan oleh Culmann, Lukas tidak mengutip kembali ayat-ayat yang berbau Yahudi seperti dalam Injil Markus, dan menonjolkan kata-kata Yesus terhadap ketidak imannya orang-orang Yahudi, serta menonjolkan pula hubungannya yang baik dengan orang-orang Samaritan yang tidak disukai oleh orang-orang Yahudi, sedangkan Matius, seperti yang telah kita lihat, melukiskan bahwa Yesus minta kepada para sahabatnya untuk menjauhkan diri dari orang Yahudi.

Ini adalah satu daripada beberapa contoh bahwa para penulis Injil dengan melukiskan Yesus mengatakan hal-hal yang sesuai dengan selera pribadi mereka. Mereka itu meriwayatkan kata-kata Yesus dengan versi yang dipilih menurut pandangan kelompok mereka.

Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa Injil adalah:

“buku perjuangan” atau “buku mengenai suasana tertentu” seperti yang telah kita katakan? Perbandingan antara susunan umum Injil Lukas dengan susunan umum Injil Matius memberi bukti tentang hal tersebut.

Siapakah Lukas itu? Orang ingin mengidentifikasikan Lukas dengan seorang tabib dengan nama yang sama, yaitu yang disebut oleh Paulus dalam surat-suratnya. Terjemahan Ekumenik mengatakan bahwa “banyak orang yang mendapatkan konfirmasi mengenai pekerjaan Lukas pengarang Injil sebagai seorang tabib dalam kepandaiannya untuk mendiagnosa orang sakit.”

Keterangan ini adalah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Lukas tidak pernah memperoleh keterangan tentang penyakit “kata-kata yang ia pakai adalah kata orang-orang terpelajar pada zaman itu.” Memang ada seorang bernama Lukas yang menjadi teman perjalanan Paulus. Apakah orang itu Lukas Pengarang Injil? Inilah yang dikira-kirakan oleh O.Culmann. Tahun ditulisnya Injil Lukas dapat dikira-kira menurut beberapa faktor. Lukas telah mempergunakan Injil Markus dan Injil Matius. Kita membaca dalam Terjemahan Ekumenik sebagai berikut:

“nampaknya ia tahu tempat kota Yerusalem serta reruntuhannya yang disebabkan oleh tentara Titus pada tahun 70”. Dengan begitu maka Injil Lukas telah ditulis sesudah itu. Ahli-ahli kritik sekarang berpendapat bahwa Injil Lukas ditulis sekitar tahun 80-90; tetapi ada juga yang mengatakan tahun sebelum itu. Banyak Hikayat-hikayat yang ditulis dalam Injil Lukas menunjukkan perbedaan besar dengan Injil-Injil sebelumnya.

Di atas kita telah memberikan gambaran singkat. Terjemahan Ekumenik telah membicarakannya pada halaman 181 dan selanjutnya O. Culmann dalam karangannya:

“Perjanjian Baru,” halaman 18 memuat hikayat-hikayat Injil Lukas yang tidak terdapat dalam Injil-Injil lain. Hal ini tidak mengenai perincian. Hikayat tentang masa kanak-kanak Yesus dalam Injil Lukas adalah hanya terdapat dalam Injil Lukas, sementara Matius memberikan riwayat yang berbeda, sedangkan Markus tidak memuatnya sama sekali. Matius dan Lukas memberi silsilah keturunan Yesus yang berbeda-beda.

Ada kontradiksi penting, kekeliruan yang sangat besar dari segi ilmiah sehingga perlu dibahas dalam bab khusus. Kita dapat mengerti bila Matius menghadapi orang-orang Yahudi, maka ia menyebutkan silsilah keturunan Yesus yang dimulai dengan Nabi Ibrahim sampai Nabi Daud. Kita dapat memahami pula jika Lukas seorang yang mula-mula kafir kemudian memeluk agama Kristen, memberikan silsilah keturunan sampai yang lebih tinggi, sehingga kita akan menemukan bahwa bermula dengan Nabi Daud silsilah-silsilah keturunan itu berkontradiksi. Tugas kenabian Yesus yang diriwayatkan oleh Lukas, Matius dan Markus disikapi secara berbeda-beda dalam beberapa hal. Suatu kejadian yang sangat penting bagi umat Kristen, yaitu lembaga Ekaristi;*15 diriwayatkan secara berbeda oleh Lukas di satu pihak dan oleh Matius dan Markus di pihak yang lain. R.P. Rouguet menulis dalam bukunya, Pengantar kepada Injil (Initiation a l’Evangile), halaman 75 bahwa kata-kata Yesus yang menjadi dasar kelembagaan Ekaristi diriwayatkan oleh Lukas (22, 19-24) dalam bentuk yang sangat berbeda dengan riwayat Matius (26, 26-29) dan riwayat Markus (14, 22-24). Kedua yang terakhir ini boleh dikatakan sama atau identik. Sebaliknya susunan yang diriwayatkan oleh Lukas sangat mirip dengan susunan Paulus (surat pertama kepada orang Korintus 11, 23-25).

Sebagaimana orang mengetahui, Lukas dalam Injilnya meriwayatkan Kenaikan Al Masih dalam susunan yang berkontradiksi dengan riwayat yang terdapat dalam fasal-fasal Perbuatan-perbuatan para Rasul-rasul yang merupakan bagian penting daripada Perjanjian Baru dan yang Lukas sendiri dianggap sebagai penulisnya. Dalam Injilnya, Lukas mengatakan bahwa kenaikan Al Masih itu terjadi pada hari Paskah, sedang dalam: Kisah Perbuatan Para Rasul, Lukas mengatakan bahwa kenaikan Al Masih terjadi 40 hari sesudah Paskah.*16 Kontradiksi ini telah mendorong para ahli tafsir Injil untuk memberi tafsiran-tafsiran yang ajaib. Akan tetapi ahli tafsir yang mementingkan obyektifitas seperti penulis-penulis Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel, terpaksa mengakui, dalam suatu rangka yang umum bahwa: “Bagi Lukas, perhatian pertama bukan untuk meriwayatkan kejadian secara tepat dalam arti ketepatan material.” R.P. Kannengiesser membandingkan riwayat yang terdapat dalam: “Kisah Perbuatan Para Rasul” yang juga karangan Lukas, dengan riwayat tentang kejadian yang sama yang diberikan oleh Paulus. R.P. Kannengiesser menulis: “Di antara empat pengarang Injil, Lukas adalah yang paling berperasaan dan yang paling sastrawan. Ia menunjukkan semua sifat-sifat penulis roman.”

Sejarah penulisan Injil Yahya.
INJIL YAHYA

Injil Yahya adalah sangat berbeda dengan tiga Injil lainnya, sedemikian rupa sehingga R.P. Rouguet dalam bukunya Pengantar kepada Injil, setelah memberi tafsiran kepada ketiga Injil yang pertama, mengatakan bahwa Injil Yahya merupakan “Dunia yang lain.” Memang begitu. Sesungguhnya Injil Yahya merupakan buku yang sangat berlainan; kita dapatkan di dalamnya perbedaan dalam tertib susunannya: dalam hikayatnya, dalam uraian-uraiannya, perbedaan gaya bahasa, perbedaan geografis dan kronologis bahkan perbedaan dalam pandangan teologi (O. Culmann). Dengan begitu maka kata-kata Yesus diriwayatkan oleh Yahya dan oleh ketiga pengarang Injil lainnya secara berbeda. R.P. Rouguet menjelaskan bahwa “Injil-Injil Sinoptik*17 meriwayatkan kata-kata Yesus dalam style yang bernada perintah keras dan lebih dekat dengan gaya orang bicara.” Dalam Injil Yahya segala sesuatu bernada “berfikir,” sedemikian rupa sehingga kita dapat bertanya apakah Yesus yang bicara atau ide yang dicetuskan Yesus itu kemudian diperpanjang secara tidak sadar dengan pemikiran-pemikiran pengarang Injil.

Siapakah pengarang Injil Yahya? Persoalan ini banyak diperdebatkan dan memang terdapat bermacam-macam pendapat. A. Tricot dan R.P. Rouguet yakin bahwa Injil Yahya dikarang oleh seorang saksi-mata. Pengarangnya adalah Yahya, anak Zebede, saudara Yakob ini adalah seorang sahabat Yesus yang segi-segi hidupnya sudah terkenal dan terpapar dalam buku-buku pelajaran agama bagi awam. Seni gambar populer melukiskannya berdampingan dengan Yesus pada waktu santapan terakhir, sebelum pensaliban. Siapa yang dapat menggambarkan bahwa Injil Yahya bukan karangan Yahya, sahabat Yesus yang gambarnya tersebar di mana-mana?

Bahwa Injil keempat ini ditulis pada waktu yang sangat terlambat tidak menjadi argumentasi formal untuk melawan anggapan di atas. Pendapat yang definitive mengatakan bahwa Injil Yahya dikarang pada akhir abad pertama. Gambaran bahwa Injil Yahya ditulis 60 tahun sesudah Yesus dapat terasa sesuai dengan adanya seorang sahabat yang sangat muda pada waktu hidupnya Yesus, dan kemudian berumur panjang hampir satu abad.

R.P. Kannengiesser dalam penyelidikannya tentang kebangkitan Yesus berkesimpulan bahwa tak seorangpun di antara pengarang-pengarang Perjanjian Baru, kecuali Paulus, yang dapat dikatakan saksi mata terhadap kelanjutan Yesus. Walaupun begitu, Yahya meriwayatkan tentang Yesus menampakkan dirinya kepada 12 sahabatnya, termasuk Yahya sendiri, yang sedang berkumpul, tetapi Thomas tidak hadir (Yahya, 20, 19-24). Kemudian kejadian tersebut terulang; Yesus nampak kepada 12 sahabatnya yang berkumpul lengkap.

O. Culmann, dalam bukunya Perjanjian Baru tidak membicarakan hal tersebut. Terjemahan Ekumenik terhadap Bible mengatakan bahwa kebanyakan para pengeritik tidak dapat menerima anggapan bahwa Injil Yahya adalah karangan Yahya sahabat Yesus; memang tak ada kemungkinan bahwa anggapan awam itu benar. Akan tetapi semua orang berpendapat bahwa teks Injil Yahya itu dikarang oleh beberapa penulis. Ada kemungkinan besar bahwa Injil Yahya yang kita miliki disiarkan oleh murid-murid pengarang. Mereka itu telah menambah fasal 21, dan tidak ada keragu-raguan lagi bahwa mereka juga menambah catatan-catatan (fasal 4, 2 dan mungkin fasal 4, 1, 4, 44, 7, 37b, 11, 2, 19, 35), mengenai hikayat wanita yang berzina, semua orang sependapat bahwa sumber daripada hikayat tak dapat diketahui, dan hikayat itu diselipkan kemudian. (Walaupun begitu termasuk dalam Injil Kanon). Paragraf 19, 35 nampak sebagai pernyataan dari seorang saksi mata (O. Culmann); ini adalah satu-satunya paragraf yang memberikan kesan tersebut, tetapi para ahli tafsir Injil berpendapat bahwa paragraf tersebut adalah paragraf tambahan.

O. Culmann berpendapat bahwa tambahan-tambahan baru nampak dalam Injil Yahya fasal 21, pasti merupakan karya seorang murid yang memasukkan perubahan dalam tubuh Injil Yahya.

Dengan tidak menyebutkan hipotesa-hipotesa yang diajukan oleh para ahli tafsir Injil, catatan-catatan yang datang dari pengarang-pengarang Kristen yang ternama dan yang mengenai persoalan siapa yang menulis Injil Yahya, menunjukkan kepada kita bahwa mereka berada dalam kebingungan. Nilai sejarah daripada riwayat-riwayat Yahya juga banyak dibantah. Perbedaannya dengan ketiga Injil lainnya adalah besar. O. Culmann mengatakan bahwa Yahya mempunyai pikiran-pikiran teologi yang berbeda dengan pengarang-pengarang Injil lainnya. Perbedaan teologi ini, menjadi pedoman untuk memilih kata-kata Yesus yang diriwayatkan, dan cara meriwayatkannya. Dengan begitu maka Yahya sering memperpanjang kata-kata tersebut, dan melukiskan Yesus yang kita ketahui dalam sejarah mengatakan, apa yang dikatakan oleh Ruhul Kudus kepadanya. Bagi ahli tafsir Injil ini, (O. Culmann) itulah sebabnya perbedaan antara Injil Yahya dan Injil-Injil yang lain.

Sudah terang kita dapat menggambarkan bahwa Yahya yang menulis Injilnya sesudah pengarang-pengarang lain dapat memilih hikayat-hikayat yang lebih dapat menerangkan idenya; kita tidak perlu heran jika kita tidak menemukan dalam Injil Yahya hal-hal yang dapat kita temukan dalam Injil-Injil yang lain. Terjemahan Ekumenik menyebutkan beberapa hal semacam itu (halaman 282). Tetapi yang mengherankan kita adalah adanya kekosongan-kekosongan. Kekosongan-kekosongan itu ada yang hampir tak dapat dipercaya seperti hikayat Lembaga Ekaristi. Kita tak dapat menggambarkan bahwa hikayat yang sangat penting bagi agama Kristen dan kemudian menjadi tiang (pokok) bagi liturginya yaitu misa, bahwa hikayat tersebut tidak disajikan oleh Yahya, seorang pengarang Injil yang terbaik. Dan Yahya hanya puas dengan menceritakan bagaimana Yesus membasuh kaki murid muridnya, meramalkan pengkhianatan Yudas dan pengingkaran Petrus kepadanya.

Sebaliknya ada hikayat-hikayat yang diceritakan oleh Yahya tetapi tak tersebut dalam Injil-Injil yang lain. Terjemahan Ekumenik menyebutkan hikayat-hikayat tersebut pada halaman 283. Mengenai hal ini orang dapat mengatakan bahwa ketiga pengarang Injil Sinoptik tidak dapat menemukan dalam hikayat yang diriwayatkan oleh Yahya sesuatu arti yang penting. Tetapi kita tentu merasa heran karena membaca Injil Yahya yang memuat hikayat Yesus yang sudah hidup kembali menampakan dirinya kepada murid-muridnya di pinggir danau Tabariah (Yahya 21, 1-14); hikayat tersebut merupakan reproduksi daripada hikayat mencari ikan yang disebutkan oleh Lukas (5, 1-11) dengan banyak tambahan. Yahya menceritakan hikayat tersebut seakan-akan kejadian yang terjadi pada waktu Yesus masih hidup. Dalam Hikayat ini Lukas menyebutkan bahwa Yahya juga ada, yakni Yahya yang kemudian mengarang Injil Yahya.

Hikayat Injil Yahya tersebut merupakan bagian dari fasal 21 yang semua penyelidik sepakat bahwa fasal tersebut adalah tambahan. Dengan mudah kita dapat menggambarkan bahwa disebutkannya nama Yahya dalam hikayat Lukas akan dapat memasukkannya secara buat-buatan dalam Injil keempat. Bahwa demi keperluan tersebut orang harus merubah hikayat dari zaman Yesus masih hidup menjadi hikayat yang diriwayatkan sesudah Yesus tidak ada lagi, hal ini tidak dapat memberhentikan tindakan orang-orang yang bertujuan merobah teks Injil.

Ada lagi suatu perbedaan besar antara Injil Yahya dengan ketiga lnjil lainnya, yaitu soal berapa lama Yesus melakukan tugasnya. Markus, Matius dan Lukas mengatakan hanya satu tahun, sedangkan Yahya mengatakan lebih dari dua tahun, O. Culmann mengikuti Yahya.

Terjemahan Ekumenik mengatakan sebagai berikut:

“Injil-Injil Sinoptik menyebutkan periode Galilia yang panjang, kemudian diteruskan dengan perjalanan agak panjang ke Yudea, kemudian menetap sebentar di Yerusalem; sebaliknya Yahya menceritakan Yesus sering pindah dari satu daerah ke daerah lain, tetapi lama di Yudea, khususnya di Yerusalem ( I, 19-51 . 2, 13-36. 5, 1-47. 14, 20-31). Ia menyebutkan beberapa keramaian Paskah (2, 13, 5, 1. 6, 4, 11, 55) dan dengan begitu memberi kesan bahwa Yesus bertugas lebih dari dua tahun. Siapa yang kita percaya? Markuskah atau Matius atau Lukas atau Yahya…?


Catatan:
7  Yudas atau Yudas Eskariot adalah seorang sahabat Nabi Isa yang mengkhianatinya dengan melaporkan tempat Nabi Isa berada kepada tentara pendudukan Romawi di Palestina
Buku-buku tersebut di atas kemudian diputuskan sebagai apokrif artinya buku yang harus disembunyikan oleh Gereja yang kemudian menang dengan pimpinan Paulus.
9  Injil Sinoptik adalah Injil-Injil karangan Markus, Matius dan Lukas. dinamakan Sinoptik karena hampir sama dalam pandangannya.
10  Kontradiksi silsilah keturunan Yesus dalam Injil Matius dengan silsilah dalam Injil Lukas akan dibahas dalam satu bab khusus.
11  Kaum Samaria adalah orang-orang yang mengikuti Hukum Taurah. Mereka menunggu kedatangan Antara lain Masih dan setia melakukan upacara-upacara Yahudi, akan tetapi mereka mendirikan satu temple sebagai saingan terhadap temple di Yerusalem.
12  Kita bertanya apakah tidak mungkin ada masyarakat Yahudi Kristen juga di Alexandria. Sesungguhnya O. Culmann juga menyebutkan hipotesa ini.
13  Suatu film dari Amerika tentang Yesus tetapi merubah sejarah Yesus.
14  Dalam paragraf lain dalam Injilnya, Matius menyebutkan hikayat ini juga, akan tetapi tidak menyebutkan waktunya secara tepat (16, 1-4). Begitu juga Lukas (11, 29-32), Markus sebagaimana kita akan lihat, menyebutkan Yesus berkata bahwa Ia tidak akan memberi alamat kepada generasi ini (Markus 8, 11-12).
15 Ekaristi adalah suatu sakramen (upacara) yang menghidangkan roti dan anggur. Roti itu dianggap sebagai daging Yesus dan anggur merupakan darahnya. Roti dimakan dan anggur diminum deh umat Katolik.
16 Paskah: Upacara peringatan keluarnya orang Yahudi dari Mesir dengan menyeberangi lautan di bawah pimpinan Musa.
17 Sinoptik, adalah Injil Matius, Markus dan Lukas.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: