RSS

Reproduksi Manusia

VII. REPRODUKSI MANUSIA

Reproduksi merupakan suatu masalah yang dibahas manusia. Dari permulaan dan juga dalam perincian-perinciannya pembahasan itu mengandung konsepsi yang salah. Pada abad pertengahan dan sampai periode yang belum begitu lama, mitos dan khayal meliputi soal reproduksi.

Hal tersebut memang wajar, oleh karena untuk memahami mekanisme reproduksi yang kompleks ini orang harus tahu anatomi, harus telah menemukan mikroskop dan harus sudah ada ilmu-ilmu fundamental yang menjadi sumber fisiologi, embriyologi, obstetrik dan lain-lain.

Al-Qur’an berlainan dengan itu semua. Ia menyebutkan tempat-tempat mekanisme yang tepat dan menyebutkan tahap-tahap yang pasti dalam reproduksi, tanpa memberi bahan yang keliru sedikitpun. Semuanya diterangkan secara sederhana dan mudah difahami oleh semua orang serta sangat sesuai dengan hal-hal yang ditemukan Sains pada kemudian hari.

Reproduksi disebutkan dalam beberapa puluh ayat, tak pakai urutan yang jelas, tetapi dengan beberapa penjelasan mengenai soal-soal khusus. Untuk mendapatkan ide yang menyeluruh, ayat-ayat tersebut perlu dikelompok-kelompokkan, setelah dikelompokkan sebagaimana hal yang sudah kita bicarakan, komentar akan jadi lebih mudah.

PERINGATAN TENTANG IDE TERTENTU

Adalah sangat perlu untuk mengingatkan kepada ide-ide yang tidak diketahui manusia ketika Al-Qur’an diwahyukan. Reproduksi manusia terjadi melalui proses-proses yang umum bagi binatang yang menyusui.

Pada permulaannya terjadi pembuahan (fecondation) dalam rahim. Ada suatu ovule yang memisahkan diri dan ovarium di tengah-tengah siklus menstruasi. Yang menyebabkan pembuahan adalah sperma lelaki, atau lebih tepat lagi spermatozoide, karena satu sel benih sudah cukup; satu kadar yang sangat sedikit dari sperma mengandung spermatozoide sejumlah puluhan juta.

Cairan itu dihasilkan oleh kelenjar lelaki dan disimpan untuk sementara dalam ruangan dan saluran yang bermuara ke jalan air kencing. Ada kelenjar tambahan yang bertebaran sepanjang saluran sperma, dan menambah zat pelumas kepada sperma, tetapi zat itu tidak mengandung unsur pembuahan.

Telur yang dibuahi semacam itu menetap pada suatu titik tertentu dalam rahim wanita. telur itu turun sampai ke rahim dan menetap di sana dengan berpegangan dengan zat liat dan dengan otot sesudah tersusunnya placenta. Jika telur yang sudah dibuahi itu menetap di (tempat lain) dan tidak di uterus, kehamilan akan terganggu.

Jika embriyo sudah dapat dilihat oleh mata biasa, embriyo tersebut terlihat sebagai sepotong daging yang di dalamnya bentuk manusia belum nampak. Bentuk manusia terjadi secara bertahap dan menimbulkan tulang-tulang serta perleng-kapan lainnya seperti otot, sistem syaraf, sistem sirkulasi, pembuluh-pembuluh dan lain-lain. Inilah catatan-catatan yang dapat kita gunakan sebagai bahan perbandingan dengan apa yang dapat dibaca dalam Al-Qur’an tentang reproduksi.

REPRODUKSI MANUSIA DALAM Al-QUR’AN

Adalah tidak mudah untuk mendapatkan ide reproduksi dalam Al-Qur’an. Kesulitan pertama adalah ayat-ayat yang mengenai soal ini tersebar di seluruh Al-Qur’an seperti yang kita lihat dalam soal-soal lain. Tetapi soal ini tidak merupakan kesulitan besar. Yang dapat menyesatkan seorang penyelidik adalah soal arti kata (vocabulary).

Pada waktu sekarang terdapat terjemahan-terjemahan dan tafsiran tentang beberapa ayat yang memberi gambaran salah tentang wahyu Al-Qur’an mengenai hal-hal ilmiah. Kebanyakan terjemahan Al-Qur’an menyebutkan pembentukan manusia dimulai dengan “segumpal darah” dan adherence (rangkaian). Penjelasan semacam itu sangat tak dapat diterima oleh seorang spesialis. Manusia bukan begitu asal mulanya.

Dalam ayat-ayat yang membicarakan menetapnya telur dalam uterus (rahim) wanita, kita akan melihat kesalahan ahli-ahli ke Islaman yang tidak mengetahui soal-soal ilmiah. Keadaan semacam tersebut meyakinkan kita betapa pentingnya perpaduan antara pengetahuan bahasa dan pengetahuan ilmiah agar dapat mengerti makna ayat Al-Qur’an yang membicarakan reproduksi.

Pertama Al-Qur’an menandaskan transformasi terus menerus yang dialami oleh embriyo dalam uterus (rahim) si ibu.

Surat 82 ayat 6 dan 7:

Artinya: Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. [Al Infithaar: 6 – 7]

Surat 71 ayat 13 -14:

Surat 71 ayat 13-14

Artinya: “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?, Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.” [Nuh: 13 – 14]

Di samping pernyataan yang sangat umum, teks Al-Qur’an menarik perhatian kita mengenai soal-soal teks reproduksi, yang dapat kita kelompokkan sebagai benkut:

Pembuahan (fecondation) terjadi karena kadar yang sangat sedikit daripada cair,

  • Watak dan zat cair yang membuahi,
  • Menetapnya telur yang sudah dibuahi,
  • Perkembangan Embryo.

1. PEMBUAHAN TERJADI KARENA KADAR YANG SANGAT SEDIKIT DARIPADA CAIR

Al-Qur’an menyebutkan soal ini sebelas kali dengan memakai kata-kata yang kita dapatkan dalam:

Surat 16 ayat 4:
Surat 16 ayat 4b
Artinya: “Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (An Nahl: 4)

Kita harus menterjemahkan kata bahasa Arab Nutfah dengan kata “setetes sperma,” kecuali jika nanti ada kata bahasa Prancis yang lebih cocok. Perlu diterangkan bahwa “Nutfah” berasal dan akar kata yang berarti: mengalir; kata tersebut dipakai untuk menunjukkan air yang ingin tetap dalam wadah, sesudah wadah itu dikosongkan. Jadi kata itu menunjukkan setetes kecil, dan disini berarti setetes air sperma, karena dalam ayat lain diterangkan bahwa setetes itu adalah setetes sperma.

Surat 75 ayat 37:
Surat 75 ayat 37
Artinya: “Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan?” [Al Qiyaamah: 37]

Kata bahasa Arab Maniy berarti Sperma. Suatu ayat lain menunjukkan bahwa setetes air itu ditaruh di tempat yang tetap (Qarar) yang berarti alat kelamin.

Surat 23 ayat 13:
bn_surat 23 ayat 13
Artinya: “Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” [Al Mu’minuun: 13]

Perlu ditambahkan di sini bahwa kata sifat “makin” tak dapat saya terjemahkan dalam bahasa Perancis. Kata tersebut menunjukkan tempat yang terhormat, tinggi dan kokoh. Bagaimanapun, maksudnya adalah tempat membesarnya manusia dalam organisme ibu. Tetapi yang lebih penting ialah bahwa ide tentang setitik cair yang diperlukan untuk pembuahan, sesuai tepat dengan Sains yang kita ketahui sekarang.

2. WATAK ZAT CAIR YANG MEMBUAHI

Qur’an menyebutkan cair yang memungkinkan pembuahan dengan sifat-sifat yang perlu kita selidiki.

a. Sperma, seperti yang baru saja kita terangkan (surat 75 ayat 37).

b. Cairan terpancar, (surat 86 ayat 6).

Surat 86 ayat 6
Artinya: “Ia diciptakan dari air yang terpancar.”

c. Cairan yang hina, (surat 77 ayat 20).

bn_surat 77 ayat 20
Artinya: “Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina.”[Al Mursalaat: 20]

Sifat “hina” (mahin) dapat diartikan, bukannya sifatnya cairan itu sendiri, akan tetapi karena hubungannya dengan fakta bahwa cairan itu dikeluarkan dari tempat keluarnya air kencing dan memakai saluran yang dilewati air kencing.

d. Camparan atau dicampur (amsyaj), Surat 76 ayat 2:

bn_Surat 76 ayat 2
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan setetes mani yang bercampur …” [Al Insaan: 2]

Banyak ahli tafsir seperti Hamidullah mengira bahwa campuran itu adalah campuran unsur lelaki. Begitu juga ahli-ahli tafsir kuno yang tidak memiliki ide sedikitpun tentang fisiologi pembuahan, khususnya kondisi-kondisi biologi wanita-wanita. Mereka itu mengira bahwa kata “campuran” hanya menunjukkan bertemunya unsur lelaki dan wanita. Tetapi ahli tafsir modern seperti penulis Muntakhab yang diterbitkan oleh Majlis Tertinggi Soal-soal Islam di Cairo mengoreksi cara para ahli tafsir kuno dan menerangkan bahwa setetes sperma mengandung banyak unsur-unsur.

Ahli-ahli tafsir Muntakhab tidak memberikan perincian tetapi saya rasa keterangannya sangat tepat. Apakah unsur-unsur sperma yang bermacam-macam itu? Cairan sperma dibikin oleh pengeluaran-pengeluaran bermacam-macam yang berasal dari kelenjar-kelenjar seperti berikut :

Testicule, pengeluaran kelenjar kelamin lelaki yang mengandung spermatozoide yakni sel panjang yang berekor dan berenang dalam cairan serolite,

Kantong-kantong benih (vesicules seminates); organ ini merupakan tempat menyimpan spermatozoide, tempatnya dekat prostrate, organ ini juga mengeluarkan cairan tetapi cairan itu tidak membuahi,

Prostrate, mengeluarkan cairan yang memberi sifat krem serta bau khusus kepada sperma,

Kelenjar yang tertempel kepada jalan air kencing. Kelenjar Cooper atau Mery mengeluarkan cairan yang melekat, dan kelenjar Lettre mengeluarkan semacam lendir. Itulah unsur-unsur campuran yang tersebut dalam Al-Qur’an.

Tetapi ada lagi suatu hal yang penting. Jika Al-Qur’an berbicara tentang cairan yang membuahi dan yang terdiri dari bermacam-macam unsur, ia memberi tahu kepada kita bahwa terjadinya manusia adalah karena sesuatu yang dapat dikeluarkan dari cairan tersebut, seperti contoh pada:

Surat 32 ayat 8:
bn_surat 32 ayat 8Artinya: “Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).” [As Sajdah: 8]

Kata bahasa Arab yang diterjemahkan di sini sebagai sari (Quint essence) berarti suatu bahan yang dikeluarkan atau keluar dari bahan lain dan merupakan bagian yang terbaik daripada bahan itu. Bagaimanapun cara menterjemahkannya, maksudnya adalah satu bagian daripada suatu keseluruhan.

Yang menyebabkan pembuahan telur atau memungkinkan reproduksi adalah sebuah sel panjang yang besarnya 1/10.000 (sepersepuluh ribu) milimeter yaitu satu daripada beberapa juta sel yang dikeluarkan oleh manusia dalam keadaan normal yang dapat masuk kedalam telur wanita (ovule). Sejumlah yang sangat besar tetap dijalan dan tidak sampai ke trayek yang menuntun dari kelamin wanita sampai ke telur (ovule) didalam rendahan rahim (uterus dan trompe). Dengan begitu maka hanya bagian sangat kecil daripada cairan yang menunjukkan aktivitas sangat komplit.

Bagaimana kita tidak terpukau oleh persesuaian antara teks Al-Qur’an dengan pengetahuan ilmiah yang kita miliki sekarang!.

3. NIDASI telur LELAKI DALAM RAHIM

Telur yang sudah dibuahkan dalam “Trompe” turun bersarang di dalam rendahan (cavite) Rahim (uterus). Inilah yang dinamakan “bersarangnya telur.”

Al-Qur’an menamakan uterus tempat telur dibuahkan itu Rahim (kata jamaknya Arham).

Surat 22 ayat 5.
Surat 22 ayat 5

Artinya: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu “dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan”kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” [Al Hajj: 5]

Menetapnya telur dalam rahim terjadi karena tumbuhnya (villis) yakni perpanjangan telur yang akan mengisap dari dinding rahim, zat yang perlu bagi membesarnya telur, seperti akar tumbuh-tumbuhan masuk dalam tanah. Pertumbuhan semacam ini mengokohkan telur dalam Rahim. Pengetahuan tentang hal ini baru diperoleh manusia pada zaman modern. Pelekatan ini disebutkan dalam Al-Qur’an 5 kali. Mula-mula dua ayat pertama daripada:

Surat 96 ayat 2:
Surat 96 ayat 2
Artinya: “Yang menciptakan manusia dari sesuatu yang melekat.” (Al ‘Alaq: 2)

Sesuatu yang melekat” adalah terjemahan kata bahasa Arab: ‘alaq, ini adalah arti yang pokok. Arti lain adalah “gumpalan darahyang sering disebutkan dalam terjemahan Al-Qur’anIni adalah suatu kekeliruan yang harus kita koreksi. Manusia tidak pernah melewati tahap “gumpalan darah.”

Ada lagi terjemahan ‘alaq dengan “lekatan” (adherence) yang juga merupakan kata yang tidak tepat. Arti pokok yakni “sesuatu yang melekatsesuai sekali dengan penemuan Sains modern. Ide tentang “sesuatu yang melekat” disebutkan dalam 4 ayat lain yang membicarakan transformasi urut-urutan semenjak tahap “setetes sperma” sampai sempurna.

Surat 23 ayat 14:
Surat 23 ayat 14

Artinya: “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (sesuatu yang melekat)”, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.  (Al Mu’minuun 14)

Surat 40 ayat 67:
Surat 40 ayat 67

Artinya: “Dialah yang menciptakan kamu dan tanah, kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dan segumpal darah (sesuatu yang melekat).”……. (Al Mu’min 67)

Surat 75 ayat 37-38:
Surat 75 ayat 37-38
Artinya: “Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (kedalam rahim). Kemudian mani itu menjadi segumpal darah (sesuatu yang melekat) lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya.” (Al Qiyaamah: 37-38)

Anggota tempat “mengandung” itu terjadi, selalu disebutkan dalam Al-Qur’an dengan kata yang berarti uterus. Dan beberapa surat, tempat itu dinamakan “Tempat menetap yang kokoh.” (Surat 23 ayat 13 yang pernah kita sebutkan dan surat 77 ayat 21.*18

4. PERKEMBANGAN EMBRIYO DIDALAM PERANAKAN

Hal-hal yang disebutkan oleh Al-Qur’an sesuai dengan apa yang diketahui manusia tentang tahap-tahap perkembangan embryo dan tidak mengandung hal-hal yang dapat dikritik oleh Sains modern.

Setelah “sesuatu yang melekat,” yaitu kata-kata yang telah kita lihat kebenarannya, Al-Qur’an mengatakan bahwa embriyo melalui tahap: daging (seperti daging yang dikunyah), kemudian nampaklah tulang yang diselubungi dengan daging (diterangkan dengan kata lain yang berarti daging segar).

Surat 23 ayat 14:
Surat 23 ayat 14
Artinya: “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan sesuatu yang melekat dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (Al Mu’minuun: 14)

Daging (seperti yang dikunyah) adalah terjemahan kata bahasa Arab mudlghah; daging (seperti daging segar) adalah terjemahan lahm Perbedaan perlu digaris bawahi, embriyo pada permulaannya merupakan benda yang nampak kepada mata biasa (tanpa alat), dalam tahap tertentu daripada perkembangannya, sebagai daging dikunyah. Sistem tulang, berkembang pada benda tersebut didalam yang dinamakan “mesenhyme.” Tulang yang sudah terbentuk dibungkus dengan otot-otot, inilah yang dimaksudkan dengan “lahm.”

Dalam perkembangan embriyo, ada beberapa bagian yang muncul, yang tidak seimbang proporsinya dengan yang akan menjadi manusia nanti, sedang bagian-bagian lain tetap seimbang. Bukankah arti kata bahasa Arab “mukhallaq” yang berarti “dibentuk dengan proporsi seimbang” dan dipakai dalam ayat 5 surat 22, disebutkan untuk menunjukkan fenomena ini? Al-Qur’an juga menyebutkan munculnya pancaindera dan hati (perasaan, af-idah).

Surat 32 ayat 9.
Surat 32 ayat 9
Artinya: “Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh (ciptaan)Nya, dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.” (As Sajdah: 9)

Al-Qur’an juga menyebutkan terbentuknya seks:

Surat 53 ayat 45-46:
Surat 53 ayat 45 dan 46

Artinya: “Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang- pasangan laki-laki dan perempuan, dan air mani apabila dipancarkan.”

Terbentuknya seks juga disebutkan dalam surat 35 ayat 11 dan surat 75 ayat 39.

Semua pernyataan-pernyataan Al-Qur’an harus dibandingkan dengan hasil-hasil Sains modern; persesuaian di antara kedua hal tersebut sangat jelas. Tetapi juga sangat perlu untuk membandingkannya dengan kepercayaan-kepercayaan umum yang tersiar pada waktu Al-Qur’an, agar kita mengetahui bahwa manusia pada waktu itu tidak mempunyai konsepsi seperti yang diuraikan oleh Al-Qur’an mengenai problema-problema tertentu.

Mereka itu tidak dapat menafsirkan Al-Qur’an seperti yang kita lakukan sekarang setelah hasil Sains modern membantu kita. Sesungguhnya hanya baru pada abad XIX, manusia mempunyai pandangan yang jelas tentang hal-hal tersebut. Selama abad pertengahan mitos dan spekulasi tanpa dasar merupakan sumber daripada doktrin yang bermacam-macam, yang tetap dianut orang setelah abad pertengahan selesai.

Banyak orang tidak tahu bahwa tahap fundamental dalam sejarah embryologi adalah pernyataan Harvey pada th. 1651 bahwa: “Semua yang hidup itu berasal dari telur.” Juga banyak orang tidak tahu bahwa embriyo itu terbentuk sedikit demi sedikit, sebagian demi sebagian. Tetapi pada waktu ilmu pengetahuan baru telah mendapat bantuan dari penemuan baru yaitu mikroskop untuk menyelidiki soal-soal kita ini, masih terdapat banyak orang yang membicarakan peran telur spermatozoide. Seorang naturalis, yaitu Buffon termasuk golongan ovist (yaitu golongan yang menganut teori pengkotakan). Bonnet salah seorang penganut teori tersebut mengatakan bahwa telur Hawa, ibu dari jenis manusia, mengandung segala bibit jenis manusia, yang disimpan dalam pengkotakan, yang satu didalam yang lainnya. Hipotesa semacam ini masih diterima orang pada abad XVIII.

Lebih seribu tahun sebelum zaman tersebut, di mana doktrin-doktrin khayalan masih mendapat pengikut, manusia sudah diberi Al-Qur’an oleh Tuhan. Pernyataan-pernyataan Al-Qur’an mengenai reproduksi manusia menjelaskan hal-hal yang pokok dengan istilah-istilah sederhana yang manusia memerlukan berabad-abad untuk menemukannya.

Al-QUR’AN DAN PENDIDIKAN SEKS

Zaman kita ini mengira telah mencapai penemuan-penemuan baru dalam segala bidang. Orang berpendapat bahwa kita telah memperbarui pendidikan seks, dan mengira bahwa disajikannya pengetahuan tentang soal-soal kehidupan adalah hasil alam modern, dan bahwa abad-abad yang telah lampau merupakan abad obscurantisme yang disebabkan oleh agama (tanpa dijelaskan agama apa).

Tetapi apa yang telah kita katakan dalam fasal-fasal buku ini menunjukkan bahwa semenjak 14 abad, soal-soal teoritis tentang reproduksi manusia telah disajikan untuk diketahui manusia, dalam batas-batas kemungkinan karena pada waktu itu manusia belum memiliki pengetahuan anatomik dan fisiologi yang memungkinkan perkembangan lebih lanjut; untuk penyajian itu diperlukan bahasa yang sederhana yang sesuai dengan kemampuan pemahaman orang-orang yang mendengarkan tuntunan Al-Qur’an.

Aspek-aspek praktis juga tidak ditinggalkan. Dalam Al-Qur’an kita dapatkan perincian-perincian tentang kehidupan praktis, tentang tindakan yang harus dilakukan oleh manusia dalam peristiwa-peristiwa bermacam-macam dalam hidupnya. Kehidupan seks juga tidak dikecualikan. Dua ayat Al-Qur’an membicarakan hubungan seks. Hubungan seks itu disebutkan dengan kata-kata yang mencakup: penjelasan tetapi dalam batas tata susila yang diperlukan. Jika kita membaca terjemahan dan tafsiran ayat-ayat itu, kita dapatkan perbedaan yang besar didalamnya. Saya ragu untuk menafsirkan ayat-ayat tersebut. Saya berhutang budi kepada Doktor A.K. Geraud, bekas guru besar Fakultas Kedokteran di Beirut.

Surat 86 ayat 5 – 7:
Surat 86 ayat 5-7
Artinya: “Maka hendaklah manusia memperhatikan dan apa ia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar diantara bagian seksual daripada laki-laki dan perempuan.”

Daerah seks dalam badan manusia lelaki dinamakan dalam Al-Qur’an “sulb” (kata satu). Daerah seks dalam badan wanita disebut “taraib” (kata jamak). Yang tersebut di atas itu adalah terjemahan yang paling tepat. Terjemahan itu berbeda dengan terjemahan yang dilakukan oleh pengarang-pengarang Inggris dan Perancis; umpamanya: “manusia itu diciptakan daripada cairan yang memancar yang keluar dari tulang punggung dan tulang-tulang dada.” Yang tersebut itu lebih merupakan interpretasi belaka dibanding suatu terjemahan; disamping itu memang sukar difahami. Kelakuan manusia dalam hubungan seks dengan istrinya dalam bermacam-macam peristiwa juga diterangkan. Mula-mula tuntunan untuk masa haid (menstruasi). Hal ini diberikan dalam:

Surat 2 ayat 222 dan 223:
Surat 2 ayat 222-223
Artinya:Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah haid itu adalah kotoran. Oleh karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid. Janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Bila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan, sesungguhnya Allah menyukai orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki Dan kerjakanlah amal-amal yang baik untuk dirimu.”

Permulaan paragraf tersebut mempunyai arti yang jelas: larangan bersetubuh dengan wanita yang sedang haid adalah mutlak. Ayat kedua menunjukkan tindakan lelaki yang mendahului menempatkan bibit yang akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan baru. Di sini secara tidak langsung ditekankan bahwa tujuan hubungan seks adalah untuk mendapatkan keturunan. Terjemahan kalimat terakhir adalah terjemahan Prof. R. Blachere. Kalimat terakhir itu nampaknya menunjukkan tindakan pendahuluan untuk hubungan seks.*19

Tuntunan yang diberikan di sini adalah bersifat umum. Berhubung dengan ayat-ayat ini ada yang memajukan pertanyaan, tentang contraceptique (K.B.). Dalam hal ini Al-Qur’an tidak memberi jawaban. Di sini atau di lain tempat. Pengguguran juga tidak disebutkan akan tetapi ayat-ayat banyak yang kita sebutkan di atas tentang transformasi yang berurutan sudah cukup jelas untuk menganggap bahwa manusia itu telah terbentuk dari semenjak ia dalam keadaan “sesuatu yang melekat.” Dalam kondisi ini rasa hormat yang mutlak bagi manusia yang sering ditekankan oleh Al-Qur’an, mendorong kita untuk menghukum tindakan pengguguran secara total. Pendirian semacam ini juga pendirian agama-agama monoteis sekarang. Hubungan seks diizinkan pada malam hari dalam bulan Ramadlan; ayat tentang ini adalah:

Surat 2 ayat 187:
Surat 2 ayat 187
Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu pakaian bagimu dan kamupun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi keringanan bagimu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang ditetapkan Allah untukmu.”

Tetapi mengenai mereka yang melakukan ibadah haji di Mekah; tak ada kekecualian pada waktu hari mulia itu.

Surat 2 ayat 197:
Surat 2 ayat 197
Artinya: “Maka barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafath (mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh, atau bersetubuh) berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.”

Larangan hubungan seks pada waktu haji itu mutlak, sebagai mana larangan-larangan lainnya seperti memburu dan bercekcok. Menstruasi juga disebutkan dalam Al-Qur’an berhubungan dengan perceraian:

Surat 65 ayat 4:
Surat 65 ayat 4

Artinya: “Dan perempuan-perempuan yang putus masa dari haid di antara perempuan-perempuanmu. Jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; begitu pula perempaan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.”

Waktu menunggu (iddah) yang dibicarakan di sini adalah waktu yang lalu antara pengumuman cerai dengan permulaan perceraian itu berlaku (menjadi efektif). Wanita yang dikatakan “putus masa daripada haid” ialah wanita yang sudah mencapai ketingkatan (menopause). Bagi mereka, untuk kebijaksanaan, waktu tiga bulan diperlukan antara pengumuman talak dan berlakunya. Setelah waktu itu berlalu, mereka boleh kawin lagi. Bagi wanita yang belum haid; iddahnya juga tiga bulan. Bagi wanita yang hamil, talak itu menjadi efektif hanya pada waktu ia telah melahirkan.

Segala peraturan ini adalah sesuai dengan penyelidikan-penyelidikan fisiologi. Disamping itu, kita dapatkan juga dalam Al-Qur’an ayat-ayat yang mengatur janda; ayat-ayat itu mengandung hukum-hukum.

Dengan begitu maka mengenai pernyataan teoritis tentang reproduksi, dan mengenai tuntunan-tuntunan praktis tentang kehidupan seks antar suami isteri, kita dapatkan bahwa tak ada sesuatu hal yang disebutkan dalam persoalan ini, bertentangan dengan hasil penyelidikan Sains modern atau akibat-akibatnya yang mungkin timbul kemudian.

BIBEL, Al-Qur’an, dan Sains Modern: Dr. Maurice Bucaille,
Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science,
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi,
Penerbit Bulan Bintang, 
1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta.
re Edited by Mediatama Computer Sumedang

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: