RSS

SUMBER-SUMBER INJIL

Kesan umum tentang Injil yang kita dapatkan dari penyelidikan kritis terhadap teks adalah bahwa Injil-lnjil:

  • “merupakan literatur yang kurang sempurna penyusunannya,”

  • “yang tidak menunjukkan kontinuitas” dan

  • “yang menunjukkan kontradiksi-kontradiksi yang tak dapat diatasi.”

Penilaian tersebut kita pinjam dari Terjemahan Ekumenik terhadap Bibel, suatu buku yang penting sekali untuk kita jadikan referensi, oleh karena penilaian soal ini mempunyai akibat yang gawat. Kita telah membaca dalam bagian lain catatan-catatan mengenai sejarah kontemporer tentang agama, bahwa kelahiran Injil-Injil dapat menerangkan ciri-ciri literatur yang membingungkan ini bagi pembaca yang menggunakan pikirannya.

Akan tetapi kita perlu menyelidiki lebih jauh dan mencari yang dapat kita peroleh daripada karangan-karangan yang diterbitkan pada zaman modern ini mengenai sumber-sumber yang memberi bahan-bahan kepada pengarang Injil untuk menyusun teks mereka; adalah menarik juga untuk menyelidiki apakah sejarah teks-teks Injil setelah dibukukan dapat menerangkan aspek-aspek Injil yang sekarang kita baca.

Persoalan sumber ini telah dibicarakan secara sederhana sekali pada zaman Pendeta-pendeta Gereja (zaman pertengahan). Pada abad-abad pertama Masehi, sumber Injil adalah Injil yang pertama tersusun dari manuskrip-manuskrip komplit, yakni Injil Matius. Sumbernya hanya berdasarkan pada Injil Lukas dan Markus. Injil Lukas merupakan kasus yang berdiri sendiri. Agustinus menganggap bahwa Markus, yaitu nomor dua dalam urutan Injil tradisional, karena ia mendapat inspirasi dari Injil Matius yang ia ringkaskan, dan bahwa Lukas yang merupakan pengarang Injil ketiga dalam manuskrip telah mempergunakan Injil Markus dan Matius. Pendahuluan yang terdapat pada Injil Lukas memberi kesan seperti itu.

Para ahli tafsir Injil pada waktu itu dapat juga memberikan gambaran tentang persamaan (convergensi) teks-teks dan menemukan ayat-ayat yang sama dalam dua atau tiga Injil Sinoptik. Para ahli tafsir Terjemahan Ekumenik daripada Bibel memberikan angka-angka sebagai berikut:

Ayat-ayat sama dalam tiga Injil Sinoptik adalah 330,
Ayat-ayat sama dalam Injil Markus dan Matius adalah 178,
Ayat-ayat sama dalam Injil Markus dan Lukas adalah 100,
Ayat-ayat sama dalam Injil Matius dan Lukas adalah 230,
dan ayat-ayat yang khusus bagi tiap-tiap pengarang Injil adalah:

  • 330 ayat untuk Matius,

  • 53 untuk Markus dan

  • 500 untuk Lukas.

Dari zaman para pendeta-pendeta Gereja sampai akhir abad ke XVIII, 1500 tahun telah lewat dan tak ada masalah baru mengenai sumber-sumber pengarang Injil; orang hanya mengikuti tradisi. Hanya pada zaman modern inilah orang mengerti bahwa tiap pengarang Injil, walaupun mengambil informasi yang ada pada pengarang lain, ia menyusun suatu riwayat menurut seleranya dan pandangan pribadinya. Oleh karena, itu orang mulai memperhatikan kumpulan bahan-bahan hikayat, disatu pihak dalam tradisi lisan kelompok-kelompok asli, dan dilain pihak dalam sumber umum dalam bahasa Aramaik yang mestinya ada, akan tetapi sampai sekarang belum ditemukan orang. Sumber yang tertulis ini mungkin merupakan hanya satu kumpulan yang utuh, atau merupakan bagian-bagian yang bermacam-macam yang dapat dipakai oleh tiap-tiap pengarang Injil untuk menulis Injilnya.

Penyelidikan-penyelidikan yang mendalam sejak satu abad telah mengungkapkan teori-teori yang berkembang dan menjadi rumit.  Teori pertama adalah teori dua sumber daripada Holtzmann (tahun 1863).  Menurut teori ini sebagaimana yang dijelaskan oleh O. Culmann dan Terjemahan Ekumenik, pertama: Matius dan Lukas memakai  bahan Markus, dan kedua: suatu dokumen yang sekarang hilang. Selain itu Matius dan Lukas masing-masing memakai satu sumber sendiri. Hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

                   Sumber khusus
                    untuk Matius
                         |
                         |
                 |--> Matius <--|
        Markus --|              |-- Dokumen bersama
                 |--> Lukas  <--|
                         |
                         |
                   Sumber khusus
                    untuk Lukas

Untuk Detailnya Perhatikan Gambar Ini :

350px-Relationship_between_synoptic_gospels

 

O. Culmann mengkritik teori tersebut sebagai berikut:

Karangan Markus yang dipakai oleh Lukas dan Matius belum tentu Injil Markus, akan tetapi suatu karangan lain yang ditulis sebelumnya“.

Dalam teori tersebut tradisi lisan kurang diperhatikan, pada hal tradisi lisan inilah yang memelihara kata-kata Yesus dan hikayat-hikayat kegiatannya selama 30 atau 40 tahun. Sesungguhnya tiap-tiap pengarang Injil itu hanya juru bicara masyarakat Kristen yang menentukan tradisi lisan. Dengan begitu maka kita sampai kepada suatu pikiran bahwa Injil-Injil yang kita miliki telah memberi kita suatu gambaran tentang kehidupan dan kegiatan Yesus yang diketahui oleh Masyarakat Kristen Primitif (asli), begitu juga tentang akidah-akidah mereka, konsep-konsep teologi mereka yang ditulis oleh juru bicara mereka, yakni para pengarang Injil.

Penyelidikan-penyelidikan yang lebih modern tentang kritik teks terhadap sumber-sumber Injil menunjukkan bahwa tersusunnya teks-teks tersebut telah melalui proses yang lebih kompleks. La Synopse des quatre Evangiles (ringkasan Injil empat) karangan R.P. Benoit dan R.P. Boismard, guru-guru besar sekolah Bibel di Yerusalem (tahun 1972-1973) menekankan perkembangan teks dalam tahap-tahap yang sama dengan perkembangan tradisi. Hal tersebut menimbulkan akibat-akibat yang disebutkan oleh R.P. Benoit dalam membicarakan bagian yang ditulis oleh R.P. Boismard:

“Bentuk-bentuk kata-kata atau hikayat yang terjadi setelah perkembangan yang lama tidak mempunyai autentitas (kebenaran) yang terdapat dalam kata-kata asli. Barangkali banyak para pembaca yang heran atau kesal jika mereka mengetahui bahwa kata-kata Yesus, atau kiasannya atau ramalannya tentang nasibnya tidak pernah diucapkan seperti yang kita baca, akan tetapi sudah di retouche (diperbaiki) atau disesuaikan oleh orang-orang yang meriwayatkannya. Bagi mereka yang tidak biasa dengan penyelidikan sejarah semacam ini, hal ini mungkin menyebabkan keheranan bahkan kehebohan”.

Perbaikan teks dan penyesuaian yang dilakukan oleh mereka yang meriwayatkan teks tersebut kepada kita dilakukan menurut cara yang oleh R.P. Boismard digambarkan secara terperinci karena persoalan itu merupakan sambungan daripada teori dua sumber. Gambar atau skema itu dibuat setelah mengadakan penyelidikan dan perbandingan teks yang tak dapat diringkaskan di sini. Para pembaca yang ingin mengetahui dapat membaca bukunya, diterbitkan di Paris, cetakan Cerf.

Ada empat macam dokumen pokok yang merupakan sumber-sumber Injil. Dokumen tersebut dinamakan A, B, C, dan Q :

  • Dokumen A berasal dari lingkungan Yahudi Kristen yang memberikan inspirasi kepada Matius dan Markus.

  • Dokumen B adalah reinterpretasi dokumen A yang dipakai dalam Gereja Pagan Kristen (Kafir-Kristen). Dokumen ini telah memberi inspirasi kepada semua penulis Injil, kecuali Matius.

  • Dokumen C telah memberi inspirasi kepada Markus, Lukas dan Yahya.

  • Dokumen Q merupakan bagian besar daripada sumber bersama yang dipakai oleh Matius dan Lukas. Ini adalah dokumen bersama yang disebutkan dalam “teori dua sumber” yang tersebut di atas.

Di antara 4 macam dokumen tersebut tidak ada yang menjadi teks definitif yang sekarang kita miliki, antara dokumen-dokumen tersebut dan redaksi terakhir ada redaksi-redaksi antara, yaitu yang oleh pengarangnya teori tersebut dinamakan: Matius intermedier, Markus intermedier, Proto Lukas dan Proto Yahya. Dokumen-dokumen antara (intermedier) itulah yang akhirnya menjadi Injil empat, baik dengan memberi inspirasi kepada masing-masing Injil atau kepada lebih dan satu Injil-Injil. Di bawah ini adalah gambar yang menunjukkan silang-silang kompleks.

Hasil daripada penyelidikan seperti ini adalah sangat penting, karena dapat menunjukkan bahwa teks-teks Injil yang mempunyai sejarah (hal ini akan kita bicarakan kemudian) juga mempunyai pra-sejarah, menurut istilah Boismard, artinya bahwa teks-teks tersebut telah mengalami perubahan-perubahan selama dalam tahap intermedier, sebelum mempunyai bentuk yang definitif.

Dengan begitu, sekarang menjadi jelas soal-soal seperti: riwayat ajaib tentang Yesus menangkap ikan. Riwayat tersebut dilukiskan oleh Lukas sebagai suatu kejadian yang terjadi waktu Yesus masih hidup dan dilukiskan oleh Yahya sebagai hikayat Yesus menampakkan diri sesudah dibangkitkan sesudah mati.

R.P. BOISMARD
Ringkasan Empat Injil
SKEMA UMUM

       Dokumen Q ->|
                   |-> Matius inter
       Dokumen A ->|
 
       Dokumen A ->|
                   |
       Dokumen B ->|-> Markus inter
                   |
       Dokumen C ->|
 
 
       Dokumen B ->|
                   |
       Dokumen C ->|
                   |-> Proto Lukas ->|
       Dokumen Q ->|                 |-> Lukas final
                   |  Markus inter ->|
    Matius inter ->|
 
 
    Proto Lukas  ->|
                   |
    Markus inter ->|-> Markus final
                   |
    Matius inter ->|
 
 
    Matius inter ->|
                   |-> Matius final ->|
    Markus inter ->|                  |
                                      |
                                      |-> Yahya final
       Dokumen B ->|                  |
                   |                  |
       Dokumen C ->|----> Yahya ----->|
                   |
     Proto Lukas ->|

Keterangan:
a, b, c, q        =  dokumen-dokumen dasar;
Matius inter.   =  Matius intermedier;
Markus inter.  =  Markus intermedier;
Proto Lukas    =  Yahya intermedier;
Matius final     =  redaksi final Matius;
Markus final    =  redaksi final Markus;
Lukas final      =  redaksi final Lukas;
Yahya final     =  redaksi final Yahya.

Konklusi dari semua ini adalah bahwa dengan membaca Injil, kita tidak yakin sama sekali bahwa kita membaca katakata Yesus. R.P. Benoit memperingatkan pembaca Injil tentang hal ini, tetapi memberi ganti (kompensasi) sebagai berikut: Jika pembaca terpaksa tidak dapat mendengarkan suara langsung daripada Yesus, ia mendengar suara Gereja; pembaca Injil percaya kepada juru bahasa yang disahkan oleh Yesus, yang setelah pernah bicara di dunia ini sekarang berbicara dari langit.

Bagaimana kita dapat menyesuaikan pengakuan resmi bahwa beberapa teks Injil tidak autentik, dengan kalimat-kalimat Konsili Vatikan II tentang wahyu Ilahi yang meyakinkan kepada kita tentang terjadinya transmisi (periwayatan) yang jujur daripada kata-kata Yesus: “Injil empat yang diakui oleh Gereja tanpa ragu-ragu tentang sejarahnya, telah menyampaikan secara jujur apa-apa yang diperbuat dan diajarkan oleh Yesus, putra Tuhan bagi keselamatan abadi, yaitu selama ia hidup diantara manusia sampai ia diangkat ke langit.”

Nampaklah dengan jelas sekali bahwa hasil penyelidikan Sekolah Bibel di Yerusalem telah membantah keras deklarasi Konsili Vatikan II.

Sejarah Teks Perjanjian Baru

Adalah salah jika kita mengira bahwa setelah disusun, Injil itu merupakan Kitab Suci pokok bagi agama Kristen, sehingga orang membaca dan mempergunakannya sebagai orang Yahudi membaca dan menggunakan Perjanjian Lama. Pada waktu itu yang menjadi autoritas adalah tradisi lisan yang membawakan kata-kata Yesus dan ajaran sahabat-sahabatnya. Tulisan pertama yang beredar dan bernilai sebelum Injil adalah surat-surat Paulus; bukankah surat-surat itu telah ditulis beberapa puluh tahun sebelum Injil?

Kita sudah membicarakan bahwa sebelum tahun 140 tak ada bukti bahwa orang mempunyai kumpulan tulisan-tulisan Bibel, walaupun beberapa orang ahli tafsir Injil menulis yang sebaliknya daripada itu. Kita harus menunggu sampai tahun 170 untuk melihat Injil memperoleh kedudukan literatur Kanon.

Pada tahun-tahun pertama setelah munculnya agama Kristen, beredarlah bermacam-macam tulisan mengenai Yesus. Tulisan-tulisan itu tidak dianggap autentik dan Gereja memerintahkan supaya tulisan-tulisan itu disembunyikan. Inilah asal timbulnya kata: apokrif (Injil yang disembunyikan). Dari pada teks tulisan-tulisan tersebut ada sebagian yang terpelihara baik karena mendapat penghargaan umum, seperti surat atau ajaran Barnabas, tetapi banyak lainnya yang dijauhkan secara brutal sehingga yang ada sekarang hanya sisa-sisanya dalam bentuk fragmen.

Begitulah yang dikatakan oleh Terjemahan Ekumenik. Karena dianggap sebagai penyebab kesesatan, maka tulisan-tulisan tersebut dianggap tidak ada. Walaupun begitu, karangan seperti Injil orang-orang Nazaret, Injil orang Ibrani, Injil orang Mesir yang diketahui oleh pendeta-pendeta gereja, mempunyai kedudukan yang hampir sama dengan Injil Kanon. Begitu juga Injil Thomas dan Injil Barnabas.

Diantara tulisan-tulisan apokrif (yang diperintahkan Gereja supaya disembunyikan) banyak yang memuat perinci-perinci yang bersifat khayalan, yaitu yang dihasilkan oleh imaginasi orang awam.

Banyak pengarang-pengarang tentang Injil apokrif menyebut-kan dengan rasa puas terhadap paragraf-paragraf yang menggelikan. Pengarang-pengarang semacam itu sesungguhnya dapat ditemukan dalam semua Injil. Kita masih ingat gambaran kejadian-kejadian khayalan yang oleh Matius dikatakan telah terjadi pada waktu matinya Yesus. Orang masih dapat menemukan paragraf-paragraf yang tidak serius dalam tulisan-tulisan puluhan tahun pertama terkait agama Kristen; tapi perlu kejujuran untuk mengenal tulisan-tulisan itu.

Terlalu banyaknya tulisan-tulisan mengenai Yesus mendorong Gereja yang sedang dalam pengorganisasian untuk melenyapkannya. Mungkin seratus Injil telah dimusnahkan. Hanya empat Injil tetap dipelihara untuk dimasukkan dalam daftar resmi naskah-naskah yang kemudian dinamakan “Kanon.”

Pada pertengahan abad II, Marcion mendesak pembesar-pembesar agama untuk mengambil sikap. Ia adalah musuh yang sangat benci terhadap orang-orang Yahudi. Ia menolak seluruh Perjanjian Lama, dan tulisan-tulisan yang muncul sesudah Yesus tidak ada lagi, yang nampak dekat atau berasal dari tradisi Yahudi Kristen. Marcion hanya mengakui tulisan-tulisan Paulus dan Injil Lukas, oleh karena ia mengira bahwa Lukas adalah juru bicara Paulus.

Gereja memaklumkan bahwa Marcion adalah orang murtad, dan memasukkan dalam Kanon segala surat-surat Paulus, serta Injil Matius, Markus, Lukas dan Yahya, dan menambahnya dengan beberapa tulisan lagi seperti Perbuatan Para Rasul. Meskipun begitu daftar resmi selalu berubah menurut waktu selama abad-abad pertama Masehi. Tulisan-tulisan yang kemudian dianggap tidak berharga (apokrif) termasuk dalam Kanon untuk sementara waktu, dan tulisan-tulisan yang termasuk dalam Kanon yang sekarang (Perjanjian Baru), pada waktu itu tidak termasuk di dalamnya.

Rasa keragu-raguan menguasai tulisan-tulisan tersebut berlangsung sampai Konsili Hippione pada tahun 393 dan Konsili Carthage tahun 397. Tetapi Injil empat selalu termuat di dalam Kanon Kristen bersama. R.P. Boismard menyesalkan sekali hilangnya literatur yang banyak itu yang diputuskan oleh Gereja sebagai apokrif, oleh karena literatur tersebut mempunyai nilai sejarah yang besar, Boismard sendiri dalam bukunya Ringkasan empat Injil’ menilai tulisan-tulisan yang hilang itu sama pentingnya dengan Injil yang empat yang resmi. Buku-buku tersebut masih ada dalam perpustakaan-perpustakaan pada akhir abad IV M.

Abad IV adalah waktu pemberesan yang serius. Manuskrip Injil yang komplit dan yang tertua ditulis pada abad itu. Dokumen-dokumen sebelum itu, papirus-papirus abad III, satu papirus yang mungkin berasal daripada abad II hanya mengandung fragmen-fragmen. Dua manuskrip tua dari kulit adalah manuskrip Yunani dari abad IV. Dua manuskrip tersebut adalah: Codex Vatikanus yang kita tidak tahu tempat penggaliannya, disimpan di Perpustakaan Vatikan dan yang satu lagi, Codex Sinaitikus yang terdapat di gunung Sinai sekarang disimpan di British Museum di London. Manuskrip ini mengandung dua tulisan apokrif.

Menurut Terjemahan Ekumenik di Dunia ini ada 250 manuskrip kulit, yang paling akhir adalah dari abad XI. Tetapi semua copy Perjanjian Baru yang sampai kepada kita adalah tidak sama, ada perbedaan-perbedaan penting, dan perbedaan itu banyak jumlahnya. Perbedaan-perbedaan itu ada yang hanya mengenai perincian gramatika, kalimat, atau urut-urutan kata, tetapi ada juga perbedaan yang merubah arti seluruh paragraf. Jika kita ingin mengetahui perbedaan teks, kita dapat membaca Novum Testamentum Graece (Perjanjian Baru Yunani). Buku tersebut memuat teks Yunani “tengah-tengah” yakni teks sintese, dengan catatan-catatan perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam versi yang bermacam-macam.

Keaslian (autentitas) sesuatu teks manuskrip selalu dapat diperdebatkan, Codex Vatikanus dapat kita jadikan contoh. Penerbitan Vatikan pada tahun 1965 dibubuhi suatu peringatan asli yang menjelaskan “beberapa abad sesudah copy asli (lebih-kurang abad X atau XI), seorang tukang naskah telah mengulangi tulisan manuskrip tersebut dengan tinta kecuali huruf-huruf yang dikira salah.” Ada bagian-bagian daripada manuskrip tersebut di mana terdapat huruf-huruf asli dengan warna coklat masih tetap kelihatan, dan merupakan kontras dengan teks yang lain yang ditulis dengan warna coklat tua. Kita tidak dapat mengatakan bahwa perbaikan naskah itu dilakukan secara jujur. Peringatan tersebut diatas juga menjelaskan: Belum dapat dibedakan secara definitif tangan-tangan yang banyak jumlahnya yang mengkoreksi atau menambah manuskrip asli selama berabad-abad; memang ada koreksi yang dibuat ketika teks tersebut diperbarui (dengan tinta baru).

Padahal dalam semua teks, manuskrip-manuskrip selalu dikatakan sebagai copy abad IV. Kita harus membandingkan suatu teks dengan teks yang disimpan di Vatican untuk mengetahui apakah ada tangan-tangan yang merubah teks tersebut beberapa abad kemudian.

Orang dapat membantah dan mengatakan bahwa teks-teks lain juga dapat dipakai untuk perbandingan, tetapi bagaimana memilih perbedaan-perbedaan yang merubah arti? Kita tahu bahwa sebuah koreksi lama dari seorang tukang naskah dapat menyebabkan reproduksi definitif daripada teks yang telah dikoreksinya itu. Kita mengerti betul bagaimana suatu kata yang terdapat dalam Injil Yahya, yaitu kata Paraklet, telah merubah sama sekali arti paragraf dan membalikkan arti tersebut dari segi teologi.

Di bawah ini adalah tulisan O. Culmann mengenai perbedaan-perbedaan teks yang ditulis dalam bukunya: Perjanjian Baru.

Perbedaan-perbedaan itu kadang-kadang terjadi karena kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja; umpamanya tukang naskah lupa menulis satu kata, atau sebaliknya menulis kata itu dua kali; atau mungkin juga sebagian kalimat (phrase) tak tertulis oleh karena bagian itu terletak dalam manuskrip si tukang naskah, antara dua kata yang sama. Kadang-kadang perbedaan teks itu disebabkan oleh karena koreksi-koreksi yang dilakukan dengan sengaja; atau tukang naskah memberanikan diri untuk mengkoreksi teks menurut pikirannya pribadi, atau si tukang naskah ingin menyesuaikan teksnya dengan teks lain, untuk menghilangkan perbedaan.

Ketika tulisan-tulisan yang terkumpul dalam Perjanjian Baru diputuskan untuk dipisahkan dan literatur Kristen primitif (terdahulu) dan dianggap sebagai Kitab Suci, maka para ahli naskah tidak berani lagi untuk melakukan koreksi terhadap pekerjaan-pekerjaan tukang naskah sebelum mereka; mereka mengira bahwa mereka membuat copy dari teks asli dan dengan begitu mereka sudah mengokohkan perbedaan-perbedaan yang ada.

Kadang-kadang tukang naskah menulis catatan di pinggir halaman untuk menerangkan suatu kalimat yang tidak terang. Tukang naskah yang datang kemudian mengira bahwa kalimat yang tertulis di pinggir halaman itu merupakan kalimat yang tadinya telah dilupakan oleh seorang tukang naskah sebelumnya, dan ia merasa perlu untuk memasukkan catatan pinggiran tersebut ke dalam teks. Dengan begitu, dapat terjadi pula bahwa teks yang baru itu menjadi lebih kabur.

Tukang-tukang naskah beberapa manuskrip bersikap sangat leluasa terhadap teks. Ini adalah kasus tukang naskah suatu manuskrip yang sangat terhormat setelah dua manuskrip tersebut di atas, yaitu: Codex Bezae Cantabrigiensis dari abad VI. Tukang naskah menemukan perbedaan antara silsilah keturunan Yesus dalam Injil Lukas dan dalam Injil Matius; kemudian ia memasukkan silsilah Matius ke dalam naskah Injil Lukas yang dimiliki; tetapi karena yang dalam Injil Lukas memuat lebih sedikit nama-nama orang dalam silsilah, maka ia beri tambahan-tambahan (tetapi tak berhasil mengadakan penyesuaian).

Apakah terjemahan Latin seperti Vulgate karya Yerome (abad IV) dan terjemahan-terjemahan yang lebih kuno (Vetus Itala), terjemahan bahasa Syriaq dan bahasa Kibti (Mesir kuno), semua itu lebih jujur daripada manuskrip Yunani?, terjemahan-terjemahan tersebut mungkin dibikin menurut manuskrip yang lebih kuno tetapi yang sudah hilang, kita tidak tahu.

Orang telah berhasil mengelompokkan teks-teks Injil dalam beberapa kelompok yang masing-masing mempunyai ciri-ciri umum. O. Culmann membagi sebagai berikut:

  • Teks Syria yang mungkin menjadi dasar manuskrip-manuskrip Yunani yang sangat kuno. Teks ini tersiar di Eropah pada abad XVI, sudah berupa cetakan. Teks ini adalah teks yang terburuk menurut pendapat para ahli.

  • Teks Barat, dengan versi Latin yang kuno dan dengan Codex Bezae Cantabrigiensis Yunani dan Latin. Menurut Terjemahan Ekumenik teks tersebut mempunyai ciri-ciri suka kepada penafsiran, kepada hal-hal yang kurang tepat kepada ulangan kata-kata (paraphrase) dan kepada penyesuaian (harmonisasi).

  • Teks netral yang juga meliputi Codex Vatikanus dan Codex Sinaitikus, teks ini dipandang jauh lebih murni. Cetakan-cetakan modern daripada Perjanjian Baru mengikutinya, meskipun sesungguhnya teks ini juga mengandung banyak cacad (Terjemahan Ekumenik). “Kritik teks paling jauh hanya memberikan kesempatan kepada kita untuk mencoba menyusun kembali suatu teks yang mendekati teks asli. Akan tetapi sudah terang tak ada jalan untuk sampai kepada teks asli tersebut.” (Terjemahan Ekumenik).

bucaile-iconBIBEL, Al-Qur’an, dan Sains Modern: Dr. Maurice Bucaille,
Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science,
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi,
Penerbit Bulan Bintang, 
1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta.
Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: