RSS

TAURAT (Pentateuque)

Mengulas Tentang Penambahan-Penambahan Maupun Pengubahan Redaksi
Oleh Manusia Terhadap Taurat

Taurah adalah nama dalam bahasa Semit. Kalimat Yunani yang sekarang dipakai dalam bahasa Perancis adalah Pentateuque yang artinya kitab yang terdiri dari lima bagian: Kejadian, Keluaran, Imamat orang Levi, Bilangan dan Ulangan, yaitu lima fasal yang pertama dari 37 fasal yang terdapat dalam Perjanjian Lama.

Kumpulan teks ini membicarakan asal alam, sampai masuknya bangsa Israil di Kana’an, tanah yang dijanjikan sesudah mereka menjadi budak di Mesir; atau lebih tepat lagi sampai wafatnya nabi Musa. Tetapi riwayat kejadian-kejadian sejarah itu dipergunakan sebagai kerangka untuk menerangkan kehidupan keagamaan dan sosial bangsa Yahudi. Dari sinilah nama Hukum atau Taurah.

Orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen selama berabad-abad berpendapat bahwa pengarang Taurah (lima bagian pertama daripada Perjanjian Lama) adalah Nabi Musa sendiri. Barangkali pendapat tersebut didasarkan atas ayat (Keluaran 17, 14) yang berbunyi:

Tulislah itu (kekalahan kaum Amalek) dalam Kitab,

atau atas ayat (Bilangan 33, 2) tentang keluarnya orang Yahudi dari Mesir yang berbunyi:
Musa menerangkan dengan tulisan tempat-tempat mereka berangkat,

atau dalam (kitab Ulangan 3, 9) yang berbunyi:
Musa menulis aturan (hukum) ini.

Semenjak abad Pertama S.M. banyak orang yang mempertahankan anggapan bahwa seluruh Pentateuque/Taurat ditulis oleh Nabi Musa, di antara orang-orang itu adalah: Flavius Joseph dan Philon dari Alexandria.

Pada waktu sekarang anggapan seperti tersebut di atas sudah ditinggalkan orang. Tetapi meskipun begitu, Perjanjian Baru masih mempertahankannya. Paulus dalam suratnya kepada orang-orang Roma (10, 5) mengutip kata-kata orang Levi:

Musa sendiri menulis aturan-aturan yang datang dari Taurah.”

Yahya, pengarang Injil yang keempat, dalam fasal 5, ayat 46-47 meriwayatkan bahwa Yesus berkata:

Jika kamu telah melihat Musa, kamu tentu akan percaya kepadaku karena ia (Musa) telah menulis tentang diriku. Kalau kamu tidak percaya kepada apa yang ditulis oleh Musa, bagaimana kamu dapat percaya kepada apa yang aku katakan?

Di sini kekeliruan timbul daripada redaksi; teks asli bahasa Yunani adalah episteute” yang berarti “fasal dan bukan “menulis.” Dengan begitu maka Yahya, penulis Injil ke empat telah memberi keterangan salah yang digambarkan telah diucapkan oleh Yesus.

Saya meminjam bahan-bahan di atas dari R.P. de Vaux, direktur Lembaga Bible di Yerusalem. Dalam terjemahan “kitab Kejadian” tahun 1962 ia memberi pengantar umum yang memuat argumentasi yang bertentangan dengan keterangan Injil mengenai siapa yang menulis “Pentateuque” (lima fasal pertama dalam Perjanjian Lama).

R.P. de Vaux memperingatkan bahwa tradisi Yahudi yang menjadi pedoman bagi Yesus dan para rasul (sahabat)nya telah diterima sampai akhir abad pertengahan. Pada abad XII, Aben Isra adalah satu-satunya orang yang menentang anggapan itu. Pada abad XVI, Carlstadt memperingatkan kita bahwa Musa tentu tidak dapat menulis berita tentang kematiannya, seperti yang tersebut dalam kitab (fasal) Ulangan 34, 512.

baca: Benarkah Taurat Tulisan Musa?

Pengarang kemudian menyebutkan kritik-kritik lainnya yang mengatakan bahwa tidak semua Taurah itu karangan Musa; secara khusus disebutkan buku karangan Richard Simon yang berjudul: Histoire Critique du Vieux Testament (Sejarah Kritik tentang Perjanjian Lama) tahun 1678 yang menonjolkan kesulitan-kesulitan kronologis (urutan sejarah), ulangan-ulangan, tulisan-tulisan yang tak teratur tentang riwayat-riwayat, serta perbedaan-style (tata bahasa) dalam Taurah. Karangan R. Simon tersebut telah menyebabkan heboh, tetapi orang tidak lagi mengikuti argumentasi R. Simon; buku-buku sejarah dari permulaan abad 18 selalu menyebutkan: “Apa yang telah ditulis oleh Musa” untuk menunjukkan sumber yang sangat kuno.

Kita dapat mengerti betapa susahnya menentang suatu dongengan (Legenda) yang berdasarkan atas sandaran yang (digambarkan) telah diberikan oleh Yesus dalam Perjanjian Baru. Kita berhutang budi kepada Yean Astruc, dokter pribadi Raja Louis XV yang telah memberikan argumen yang kuat.

Pada tahun 1753 ia menerbitkan bukunya: Dugaan tentang catatan-catatan asli, yang dipakai oleh Musa untuk menulis kitab (fasal) Kejadian. Dalam buku itu, ia menitik beratkan adanya bermacam-macam sumber. Ia sudah terang, bukannya orang pertama yang menulis hal ini, akan tetapi ia adalah orang pertama yang berani mengumumkan suatu kenyataan yang sangat penting, yaitu bahwa mengenai kitab: (fasal) Kejadian terdapat dua teks yang berbeda-beda; yang satu menamakan Tuhan dengan kata Yahwe, yang lainnya menyebut Tuhan dengan kata Elohim.

Eichhorn (1780-1783) mengungkapkan penemuan yang sama mengenai empat kitab (fasal) lainnya dalam Taurah (Pentateuque). Kemudian pada tahun 1798, Ilgen merasa bahwa satu daripada dua teks yang diselidiki oleh Astruc yaitu teks yang di dalamnya Tuhan dinamakan Elohim, harus dibagi menjadi dua. Dengan begitu maka Pentateuque/Taurah menjadi benar-benar terpecah-pecah.

Pada abad XIX telah dilakukan penelitian yang telah mantap mengenai sumber-sumber Perjanjian Lama. Pada tahun 1854, orang berpendapat bahwa ada 4 sumber, yaitu: dokumen Yahwist, dokumen Elohist, Deuteronomy, kitab-(fasal) Ulangan dan kode Sakerdotal (hukum para pendeta). Dokumen Yahwist telah ditulis di Kerajaan Yuda pada abad IX S.M. Dokumen Elohist adalah lebih baru, dan ditulis di kerajaan Israil Deuteronomy (Kitab Ulangan) menurut Edmond Yacob ditulis pada abad VIII S.M., dan menurut R.P. de Vaux ditulis pada abad VII S.M. pada zaman Yosias. Dan akhirnya, code Sakerdotal (hukum-hukum pendeta) ditulis pada abad VI S.M., yakni pada zaman pengasingan Israil di Babylon atau sesudahnya, dengan begitu maka teks Taurah telah berangsur-angsur tertulis selama sedikitnya tiga abad, akan tetapi masalahnya jauh lebih kompleks.

Pada tahun 1941, A. Lods mengatakah bahwa document Yahwist mempunyai 3 sumber, dokumen Elohist mempunyai 4 sumber, kitab ulangan mempunyai 6 sumber dan hukum-hukum pendeta mempunyai 9 sumber, di samping tambahan-tambahan yang dibagi-bagi antara 8 penulis, sebagaimana yang dijelaskan oleh R.P. de Vaux. Kemudian orang mulai berpikir bahwa banyak hukum-hukum dalam Taurah yang sama dengan hukum-hukum lama di luar Bible, dan banyak riwayat-riwayat dalam Taurah yang memberi kesan berasal dari lingkungan lain yang lebih kuno; dengan demikian maka persoalannya menjadi jauh lebih kompleks.

Sumber-sumber yang banyak itu menyebabkan perbedaan-perbedaan dan ulangan-ulangan. R.P. de Vaux memberi contoh tentang tercampurnya tradisi yang berbeda-beda mengenai penciptaan alam, anak keturunan Cain (Habil), banjir Nabi Nuh, penculikan Nabi Yusuf, petualangannya di Mesir, perbedaan nama seseorang, penyajian yang berbeda-beda mengenai sesuatu kejadian.

Dengan begitu maka Taurah (Pentateuque) tampak tersusun berdasarkan tradisi bermacam-macam yang dihimpun secara baik oleh penyusun-penyusunnya, yang kadang-kadang menjajarkan kumpulan mereka dan kadang-kadang merubah kumpulan-kumpulan itu dengan maksud menimbulkan sintesa satu sama lainnya; meskipun dalam melakukan hal terakhir ini mereka tidak menghilangkan perbedaan serta keragu-raguan sehingga hal-hal ini menarik perhatian orang-orang zaman sekarang untuk mengadakan penelitian mengenai sumber-sumber asli.

Dalam rangka kritik mengenai teks, Taurah (Pentateuque) memberi contoh yang amat jelas tentang perubahan-perubahan yang dilakukan oleh manusia, pada bermacam-macam periode sejarah bangsa Yahudi, tradisi lisan dan teks-teks yang berasal dari generasi-generasi terdahulu.

Taurah bermula pada abad X atau IX S.M. dengan tradisi Yahwist yang menceriterakan permulaan penciptaan alam, kemudian menyusun sejarah bangsa Israil, dan seperti kata R.P de Vaux, menempatkannya dalam rencana Tuhan untuk seluruh kemanusiaan. Akhirnya Taurah terus tersusun pada abad VI S.M dengan tradisi pendeta-pendeta, yang mementingkan tahun dan silsilah keturunan (Genealogi).*4

Pernyataan-pernyataan yang sedikit atau jarang yang tetap terdapat dalam tradisi ini, menurut R.P. de Vaux, menunjukkan perhatian besar yang mengenai hukum seperti istirahat pada hari Sabtu setelah menciptakan alam, aliansi dengan Nuh, aliansi dengan Ibrahim, khitan, pembelian gua Makpeh yang memberi hak milik kepada pendeta-pendeta di Kana’an. Kita perlu ingat bahwa tradisi sakerdotal (pendeta-pendeta) muncul setelah bangsa Israil kembali dari pengasingannya di Babylon dan mendiami Palestina mulai tahun 583 S.M. Jadi soal agama dan soal politik tercampur.

Mengenai kitab (fasal) Kejadian, pembagian dalam tiga sumber pokok telah dianggap benar: R.P. de Vaux dalam terjemahannya membawakan teks-teks yang menjadi dasar bagi teks yang ada sekarang dalam fasal Kejadian. Dengan mendasarkan penyelidikan kepada teks-teks tersebut, siapa saja dapat menunjukkan hubungan antara teks dalam fasal Kejadian dengan teks dalam tiga sumber pokok tersebut di atas. Umpamanya, mengenai yang berhubungan dengan penciptaan alam, dengan banjir dan periode semenjak banjir sampai munculnya Ibrahim, yaitu ceritera dalam 11 bagian yang pertama dalam kitab (fasal) Kejadian, kita dapat menemukan sebagian teks Yahwist dan sebagian lainnya teks Sakerdotal.

Teks Elohist tak terdapat dalam 11 bagian pertama. Percampuran antara teks Yahwist dan Sakerdotal nampak dengan jelas. Adapun yang mengenai penciptaan alam sampai zaman Nabi Nuh (5 bagian yang pertama), susunannya lebih mudah; satu bagian Yahwist bergantian dengan satu susunan Sakerdotal dari permulaan sampai akhir.

Mengenai Banjir, khususnya mengenai bagian 7 dan 8, potongan-potongan teks menurut sumber asli memisahkan beberapa bagian-bagian yang sangat pendek. Dalam meneliti 100 baris teks Prancis, kita beralih dari satu teks kepada teks yang lain lebih dari 17 kali, dari sinilah timbulnya perbedaan-perbedaan dan kontradiksi dalam pembacaan Taurah dalam Injil yang ada sekarang. (Lihatlah gambar yang menjelaskan pembagian sumber-sumber di bawah ini).

Perincian Pembagian Teks Yahwist dan Teks Sakerdotal dalam Bagian 1-11 dari Kitab Kejadian.

Angka pertama menunjukkan fasal (Bagian).

Angka kedua antara dua kurung menunjukkan nomornya kata-kata (phrase) yang kadang-kadang dibagi menjadi dua bagian, a dan b.

Huruf Y menunjukkan teks Yahwist.
Huruf S menunjukkan teks Sakerdotal.

Contoh: baris pertama daripada tabel ini menunjukkan bahwa dari fasal (bagian) pertama, kata-kata (phrase) 1 sampai bagian 2 kata-kata (phrase) 4a, teks yang ada sekarang dalam Bible adalah teks Sakerdotal.

Fasal (bagian)

Phrase s/d Fasal Phrase

Teks

1

2

5

6

6

7

7

7

7

7

7

7

7

7

7

8

8

8

8

8

8

8

9

9

9

10

10

10

10

11

11

(1)

(4b)

(1)

(1)

(9)

(1)

(6)

(7)

(11)

(12)

(13)

(16B)

(18)

(22)

(24)

(2b)

(3)

(6)

(13a)

(13b)

(14)

(20)

(1)

(18)

(28)

(8)

(20)

(24)

(31)

(1)

(10)

2

4

5

6

6

7

7

7

7

7

8

8

8

8

8

8

9

9

10

10

10

10

10

(11)

11

(4a)

(2b)

(32)

(8)

(22)

(5)

(10)

(16a)

(17)

(21)

(23)

(2a)

(5)

(12)

(19)

(22)

(17)

(27)

(7)

(19)

(23)

(30)

(32)

(9)

(32)

S

Y

S

Y

S

Y

S

Y

S

Y

S

Y

S

Y

S

Y

S

Y

S

Y

S

Y

S

Y

S

Y

S

Y

S

Y

S

Ini semua adalah gambaran yang sangat jelas tentang permainan yang dilakukan oleh manusia mengenai Bible

Bagian-bagian mengenai sejarah

Ulasan kritis mengenai kesalahan penulisan sejarah dalam Perjanjian Lama.

Dalam bagian-bagian yang mengenai Sejarah dalam Perjanjian Lama, kita dapatkan sejarah bangsa Yahudi semenjak masuk ke daerah yang dijanjikan (kira-kira pada abad XIII S.M.) sampai deportasi (pengasingan) ke Babylon pada abad VI S.M.

Dalam sejarah itu ditekankan “kejadian nasional” yang digambarkan sebagai pelaksanaan janji Tuhan. Akan tetapi dalam hikayat ini tak terdapat ketelitian historis. Suatu fasal seperti fasal Yusak hanya mempunyai dasar teologi. Dalam hal ini, professor Edmond Yacob mengingatkan kita tentang adanya kontradiksi yang jelas antara arkeologi dan teks Perjanjian Lama mengenai kerusakan kota Jericho dan Ay.

Kitab (fasal) Hakim-hakim dimaksudkan untuk mempertahankan bangsa yang terpilih terhadap musuh-musuh yang melingkunginya, yakni dengan pertolongan Tuhan, Fasal itu berkali-kali dirubah; hal ini dijelaskan oleh R.P.A. Lefevre dalam mukaddimah Bible Crampon. Kata-kata pengantar yang bercampur aduk susunannya serta tambahan-tambahan di belakang, menunjukkan fakta tersebut. Sejarah Ruth ada hubunganya dengan fasal Hakim-hakim.

Fasal Samuel dan Fasal Raja-raja merupakan kumpulan-kumpulan biografik yang menarik bagi Samuel, Saul, David dan Salomon tetapi nilai sejarahnya disangsikan. Edmond Yacob menemukan di dalamnya banyak kesalahan-kesalahan; kadang-kadang sesuatu kejadian diriwayatkan dua atau tiga kali. Nabi-nabi Elia, Elisa, Yesaya dalam bagian itu juga mendapat tempat, tetapi sejarah mereka tercampur dengan legenda, walaupun menurut R.P.A. Lefevre nilai sejarahnya sangat penting.

Bagian pertama dan kedua dari kitab (fasal) Tawarikh, fasal-fasal Ezra dan Nehemia ditulis oleh satu orang yang hidup pada akhir abad IV S.M. Ia meriwayatkan sejarah dari masa penciptaan Tuhan sampai waktu itu, akan tetapi silsilah keturunan (genealogi) hanya sampai nabi Dawud. Ia mengambil dan menjiplak dari fasal Samuel dan fasal Raja-raja dengan tidak memperhatikan kepincangannya; begitulah kata E. Yacob; akan tetapi ia menambah hal-hal yang pasti yang dikuatkan oleh arkeologi, sehingga jelas dalam fasal-fasal tersebut, sejarah disesuaikan dengan teologi.

Edmond Yacob berkata: kadang-kadang pengarang menulis sejarah bersandar kepada teologi, umpamanya, untuk menerangkan bahwa Raja Manassi, seorang yang fasiq dan menganiaya pemeluk-pemeluk agama tetapi memerintah lama dan masa pemerintahannya penuh dengan kemakmuran, pengarang Bible (Perjanjian Lama) mengatakan bahwa raja tersebut telah mengikuti agama Yahudi ketika berada di Assyrie (Tawarikh, fasal dua, 33/11), padahal soal tersebut tak terdapat baik dalam sumber-sumber Bible atau di luarnya.

Fasal Ezra dan Nehemia telah menjadi sasaran kritik yang banyak oleh karena fasal itu penuh dengan kekaburan dan karena fasal-fasal tersebut menceritakan tentang suatu periode sejarah yang sampai sekarang belum terang benar kecuali jika kita pakai dokumen di luar Bible, yaitu periode abad IX S.M.

Di antara fasal-fasal yang mengenai sejarah terdapat fasal Tobias, Yudith dan Ester. Dalam fasal-fasal tersebut terdapat perubahan-perubahan terhadap sejarah seperti penggantian nama-nama orang, dan kejadian yang tak pernah ada; semua itu untuk sesuatu maksud keagamaan. Fasal-fasal tersebut lebih merupakan berita-berita yang bersifat petunjuk-petunjuk moral akan tetapi penuh dengan kekeliruan sejarah.

Mengenai dua fasal tentang Maccabee yang membicarakan kejadian-kejadian abad II S.M., dapat dikatakan bahwa fasal itu meriwayatkan sejarah dengan baik dan mempunyai nilai yang besar.

Dengan begitu maka kesimpulan-kesimpulan fasal-fasal sejarah: merupakan kumpulan yang pincang. Sejarah ditulis, sebagian secara ilmiah dan sebagian lagi secara khayalan.

Pasal-pasal Mengenai Kenabian

Fasal-fasal Kenabian ini memuat ajaran-ajaran Nabi-nabi yang namanya tersebut dalam Perjanjian Lama terpisah daripada nama-nama Nabi-nabi yang besar dan yang ajarannya dimuat dalam fasal lain seperti fasal nabi Musa, Samuel, Elia dan Elisa.

Fasal-fasal kenabian ini meliputi periode dari abad VIII sampai abad II S.M.

Pada abad VIII S.M., kita dapatkan fasal Amos, Hosea, Yesaya dan Micha. Amos, mashur karena ia telah melakukan kesalahan keagamaan sehingga ia terpaksa menderita dengan badannya, yaitu ketika ia kawin dengan seorang pelacur suci*5 dalam agama kafir. Ia menderita sebagaimana Tuhan menderita karena makhlukNya yang tidak rnengikuti petunjukNya, tetapi Tuhan tetap mencintai mereka. Isaiah adalah seorang tokoh politik; ia menguasai kejadian-kejadian karena Raja-raja minta nasehat kepadanya. Ia adalah seorang Nabi besar.

Di samping karya pribadinya, petuah-petuahnya disiarkan oleh murid-muridnya sampai abad III S.M., seperti protes terhadap ketidak-adilan, takut kepada hukum Tuhan, pengumuman tentang akan adanya pembebasan pada waktu orang Yahudi dalam pengasingan, pengumuman bahwa orang Yahudi akan kembali ke Palestina.

Dalam Isaiah II dan III, persoalan kenabian berbarengan dengan persoalan Politik. Ramalan Micha yang hidup pada waktu yang sama dengan Isaiah, bertitik tolak dari idea, yang sama.

Pada abad VII S. M., Zefanya, Jeremia, Nahum, Habakuk menjadi mashur dalam kenabian. Jeremie mati dibunuh. Petuah-petuahnya dikumpulkan oleh Baruch, mungkin ia adalah pengarang fasal Tangisan (Nudub).

Pengasingan di Babylon pada permulaan abad VI S.M. menyebabkan adanya aktivitas kenabian yang intensif. Tokoh besarnya adalah Yehezkiel sebagai seorang yang menenteramkan teman-temannya dan memberikan harapan kepada mereka. Fasal Abdias ada hubungannya dengan Yerusalem yang telah jatuh di tangan musuh.

Sesudah pengasingan yang selesai pada tahun 538 S.M., Nabi Hagai dan Zakora menunjukkan aktivitas dalam menganjurkan membina temple kembali. Setelah Temple dibina kembali, kita dapatkan fasal Malaoko yang berisi petuah-petuah spiritual.

Mengapa fasal Yunus dimasukkan dalam fasal Nabi-nabi meskipun Perjanjian Lama tidak menyebutkan teks khusus? Jawabnya, Yunus merupakan suatu sejarah yang dapat memberi kesimpulan pokok yaitu: menyerahkan diri kepada Kehendak Tuhan.

Fasal Daniel adalah suatu fasal yang kabur, dan menurut ahli tafsir Kristen, ia merupakan fasal yang sulit, tertulis dalam 3 bahasa, yakni Ibrani, Aramean dan Yunani. Fasal Daniel adalah suatu karangan dari abad II S.M, pengarangnya ingin meyakinkan bangsanya yang hidup dalam zaman kesusahan yang mendalam bahwa saat kebebasan sudah dekat. Ini adalah untuk menjaga keimanan mereka (Edmond Yacob).

Pasal Mengenai Syair dan Hikmah

Fasal-fasal ini merupakan kumpulan tulisan yang mempunyai keseragaman literer yang nyata.

Yang pertama adalah Psaumen (nyanyian) yang merupakan puncak daripada puisi Ibrani. Sebagian terbesar disusun oleh Nabi Dawud, sebagian lagi oleh para pendeta dan orang-orang Lewi. Themanya adalah memuja Tuhan, mendoa (memohon) dan meditasi. Fungsinya adalah liturgi, yakni dibaca waktu sembahyang.

Fasal Job (Ayub) merupakan fasal hikmah dan taqwa; tertulis pada tahun 400 atau 500 S.M.

Fasal Nudub (Tangisan) karena jatuhnya Yerusalem, ditulis pada permulaan abad VI S.M. mungkin ditulis oleh Jeremia.

Kita juga harus menyebutkan fasal Cantiqus des Cantiques (suatu kumpulan nyanyian tentang cinta kepada Tuhan), fasal peribahasa, kumpulan kata-kata Nabi Sulaeman dan orang-orang bijaksana di Istana, Imam (Eclesiast) atau qoheleth dimana orang memperdebatkan antara kebahagiaan dunia dan kebijaksanaan.

Bagaimana kumpulan yang sangat berbeda-beda dari segi isinya, yang fasal-fasalnya ditulis selama paling sedikit 700 tahun, dan mempunyai sumber-sumber yang sangat berbeda, kemudian semua itu dipadukan dan dimasukkan dalam satu buku, bagaimana kumpulan semacam itu dalam beberapa abad dapat merupakan kesatuan yang tak terpisah-pisah dan menjadi Kitab Wahyu Yahudi Kristen (dengan sedikit perbedaan-perbedaan menurut kelompok) dan menjadi hukum (Kanon) yakni suatu kalimat Yunani yang mengandung arti (tidak boleh disentuh).

Pengumpulan bahan-bahan Perjanjian Lama tidak terjadi pada zaman Kristen, akan tetapi masih dalam zaman Yahudi, dan dimulai secara pasti pada abad VII S.M. Fasal-fasal lainnya dimuat sesudah fasal-fasal pertama. Tetapi perlu kita ingat bahwa 5 fasal pertama yang merupakan Taurah (Pentateuk) selalu mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada fasal-fasal lain. Kemudian orang menambah fasal-fasal Taurah itu dengan pengumuman-pengumuman para Nabi (siksaan Tuhan bagi orang yang berdosa), serta janji-janji mereka, karena Taurah sudah merupakan fasal-fasal yang diterima rakyat pada abad II S.M., Kanon para Nabi sudah jadi.

Fasal-fasal lain seperti nyanyian Nabi Dawud yang dipakai untuk sembahyang, ditambahkan pula bersama dengan fasal Tangisan dan hikmat Suleman atau Ayub.

Agama Kristen, atau lebih tepat pada permulaannya adalah merupakan agama Yahudi Kristen, sebagai yang akan kita lihat nanti, yaitu agama yang telah banyak dipelajari oleh sarjana-sarjana modern seperti Kardinal Danielou, agama Kristen sebelum mengalami perubahan-perubahan pokok yang disebabkan oleh pengaruh Paulus, telah menerima warisan Perjanjian Lama. Para pengarang Injil sangat tertarik kepada Perjanjian Lama.

Akan tetapi jika kita melakukan pembersihan-pembersihan terhadap Injil empat dengan menghilangkan hal-hal yang apokrif (yang misterius, tidak benar, tidak autentik), kita tidak perlu melakukan hal yang sama untuk Perjanjian Lama. Ini berarti bahwa kita menerima seluruh atau hampir seluruh isi Perjanjian Lama.

Siapakah yang berani mempersoalkan sesuatu mengenai kumpulan-kumpulan yang pincang ini sampai akhir abad Pertengahan, sedikitnya di Barat? Tak ada atau hampir tak ada. Mulai akhir abad Pertengahan sampai permulaan abad modern telah timbul beberapa kritik. Kita sudah membaca sebagian kritik tersebut pada permulaan buku ini, akan tetapi gereja-gereja selalu dapat memaksakan kekuasaannya.

Suatu kritik autentik mengenai teks memang sudah ada sekarang, akan tetapi jika para pendeta-pendeta spesialis dapat mempergunakan pikiran lebih banyak untuk menyelidiki perincian-perincian dari bermacan-macam persoalan, mereka kemudian berpendapat bahwa lebih baik jangan masuk terlalu jauh kedalam “hal-hal yang sukar.” Nampaknya mereka itu tidak menyelidiki “hal-hal yang sukar itu” dengan sinar pengetahuan modern.

Jika kita mau mengadakan perbandingan dalam sejarah, apalagi kalau terdapat persesuaian antara mereka dan Bible, maka sebetulnya mereka itu belum berhasrat sungguh-sungguh untuk melakukan perbandingan yang mendalam dan blak-blakan dengan ide-ide ilmiah yang mereka rasakan akan menyanggah ide-ide tentang kebenaran isi Bible yang sampai waktu ini tidak pernah dibantah.

baca: Benarkah Taurat Tulisan Musa?

bucaile-icon
BIBEL, Al-Qur’an, dan Sains Modern : Dr. Maurice Bucaille,
Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science,
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi, Penerbit Bulan Bintang, 1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta.

Catatan:
4:  Dalam fasal yang segera akan datang, pembaca dapat melihat kekeliruan-kekeliruan yang menjadi jelas setelah dihadapkan dengan bahan-bahan baru dari sains; kekeliruan-kekeliruan tersebut mengenai umur manusia di bumi, keadaan-keadaan pada waktu Tuhan menciptakan alam; kekeliruan-kekeliruan tersebut adalah disebabkan oleh perubahan-perubahan teks yang dilakukan oleh manusia.
5:  Yakni pelacur yang bertugas dalam temple.
Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: