RSS

Tumbuhan dan Binatang

VI. ALAM TUMBUH-TUMBUHAN DAN BINATANG

Dalam fasal ini kita kumpulkan beberapa ayat Al-Qur’an yang menyebutkan asal kehidupan aspek-aspek tertentu dalam alam tumbuh-turnbuhan serta persoalan-persoalan umum atau khusus tentang alam binatang. Dengan mengumpulkan ayat-ayat yang tersebar di bagian-bagian Al-Qur’an dalam satu pengelompokan yang rasionil, kita berharap dapat memberikan ide yang menyeluruh tentang apa yang disebutkan oleh Al-Qur’an dalam bermacam persoalan.

Untuk masalah-masalah dalam fasal ini dan juga dalam fasal berikutnya, kita harus sangat teliti dalam menyelidiki teks Al-Qur’an, karena memang terdapat kesulitan yang inheren dalam mengartikan kalimat (vocabulary). Kesulitan-kesulitan seperti itu hanya dapat diatasi setelah kita menyelidiki hasil-hasil penyelidikan ilmiah mengenai persoalan yang kita hadapi. Konfrontasi dengan Sains modern dalam hal-hal yang mengenai makhluk hidup yakni tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia adalah sangat diperlukan untuk mengetahui makna beberapa ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan masalah ini.

Terdapat terjemahan beberapa ayat Al-Qur’an yang dilakukan oleh ahli-ahli sastra ternyata dianggap tidak tepat oleh ahli Sains. Keadaan yang serupa dirasakan juga terhadap beberapa buku tafsir yang pengarangnya tidak memiliki pengetahuan Sains yang sangat diperlukan untuk dapat memahami teks Al-Qur’an.

A. ASAL MULA KEHIDUPAN

Soal ini selalu menjadi perhatian manusia, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk makhluk-makhluk hidup sekelilingnya. Kasus manusia yang munculnya di atas bumi serta caranya mempunyai keturunan merupakan bahan perkembangan yang sangat penting, dan akan dibicarakan dalam fasal yang akan datang. (baca: REPRODUKSI MANUSIA DALAM Al-QUR’AN)

Dalam membicarakan asal mula kehidupan secara umum, Al-Qur’an mengambil sikap yang sangat ringkas dan menyebutkannya dalam ayat yang mengenai proses pembentukan kosmos yang sudah kita sajikan dan kita jelaskan.

Surat 21 ayat 30:
Surat 21 ayat 30
Artinya: “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya, dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” [Al Anbiyaa’: 30]

Soal asal kehidupan tidak menimbulkan keragu-raguan. Ayat tersebut dapat berarti bahwa tiap-tiap benda hidup, diciptakan dari air sebagai bahan baku, atau tiap-tiap benda hidup berasal dari air. Kedua arti tersebut di atas adalah sesuai dengan Sains modern yang mengatakan bahwa kehidupan itu berasal dari air, atau air itu adalah bahan pertama untuk membentuk sel hidup. Tanpa air tak akan ada kehidupan. Jika seseorang berbicara tentang adanya kehidupan dalam suatu planet, lebih dahulu ia bertanya apakah planet itu mengandung air cukup. Hasil-hasil penyelidikan modern memungkinkan kita berpikir bahwa benda-benda hidup yang paling kuno adalah termasuk didalamnya alam tumbuh-tumbuhan. Telah diketemukan lumut-lumut yang berasal daripada tanah-tanah yang tertua yang diketahui manusia. Unsur-unsur alam binatang muncul kemudian; binatang juga datang dari lautan.

Yang kita terjemahkan dengan “air” adalah kata bahasa Arab Maa’, yang berarti air hujan, air laut atau benda yang encer. Dalam arti pertama (air hujan) air merupakan unsur yang sangat perlu untuk kehidupan tumbuh-tumbuhan.

Surat 20 ayat 53:
Surat 20 ayat 53
Artinya: Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, “dan menurunkan dari langit air hujan”. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dan tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.” [Thaahaa: 53]

Ayat tersebut merupakan ayat yang untuk pertama kali menyebutkan adanya: pasangan-pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan; kita akan kembali membicarakan hal ini nanti.

Dalam arti kedua, yakni Maa’ sebagai barang cair tanpa perincian, kata tersebut dipakai secara tidak diterangkan lebih lanjut untuk menunjukkan dasar adanya semua binatang.

Surat 24 ayat 45:
Surat 24 ayat 45
Artinya: “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”[An Nuur: 45]

Nanti akan kita ketahui bahwa kata “Maa'” dapat juga berarti sperma.

Dengan begitu maka baik mengenai asal kehidupan pada umumnya, atau unsur yang menyebabkan munculnya tumbuh-tumbuhan di atas bumi atau asal bibit binatang, semua ayat-ayat Al-Qur’an yang mengenai asal kehidupan adalah sesuai dengan Sains modern. Tak ada suatupun yang mendapat tempat dalam Al-Qur’an, diantara mitos-mitos yang banyak tersiar pada waktu Al-Qur’an diwahyukan.

B. ALAM TUMBUH-TUMBUHAN

Kita tidak dapat membahas disini semua ayat-ayat Al-Qur’an yang lerlalu banyak, yang menyebutkan rahmat Tuhan, mulai dengan hujan yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Kita hanya akan membahas tiga ayat.

Surat 16 ayat 10-11:
Surat 16 ayat 10-11

Artinya: “Dialah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya menyuburkan tumbuh-tumbuhan; yang pada tempat tumbuhnya kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan, tanam-tanaman zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan.”

Surat 6 ayat 99:
Surat 6 ayat 99

Artinya: “Dan Dialah yang menurunkan hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak dan dari mayang kurma, tangkai-tangkai yang menjulai, (dan dari air itu) Kami keluarkan pula kebun anggur, zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang berfirman.” (Al An’aam: 99)

Surat 50 ayat 9 – 11:
Surat 50 ayat 9-11

Artinya: “Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dari air itu pohon-pohon dan biji-biji tanam yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun untuk menjadi rizki kepada hamba-hamba Kami. Dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering) seperti itulah terladinya kebangkitan.” (Qaaf: 9-11)

Di samping pemikiran-pemikiran secara umum sebagai tersebut di atas, Al-Qur’an menambahkan pemikiran-pemikiran lain tentang aspek-aspek yang lebih khusus.

KESEIMBANGAN DALAM ALAM TUMBUH-TUMBUHAN

Surat 15 ayat 19:

Artinya: “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung, dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.” [Al Hijr: 19]

PERBEDAAN HASIL TUMBUH-TUMBUHAN

Surat 13 ayat 4:
Surat 13 ayat 4

Artinya: “Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yarng bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasa dan bentuknya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” [Ar Ra’d: 4]

Adanya ayat tersebut di atas menunjukkan keagungan kata-kata Al-Qur’an dari ayat tersebut tidak menyebutkan kepercayaan pada waktu Al-Qur’an diwahyukan, akan tetapi menunjukkan kebenaran-kebenaran pokok.

Ada ayat-ayat lain yang perlu kita perhatikan yaitu ayat-ayat yang membicarakan reproduksi (perkawinan dan akibat-akibatnya) dalam alam tumbuh-tumbuhan. (baca: Pernyataan Al-Qur’an Bahwa Semuanya Diciptakan Berpasangan)

REPRODUKSI TUMBUH-TUMBUHAN

Kita perlu ingat bahwa reproduksi terjadi dalam alam tumbuh-tumbuhan dengan dua cara sexual dan asexual.

Sesungguhnya yang dapat kita namakan reproduksi itu hanya yang terjadi dengan cara sexual, karena reproduksi semacam itu menunjukkan proses biologi yang bertujuan untuk melahirkan individu baru yang sama dengan individu yang melahirkan.

Adapun reproduksi asexual hanya merupakan pergandaan, karena reproduksi semacam itu terjadi dengan pembagian sesuatu organisme. Sesudah organisme itu terpisah, ia mengalami perkembangan yang akan menjadikannya sama dengan induknya. Guilliermond dan Mangenot menganggap hal tersebut sebagai kasus pertumbuhan yang istimewa. Contoh yang sangat sederhana dapat kita jumpai dalam hal seperti berikut: Satu cabang daripada sesuatu tumbuh-tumbuhan dipotong, ditanam di tanah yang cukup mendapat air, cabang itu akan hidup sendiri dengan timbulnya akar-akar baru. Ada tumbuh-tumbuhan yang mempunyai anggota khusus untuk perkembangan tersebut, ada pula yang mengeluarkan anggota baru yang menyesuaikan diri seperti biji-biji (yang merupakan hasil reproduksi seksual).

Reproduksi sexual daripada tumbuh-tumbuhan terjadi dengan hubungan antara unsur-unsur jantan dan unsur-unsur betina yang bersatu di dalam tumbuh-tumbuhan itu sendiri atau terpisah di tumbuh-tumbuhan lain. Reproduksi sexual itulah yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Surat 20 ayat 53:
Surat 20 ayat 53

Artinya: “Yang telah menjadikan bagimu sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan dan menurunkan dari langit air hujan, maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dan tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.” (Thahaa: 53)

Pasangan adalah terjemahan dan kata bahasa Zauj (jamaknya Azwaj) yang arti pokoknya sesuatu yang dengan sesuatu lainnya menjadi sepasang. Kata tersebut juga dipakai untuk sepatu, kita mengatakan sepasang sepatu.

Artinya: “Dan Kami lihat bumi itu kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”… (Al Hajj:5)

Surat 31 ayat 10:
Surat 31 ayat 10
Artinya: “Dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan daripadanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” (Luqman: 10)

Surat Yaa Siin ayat 36:
36_36

Artinya: Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. 36 :36)

Kita mengetahui bahwa “buah” adalah hasil proses reproduksi daripada tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi yang mempunyai organisasi (susunan anggota) yang lengkap dan sangat kompleks. Tahap sebelum menjadi buah adalah bunga dengan anggota jantan (etamine) dan betina (ovules). Ovul ini setelah menerima “pollen” menghasilkan buah, dan buah itu sesudah matang menghasilkan biji. Tiap-tiap buah mengandung arti tentang adanya anggota jantan dan anggota betina. Inilah yang dimaksudkan oleh ayat tersebut di atas.

Tetapi kita harus ingat bahwa dalam beberapa pohon, buah dapat dihasilkan oleh bunga yang tidak dikawin seperti pisang, beberapa macam ananas, tin (fique), orange dan buah anggur. Buah tersebut tidak berasal dari pohon yang mempunyai jenis seks.

Selesainya reproduksi terjadi dengan proses tumbuhnya biji, setelah terbukanya tutup luar (yang mungkin juga terpadat dalam biji). Terbukanya tutup luar itu memungkinkan keluarnya akar yang akan menyerap makanan dari tanah. Makanan itu perlu untuk tumbuh-tumbuhan yang lambat pertumbuhannya, yaitu untuk berkembang dan menghasilkan individu baru.

Suatu ayat memberi isyarat kepada pembenihan ini:

Surat 6 ayat 95
Surat 6 ayat 95

Artinya: “Sesungguhnya Allah membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan.” Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (Al An’aam: 95)

Al-Qur’an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan.

Surat 36 ayat 36:
Surat 36 ayat 36

Artinya: “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” (Yaasiin: 36)

Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad. Hal-hal yang manusia tidak mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan baik dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam benda mati atau dalam benda hidup. Yang penting adalah untuk mengingat pemikiran yang dijelaskan dalam ayat itu secara gamblang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.

C. ALAM BINATANG

Dalam Al-Qur’an persoalan-persoalan yang ada hubungannya dengan alam binatang menjadi sasaran pengkritik yang memerlukan kita berhadapan dengan Sains mengenai hal-hal tertentu.

Tetapi jika kita tidak menyebutkan ayat yang menyebutkan unsur-unsur alam binatang dengan maksud supaya manusia memikirkan nikmat besar yang diberikan Allah kepadanya maka rasanya kita belum memberikan gambaran yang sempurna tentang isi Al-Qur’an. Ayat di bawah ini kita sebutkan untuk memberi gambaran bagaimana Al-Qur’an menyebutkan penyesuaian yang harmonis antara penciptaan alam dan hajat-hajat manusia, yakni manusia di desa-desa .

Surat 16 ayat 5 s/d 8:
Surat 16 ayat 5-8

Artinya: “Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu, padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan kamu makan (apa yang dapat dimakan) daripadanya. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tak sanggup sampai kepadanya melainkan dengan kesukaran-kesukaran yang memayahkan diri. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Dan Dia telah menciptakan kuda, bagal dan keledai agar kamu menungganginya dan menjadikannya perhiasan; dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.”

Di samping pemikiran-pemikiran secara umum, Al-Qur’an menyebutkan beberapa permasalahan tentang hal-hal yang bermacam-macam:

  • reproduksi dalam alam binatang,
  • adanya masyarakat binatang,
  • pemikiran tentang lebah, laba-laba dan burung-burung,
  • permasalahan mengenai asal susu binatang.

1. REPRODUKSI DALAM ALAM BINATANG

Hal ini secara sangat singkat disebutkan dalam:

ayat 45 dan 46 daripada Surat 53:
Surat 53 ayat 45 dan 46
Artinya: “Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila dipancarkan.”

Pasangan adalah kata-kata yang sama yang kita dapatkan dalam ayat-ayat yang membicarakan reproduksi tumbuh-tumbuhan. Disini soal sex ditegaskan. Perincian yang sangat mengagumkan adalah gambaran yang tepat tentang beberapa tetes zat cair yang diperlukan untuk reproduksi. Kata yang sama yang menunjukkan sperma dipakai juga untuk membicarakan reproduksi manusia dan hal ini akan kita bicarakan dalam fasal yang akan datang.

2. TENTANG ADANYA MASYARAKAT BINATANG

Surat 6 ayat 38:
Surat 6 ayat 38
Artinya: “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka-lah, mereka dihimpunkan.” (Al An’aam: 38)

Beberapa hal dalam ayat tersebut harus kita beri komentar. Pertama-tarna: nasib binatang-binatang sesudah mati perlu disebutkan. Dalam hal ini nampaknya Al-Qur’an tidak mengandung sesuatu doktrin. Kemudian soal taqdir secara umum, yang kelihatannya menjadi persoalan di sini, dapat difahami sebagai taqdir mutlak atau taqdir relatif, terbatas pada struktur atau organisasi fungsional yang mengkondisikan tindakan (behaviour). Binatang bereaksi kepada fakta luar yang bermacam-macam sesuai dengan kondisi-kondisi tertentu.

Menurut Blachere, seorang ahli tafsir kuno seperti Al Razi berpendapat bahwa ayat ini hanya menunjukkan tindakan-tindakan instinktif yang dilakukan oleh binatang untuk memuji Tuhan.

Syekh si Baubekeur “Hamzah” (Sayid Abubakar Hamzah, seorang ulama Maroko) dalam tafsirnya menulis: “Naluri yang mendorong makhluk-makhluk untuk berkelompok dan berreproduk-si, untuk hidup bermasyarakat yang menghendaki agar pekerjaan tiap-tiap anggota dapat berfaedah untuk seluruh kelompok.”

Cara hidup binatang-binatang itu pada beberapa puluh tahun terakhir telah dipelajari secara teliti dan kita menjadi yakin akan adanya masyarakat-masyarakat binatang. Sudah terang bahwa hasil pekerjaan kolektif telah dapat meyakinkan orang tentang perlunya organisasi kemasyarakatan. Tetapi penemuan tentang mekanisme organisasi beberapa macam binatang baru terjadi dalam waktu yang akhir-akhir ini. Kasus yang paling banyak diselidiki dan diketahui adalah kasus lebah. Nama Von Frisch dikaitkan orang dengan penyelidikan tersebut. Pada tahun 1973 Von Frisch, Lorenz dan Tinbergenmendapat hadiah Nobel karena penyelidikan mereka.

3. PEMIKIRAN-PEMIKIRAN TENTANG LEBAH, LABA-LABA DAN BURUNG-BURUNG

Jika para ahli sistem syaraf ingin memberi contoh tentang organisasi yang mengatur kelakuan binatang, maka binatang yang paling sering disebut adalah lebah, laba-laba dan burung; khususnya burung-burung yang berpindah-pindah. Kita dapat menguatkan bahwa tiga macam binatang tersebut memberi contoh yang sangat baik tentang organisasi yang tinggi.

Bahwa Al-Qur’an menyebutkan tiga macam binatang tersebut adalah sesuai dengan ciri-ciri yang sangat menarik perhatian dari segi ilmiah mengenai binatang-binatang tersebut.

LEBAH

Lebah ini dalam Al-Qur’an menjadi sasaran komentar yang paling panjang.

Surat 16 ayat 68-69:
Surat 16 ayat 68-69

Artinya: “Dan Tuhan mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di rumah-rumah yang didirikan manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat-obat yang menyembuhkan manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (An Nahl: 68-69)

Adalah sukar untuk mengetahui apa yang dimaksudkan dengan mengikuti jalan Tuhan dengan rasa tunduk, kecuali jika kita memahaminya secara umum. Apa yang dapat kita katakan, sesuai dengan pengetahuan kita tentang kelakuan binatang-binatang itu adalah bahwa di sini sebagaimana juga dalam tiap-tiap kasus dari tiga macam binatang yang disebutkan sebagai contoh dalam Al-Qur’an, suatu penyusunan syaraf yang sangat istimewa merupakan pendorong atau dasar kelakuannya. Kita mengetahui umpamanya bahwa dengan menari, lebah dapat mengadakan perhubungan antara mereka. Dengan perantaraan tarian tersebut lebah dapat memberi pengarahan kepada lebah lain atau memberi tahu di mana terdapat bunga yang harus mereka isap. Pengalaman Von Frisch yang masyhur menunjukkan arti gerakan lebah ini yang dimaksudkan untuk pertukaran informasi antara lebah-lebah pekerja.

LABA-LABA

Laba-laba disebutkan dalam Al-Qur’an untuk menekankan keremehan rumahnya, rumah yang paling tidak tahan apa-apa. Adalah suatu tempat perlindungan yang sangat lemah, mereka yang mencari Tuhan selain Allah, begitulah kata-kata Al-Qur’an.

Surat 29 ayat 41:
Surat 29 ayat 41

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah, padahal sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” [Al ‘Ankabuut:41]

Sarang laba-laba tersusun dari benang sutra yang dikeluarkan oleh kelenjar-kelenjar binatang itu, daya tahannya sangat rendah, dan karena keremehannya orang tak memerlukan menirunya.

Ahli-ahli alam (natur) mempertanyakan pola pekerjaan yang luar biasa daripada sel-sel syaraf laba-laba yang memungkinkannya untuk membikin suatu rajut yang ukurannya sangat sempurna’ Al-Qur’an tidak membicarakan soal ini.

BURUNG-BURUNG

Burung-burung sering disebut dalam Al-Qur’an. Kita dapatkan dalam hikayat Ibrahim, Yusuf, Dawud, Sulaiman dan Nabi Isa. Tetapi disebutkannya burung dalam hikayat-hikayat tersebut tak ada hubungannya dengan pembicaraan kita sekarang ini. Kita telah menyebutkan ayat yang menyinggung adanya masyarakat binatang-binatang bumi dan burung-burung.

Surat 6 ayat 38:
Surat 6 ayat 38

Artinya: “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat-umat juga seperti kamu.” (Al An’aam: 38)

Ada dua ayat lainnya yang menonjolkan tunduknya burung-burung kepada kekuasaan Allah secara total.

Surat 16 ayat 79:
Surat 16 ayat 79

Artinya: “Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas, tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang yang beriman.” (An Nahl: 79)

Surat 67 ayat 19:
Surat 67 ayat 19

Artinya: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung- burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia maha Melihat segala sesuatu.” (Al Mulk: 19)

Terjemahan suatu kata dalam dua ayat tersebut di atas adalah sulit. Terjemahan yang kita muat di sini menunjukkan bahwa Tuhan itu menguasai burung-burung. Kata kerja bahasa Arab adalah “amsaka” yang arti dasarnya, memegang.

Kita dapat merasakan hubungan antara ayat-ayat yang menekankan ke bersandaran kelakuan burung kepada pengaturan Tuhan dengan hasil-hasil penyelidikan ilmiah yang menunjukkan kemahiran beberapa jenis burung dalam mengatur kepindahan mereka dari satu daerah ke daerah vang lain. Memang hanya adanya program kepindahan yang terdapat dalam watak sesuatu macam binatanglah yang dapat menjadikan binatang-binatang itu mengerti trayek yang sukar dan berbelit-belit bagi burung muda yang tidak punya pengalaman dan tak punya orang yang menunjukkan jalan, serta dapat pula kembali pada tanggal yang pasti kepada tempat asal mulanya.

Dalam bukunya, Kekuatan dan Kelemahan (La puissance et la Fragilite), Professor Hamburger menyebutkan contoh yang mashur mengenai burung (“multon”) di lautan Pasifik dan pergeserannya dalam jarak 8 sampai 25.000 kilometer. Para ahli sudah mengakui bahwa petunjuk-petunjuk yang kompleks untuk perjalanan itu telah tertulis dalam sel syaraf burung-burung tersebut. Memang hal-hal tersebut sudah teratur. Tetapi siapa yang mengaturnya.

4. ASAL ZAT-ZAT SUSU BINATANG

Asal zat-zat susu binatang dibicarakan dalam Al-Qur’an dan sesuai dengan Sains modern (surat 16 ayat 66). Terjemahan dan tafsiran ayat ini adalah terjemahan dan tafsiran pribadi pengarang buku ini oleh karena terjemahan-terjemahan modernpun biasanya memberi ide yang sudah tak dapat diterima lagi.

Surat 16 ayat 66

Artinya: Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. [An Nahl: 66]

Umpamanya:
Terjemahan Blachere: “Sesungguhnya kamu dapat pelajaran dalam binatang-binatangmu. Aku memberi kamu minum dari susu yang murni dan segar untuk peminum, yang berasal dalam perut mereka daripada bahan-bahan di antara makanan yang telah dikunyah dan darah.”

Terjemahan Hamidullah: “Sungguh terdapat hal-hal yang perlu difikirkan dalam ternakmu. Daripada yang terdapat dalam perut, antara kotoran dan darah. Aku beri minum kepadamu susu yang murni dan mudah diminum oleh peminumnya.”

Ahli-ahli Psikologi yang ditanya mengenai teks tersebut mengatakan bahwa teks itu kabur, karena tidak sesuai dengan Sains modern yang paling elementer. Kedua tafsir tersebut di atas adalah karya orang-orang ahli ke Islaman yang ternama.

Tetapi kita tahu bahwa seorang penterjemah walaupun ia ahli ke Islaman, dapat saja melakukan kesalahan dalam terjemahan ilmiah, jika ia tidak menjadi spesialis dalam ilmu yang ia terjemahkan.

Terjemahan yang sesuai menurut pemikiran saya adalah sebagai berikut:

“Sesungguhnya bagi kamu, dalam binatang ternakmu terdapat suatu pelajaran. Aku memberi minum kepadamu, dari zat yang terdapat dalam badan ternak itu dan yang terjadi karena hubungan antara zat yang ada dalam usus dan darah, susu murni yang mudah ditelan oleh mereka yang minum.”

Tafsiran di atas sangat dekat dengan tafsiran Muntakhab, cetakan tahun 1973 yang disusun oleh Majlis Tertinggi Urusan Islam di Cairo dan yang berdasarkan penyelidikan-penyelidikan psikologi modern.

Dari segi arti kata, terjemahan yang saya usulkan dapat diterangkan sebagai berikut. Saya menterjemahkan: “dalam badan mereka” dan tidak seperti terjemahan Blachere dan Hamidullah, “dalam perut mereka” oleh karena kata “batn” berarti juga tengah-tengah dan di dalam sesuatu, di samping arti “perut.” Kata “batn” tidak mempunyai arti anatomi yang pasti. Jadi terjemahan “di dalam badan binatang” menurut pendapat saya sesuai dengan konteks.

Soal “asal” zat-zat SUSU diterangkan dengan huruf “min” (dari) dan soal “hubungan” diterjemahkan dengan huruf”baina” (antara) sebagai yang terdapat dalam dua terjemahan lain, tetapi “baina” juga dipakai untuk menunjukkan antara benda-benda atau antara orang-orang.

Dari segi ilmiah, kita harus ingat kepada pemikiran psikologis agar dapat mengerti arti ayat tersebut.

Zat-zat yang pokok yang menjamin makanan sesuatu organisme datang dari transformasi kimia yang terjadi sepanjang anggota-anggota pencernakan, zat-zat itu timbul dari unsur-unsur yang terdapat dalam usus. Jika unsur-unsur dalam usus itu sudah sampai waktunya untuk bertransformasi, unsur-unsur itu menembus kulit-kulit usus dan mengarah ke alat-alat sirkulasi. Perpindahan ini terjadi dengan dua cara: cara langsung dengan yang dinamakan “saluran-saluran Lymphatique” atau cara tidak langsung dengan melalui pintu sirkulasi yang akan menyampaikan kepada lever (hati) tempat unsur-unsur itu mengalami perubahan. Dari hati, unsur-unsur itu menuju ke sirkulasi umum. Dengan cara ini, semua zat diedarkan dengan peredaran darah.

Unsur-unsur susu itu keluar dari kelenjar-kelenjar penyusuan yang mendapat bahan dari kunyahan makanan-makanan yang dibawa oleh darah yang beredar. Jadi darah itu bertindak sebagai pengumpul dan pembawa bahan-bahan yang berasal dari makanan untuk dijadikan bahan bagi kelenjar-kelenjar penyusuan yang menghasilkan susu atau dibawa ke anggota-anggota lain.

Dalam hal ini semuanya bermula dari adanya isi usus dan dinding usus. Pemikiran yang jitu ini sesuai dengan hasil-hasil penyelidikan kimia dan psikologi pencernakan. Hal ini tak diketahui orang pada zaman Nabi Muhammad, dan hanya baru diketahui pada zaman modern. Adapun mengenai peredaran darah, baru saja diketemukan oleh Halvey, yakni 10 abad sesudah Al-Qur’an diwahyukan. (baca: Pembentukan Susu Dalam Al-Qur’an : Dari Antara Kotoran dan Darah)

Saya berpendapat bahwa adanya ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang mengisyaratkan kepada ide-ide itu tak dapat diberi penjelasan manusiawi mengingat bahwa ide-ide itu terbentuk pada zaman modern.

bucaile-icon
BIBEL, Al-Qur’an, dan Sains Modern : Dr. Maurice Bucaille,
Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science,
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi, Penerbit Bulan Bintang, 1979 Kramat Kwitang I/8 Jakarta.
re-Edited by Mediatama Computer Sumedang

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: